“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keesokan paginya, Yura terbangun dengan kepala terasa berat. Matanya berkeliling, dan seketika napasnya tersendat.
Ini bukan kamarnya.
Ia langsung bangkit setengah duduk, selimut terlepas, dan kepanikannya bertambah saat menyadari tubuhnya dibalut piyama, bukan gaun yang ia kenakan semalam. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya dipenuhi kemungkinan terburuk.
“Apa yang—”
Belum sempat Yura menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar mandi terbuka.
Sky keluar dengan rambut masih basah, mengenakan pakaian santai. Kehadirannya membuat Yura refleks berteriak, menarik selimut hingga menutup tubuhnya.
“Apa yang terjadi?!” suara Yura bergetar, panik bercampur tegang. “Kenapa aku di sini? Kenapa aku—”
Tatapan Sky langsung berubah dingin. Bukan marah, tapi tegas dan menjaga jarak. Ia berhenti melangkah, menatap Yura seolah ingin memotong semua asumsi di kepalanya.
“Tenang,” ucapnya singkat. “Semalam kamu muntah, berkali-kali.”
Yura terdiam.
“Tidak terjadi apa-apa,” lanjut Sky datar. “Jangan berlebihan.”
Ia mengambil handuk, mengeringkan rambutnya dengan gerakan malas namun terkendali, lalu kembali menatap Yura.
“Aku tidak akan mengambil kesempatan dari gadis mabuk,” katanya dingin. “Dan satu hal lagi ... aku tidak suka perempuan mabuk.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Yura tercekat, rasa malu, lega, dan sakit bercampur jadi satu. Ia menunduk, jemarinya mengepal di atas selimut, sementara Sky berbalik, memberi jarak, seolah sengaja menunjukkan bahwa batas itu tetap ada.
Setelah mandi, Yura keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Rambutnya masih sedikit basah, pikirannya belum sepenuhnya jernih. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang, di sana terlipat rapi satu set pakaian yang jelas bukan miliknya. Namun, kamar itu kosong, Sky tidak ada.
Entah kenapa, dada Yura terasa sedikit sesak.
Ia melangkah mendekat, lalu menyadari selembar kertas putih tergeletak di lantai, tepat di samping ranjang. Yura memungutnya dan membaca tulisan tangan yang tegas namun singkat.
"Aku di lantai bawah. Ganti pakaianmu sekarang. Kemungkinan Arga akan segera mencari keberadaanmu."
Jari-jari Yura mencengkeram kertas itu lebih erat. Nama Arga membuatnya refleks menelan ludah. Waktu tenangnya jelas tidak banyak. Ia menarik napas dalam, menenangkan dirinya, lalu menatap pakaian yang disiapkan Sky, tanpa bertanya bagaimana pria itu tahu ukuran tubuhnya dengan tepat. Dengan gerakan cepat, Yura mulai berganti pakaian.
Sementara itu, di lantai atas gedung Pradipta Group, suasana ruang kerja Arga terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Tirai kaca terbuka memperlihatkan hiruk-pikuk kota, namun perhatian Arga sama sekali tidak tertuju ke sana.
Shasmita berdiri di dekat meja kerjanya. Bukan sebagai tamu, melainkan seseorang yang seolah sudah menjadi bagian tetap dari ruangan itu.
Ia memperhatikan Arga yang sejak tadi menandatangani berkas tanpa fokus. Tatapan pria itu kosong, rahangnya mengeras, jelas pikirannya sedang tidak berada di kantor melainkan entah di mana, entah pada siapa.
Shasmita menyilangkan tangan di dada, lalu akhirnya membuka suara dengan nada lembut namun terukur.
“Arga,” panggilnya pelan.
Arga mendongak. Seketika wajahnya berubah, ekspresi dingin itu luruh menjadi senyum kecil yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
“Kamu capek berdiri? Duduk,” katanya, mendorong kursi di depannya.
Shasmita tidak langsung duduk. Ia melangkah mendekat, bersandar ringan di sisi meja Arga, lalu menatap pria itu dengan sorot mata penuh perhitungan yang dibungkus manis.
“Aku akan kembali ke Eropa,” ucapnya akhirnya. “Tapi sebelum itu … aku ingin sesuatu yang jelas.”
Alis Arga terangkat. “Maksudmu?”
Shasmita tersenyum tipis.
“Kapan kamu akan meresmikan hubungan kita?”
Kalimat itu meluncur tenang, tanpa desakan, tanpa nada memaksa. Justru ketenangannya membuat Arga terdiam beberapa detik.
“Kita sudah terlalu lama seperti ini, Arga,” lanjut Shasmita.
“Kamu tahu posisiku. Dunia juga tahu siapa aku bagimu. Aku tidak keberatan menunggu, tapi aku tidak ingin kembali ke Eropa dengan status yang menggantung.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit, cukup dekat hingga Arga bisa mencium aroma parfumnya.
“Aku ingin pertunangan kita diumumkan. Resmi. Sebelum aku pergi.”
Jantung Arga berdegup lebih cepat. Bukan karena tertekan tetapi melainkan karena kalimat itu justru membangkitkan ambisi lamanya. Sejak awal, Shasmita adalah target, simbol keberhasilan, wanita yang ingin ia miliki dan tunjukkan ke dunia.
Arga tersenyum, bangkit dari kursinya, lalu menggenggam tangan Shasmita.
