Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIBURAN KE BOGOR
Matahari hari Sabtu ini seolah sedang bersemangat. Langit di atas Bogor membentang tanpa polesan awan, biru bersih dengan cahaya keemasan yang menembus kaca mobil, menghangatkan kulit namun tetap menyisakan hawa sejuk yang mulai menusuk pori-pori.
Setelah berjam-jam terjebak dalam drama kemacetan khas akhir pekan—antara deru mesin dan kepungan pedagang asongan, mobil mereka akhirnya berbelok memasuki gerbang kayu besar yang berderit pelan. Di balik gerbang itu, sebuah vila bergaya kolonial dengan dinding batu alam menyambut mereka di tengah rimbunnya pohon pinus.
Bau tanah basah dan aroma pinus yang khas langsung menyerbu indra penciuman begitu pintu mobil dibuka.
"Akhirnya... sampai juga!" Dea langsung melompat keluar dari mobil Vhirel dengan penuh semangat sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah meringkuk cukup lama di kursi kemudi.
Maudi turun dengan anggun, membetulkan letak syal yang melingkari lehernya sambil menghirup udara dalam-dalam melangkah mendekat ke arah kedua anaknya. "Udara ini yang Mama kangenin. Jauh lebih baik daripada polusi kota."
"Seru ya, Ma!" Sahut Dea. "Jalan ke mall dapet... liburan hari ini juga, dapet!"
"Hmmm. Kalau bukan karena kamu marah kemarin... Kakakmu pasti cuek aja!" Balas Maudi sambil mencubit pucuk hidung anak gadisnya itu dengan gemas.
"Emang dasar nih, Ma!" Kata Vhirel sambil beringsut turun dari mobil setelah mematikan mesin. Jari telunjuknya menuding ke arah Dea. "Pinter banget ngambeknya!"
Dea hanya mengulum bibirnya. "Emang kemaren tuh aku kesel beneran! Gak di buat-buat! Kesel karena Kak Vhirel bisanya ngeledek terus!"
Surya hanya tertawa kecil dan menggeleng sambil membuka bagasi. Wajahnya tampak lelah namun puas melihat keluarganya mulai tersenyum bahagia.
"Vhirel, udahlah... bantu Papa angkut barangnya ke dalam," Tegur Surya sambil menyerahkan sebuah koper besar pada putra sulungnya itu.
"Siap, Pa!" Angguk Vhirel, mendekat ke mobil Surya. Dua koper berhasil ia tarik keluar dari bagasi mobil.
"Ada dua kamar di atas, itu kamar kalian." Jelas Surya. "Kalian bebas mau pilih kamar yang mana. Dan ingat..." matanya tertuju pada Vhirel. "Sebagai kakak... kamu harus mengalah, Vhirel."
Vhirel mendesis pelan, tangannya mencengkeram erat gagang koper yang terseret kasar di atas tanah. "Pa, ayolah... aku bukan anak kecil lagi," Gerutunya, mencoba menegaskan otoritas yang terasa mulai luntur di depan sang ayah.
Langkah Vhirel yang lebar nyaris melewati Dea begitu saja, namun ia mendadak mengerem. Tubuhnya berputar perlahan dengan seringai tipis yang menyebalkan.
"Kecuali... kalau kamarnya senyaman hotel bintang lima," Vhirel menaikkan sebelah alisnya, menatap adiknya dengan tatapan menantang. "Maaf ya. Di sini tidak berlaku pernyataan kalau seorang kakak harus mengalah."
Mata Dea membelalak. Seringai itu adalah genderang perang. "Gak mau, Kaaaaaak!" Teriaknya histeris.
Tak mau kehilangan kamar terbaik, Dea segera mengejar Vhirel, melesat cepat dan berusaha menyalip langkah kakaknya yang lebih panjang. Keduanya pun masuk ke dalam bangunan kayu yang terawat itu.
Sedangkan, melihat kekacauan kecil itu, Surya hanya bisa menggelengkan kepala. Di sampingnya, Maudi menghela napas panjang, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Keduanya hanya berdiri diam di ambang pintu, menonton punggung kedua anak mereka yang kini sibuk berebut wilayah di dalam vila, seolah-olah umur mereka kembali ke angka satu digit.
"Mama lihat sendiri kan, mereka?" Kata Surya kemudian. "Apa yang Mama pikirkan tentang sikap kekanak-kanakan mereka?"
Maudi hanya menghela napas panjang, matanya menatap kedua anaknya dengan campuran keheranan dan kesabaran, meski keduanya telah hilang dari pandangan.
"Papa mau ke kebun teh sekarang. Mama mau ikut?"
Maudi mengernyitkan dahinya. "Papa gak capek langsung ngontrol lahan? Gak makan dulu atau beresin kamar kita?"
Surya tersenyum sambil merangkul bahu istrinya. "Ma... kayak baru kali pertama aja liburan ke sini. Kan ada Pak Bowo yang selalu buat vila kita tetap bersih."
"Papa juga..." Balas Maudi tak mau kalah. "... kan ada Pak Bowo juga yang ngelola kebun teh kita selama ini. Kenapa harus di cek segala?"
Surya tertawa seolah terjebak oleh pernyataan sang istri. "Wanita memang tak mau kalah! Ada saja senjata untuk mematikan pasangannya!"
Maudi tersenyum nakal, menepuk lengan Surya pelan. "Hahaha… iya, iya… tapi jangan salah lho, Pa. Laki-laki juga punya cara liciknya sendiri!"
"Oh, ya? Papa emang pernah licik apa sama Mama?" Balas Surya penuh tanya. "Papa cuma mau ajak Mama jalan, kok... nostalgia ke masa kita dulu."
Maudi menjulurkan lidahnya sedikit, lalu dengan cepat menyambar topi anyaman yang sedari tadi Surya bawa. "Licik karena Papa selalu tahu kalau Mama nggak akan bisa nolak kalau diajak jalan-jalan di antara pohon kebun teh, kan? Itu cara Papa biar nggak kena omel karena nunda makan siang kita!"
Surya tertawa makin lebar, deru napasnya terasa hangat di dekat Maudi. "Skakmat. Ternyata strategi Papa terbongkar juga."
"Ya udah," Maudi menghela napas pasrah namun dengan binar mata yang antusias. "Mama ikut. Tapi janji, ya? Cuma cek sebentar, setelah itu kita harus makan siang. Kasian, anak-anak takutnya kelaparan karena nunggu kita."
"Siap, Nyonya Besar," Surya memberi hormat jenaka sebelum membukakan pintu mobil lagi untuk istrinya.
****
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,