"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Kebohongan Pertama
Malam itu, Seoul seolah menangis. Hujan turun dengan intensitas yang tidak biasa, menghapus jejak-jejak debu di jalanan pelabuhan tua, namun tidak mampu menghapus memori mengerikan yang baru saja terekam di benak Sheril. Di dalam mobil Suga, Sheril hanya terdiam, tubuhnya dibungkus jaket besar milik Suga yang beraroma kopi dan rokok. Ia gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kehampaan yang tiba-tiba melanda jiwanya.
"Pulanglah," ucap Suga pelan saat mereka sampai di depan blok apartemen Sheril.
"Bersikaplah seolah kau tidak pernah pergi ke pelabuhan itu. Jika kau menunjukkan sedikit saja kecurigaan, Jimin tidak akan segan-segan menghabisimu."
Sheril menoleh ke arah Suga dengan mata sembab. "Lalu bagaimana denganmu, Oppa? Kau akan membiarkan dia melakukan itu terus?"
Suga mencengkeram kemudi mobilnya, matanya menatap lurus ke depan.
"Aku akan melakukan bagianku, Sheril. Tapi malam ini, bagianmu adalah tetap hidup. Pergilah."
Sheril melangkah masuk ke apartemen dengan lutut yang masih terasa lemas. Keadaan di dalam sangat tenang. Cahaya lampu ruang tamu temaram, memberikan nuansa hangat yang biasanya membuat Sheril merasa damai. Namun sekarang, kehangatan itu terasa seperti jerat.
Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti. Beberapa saat kemudian, Jungkook keluar hanya dengan mengenakan celana kain panjang dan handuk yang melingkar di lehernya. Rambutnya basah, tetesan air mengalir di dada bidangnya yang putih. Saat melihat Sheril berdiri di dekat pintu, wajahnya langsung dihiasi senyuman yang begitu manis—senyuman yang selama ini menjadi candu bagi Sheril.
"Kamu sudah pulang, Sayang? Maaf, aku baru saja selesai mandi," ujar Jungkook.
Ia menghampiri Sheril, wajahnya penuh kekhawatiran saat melihat kondisi kekasihnya yang pucat dan basah.
"Ya ampun, kamu kehujanan? Kenapa tidak meneleponku agar aku menjemputmu di lab?"
Jungkook meraih tangan Sheril, membimbingnya duduk di sofa. Ia berlutut di depan Sheril, melepas sepatu wanita itu dengan penuh ketelatenan, lalu menggosok telapak kaki Sheril agar hangat.
"Kamu dingin sekali," gumam Jungkook. Ia mendongak, menatap Sheril dengan mata bulatnya yang penuh kasih sayang.
"Aku sudah menyiapkan sup jagung hangat di dapur. Mandilah dengan air panas, lalu kita makan bersama, ya?"
Sheril menatap pria di depannya. Pria yang beberapa jam lalu berdiri di gudang berdarah dengan apron hitam, kini sedang memperlakukannya seolah ia adalah porselen yang paling berharga di dunia.
"Kook..." suara Sheril serak.
"Ya, Sayang?"
"Tadi malam... Kamu ke mana? Aku terbangun jam dua pagi dan kau tidak ada di sampingku. Aku menelepon restoran, tapi stafmu bilang kau sudah pulang sejak jam sebelas."
Gerakan tangan Jungkook pada kaki Sheril berhenti sejenak. Hanya sedetik. Jika Sheril tidak memperhatikannya dengan teliti, ia tidak akan menyadarinya. Jungkook kemudian melanjutkan pijatannya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang kini terlihat seperti tirai pelindung.
"Oh, itu. Maafkan aku, aku tidak ingin membangunkanmu," jawab Jungkook lancar.
"Aku pergi ke pasar induk, Sheril. Pemasok daging langgananku bilang ada kiriman wagyu baru yang datang jam tiga pagi. Kau tahu sendiri, aku harus mendapatkan potongan terbaik agar pelanggan restoran tidak kecewa."
"Hanya ke pasar?" tanya Sheril lagi, suaranya bergetar.
Jungkook bangkit, lalu duduk di samping Sheril dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ia mengecup pelipis Sheril, membelai rambutnya yang lembap dengan gerakan ritmis yang menenangkan.
"Tentu saja hanya ke pasar. Memangnya aku mau ke mana lagi di jam seperti itu? Aku sempat mampir sebentar ke restoran untuk menaruh dagingnya di freezer, lalu langsung pulang. Aku bahkan sempat melihatmu tidur dengan nyenyak sebelum aku masuk ke kamar mandi tadi."
Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Jungkook. Sangat rapi, sangat meyakinkan. Jika Sheril tidak berdiri di balik kontainer pelabuhan tadi, ia pasti akan memercayainya seratus persen.
"Kamu berjanji tidak menyembunyikan apa pun dariku, kan?" bisik Sheril di dada Jungkook.
Jungkook mengeratkan pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Sheril, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu menjadi penenang baginya.
"Aku menjanjikan hidupku padamu, Sheril. Segala hal yang kulakukan, setiap tetes keringatku... itu semua untuk kita. Kamu adalah duniaku. Aku tidak mungkin melakukan apa pun yang bisa memisahkan kita."
Jungkook melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Sheril. Ia menatap mata Sheril dalam-dalam, sebuah tatapan yang penuh dengan kerinduan sekaligus keputusasaan yang tersembunyi. Ia mendekat, menyatukan kening mereka.
"Jangan pernah meragukanku, oke? Aku mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini," bisik Jungkook tepat di depan bibir Sheril.
Jungkook kemudian mencium Sheril.
Awalnya adalah ciuman yang sangat lembut, seolah ia sedang meminta maaf atas beban yang tidak bisa ia ceritakan.
Namun perlahan, ciuman itu berubah menjadi lebih intens, penuh gairah yang seolah ingin menelan semua keraguan Sheril.
Jungkook menggendong Sheril menuju kamar mereka, membaringkannya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah-olah Sheril adalah sesuatu yang suci.
Di bawah remang lampu kamar, Jungkook mencium jemari Sheril satu per satu, menatapnya dengan penuh pemujaan.
"Kau sangat cantik, Sheril. Aku akan melakukan apa pun agar kau tetap seperti ini. Tetap aman, tetap bahagia, tetap bersamaku."
Malam itu, mereka bercinta dengan emosi yang meledak-ledak. Bagi Jungkook, itu adalah cara untuk mengikat Sheril agar tidak pergi, sementara bagi Sheril, itu adalah cara untuk merasakan sisa-sisa pria yang dulu ia kenal sebelum semuanya hancur.
Saat Jungkook akhirnya terlelap dengan tangan yang tetap memeluk pinggang Sheril dengan posesif, Sheril tetap terjaga. Ia menatap wajah tidur Jungkook yang tampak begitu damai, begitu polos seperti malaikat.
Namun, saat matanya beralih ke tangan Jungkook yang memeluknya—tangan yang sangat terampil menggunakan pisau—Sheril merasakan air mata jatuh ke bantalnya.
Ia tahu, kebohongan pertama ini adalah awal dari jurang yang akan memisahkan mereka. Dan yang paling menyakitkan adalah, di tengah semua kebohongan dan darah itu, Sheril menyadari bahwa ia masih mencintai pria ini dengan segenap hatinya yang hancur.
...****************...