Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
Hening yang menyakitkan menyelimuti gang sempit itu setelah ledakan energi terakhir memudar. Debu aspal yang beterbangan perlahan mengendap, menutupi permukaan jaket denim Mitsuki yang kini compang-camping. Di pusat gang, Hero Killer: Stain berdiri mematung. Pedang panjangnya telah patah menjadi dua, dan tubuhnya dipenuhi luka bakar ringan akibat petir biru Mitsuki serta pembekuan es Todoroki.
Namun, yang paling menghancurkan bagi Stain bukanlah luka fisiknya, melainkan pemandangan di depannya: Tenya Iida berdiri tegak. Mesin di betis Iida mengeluarkan uap putih yang menderu keras, melambangkan tekad yang baru saja lahir kembali dari abu kegelapan.
"Ini belum selesai..." Stain mendesis, darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Ia mencoba mengangkat belati terakhirnya, namun tangannya bergetar hebat. "Kalian... kalian semua hanyalah produk dari sistem yang rusak!"
"Sistem mungkin rusak," Mitsuki melangkah maju, suaranya tetap tenang meski ia baru saja bertarung dengan intensitas tinggi. "Tapi kau bukan mekanik yang memperbaikinya. Kau hanyalah karat yang mencoba menghancurkan seluruh mesin."
Tiba-tiba, dari arah langit, suara kepakan sayap raksasa kembali terdengar. Ular biru Mitsuki, Ao, meluncur rendah di atas gedung-gedung, menciptakan bayangan raksasa yang menutupi gang tersebut. Kehadiran makhluk itu membuat Stain tersentak untuk pertama kalinya, sang Pembunuh Pahlawan itu merasakan ketakutan primitif. Ia melihat ke arah Mitsuki, lalu ke arah ular raksasa itu, dan menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan calon pahlawan biasa. Ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang berasal dari luar nalar dunianya.
Stain akhirnya jatuh berlutut. Kesadarannya mulai hilang akibat akumulasi kejutan saraf dari teknik Hebi Mikazuchi milik Mitsuki. Sebelum matanya tertutup sepenuhnya, ia menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Mitsuki yang berdiri paling dekat.
"Ular... kau bukan pahlawan... tapi kau juga bukan penjahat. Kau adalah... kehampaan."
Lalu, sang legenda berdarah itu pun tumbang.
Hanya butuh beberapa menit bagi para pahlawan profesional dan kepolisian Hosu untuk mengepung area tersebut setelah sinyal lokasi Izuku tersebar. Namun, pemandangan yang menyambut mereka sangat luar biasa. Di satu sisi, pahlawan pembimbing Iida, Manual, berlari dengan wajah cemas. Di sisi lain, Kepala Polisi Hosu, Kenji Tsuragamae—pria dengan kepala anjing yang khas—berjalan masuk dengan langkah berat.
Namun, perhatian semua orang tertuju pada satu hal: Ular raksasa yang kini melingkar di atas atap gedung apartemen tua, menatap semua orang dengan mata vertikal yang dingin.
"Semuanya, turunkan senjata kalian!" teriak Manual. "Midoriya! Iida! Kalian baik-baik saja?"
Izuku dan Iida dilarikan ke ambulans, sementara Todoroki berdiri bersandar di dinding, menolak bantuan medis karena lukanya hanya ringan. Mitsuki tetap berdiri di tengah gang, tangannya bersedekap, menatap Kepala Polisi Tsuragamae yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Ini adalah kekacauan yang sangat besar, woof," ucap Tsuragamae, suaranya dalam dan penuh otoritas. "Hero Killer telah ditangkap, tapi hukum adalah hukum. Penggunaan kekuatan super secara ilegal oleh murid yang tidak memiliki lisensi... apalagi memanggil makhluk raksasa di tengah kota yang sedang dilanda bencana Nomu... ini adalah pelanggaran berat."
Mitsuki menatap Tsuragamae tanpa berkedip. "Jika aku menunggu izin atau lisensi, temanku akan menjadi mayat di gang ini. Apakah hukummu lebih menghargai prosedur daripada nyawa manusia?"
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Para pahlawan profesional di belakang Tsuragamae tampak gelisah. Pernyataan Mitsuki adalah sebuah tantangan langsung terhadap fondasi masyarakat pahlawan yang sangat patuh pada regulasi.
"Secara teknis, kau benar, woof," jawab Tsuragamae. "Tapi masyarakat ini berdiri di atas aturan. Jika semua orang menggunakan kekuatan sesuka hati mereka dengan alasan 'keadilan pribadi', maka kita tidak ada bedanya dengan para penjahat. Kalian bertiga Midoriya, Todoroki, dan Iida telah melakukan pelanggaran. Namun kau, Mitsuki..." Tsuragamae menunjuk ke arah ular di atas gedung. "Kemampuanmu... itu melampaui apa yang tercatat dalam data UA. Kau membawa ancaman baru ke kota ini saat kita sedang berjuang melawan Nomu."
