Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunung Butak
"Udah siap?" tanya Kenan, Anggun dan gauri menoleh dan mengangguk serempak
"Kita berangkat sekarang?" tanya Kaif, namun saat kedua matanya bersitobrok dengan Gauri. Ia langsung mengalihkan pandangannya, wajahnya berubah merah. Anggun menunduk, kini ia paham kenapa tunangannya kekeh ingin membawa Gauri.
Ternyata oh ternyata... Ada krim dalam sus, eaaaa.
"Ya udah yuk, kak Haiba sama kak Hazley udah siap juga kan?" Kaif fan Kenan mengangguk, mereka berempat keluar dari kamar Anggun. Berjalan menuruni tangga, di sofa terlihat Hazley dan Haiba tengah duduk di temani Bara dan Doni.
"Lelet lu Nggun, sementang udah ada yayang. Udah kenalan ma skincare dia..." celetuk Doni, yang langsung mendapat tepukan di bahunya.
"Hehehe... canda Bar, lu mah emosian tiap gue godain si bungsu." mereka pun tertawa
Delapan orang sudah siap, untuk berangkat mendaki gunung.
.
.
Cerita sebelum kejadian di episode sebelumnya, seperti biasa aku cari di gulu-gulu. Kisah nyata, yang terjadi di gunung Butak. Buat baca cerita aslinya, kalian bisa buka gulu-gulu yaa. Cerita ini terjadi di tahun 2015, dimana pernah terjadi kebakaran di gunung Butak.
Sedikit tentang gunung Butak, gunung yang memiliki ketinggian 2.868 Mdpl. Yang mana gunung ini, berada di perbatasan Kab. malang dan Kab. Blitar. Gunung yang letaknya berdekatan, dengan gunung Kawi.
Lima muda mudi, yang berstatus masih mahasiswa dan mahasiswi yang berada di Surabaya. Berangkat ke kota Batu, Malang. Mereka berangkat dari pukul 6 pagi, perjalanan menghabiskan waktu selama 2 jam. Sampai di kota Batu, mereka lanjut ke desa Pesanggarahan, yang merupakan desa terakhir di lereng gunung tersebut.
Mereka memilih menitipkan motor mereka, di rumah salah satu warga. Dan tentunya mereka mencari tau dan juga meminya ijin, agar di ijinkan mendaki gunung. Setelah mendapatkan ijin, segera mereka mempersiapkan diri mereka masing-masing.
Mereka memulai perjalanan, tepat pukul 9 pagi. Sebelum kelima orang itu pergi, pemilik rumah yang mereka titipi motor. Meminta mereka agar berhati-hati, jangan sampai berpisah. Apalagi kondisi gunung Butak pasca kebakaran, takutnya masih ada api yang menyala.
Perjalanan di mulai, dengan posisi Yanto paling depan dan Asep paling belakang. Karena di antara kelima orang itu, Yanto dan Asep lah yang lebih berpengalaman di bidang pendakian. Tambah lagi, Yanto sudah pernah mendaki ke gunung ini, beberapa bulan sebelumnya.
Di awal-awal perjalanan, mereka melewati jalanan paving. Yang juga merupakan jalan, untuk warga setempat bila akan berangkat ke ladang. Kurang dari 10 menit, mereka mulai memasuki hutan yang cukup rimbun.
"Jauh ga Yan?" tanya Kania, Yanto menoleh ke belakang.
"Sebelumnya kan gue udah pernah ke sini, jadi kemungkinan kita bakal sampai di sabana sekitar 9-10 jam. Bisa lebih cepat, atau bahkan bisa lebih lama. Tergantung secepat apa kita berjalan, jadi kalo kecepatan jalan kita stabil. Mungkin kita bisa samapai di sabana, sekitar maghrib. Atau paling lambat, saat isya." jawab Yanto, Kana mengangguk
(Sabana \= tempat camp terakhir sebelum summit ke puncak)
Selangkah demi selangkah, mereka berjalan hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Mereka istirahat di sebidang tanah datar, untuk mengisi perut mereka.
Saat memasak untuk makan siang, Kania seringkali bertanya pada Yanto.
"Menurut lo, perjalanan kita masih jauh ga?" tanya nya
"Kalo ngitung jarak, yang udah kita lalui. Kemungkinan besar, kita sampai di Sabana sekitar maghrib." Kania menghembuskan nafas pelan, lumayan jauh ternyata. Ada rasa sesal karena ikut mendaki.
