"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Pesawat Perintis dan Penumpang Tak Diundang
Calvin berdiri di landasan pacu kecil di pinggiran Brasil dengan wajah yang tampak seperti orang yang baru saja melihat kiamat. Di depannya, sebuah pesawat perintis tua dengan cat yang sudah mengelupas dan baling-baling yang mengeluarkan suara "batuk-batuk" sedang menunggu.
"Navarro... maksud saya, Kakek Abraham pasti bercanda," gumam Calvin sambil memegang botol disinfektan ukuran satu liter seperti sedang memegang senjata api.
"Ayo Kak! Seru tau, berasa kayak di film Indiana Jones!" Nirbi dengan semangat menarik ranselnya, mengenakan topi rimba yang membuatnya tampak menggemaskan.
Begitu pintu pesawat dibuka, bau bahan bakar bercampur aroma tanah dan... bau unggas, langsung menyerang hidung Calvin.
"Selamat siang! Silakan masuk, tempat duduknya bebas!" seru sang pilot yang hanya memakai kaos dalam dan celana pendek.
Calvin membeku di ambang pintu. "Tempat duduknya... bebas? Maksud Anda tidak ada nomor kursi yang sudah didekontaminasi?"
"Kak, udah masuk aja!" Nirbi mendorong punggung Calvin.
Baru saja Calvin mau duduk di kursi berbahan kulit sintetis yang sudah retak-retak, ia melihat sesuatu di kursi sebelahnya. Seekor ayam jantan berbulu merah sedang duduk dengan tenang di dalam keranjang bambu yang dibawa oleh seorang penumpang lokal.
"K-Kukkuruyuk?!" Calvin melompat mundur, nyaris menabrak Nirbi. "Nirbita! Ada unggas hidup di dalam transportasi udara ini! Ini pelanggaran protokol kesehatan internasional! Avian Influenza! Bakteri Salmonella!"
Pesawat mulai lepas landas dengan guncangan yang membuat jantung Calvin serasa mau copot. Ia duduk kaku dengan tangan bersedekap, berusaha tidak menyentuh bagian mana pun dari pesawat itu.
"Kak, tenang dong. Liat tuh di bawah, hutannya bagus banget!" Nirbi menempelkan wajahnya ke jendela pesawat yang agak buram.
"Nirbita, jangan tempelkan wajahmu di kaca itu! Kamu tahu berapa banyak napas orang asing yang sudah mengembun di sana?" Calvin menarik kerah baju Nirbi.
"Aduh, Kak! Sekali-kali nikmatin kek. Liat tuh, si Bapak yang bawa ayam aja santai," Nirbi menunjuk penumpang di depan mereka yang sedang asyik mengunyah jagung rebus.
Calvin melirik si Bapak, lalu melirik ayamnya yang tiba-tiba mengepakkan sayap. Beberapa helai bulu terbang di udara kabin yang sempit.
"BULU! ADA PARTIKEL ASING TERBANG!" Calvin panik, ia segera menyemprotkan disinfektan ke udara secara membabi buta. Srat-sret-srat-sret!
"Uhuk! Uhuk! Kak, aku sesek napas!" Nirbi terbatuk-batuk. "Ini disinfektan, bukan parfum!"
"Lebih baik sesak napas daripada paru-parumu kemasukan bulu ayam yang tidak jelas riwayat vaksinasinya!" sahut Calvin sambil terus menyemprot.
Si Bapak pemilik ayam menoleh, menatap Calvin dengan heran. "Hanya ayam, Tuan. Bukan naga."
"Bagi saya, ayam ini lebih berbahaya dari naga!" balas Calvin ketus dengan bahasa Portugis patah-patah.
Momen Romantis yang Aneh
Di tengah guncangan hebat pesawat yang melewati awan mendung, Nirbi yang tadi semangat mulai merasa mual. Wajahnya pucat dan ia memegang perutnya.
"Kak... aku pusing... kayaknya mabuk udara," bisik Nirbi lemas.
Calvin yang tadinya sibuk memelototi debu, seketika berubah. Ia membuang botol semprotannya ke dalam tas, lalu merangkul bahu Nirbi. Ia mengeluarkan minyak angin aromaterapi yang selalu ia bawa (karena aromanya paling netral dan bersih).
"Sini, sandar ke saya," ujar Calvin lembut. Ia tidak peduli lagi kalau baju mahalnya terkena keringat dingin Nirbi.
"Tapi Kak... baju Kakak nanti kotor..."
"Baju bisa dicuci, Nirbita. Tapi istri saya cuma satu," jawab Calvin sambil mengoleskan minyak angin ke pelipis Nirbi. "Tutup matamu. Bayangkan kita sedang di ruang kerja saya yang dingin dan sangat bersih. Tidak ada ayam, tidak ada guncangan."
Nirbi tersenyum lemah di pelukan Calvin. "Kak Calvin kalau lagi mode suami idaman gini, bau disinfektannya jadi kayak bau surga ya..."
"Jangan mulai bicara melantur, atau saya semprot mulutmu," ancam Calvin, tapi ia justru mencium puncak kepala Nirbi dengan sangat sayang.
Di depan mereka, si ayam berkokok sekali lagi, seolah ikut menertawakan pasangan paling kontras se-Amazon itu. Calvin hanya bisa pasrah, memejamkan mata, dan berdoa semoga hutan Amazon setidaknya memiliki satu keran air bersih dengan sabun antiseptik yang memadai.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka