NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Hening.

Ribuan penonton di arena terdiam serentak. Musik gamelan pengiring berhenti. Teriakan sorak-sorai terpotong di tenggorokan.

Di tengah arena, Han Feng berdiri tegak. Dia kembali menyandarkan pedang besarnya di bahu, seolah-olah dia baru saja mengusir lalat yang mengganggu, bukan memukul seorang kultivator Tingkat 5.

Han Ji, yang terkapar di tribun penonton, pingsan dengan mulut berbusa. Tulang rusuknya patah setidaknya tiga buah, tapi dia masih hidup karena Han Feng menahan tenaga di detik terakhir dan menggunakan sisi pedang yang lebar (yang terbungkus kain) untuk memukul, bukan sisi tipisnya.

"P-Pemenang..." Wasit tergagap, menatap Han Feng dengan pandangan tidak percaya. Wasit itu menelan ludah sebelum berteriak, "...HAN FENG!"

Sorak-sorai tidak langsung terdengar. Yang terdengar adalah suara gumaman kaget dan bisik-bisik ketakutan.

"Apa... apa itu tadi?"

"Dia tidak menghunus pedangnya?"

"Han Ji terbang seperti boneka kain... Kekuatan macam apa itu?"

Di tribun kehormatan, senyum di wajah Han Lie membeku. Gelas anggur di tangannya retak karena cengkeramannya yang mengeras.

"Mustahil," desis Han Lie. "Kecepatan itu... Itu bukan sekadar kekuatan fisik. Itu teknik langkah kaki tingkat tinggi!"

Tetua Zhang dari Sekte Pedang Langit, yang sebelumnya tampak santai, kini duduk tegak. Matanya yang tajam menatap Han Feng dengan penuh minat.

"Gerakan kaki yang eksplosif," gumam Tetua Zhang. "Dia menggunakan ledakan Qi di telapak kaki untuk melontarkan tubuhnya. Sangat kasar, sangat berisiko, tapi sangat efektif. Dan senjata itu... itu bukan kayu. Bunyi hantamannya berat. Itu logam padat."

Han Tian, sang Kepala Keluarga, mengerutkan kening dalam. Munculnya "kuda hitam" yang tak terduga selalu menjadi masalah dalam skenario yang sudah direncanakannya untuk kemenangan mutlak Han Lie.

"Tetua Gui," bisik Han Tian tanpa menoleh.

"Hamba," jawab bayangan di belakangnya.

"Cari tahu teknik apa yang dipakai anak haram itu. Dan pastikan di babak selanjutnya, dia bertemu lawan yang bisa 'menguji' batas kemampuannya. Aku tidak ingin ada kejutan di final."

"Dimengerti, Tuan Besar."

Di arena, Han Feng turun dari panggung dengan tenang. Dia tidak merayakan kemenangan. Dia tidak melambaikan tangan. Dia hanya berjalan kembali ke sudut sepinya, duduk, dan memejamkan mata lagi.

Namun kali ini, tidak ada lagi yang berani mengejeknya.

Para peserta lain yang berada di dekat area istirahat Han Feng secara otomatis menggeser posisi duduk mereka, memberi jarak aman sejauh lima meter di sekitar Han Feng. Aura dominasi yang dipancarkan Han Feng kini nyata. Dia bukan lagi sampah. Dia adalah monster.

Turnamen berlanjut. Babak demi babak berlalu.

Setiap kali nama Han Feng dipanggil, penonton akan menahan napas.

Di pertandingan kedua, Han Feng melawan seorang pengguna Tinju Besi. Han Feng menjatuhkannya dengan satu tendangan ke dada tanpa menggunakan pedang.

Di pertandingan ketiga, Han Feng melawan seorang pengguna cambuk. Han Feng menangkap cambuk itu dengan tangan kosong, menarik lawannya mendekat, dan memukulnya pingsan dengan gagang pedang.

Satu pukulan. Satu tendangan. Satu hantaman.