Diantara mereka berlima, bisa dibilang Kania merupakan paling lemah. Setelah selesai makan siang, Yanto mengajak yang lainnya untuk segera berangkat. Di perjalanan lanjutan ini, Kania banyak meminta istirahat. Mereka berjalan pelan, karena harus mengimbangi Kania.
Setelah berjalan cukup lama, tak terasa waktu menunjukkan pukul 3 sore. Melihat hal ini, Yanto meminta tim nya untuk berjalan lebih cepat. Dengan tujuan, agar bisa tiba sesuai dengan perkiraannya. Dan juga menjauhi hutan, di saat langit sudah gelap. Tapi keinginannya tak terealisasikan, karena kondisi Kania yang memang lemah.
Mau tak mau, Yanto pun berjalan pelan. Ia pikir, mungkin tak apa sampai di sana malam. Berharap semua aman, sampai mereka tiba di tempat tujuan.
Sejam mereka sudah berjalan, masih di dalam lebatnya hutan. Yanto yang berjalan di depan, tidak sengaja membawa teman-temannya ke jalan yang salah. Sehingga perjalanan mereka, malah semakin jauh dan juga lama.
Awalnya ia tak sadar, bila jalur yang ia ambil itu salah. Karena memang sejak tadi, tak ada jalur lain selain yang mereka tapaki. Ia baru sadar, setelah Yanto menjumpai jalan yang di buntu, karena tebing yang cukup tinggi di depannya, mungkin sekitar 100 meter. Melihat hal ini, ia pun berteriak.
"STOP STOP SEMUANYA, KITA SALAH JALAN INI" teriak Yanto, mengejutkan anggota tim nya. Tubuh mereka langsung lemas, rasanya seperti sebuah kutukan kata-kata 'SALAH JALAN / TERSESAT'.
"SERIUS LU YAN?" teriak Asep, yang berjalan paling belakang.
"Serius Sep, soalnya di depan kita sekarang itu tebing. Ga ada jalan lain, selain ini." jawab Yanto
"Lah?? Terus kita mau kemana ini?" tanya Regan
Dari jarak 50 meter, Yanto kembali berjalan ke arah teman-temannya. Sesampainya di tempat tim nya, ia mencoba membuat teman-temannya untuk tidak panik. Karena ia merasa ragu, bila di depannya adalah jalan buntu.
"Kalian tenang ya, jangan panik dulu. Kita jalan pelan ke depan, siapa yau ada jalan lain." ucap Yanto
"Kita putar balik aja Yan, kayanya di depan hutannya makin rimbun." ucap Kania lemas, Yanto terdiam
"Gini aja, kalian tunggu di sini. Pokonya jangan kemana-mana, gue ma Asep yang bakal cari jalan. Kita liat ke sana, siapa tau ada jalan lain." saran Yanto
Karena belum yakin dengan jalannya, Yanto memutuskan meminta teman-temannya untuk menunggu di sini.
Mereka bertiga Regan, Kania dan Fika. Duduk lemas, di tempat itu. Sedangkan Yanto dan Asep, berjalan mendekati tebing. Mencari jalan lain, agar tidak perlu putar balik.
"Yan, kalo emang salah jalan. Kenapa kita ga putar balik aja, kenapa malah lanjut jalan?" tanya Asep, ia tak habis pikir dengan keputusan Yanto.
"Bentar Sep, gue ga yakin kalo kita nyasar. Soalnya gue jalan di depan, ga ada jalan persimpangan atau belok. Kita jalan setapak, ga ada jalan lain. Aneh aja, kalo tiba-tiba ada tebing di sini." jawab Yanto, Asep pun mengangguk paham
"Emang pas waktu lu ke sini, jalan nya kaya gimana?" tanya Asep lagi
"Perasaan ga ada persimpangan sama sekali, makanya gue takin kalo kita itu ga nyasar." jawab Yanto yakin
Sesampai mereka di dekat tebing, ternyata benar jalan yang di ambil ternyata di buntu oleh tebing. Yanto mengajak Asep berjalan sedikit naik, melipir tebing. Siapa tau bila lihat dari atas, mereka bisa melihat jalan lain.
Begitu sampai di atas, barulah Yanto yakin bila mereka memang tersesat. Karena tak ada jalan lain, yang dia lihat hanya hutan lebat sejauh mata memandang.
'Gimana bisa??'
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
lgi serius matelengin ini😊
votenya emak😘
eh ternyata ada penguasa nya di rumah sakit
gasss kasus baru d mulai cussss beraksi