Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Two Gazes at the Black Fortress
Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat saat gerbang Benteng Blackwood terbuka.
Tidak ada terompet.
Tidak ada sorak sambutan.
Hanya suara besi tua yang bergeser dan derap kuda yang terhenti perlahan.
William Whiston turun dari kudanya lebih dulu. Mantel gelapnya sederhana—tanpa lambang emas berlebihan. Sikapnya tegak, tenang, seperti seseorang yang terbiasa berdiri di garis depan, bukan di balik tahta.
Matanya langsung menangkap satu hal:
benteng ini hidup.
Prajurit tidak berbaris untuk pamer. Mereka berdiri di posisi yang masuk akal. Sudut pengawasan sempurna. Jalur tembak jelas. Ini bukan wilayah bangsawan—ini wilayah perang.
“Putra Mahkota,” suara berat terdengar.
Duke Kaelen Blackwood melangkah maju. Satu tangan di dada, hormat singkat—tidak berlebihan, tidak merendahkan.
“Selamat datang di Blackwood.”
William membalas hormat itu. “Terima kasih, Duke.”
Namun sebelum percakapan berlanjut—
Langkah kaki ringan terdengar dari sisi tangga batu.
William menoleh.
Dan untuk sesaat… dunia seolah melambat.
Anthenia Blackwood berdiri di sana.
Gaun hitam sederhana, tanpa perhiasan. Rambut peraknya diikat rendah. Tidak ada senyum penyambutan. Tidak ada sikap tunduk. Ia berdiri lurus—bukan sebagai putri bangsawan, tapi sebagai pemilik wilayah.
Tatapannya bertemu dengan William.
Tenang.
Dingin.
Membaca.
William merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di medan perang:
diukur.
“Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Anthenia. Suaranya lembut, tapi tegas.
“Selamat datang di wilayah kami.”
William menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang sopan—lalu mengangguk.
“Lady Anthenia Blackwood,” jawabnya.
“Aku berterima kasih atas penerimaan ini.”
Tidak ada basa-basi.
Kaelen melirik putrinya sekilas—heran, waspada.
Dia tidak gugup…
—
Mereka berjalan menyusuri aula utama.
Batu-batu hitam di dinding penuh bekas sayatan lama—jejak pertempuran, bukan hiasan. William memperhatikannya.
“Benteng ini sering diserang?” tanyanya.
“Sering diuji,” jawab Anthenia. “Jarang diremehkan.”
William tersenyum tipis. “Jawaban yang jujur.”
Mereka berhenti di ruang strategi.
Peta wilayah utara terbentang di meja—lengkap, rapi, penuh catatan kecil. William mendekat tanpa diminta.
“Ini bukan peta istana,” katanya pelan. “Ini peta lapangan.”
“Karena medan tidak peduli gelar,” jawab Anthenia.
William menoleh padanya.
“Dan kau?”
“Aku peduli pada hasil.”
Untuk pertama kalinya sejak tiba, William tertawa kecil. Singkat. Tertahan.
“Tidak heran laporan Sungai Grey terdengar… berbeda.”
Kaelen terkejut. “Yang Mulia—”
“Itu pujian, Duke,” potong William tenang.
“Panglima mengenali panglima.”
Anthenia tidak bereaksi. Namun matanya menyipit tipis.
“Jika begitu,” katanya, “kunjungan ini bukan sekadar kehormatan.”
“Tidak,” jawab William jujur.
“Aku datang untuk melihat… apakah Blackwood berdiri sendiri, atau berdiri bersama kekaisaran.”
Keheningan jatuh.
Anthenia melangkah mendekat satu langkah.
“Wilayah kami setia,” katanya pelan.
“Tapi kesetiaan bukan berarti menutup mata.”
William menatapnya lurus.
“Dan keberanian bukan berarti melawan segalanya.”
Untuk sesaat—hanya sesaat—udara di antara mereka seperti medan duel tanpa pedang.
Kaelen menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengencang:
ini bukan pertemuan bangsawan dan putra mahkota.
Ini pertemuan dua kekuatan yang saling mengakui.