Malam itu, di sebuah kantor kepolisian yang dijaga ketat, Mitsuki duduk sendirian di ruang interogasi. Ia tidak diborgol, namun ia tahu ada puluhan pahlawan profesional di balik kaca satu arah yang sedang mengawasinya.
Pintu terbuka. Bukan Tsuragamae yang masuk, melainkan sesosok pria kurus dengan rambut pirang yang sangat dikenal Mitsuki: All Might, dalam wujud aslinya.
"Muda Mitsuki," ucap All Might sambil menghela napas panjang. Ia duduk di depan Mitsuki dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. "Kau benar-benar tahu cara membuat keributan, bukan?"
"Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, All Might," jawab Mitsuki. "Izuku dan Iida selamat. Itu adalah hasil yang paling optimal."
"Tapi dunia ini tidak bekerja hanya dengan logika 'hasil', Nak," All Might bersandar pada kursinya. "Polisi ingin memberikan sanksi berat padamu. Penggunaan teknik pemanggilan raksasa itu... mereka menyebutnya 'Ancaman Level Bencana'. Jika aku dan Nezu tidak turun tangan dan mengklaim bahwa itu adalah bagian dari 'uji coba alat pendukung raksasa' dari agensi Fat Gum, kau mungkin sudah dikeluarkan dari UA malam ini."
Mitsuki terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kebenaran sering kali harus dibungkus dengan kebohongan agar sistem tetap tenang. "Jadi, aku harus berpura-pura bahwa ular itu adalah teknologi?"
"Ya. Dan pahlawan profesional yang hadir setuju untuk merahasiakan siapa yang sebenarnya mengalahkan Stain. Di mata publik, Endeavor-lah yang menangkapnya. Kalian bertiga akan dianggap sebagai 'korban yang berada di tempat yang salah'." All Might menatap Mitsuki dengan mata biru yang tajam. "Mitsuki... aku tahu kau bukan dari sini. Aku tahu cara berpikirmu berbeda. Tapi di dunia ini, jika kau ingin menjadi pahlawan, kau harus belajar menari dalam rantai aturan."
Mitsuki menatap tangannya. Ia teringat pada ayahnya, Orochimaru. Ayahnya selalu melanggar aturan demi pengetahuan. Sekarang, ia menyadari bahwa pahlawan di dunia ini justru harus membatasi diri demi ketertiban.
"Aku mengerti," ucap Mitsuki. "Aku akan mengikuti permainan kalian... untuk saat ini."
Meskipun otoritas mencoba menutupi peran para murid, berita tentang kekalahan Stain menyebar dengan cepat di internet. Video propaganda Stain tentang "pahlawan palsu" menjadi viral, memicu bangkitnya simpati di kalangan penjahat kelas bawah.
Di agensi Fat Gum, saat Mitsuki kembali dari Hosu dengan kereta pagi, ia disambut oleh keheningan. Fat Gum menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, sementara Tamaki Amajiki tampak semakin takut untuk mendekat.
"Kau beruntung bisa kembali, Nak," ucap Fat Gum, nada bicaranya tidak seceria biasanya. "Tapi sanksimu tetap berlaku. Selama sisa masa magang ini, kau dilarang keluar dari agensi. Kau hanya akan mengerjakan tugas administratif dan riset."
"Itu adil," jawab Mitsuki. "Aku butuh waktu untuk mempelajari lebih banyak tentang yakuza Hassaikai yang kita temukan kemarin."
Fat Gum tertegun. Ia mengira Mitsuki akan mengeluh atau protes, tapi remaja itu justru langsung fokus pada misi berikutnya. "Kau... kau benar-benar memiliki mental yang berbeda dari anak-anak lain, ya?"
Sementara itu, di sebuah bar tersembunyi, Shigaraki Tomura menatap layar televisi yang menampilkan wajah Endeavor sebagai penangkap Stain. Ia menghancurkan remote TV di tangannya.
"Semua orang bicara tentang Stain... padahal Nomu-ku yang melakukan kehancuran itu!" geram Shigaraki.
"Tapi Tuan," ucap Kurogiri. "Ada laporan dari intelijen kita di kepolisian. Stain tidak dikalahkan oleh Endeavor. Dia dilumpuhkan oleh seorang murid dari UA sebelum Endeavor sampai di gang itu. Murid berambut pucat... Mitsuki."
Shigaraki berhenti menggaruk lehernya. Senyum menyeramkan muncul di wajahnya yang pucat. "Ular itu lagi... dia selalu merusak rencana orang lain. Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya mengirim Nomu. Mungkin sudah saatnya kita memberikan 'sesuatu' yang bisa memancing ular itu keluar dari sarangnya."
Di balik bayang-bayang bar, pria berkacamata hitam pesuruh Orochimaru sedang menyesap minumannya. Ia mendengarkan rencana Shigaraki dengan ekspresi bosan. Ia tahu bahwa Shigaraki sedang bermain api. Karena bagi Mitsuki, penjahat bukanlah lawan untuk didebat penjahat hanyalah spesimen yang butuh dibedah.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen