NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Dunia Bawah

Kabut kelabu bergulung perlahan di antara pepohonan hitam yang menjulang tinggi menyerupai tombak raksasa yang mencoba menghujam langit.

Di tempat ini, cahaya matahari hanyalah mitos yang terlupakan. Udara terasa berat, membawa aroma lembap tanah busuk yang bercampur dengan bau anyir darah dan keputusasaan.

Setiap jengkal tanah di bawah kaki terasa lengket, seolah-olah lapisan bumi ini tersusun dari ribuan jeritan yang tak pernah terlepaskan, membeku dalam keabadian yang menyakitkan.

Ye Chenxu berdiri mematung di hadapan sebuah celah raksasa yang membelah bumi secara vertikal.

Retakan itu menganga lebar, menyerupai mulut neraka yang sedang lapar, menghembuskan aura dingin yang mampu membekukan sumsum tulang siapa pun yang berani mendekat.

Inilah perbatasan Dunia Bawah Kultivator!

Bagi orang awam, tempat ini adalah tanah terkutuk yang hanya disebut dalam bisikan ketakutan. Tempat di mana para pendosa yang dibuang, siluman yang haus darah, dan makhluk-makhluk terasing berkumpul dalam hukum rimba yang absolut.

Namun bagi Ye Chenxu, jurang gelap ini bukan lagi sebuah ancaman.

“Ini bukan neraka,” bisiknya, suaranya parau namun stabil. “Ini adalah satu-satunya jalan hidupku.”

Tubuhnya masih dipenuhi sisa-sisa pertempuran dari pelariannya di Pegunungan Hitam. Darah kering menempel di sudut bibirnya, membentuk kerak hitam yang pahit.

Setiap tarikan napas memicu rasa nyeri tajam di tulang rusuknya yang retak, namun matanya tetap jernih dan dingin—sebuah kontradiksi dari api tekad yang membara di balik pupilnya.

Bayangan ibunya kembali melintas dalam benak, menghantam hatinya lebih keras daripada serangan fisik mana pun.

Ia melihat wajah pucat wanita itu, mata yang biasanya penuh kelembutan kini membelalak ketakutan saat diseret paksa oleh para anggota Klan Ye yang angkuh.

Jari Ye Chenxu mengepal hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri.

“Aku akan kembali, Ibu ...” gumamnya lirih ke arah jurang. “Tapi bukan sebagai anak buangan yang bisa kalian injak-injak lagi.”

Di dalam kedalaman jiwanya, Roh Dewa Kehampaan berdenyut pelan. Getarannya terasa seperti detak jantung kedua yang memberinya kekuatan tambahan.

“Masuklah, semut kecil. Dunia di bawah sana akan menghancurkanmu hingga menjadi debu ... atau menempa jiwamu menjadi pedang yang tak terpatahkan.”

Tanpa ragu sedikit pun, Ye Chenxu melangkah maju. Ia membiarkan tubuhnya ditelan oleh kegelapan celah tersebut.

Begitu tubuhnya menembus batas dimensi antara dunia permukaan dan Dunia Bawah, tekanan aura di sekelilingnya berubah drastis dalam sekejap mata.

Udara terasa sepuluh kali lebih berat, seakan ia baru saja memikul beban ribuan gunung di atas bahunya.

Qi spiritual di sini tidak memiliki kelembutan seperti di dunia manusia, Qi di sini liar, dingin, dan penuh dengan kekerasan yang murni.

Kabut gelap mengaburkan jarak pandang, hanya menyisakan jarak beberapa meter sebelum semuanya hilang dalam keremangan.

Di kejauhan, samar-samar terdengar raungan makhluk buas yang saling mencabik dan jeritan manusia yang teredam oleh tebalnya atmosfer.

Bau darah yang mengental menempel di dinding-dinding gua, mengisi paru-paru Ye Chenxu dengan sensasi besi yang berkarat.

Ia baru saja mendarat di atas permukaan batu yang licin ketika instingnya berteriak kencang. Belum sempat menenangkan napasnya yang memburu, tanah di sampingnya meledak.

BOOM!

Seekor Siluman Serigala Darah melompat keluar dari balik bayangan. Makhluk itu memiliki bulu yang menggumpal karena darah kering, taringnya merah berkilat tertimpa cahaya redup, dan matanya hanya memancarkan kegilaan tanpa akal sehat.

Serangan itu datang secepat kilat!

Ye Chenxu menghindar dengan gerakan yang hampir terlambat. Cakar tajam serigala menyayat bahunya, merobek pakaian dan kulitnya sekaligus. Darah segar menyembur keluar, membasahi kain jubahnya yang sudah lusuh.

Rasa sakitnya panas membakar, namun Ye Chenxu tidak punya waktu untuk mengaduh.