—
Di luar, bendera Blackwood berkibar pelan.
Dan di balik dinding batu hitam itu,
sebuah aliansi—atau konflik yang jauh lebih besar—
mulai mengambil bentuk.
Malam turun perlahan di Benteng Blackwood.
Jamuan sederhana telah usai. Tidak ada musik berlebihan, tidak ada tawa palsu. William kembali ke kamar tamu kehormatan, sementara Duke Kaelen harus menghadiri laporan wilayah.
Anthenia akhirnya sendirian.
Ia berdiri di balkon batu, memandangi hutan utara yang gelap. Angin dingin menyentuh pipinya—nyata, terlalu nyata untuk sekadar cerita.
Tenang… pikirkan, katanya pada dirinya sendiri.
Di balik wajah Anthenia Blackwood, Jane menarik napas panjang.
“Seharusnya…” gumamnya pelan, “setelah pertemuan dengan William, alurnya masuk ke pesta istana. Politik, kecemburuan, dan… ya, itu.”
Ia menekan pelipisnya.
Potongan-potongan cerita yang dulu dibaca Kaesh berkelebat di kepalanya—tidak utuh, tidak rapi.
“William memang tokoh utama,” bisiknya.
“Putra mahkota, panglima perang, simbol emas kekaisaran.”
Namun dadanya terasa tidak nyaman.
“Tapi…” Jane membuka mata.
“Sepertinya akan muncul pemeran lain selain Putra Mahkota William.”
Angin berhembus lebih kencang.
Dalam novel, ada satu karakter yang muncul bukan sebagai tokoh utama, tapi selalu hadir di titik-titik krusial. Sosok yang tidak banyak dialog, tidak mencolok—namun selalu mengubah arah cerita.
Siapa…?
Jane mengerutkan kening.
Bayangannya kabur. Hanya satu hal yang jelas:
dia muncul setelah Blackwood mulai diperhatikan istana.
Langkah kaki terdengar di belakang.
Anthenia berbalik cepat—tubuhnya sudah siap bertarung sebelum pikirannya memerintah.
Namun yang berdiri di sana hanyalah William.
Tidak bersenjata. Tidak berzirah. Mantel gelap sederhana menempel di bahunya.
“Aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya tenang. “Penjagamu mengizinkan.”
Anthenia menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
“Wilayah ini tidak melarang tamu yang berjalan sendirian,” ujarnya. “Selama mereka tahu ke mana harus berhenti.”
William tersenyum samar. “Catatan penting.”
Keheningan kembali turun.
Namun kali ini, Jane merasakan sesuatu yang tidak ada di novel.
Tatapan William—tajam, tapi penuh rasa ingin tahu. Bukan tatapan pria yang sudah tahu alurnya.
Melainkan seseorang yang sedang mencari celah.
“Ada sesuatu yang mengganggumu,” ujar William tiba-tiba.
Anthenia terdiam.
“Sebagai panglima,” lanjutnya, “aku terbiasa membaca wajah sebelum medan perang berubah.”
Jane hampir tertawa kecil. Tentu saja kau bisa.
“Dan?” tanya Anthenia datar.
William menatap hutan di kejauhan. “Kau seperti seseorang yang berdiri di persimpangan. Bukan ragu—tapi menunggu sesuatu yang belum muncul.”
Jantung Jane berdetak lebih cepat.
Dia seharusnya tidak tahu.
“Kau percaya pada takdir, Yang Mulia?” tanya Anthenia balik.
William berpikir sejenak. “Aku percaya pada pola. Dan ketika pola berubah… itu berarti ada variabel baru.”
Jane mengepalkan tangan perlahan.
Ya. Tepat.
Dalam cerita aslinya, variabel itu tidak pernah benar-benar penting.
Tapi sekarang—
Ia tidak yakin.
Di kejauhan, burung malam berteriak satu kali, lalu hening.
Anthenia menatap kegelapan.
Jika alurnya berubah…
berarti aku tidak lagi tahu siapa kawan, siapa musuh.
Dan yang paling berbahaya—
aku tidak tahu siapa yang akan muncul berikutnya.
