Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Mie romantis
...SELAMAT MEMBACA!...
Dino mengajak Dara pulang malam itu juga. Sepertinya, dia sudah rindu untuk berduaan di rumahnya. Sungguh, berada di dekat Dara membuat hatinya tenang, bahkan jika terdapat api yang membara pasti akan padam.
Dara menurunkan gagang pintu, kemudian membuka pintu itu dan segera masuk dengan diikuti Dino di belakangnya. Suasana yang tidak dirasakan selama dua hari, terasa lebih canggung dari biasanya.
"No, mau makan nggak?" tawar Dara, membuat Dino yang sedang membuka sepatu, mendongak.
"Boleh," jawab Dino. Lalu, Dara melenggang pergi masuk ke kamar.
Kamar itu dalam kondisi kacau. Seprainya berantakan dengan beberapa kaos Dino tergeletak di sana. Dara mendengus kesal. "Kalau dua bulan, mungkin rumah ini udah jadi museum kapal pecah," katanya.
Dara pun memutuskan untuk membereskan pekerjaan di kamar ini dulu. Dia mengambil satu per satu pakaian itu, kemudian memindahkannya ke sofa. Lalu, Dara mengganti seprai karena terdapat banyak debu.
Dino itu sepertinya tidak membersihkan diri dulu sebelum tidur. Entah di mana ia bermain hingga menjadi sekotor itu.
Melihat istrinya yang sedang beres-beres, Dino mematung di ambang pintu. Ia merasa bersalah karena ini adalah akibat ulahnya. "Ra," panggil Dino, sambil berjalan mendekat.
Dara menoleh sebentar, kemudian melanjutkan kegiatan memasang seprai. "Maaf, ya," ujar Dino, berdiri di belakang Dara.
Dara tidak menjawabnya, kemudian ia selesai dan berbalik badan menghadap sang suami. "Maaf kenapa?" tanya Dara.
Dino menundukkan kepala, menghembuskan napas panjang. "Berantakan gara-gara gue."
Dia terlihat lucu sekali. Wajahnya seperti anak kecil yang hendak menangis karena dimarahi mamanya, kemudian kedua tangan lelaki itu menggenggam erat tangan Dara. Kasihan sekali.
Meski jantungnya berdebar, Dara berusaha untuk tidak terlihat canggung. Gadis itu menepuk pundak Dino, sambil berujar, "Nggak masalah."
"Gitu aja mau nangis," celetuk Dara, kemudian melenggang dari sana untuk mengambil baju kotor di sofa tadi. "Ayo, bantuin masak!" ajaknya. Lalu, Dara melangkah ke luar.
Dino membeku di tempatnya. Gadis itu benar-benar terlihat seperti seorang ibu. Dino rasa, Dara sudah pantas. "Siap, Bu Bos!" pekik Dino, kemudian berlari kecil mengikuti sang istri.
Hubungan mereka semakin erat, seperti ada lem penyatu. Keduanya telah melalui hari-hari berumah tangga yang tidak didasari cinta, awalnya. Namun, perasaan itu telah berubah dengan berjalannya waktu.
Dino dengan cintanya kepada Dara yang sudah ada sejak dulu, sedangkan Dara tidak pernah mengenal lelaki itu. Namun, pernikahan itu memaksa Dara agar juga mencintai Dino, suaminya.
Gadis itu lupa, ia belum membeli kebutuhan bulanan. Ketika Dara membuka almari kecil di atas, tidak ada apapun. Hanya tiga bungkus mie instan dan dua telur ayam. Dara menepuk jidat melihatnya.
Dino menghampiri, lantas bertanya ketika melihat Dara yang sedang kesal. "Kenapa?" Lalu, Dino mendapati almari itu nyaris kosong. "Masak itu aja, Ra," ujar Dino.
Sebelum menikah, ketika ia belum bisa memasak, Dara pun hanya akan merebus mie instan untuk mengganjal perutnya. Namun, karena pernikahan yang mendadak ini, membuat Dara bertekad untuk bisa masak, sebab ia sudah tak tinggal bersama sang bunda. Lalu, harus makan apa bila tidak bisa mengolah makanan?
Dara pasrah menerima apa yang ada. Dia mengangguk, kemudian mengambil dua bungkus mie dan dua telur ayam itu.
Ketika air yang dimasak sudah mendidih, Dara hendak memasukkan mie kering itu ke panci. Namun, pergelangan tangannya ditarik oleh Dino hingga membuatnya mendongak. "Biar gue," kata Dino, kemudian mengambil mie itu dari Dara.
Dara mematung. Lelaki di depannya itu benar-benar berubah, juga perasannya ketika melihat Dino. Berbeda jauh seperti saat baru menikah. Dari tempatnya, Dara memandang suami tampan yang hanya mengenakan kaos hitam dan celana pendek kain.
Sadar, Dara segera beranjak dari sana karena jantungnya semakin berdebar kencang. Gadis itu mengelus dadanya. "Hati-hati, Ra," peringatnya, kepada diri sendiri.
Masakan spesial sudah jadi. Apalagi dinikmati dengan model sepiring berdua, dipadukan langit malam yang indah.
Dua insan itu duduk di halaman samping rumah, dengan menggelar tikar. Terdapat meja kecil di antara mereka berdua. Dino mengunyah mie buatannya dengan sang istri yang menjadi sempurna.
Hanya dua bungkus mie instan, dicampur telur, dan sedikit saos pedas. Rebus dengan cinta bersama, tuang bumbu sambil merasakan bagaimana nikmatnya mie itu ketika sudah makan, pasti akan membuat masakan terlihat istimewa walaupun rasanya sama saja.