Tidak ada lawan yang bisa bertahan lebih dari sepuluh detik di hadapan Han Feng. Dan yang paling mengerikan: Kain pembungkus Pedang Meteor Hitam itu belum pernah dibuka.

Han Feng melaju ke babak perempat final dengan mudah, seperti pisau panas membelah mentega.

Matahari mulai condong ke barat. Turnamen hari pertama akan segera berakhir. Tersisa delapan peserta terbaik. Di antaranya tentu saja ada Han Lie, Han Feng, Han Bo (kaki tangan Han Lie), dan lima murid elit lainnya.

Wasit naik ke panggung untuk mengumumkan undian babak perempat final yang akan diadakan besok pagi.

"Pertandingan Perempat Final Pertama: Han Lie melawan Han Siyu!"

Penonton bersorak. Han Siyu adalah murid wanita terkuat, tapi semua orang tahu dia bukan tandingan Han Lie.

"Pertandingan Perempat Final Kedua: Han Feng..."

Wasit berhenti sejenak, melihat kertas undian di tangannya dengan sedikit kerutan di dahi. Dia melirik sekilas ke arah tribun kehormatan, di mana Tetua Gui mengangguk samar.

"...Melawan Han Tie!"

BWOAAH!

Suara gemuruh kaget meledak dari penonton.

Han Tie!

Dia bukan murid biasa. Han Tie dijuluki "Beruang Manusia". Dia adalah murid dengan tubuh terbesar dan fisik terkuat di generasi muda sebelum kemunculan Han Feng. Tingginya dua setengah meter, ototnya seperti batu karang. Kultivasinya adalah Pembentukan Tubuh Tingkat 8, dan dia melatih teknik pertahanan Lonceng Emas.

Ini adalah pertarungan impian penonton: Monster Kekuatan vs Monster Kekuatan.

Han Lie, yang berdiri di pinggir arena, tersenyum licik. "Han Tie... Pertahanan fisiknya hampir tak tertembus oleh serangan biasa. Mari kita lihat apakah 'batang besi' milikmu itu bisa memecahkan Lonceng Emas Han Tie, Han Feng."

Di sudutnya, Han Feng membuka mata saat mendengar nama lawannya. Dia melihat ke arah Han Tie yang sedang berdiri di seberang arena. Han Tie menatap balik, memukul-mukul dadanya yang bidang sambil menyeringai, memamerkan gigi-giginya yang besar.

Han Feng tidak merasa terintimidasi. Sebaliknya, dia merasa... sedikit antusias.

"Lonceng Emas?" batin Han Feng. "Bagus. Aku butuh landasan yang keras untuk menguji apakah aku sudah siap membuka bungkusan kain ini."

Han Feng berdiri, mengangkat Pedang Meteor Hitam-nya, dan berjalan pergi meninggalkan arena. Hari ini sudah selesai. Besok, dia akan mematahkan bukan hanya tulang, tapi juga mentalitas seluruh Keluarga Han.

Saat Han Feng berjalan melewati gerbang keluar, dia berpapasan dengan Han Lie.

Keduanya berhenti. Bahu mereka hampir bersentuhan. Aura dingin dan aura panas berbenturan di udara.

"Nikmati malam terakhirmu dengan anggota tubuh yang lengkap, Sepupu," bisik Han Lie tanpa menoleh. "Han Tie diperintahkan untuk tidak menahan diri. Dia pernah mematahkan leher kerbau dengan satu pelukan."

Han Feng menoleh sedikit, menatap profil wajah Han Lie.

"Katakan pada anjingmu itu," jawab Han Feng tenang, "Sebaiknya dia makan yang banyak malam ini. Karena besok, dia akan menyadari bahwa Lonceng Emas hanyalah kerupuk di hadapan palu godam."

Han Feng melangkah pergi, meninggalkan Han Lie yang wajahnya semakin gelap oleh kebencian.

Di langit, awan hitam mulai berkumpul lagi. Badai sesungguhnya dari Turnamen Keluarga Han baru saja akan dimulai.

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!