"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Semua isi novel ini sudah di revisi, sedangkan bab yang lain. Sedang menunggu giliran.
“Nama kamu Yuri ya?”
“Eh.”
“Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa panggil saya.” Aku mengeritkan keningku, maksudnya apa dia bilang kaya gitu? Tadi bilangnya aku harus lawan kalau diganggu sama Dewi, sekarang dia bilang kalau aku lagi butuh bantuan panggil dia.
“Bukannya Kakak bilang saya harus bisa lawan ya kalau saya diganggu lagi,”
“Enggak cuma diganggu aja sih, siapa tahu kamu butuh bantuan yang lain.”
“Hah!” aku masih tidak mengerti ucapannya.
“Tunggu, kamu jangan bergerak.” Perlahan Alex mendekat ke arahku, aku sedikit mundur agar tidak terlalu dekat, di saat kakiku melangkah mundur. Kakiku tidak sengaja menginjak batu, membuat tubuhku sedikit oleh. Dengan sigap ia menahan lenganku.
“Saya bilang kan jangan bergerak, kamu kenapa malah mundur?” Aku semakin gugup, masalahnya wajah dia terlalu dekat dengan wajahku. Tiba-tiba saja tangannya mengarah ke arah kepalaku.
“Ada ulet di atas kepala kamu.”
“Aaaa!” spontan aku teriak, aku jijik dengan ulat. “to-tolong buang ulatnya, saya takut.”
“Sudah saya buang ulatnya.”
“Makasih Kak.”
Tin..tin..
Suara klakson mobil berbunyi, ternyata mamahku sudah datang menjemput.
“Tuh, kamu sudah dijemput sama Mamah. Pulang gih! Lain kali kita bisa ketemu lagi di kelas kosong.”
Eh, dia bilang apa barusan? Ketemu lagi di kelas kosong? Sekelebat aku langsung paham maksud ucapannya. Ternyata dia masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu.
“Sana pulang, Mamah kamu sudah tunggu dari tadi,” usirnya lagi.
“Iya, kalau gitu saya pulang ya.” Aku berjalan ke arah mobil, sebelum melangkah aku melihat lagi ke arah Alex. Ternyata ia melambaikan tangan ke arahku, memperlihatkan senyum manisnya. Tanpa sadar mulutku terbuka lebar.
Tin..tin..
Lagi-lagi mamah membunyikan klakson mobilnya, membuat lamunanku buyar ke mana-mana.
“Yuri! Kamu lagi apa? Ayo masuk mobil, sebentar lagi mau hujan!” teriak mamah dari dalam mobil, aku pun berlari ke arah mamah. Saat aku sudah di dalam mobil, wajah mamah terlihat sangat aneh.
“Mamah kenapa sih? Kok lihat aku kaya gitu?”
“Pipi kamu kenapa Nak?” mamah menyentuh wajahku, matanya terus melihat pipiku yang masih merah, padahal sudah diobati pakai salep.
“Aku enggak apa-apa kok.”
“kamu enggak diganggu kan sama siswa lain?” terlihat wajah mamah begitu khawatir, wajar saja jika orang tua kawatir mengetahui anaknya ada luka memar di wajahnya.
“Mamah tenang aja.” Aku menyingkirkan tangan mamah dari wajahku secara perlahan, “tadi ada anak basket lagi main di lapangan, terus bolanya enggak sengaja kena muka aku. Tapi mereka semua udah minta maaf kok sama aku, guru yang lain juga tahu kok. Aku juga udah dikasih obat sama guru.”
“Benaran? Kamu enggak bohongkan sama Mamah!” aku sedikit terdiam, jika aku berkata yang sebenarnya, aku takut masalahnya akan semakin panjang, aku tidak mau orang tua sampai ikut turun tangan. Aku tahu berbohong kepada orang tua adalah perbuatan dosa, aku terpaksa melakukan ini semua agar orang tuaku tidak tahu yang sebenarnya, aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan keadaanku. Aku bisa mengatasinya sendiri.
“Kalau ada apa-apa, aku pasti bakal cerita kok ke Mamah.”
"Lain kali, Kalau ada kelas lain main bola basket. Sebisa mungkin kamu menjauh, bola basket itu berat loh.”
"iya, Mah,” ucapku singkat, kualihkan pandanganku ke arah jendela mobil, aku sedang berpikir. Bagai mana caranya agar aku bisa melawan Dewi, jika sewaktu-waktu ia menganggukku lagi. Tidak mungkin selamanya aku terus bergantung terhadap Rara. Semoga saja besok tidak terjadi apa-apa lagi. Hari ini aku harus fokus belajar, sebentar lagi akan ada ujian kenaikan kelas. Aku sudah tidak sabar lagi untuk naik kelas 3, supaya aku tidak bertemu lagi dengan Dewi beserta geng rusuhnya.
***
Esok paginya aku berangkat sekolah seperti biasanya, entah kenapa pagi ini sama sekali tidak ada rasa semangat untuk belajar, rasanya pengen rebahan aja di kasur sambil nonton anime atau enggak drakor.
“Pagi-pagi begini udah lemas aja, semangat dong!” ucap seorang dari arah belakangku, spotan aku menengok ke arah belakang. Ternyata ada Alex.
“Ka-Kakak?”
“Belum sarapan ya? Kelihatan lagi lemas bangat.”
“Saya sudah sarapan kok di rumah.”
“Masa, kok kelihatan kaya kurang semangat sih?” lagi-lagi jantungku berdetak kencang, rasanya ingin sekali pergi dari hadapannya. Aku enggak sanggup berada di dekatnya lama-lama.
“Loh mau ke mana?” tanyanya ketika aku ingin pergi masuk kelas.
“Saya mau masuk kelas Kak.”
“Buru-buru banget, baru juga jam 7.”
“Itu—“ kugigit bibir bawahku untuk menghilangkan rasa gugup, aku bingung harus jawab apa.
“Nih, ada roti buat kamu.” Ia menyerahkan satu buah roti untukku.
“Ini buat saya?”
“Iya, biar kamu enggak lemas lagi.” Alex memperlihatkan senyumnya padaku, membuat jantungku hampir saja berhenti. ya, Allah. Kenapa engkau bisa menciptakan manusia seperti dia, karena ciptaanmu lah aku begitu mengaguminya. Buru-buru aku menggelengkan kepala, aku tidak boleh seperti ini.