Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Ibu Dan Bapak ke Dubai
Kunjungan Ibu dan Bapak ke Dubai berubah menjadi kekacauan komedi karena tingkah laku polos mereka di kota metropolitan tersebut. Dari Ibu yang mencoba menawar harga di mal mewah sampai Bapak yang ingin memperbaiki mesin pendingin di gedung pencakar langit secara sukarela!.
Suasana Bandara Internasional Dubai pagi itu mendadak terasa seperti pasar kaget di pinggiran Jakarta. Bagas sudah berdiri di pintu kedatangan dengan buket bunga besar dan senyum yang tak bisa luntur. Begitu pintu otomatis terbuka, muncul sosok Bapak dengan topi pet tuanya dan Ibu yang memakai jilbab instan paling rapi, menenteng tas anyaman berisi oleh-oleh rengginang yang sepertinya lolos dari pemeriksaan bea cukai secara ajaib.
"Ibu! Bapak!" teriak Bagas sambil berlari memeluk mereka.
"Aduh Gas, pelan-pelan. Ini rengginangnya takut remuk, titipan tetangga buat kamu katanya biar nggak lupa rasa kampung," ujar Ibu sambil menepuk-nepuk bahu Bagas.
Bagas tertawa lepas. Ia segera menggiring mereka menuju mobil dinas mewahnya. Saat melihat mobil sedan hitam mengkilap dengan sopir pribadi yang membukakan pintu, Bapak sempat ragu untuk masuk.
"Gas, ini mobil orang jangan sembarangan kita naikin. Nanti kalau lecet, gaji kamu sebulan nggak cukup buat cat ulang ini mah," bisik Bapak sambil mengelus jok kulit mobil itu dengan ragu.
"Ini mobil kantor, Pak. Sudah fasilitas buat Bagas. Tenang saja," jawab Bagas meyakinkan.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Ibu tidak berhenti berkomentar. Setiap kali melihat gedung dengan bentuk aneh, Ibu akan bertanya, "Itu gedung kok meliuk-liuk gitu, Gas? Apa nggak pusing orang di dalamnya? Terus itu, kok ada orang jualan emas di pinggir jalan kayak jualan kacang rebus?".
Kekacauan komedi dimulai saat sore harinya Bagas mengajak mereka ke Dubai Mall, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Bagas ingin membelikan Ibu tas bermerk sebagai hadiah. Mereka masuk ke sebuah butik mewah yang pelayannya memakai setelan jas rapi dan sarung tangan putih.
Ibu melihat sebuah tas kecil yang harganya jika dikonversi setara dengan biaya kuliah anak tetangga selama setahun. Saat pelayan menyebutkan harganya dalam Dirham, Ibu langsung menarik napas panjang dan memulai "jurus" andalannya.
"Mas, ini nggak bisa kurang? Ini bahannya dari kulit apa sih kok mahal bener? Di Tanah Abang yang kayak gini paling seratus ribu dapet tiga. Kasih lah diskon, saya ibunya yang punya gedung logistik di sini," ujar Ibu dengan bahasa Indonesia campur bahasa isyarat.
Si pelayan bingung, hanya bisa tersenyum sopan sambil menoleh ke arah Bagas. Bagas yang merasa malu sekaligus geli hanya bisa memijat dahi. "Ibu, di sini harganya pas. Nggak ada tawar-menawar kayak di pasar im pres."
"Halah Gas, di mana-mana kalau jualan itu ya harus ada tawar-menawar biar berkah. Mas, twenty dirham ya? Please, buat kenang-kenangan," lanjut Ibu pantang menyerah.
Bagas akhirnya terpaksa "berakting". Ia berpura-pura membisiki si pelayan, lalu ia sendiri yang menggesek kartu kreditnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu, dan mengatakan pada Ibu bahwa harganya sudah turun drastis karena "diskon hari ibu". Ibu pun keluar dari toko dengan wajah menangis bahagia karena merasa telah memenangkan negosiasi tingkat internasional.
Sementara itu, Bapak punya masalah lain. Saat mereka kembali ke apartemen mewah Bagas, Bapak merasa "gatal" melihat teknisi AC gedung sedang memperbaiki unit pendingin di koridor. Tanpa babibu, Bapak mendekat, melepas sandal jepitnya, dan mulai memberikan instruksi.
"Mas, itu kabelnya jangan ditarik gitu. Itu freon-nya mampet kayaknya. Sini biar saya lihat," ujar Bapak sambil mencoba merebut kunci inggris si teknisi.
"Bapak! Jangan! Itu mereka punya prosedur sendiri," seru Bagas panik.
"Halah, mesin mah di mana-mana sama aja, Gas. Mau di Dubai mau di Jakarta, kalau muternya nggak bener ya berarti ada yang nyangkut. Kasihan mas ini, mukanya bingung gitu," jawab Bapak dengan penuh percaya diri.
Si teknisi yang berkebangsaan Filipina itu hanya melongo melihat seorang bapak-bapak tua dengan kaos oblong putih mencoba membongkar unit AC bernilai ribuan Dollar. Bagas harus meminta maaf berkali-kali dalam bahasa Inggris agar Bapak tidak dianggap melakukan sabotase gedung.
Malam harinya, mereka duduk di balkon apartemen sambil melihat pertunjukan air mancur di depan Burj Khalifa. Ibu mengeluarkan bungkusan rengginang yang tadi dibawanya, lalu mereka bertiga makan bersama di atas meja marmer yang mahal.
"Gas," ujar Bapak sambil menatap langit malam yang penuh lampu. "Bapak bangga sama kamu. Bukan karena mobilnya, bukan karena gedungnya. Tapi karena kamu tetap jadi anak Bapak yang dulu. Kamu nggak malu ajak Ibu kamu yang nawar harga tas di depan orang bule, dan kamu nggak marah pas Bapak hampir nge rusak AC kantor kamu."
Ibu mengangguk. "Iya Gas. Ibu tadi seneng banget bisa dapet tas murah. Ternyata orang Dubai baik-baik ya, gampang dikasih diskon."
Bagas tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Ibu. Ia merasa semua tekanan pekerjaannya untuk pasar Eropa yang sangat menuntut, seolah menguap begitu saja. Bagas menyadari bahwa pencapaian terbesarnya bukanlah menjadi Head of Operations, tapi menjadi tempat di mana orang tuanya bisa merasa paling nyaman di dunia yang paling asing sekalipun.
"Minggu depan kita ke Paris ya, Bu, Pak. Tapi janji, di sana jangan nawar harga roti di bawah menara Eiffel ya?" goda Bagas.
"Gimana nanti deh, Gas. Kalau kemahalan ya tetep Ibu tawar!" jawab Ibu mantap, yang disambut tawa pecah dari Bagas dan Bapak.
malam itu Ditutup dengan kehangatan di tengah dinginnya AC Dubai. Namun, di balik kegembiraan itu, Bagas menerima sebuah email masuk di ponselnya dari kantor Frank truf. Isinya adalah tentang sebuah audit mendadak yang akan dilakukan di kantor Dubai minggu depan. Dan yang akan memimpin audit itu adalah seseorang yang dulu sangat dekat dengan Marco.
Bagas tahu, liburannya bersama orang tua harus ia bagi dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Musuh-musuh lama mulai mengendus celah saat Bagas sedang "lengah" menikmati kebahagiaannya.
Ini akan menjadi ujian multitasking terberat bagi Bagas, menjaga senyum di wajah orang tuanya sambil menghadapi "serangan fajar" dari auditor yang ingin menjatuhkan reputasinya.