"Enak banget!" pekik Dino, lantas membuat Dara tersedak air minum. "Eh, maaf, Ra."
Dara berdecak, sambil mengelap bibirnya dengan tangan. "Ngagetin tahu, No!" tegur Dara. "Lagian, rasanya sama, aja." Dara menolak untuk mengatakan bahwa mie itu lebih dari kata enak.
"Ini namanya mie instan romantis yang istimewa," ujar Dino, sambil bergaya. "Coba makannya pakai hati, Ra."
"Gimana, tuh? Aku makan pakai mulut."
Sudahlah, Dino pasrah bahwa istrinya memang tidak peka. Lelaki itu berusaha cuek dan kembali melanjutkan acara makannya.
.....
Langit sore terlihat lebih biru, kepulan awan berjalan mengambang menutupi sang surya membuat cuaca menjadi mendung. Seorang gadis berjalan perlahan, menapakkan kaki di jalanan tanah berbatu. Ia nampak melewati batu nisan yang menancap di kanan, juga kiri. Bahkan, ia dikelilingi batu-batu tersebut.
Setelah selesai bekerja, Dara tidak langsung pulang. Ia sudah lama merindukan tempat di mana kakaknya dikubur. Dalam dua tahu lamanya, Dara datang ke makam hanya lima kali. Gadis itu selalu datang ketika sepi, agar orang tidak melihatnya menangis. Jika sudah berada di depan nisan Agun, Dara akan kehilangan kesadaran dan menangis sambil banyak berbicara.
Makam Agun berada di tempat paling belakang. Dada gadis itu sudah sesak sebelum sampai di sana. Namun, langkah kakinya berhenti karena seseorang berjongkok sambil menangis di depan nisan Agun. Satu meter dari tempat, Dara berdiri mematung dengan kerutan di dahi.
"Siapa?" gumam Dara. Lalu, dia menghapus air mata dengan gerakan cepat, kemudian memutuskan untuk kembali melangkah.
Seorang gadis asing yang berjongkok di depan makam Agun, cukup membuat Dara penasaran. Lalu, Dara berdiri di depan gadis tersebut. "Siapa, ya?" ujar Dara hingga gadis itu mendongak.
Mata merah dan sembab, kerudung gadis itu sudah sangat berantakan. Berbeda dengan milik Dara yang masih rapi dan tegak lurus.
Gadis tersebut hanya diam, menunduk dalam. "Aku Nasya, pacarnya Agun dulu," ujar gadis itu.
Dara tersentak kaget. Dia pernah melihat gadis itu, tetapi lupa di mana. Tunggu. Nasya yang dikejar Ambo waktu itu, wajahnya mirip dengan Nasya di depannya. "Oh," jawab Dara, kemudian berjongkok.
Dara selalu ingin cuek dengan siapapun yang dulunya pernah menjahati kakaknya, termasuk gadis itu.
Nasya menjadi canggung, melihat Dara yang hanya diam. Dia tahu, keluarga Agun pasti masih sangat terpukul. Apalagi Dara, kedekatannya dengan Agun tidak hanya sebatas saudara.
Menaburkan bunga, kemudian menyiraminya dengan sebotol air. Dara menyatukan kedua tangannya, berdoa untuk almarhum sang kakak. Lalu, Dara berdiri dari sana dan beranjak. "Tunggu, Dara!" seru Nasya, membuat Dara menghentikan langkahnya. "Boleh kita bicara?"
Angin kesunyian mengudara, suasana di tempat itu menjadi lebih mencengkram. "Aku sibuk. Lain kali, aja," jawab Dara, kemudian melenggang dari sana.
Nasya diam di tempat, memandangi tubuh Dara yang menjauh, kemudian menghilang.
Agun sudah lama menjalin hubungan dengan Nasya. Namun, lelaki itu tidak pernah menunjukkan bagaimana wajah Nasya kepada Dara. Padahal, beberapa kali Dara ingin melihatnya. Ketika malam Dara memutuskan untuk mengikuti sang kakak, ia baru melihat kekasih Agun kala itu.
Kaki Nasya tidak lagi sanggup untuk berdiri tegak, ia ambruk dan tersungkur seolah memeluk gundukan tanah itu. Air matanya yang jatuh, membuat tanah menjadi basah. "Sayang, aku gak sanggup lagi," katanya. "Aku benci ini semua."
"Kenapa kamu harus pergi? Cinta yang aku harapkan dari keluarga kamu jadi mustahil. Mereka malah benci sama aku." Tatapan Nasya sendu, matanya memerah karena menangis di sana selama hampir satu jam.
Dara tidak pernah tahu soal Nasya. Kakaknya tertutup jika menyangkut asmara. Mungkin, ia hanya tidak ingin keluarganya kecewa akan pilihannya, lagi. Sebab, Agun pernah hendak melamar kekasihnya, tetapi satu hari sebelum dilakukan, kekasihnya mengakui bahwa tengah berselingkuh.
Lelaki itu miris sekali nasibnya.
Halte bus membuat langkah kaki Dara berhenti. Ia memutuskan untuk menghubungi Dino agar menjemputnya. Dara tidak berani naik ojek tanpa izin suaminya itu, atau nanti Dino akan marah-marah. Sendiri dengan suasana sepi, air mata Dara meluruh tanpa memberi aba-aba. "Apa aku egois? Harusnya, aku kasih maaf ke mereka," gumam Dara.
"Nggak benci, cuma terluka karena ulahnya."
...🦋...