Tanpa sempat berpikir dua kali, ia mengerahkan sisa-sisa energinya dan memanggil resonansi Kehampaan dari Dantian-nya.

Energi hitam samar berdenyut dari telapak tangannya, menciptakan riak kecil di udara yang tampak membengkok.

“Rasakan ini!”

WUSHH!!!

Serigala itu menjerit memilukan. Sesaat setelah menyentuh telapak tangan Ye Chenxu, tubuh makhluk itu bergetar hebat seolah-olah ditarik ke dalam lubang hitam yang tak terlihat.

Dalam hitungan detik, tubuh Siluman Serigala Darah meledak dari dalam dan berubah menjadi kabut darah yang menyemprot ke segala arah.

Ye Chenxu terhuyung. Ia mencoba berdiri tegak, namun lututnya lemas.

Akhirnya pemuda itu jatuh berlutut, menumpu tubuhnya dengan satu tangan di atas tanah yang dingin.

Dantian-nya berdenyut nyeri yang sangat hebat, seolah-olah ada seseorang yang mengaduk-aduk isi perutnya dengan pisau panas. Meridian di lengannya terasa seperti tercabik oleh aliran energi liar yang baru saja ia lepaskan.

Ye Chenxu menang, namun menyadari satu kenyataan pahit, bahwa dirinya hampir mati hanya karena satu ekor siluman tingkat rendah di tempat ini.

Dunia bawah ini tidak mengenal belas kasihan dan tidak memberi kesempatan kedua bagi mereka yang lemah!

Di balik sebuah batu besar yang cukup tinggi untuk menyembunyikan sosoknya, Ye Chenxu memaksa dirinya untuk duduk bersila.

Napasnya terengah-engah, uap dingin keluar dari mulutnya di setiap hembusan. Tubuhnya gemetar hebat antara rasa sakit dan kedinginan.

Dalam keheningan itu, Roh Dewa Kehampaan muncul kembali sebagai suara samar di benaknya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tajam.

“Kekuatan tanpa fondasi yang stabil hanyalah cara cepat untuk menjemput kematian. Kau memiliki pedang yang tajam, tapi lenganmu terlalu lemah untuk mengayunkannya.”

Kata-kata itu menghantam ego Ye Chenxu lebih keras daripada cakar serigala tadi. Ia menyadari kesalahannya.

Selama ini, didorong oleh amarah dan keinginan balas dendam yang meledak-ledak, ia hanya mengejar kekuatan.

Namun di dunia yang penuh monster ini, kecepatan dan kekuatan serangan bukan satu-satunya kunci.

Yang terpenting adalah ketahanan fondasi.

Sejak saat itu, Ye Chenxu mengubah pendekatannya. Ia tidak lagi bertindak sembrono.

Ye Chenxu berhenti memburu makhluk-makhluk kuat yang hanya akan menghabiskan sisa energinya. Sebaliknya, ia mulai menjelajah dengan hati-hati di pinggiran wilayah.

Dia membunuh siluman-siluman kecil yang tersebar di antara celah batu, menyerap inti siluman mereka yang rendah namun stabil, juga belajar cara "bernapas" di tempat ini—memurnikan energi kematian yang melimpah di udara dan mengubahnya menjadi Qi melalui teknik pemurnian yang diajarkan oleh sang Dewa.

Setiap malam, di bawah lindungan gua-gua sempit yang lembap, ia bermeditasi tanpa henti dan membiarkan roh Dewa Kehampaan menuntun alirannya, menjahit kembali meridiannya yang rusak, dan memadatkan Qi di Dantian-nya hingga menjadi lebih murni.

Hari demi hari berlalu tanpa ia sadari. Di Dunia Bawah, waktu seolah kehilangan maknanya. Luka-luka baru datang menggantikan luka lama. Darah tumpah tak terhitung jumlahnya.

Berkali-kali Ye Chenxu berada di ambang batas kesadarannya saat menghadapi racun siluman atau suhu yang turun drastis, namun setiap kali ia hampir menyerah, bayangan rantai di balai klan Ye menariknya kembali.

Perubahan fisik mulai terlihat. Tubuhnya yang dahulu agak kurus kini menjadi lebih padat, otot-ototnya kawat, tulangnya menjadi sekeras baja hitam.

Qi di dalam Dantian-nya tidak lagi bergejolak liar seperti badai, melainkan berputar stabil seperti pusaran air yang tenang namun memiliki daya sedot yang mematikan.

1
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
Mommy Dza
Ye Chen Xu berhitung mundur
satu....

tunggu pembalasanku 🤭
Nanik S
Ibunya masih didalam penjara
Nanik S
Shiip
Nanik S
Semakin baik aku matu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!