Di balik tembok Benteng Blackwood,
sesuatu sedang bergerak menuju panggung.
Bukan Putra Mahkota.
Bukan Valerius.
Seseorang yang bahkan Jane tidak ingat dengan jelas.
Dan itulah yang membuatnya berbahaya.
Malam semakin larut.
William telah pergi, langkahnya menghilang di lorong batu. Anthenia masih berdiri di balkon, namun pikirannya tidak lagi berada di Benteng Blackwood.
Variabel baru…
Jane menutup mata, memaksa ingatan lamanya muncul.
Dalam novel, setelah pertemuan dengan Putra Mahkota, fokus cerita selalu kembali ke istana—ke intrik selir, kecemburuan para saudara tiri, dan Nelia yang menjadi cahaya kecil di tengah kekacauan.
Tidak ada yang datang ke Blackwood, pikirnya.
Tidak ada orang luar yang berani masuk wilayah ini…
Namun—
Suara logam beradu pelan terdengar dari bawah balkon.
Anthenia membuka mata seketika.
Itu bukan langkah prajurit Blackwood. Terlalu ringan. Terlalu terkontrol.
Ia bergerak tanpa suara, menyusuri tangga samping, tangannya sudah menggenggam belati kecil yang tersembunyi di balik mantel.
Di halaman dalam—dekat menara pengawas lama—ia melihatnya.
Seseorang berdiri membelakangi obor.
Bukan prajurit.
Bukan bangsawan.
Tubuhnya tinggi, berbalut mantel abu gelap tanpa lambang. Rambut hitamnya diikat rendah. Ia berdiri seolah sedang… mengamati benteng, bukan menyusup.
“Wilayah tertutup,” ucap Anthenia dingin.
“Dan kau tidak terdaftar sebagai tamu.”
Orang itu menoleh perlahan.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang tertangkap basah.
“Aku tahu,” jawabnya. Suaranya rendah, datar.
“Itu sebabnya aku datang malam.”
Jane merasakan sesuatu mengerut di dadanya.
Dia… tidak ada di novel.
“Siapa kau?” tanya Anthenia.
Pria itu melirik sekeliling, lalu menatap Anthenia lurus—tatapan seseorang yang sudah lama hidup di antara rahasia.
“Seseorang yang memastikan,” katanya pelan,
“bahwa Blackwood tidak menjadi pion pertama yang dikorbankan.”
Jane menahan napas.
Kalimat ini…
aku tidak pernah membacanya.
“Jika itu ancaman,” kata Anthenia, “kau memilih kata yang salah.”
Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum ramah—lebih seperti pengakuan.
“Jika aku berniat mengancam,” ujarnya,
“aku tidak akan berdiri di tempat dengan tiga titik bidik.”
Jane membeku sesaat.
Ia menoleh—dan benar saja.
Dua menara. Satu atap barak.
Ia memang sedang dibidik.
Dia membaca medan… secepat aku.
“Pergilah,” kata Anthenia akhirnya. “Sebelum aku berubah pikiran.”
Pria itu mengangguk kecil.
“Waktu akan memperkenalkan kita lagi,” katanya.
“Karena mulai malam ini… alur tidak lagi mengikuti cerita yang kau ingat.”
Jane menegang.
“Apa maksudmu?” desaknya.
Namun pria itu sudah melangkah mundur ke bayangan, tubuhnya lenyap seolah menyatu dengan malam.
Tak ada suara.
Tak ada jejak.
Hanya satu hal yang tertinggal di tanah batu.
Sebuah keping logam hitam, tanpa lambang—namun berat dan dingin.
Jane mengambilnya, jari-jarinya sedikit gemetar.
Ini bukan dunia novel lagi, pikirnya.
Ini papan permainan baru.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke tubuh Anthenia Blackwood—
Jane merasa
ia tidak lagi selangkah lebih tahu dari dunia ini.
Di kejauhan, lonceng malam berdentang satu kali.
Dan sebuah nama—yang belum ia ingat—
perlahan bergerak mendekat ke pusat cerita.