“Tentu saja aku mau,” jawabnya tanpa ragu. “Aku memang sudah berencana ke arah sana.”
Mata Shasmita berbinar, seolah mendapatkan jawaban yang ia tunggu.
“Aku akan atur semuanya,” lanjut Arga. “Kita umumkan dalam waktu dekat. Aku tidak ingin kamu kembali ke Eropa dengan keraguan.”
Shasmita menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum puas.
“Bagus,” katanya lembut. “Aku senang mendengarnya.”
Namun, di balik senyum itu, pikirannya bergerak cepat, dia tahu Yura akan segera bebas, dan Yura bisa membalaskan rasa sakit yang sama kepada Arga.
Sore itu, langit mulai meredup ketika mobil Sky berhenti di halaman kediaman Pradipta. Yura turun lebih dulu, wajahnya terlihat tenang dan terlalu tenang bagi seseorang yang semalam hampir kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Sky mengikutinya, langkahnya santai namun sorot matanya waspada, seolah memastikan Yura benar-benar aman sebelum ia menyerahkannya kembali ke rumah yang baginya terasa seperti sangkar emas.
Begitu pintu utama terbuka, suasana di dalam ruang tamu seketika terasa menekan.
Arga sudah menunggu di sana. Duduk tegak di sofa utama, mengenakan setelan rapi, sementara di sisinya Shasmita berdiri anggun dengan gaun sederhana namun mahal. Keduanya tampak seperti pasangan yang sempurna, setidaknya di mata siapa pun yang melihat dari luar.
Hampir saja Arga berdiri dan melangkah mendekat begitu melihat Yura masuk.
Refleks itu tertahan ketika sudut matanya menangkap sosok Shasmita di sampingnya. Seketika, Arga kembali mengendalikan ekspresinya. Wajahnya mengeras, bahunya kembali tegak, seolah jarak yang tadi nyaris ia langkahi tidak pernah ada.
Dalam hati Arga bergumam dingin.
'Yang kuinginkan adalah Shasmita. Aku tidak boleh mengecewakannya. Soal Yura, ia akan menyelesaikannya nanti. Kontrak itu. Hubungan palsu itu, dia berharap, saat waktunya tiba, Yura cukup tahu diri untuk pergi tanpa memohon.'
Sky berhenti selangkah di belakang Yura. Tatapannya sempat bertemu dengan Arga, dingin dan penuh arti, sebelum akhirnya ia mengangguk singkat sebagai salam.
Arga berdeham kecil, lalu bertanya dengan nada formal, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
“Bagaimana kondisimu?”
Yura mengangkat wajahnya. Tatapannya singkat, datar, nyaris tanpa emosi.
“Baik-baik saja,” jawabnya tenang. “Tuan Sky membawa saya ke rumah sakit.”
Itu bohong, namun Yura mengucapkannya dengan begitu mulus, tanpa getar, tanpa keraguan. Arga mengangguk pelan, menerima jawaban itu begitu saja.
“Kalau begitu, istirahatlah. Kamu pasti lelah.”
Yura mengiyakan. Ia sudah hendak melangkah pergi menuju tangga ketika suara Shasmita terdengar, membuat langkahnya terhenti.
“Yura.”
Shasmita memanggil, berjalan selangkah ke depan. Senyumnya lembut, suaranya tenang namun setiap katanya terasa seperti palu yang mengetuk perlahan namun pasti.
“Ada satu hal yang perlu kamu ketahui,” ucapnya. “Aku dan Arga akan meresmikan pertunangan kami. Dalam waktu dekat.”
Kalimat itu melayang di udara, berat dan tak terbantahkan. Yura berbalik perlahan.
Tatapan matanya beralih pada Arga. Ada sesuatu di sana bukan amarah, bukan pula cemburu yang meledak-ledak. Hanya kesedihan yang tenang, sendu, dan terlalu dalam untuk diterjemahkan dengan kata-kata.
Arga menangkap tatapan itu. Dan untuk sesaat, sangat singkat dadanya terasa sesak. Perasaan tak nyaman merayap naik, sesuatu yang tidak ingin ia akui. Namun, ia segera menepisnya. Ini adalah pilihan yang sejak awal ia ambil. Tidak ada ruang untuk ragu.
Yura tersenyum tipis, senyum yang sopan. Terkendali.
“Selamat,” ucapnya lirih. “Saya turut berbahagia.”
Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan, tidak ada permohonan. Setelahnya, Yura menundukkan kepala sekilas, lalu berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya. Punggungnya tegak, langkahnya stabil, namun setiap langkah terasa seperti menjauhkan dirinya dari sesuatu yang perlahan ia lepaskan.
Sky memperhatikan Arga sejenak sebelum ikut berbalik. Dalam sorot matanya, ada peringatan yang tidak diucapkan.
Di ruang tamu, Arga berdiri terpaku. Sementara Shasmita kembali ke sisinya, menggenggam lengannya dengan senyum puas. Namun, sejak ia merasa akan mendapatkan segalanya, Arga justru merasakan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan.
Sementara itu, di kediaman Wijaya, Hans duduk sendiri di ruang kerjanya sejak dini hari. Lampu meja masih menyala, sementara jendela besar di belakangnya menampilkan langit yang mulai memucat menjelang pagi. Ia belum memejamkan mata barang semenit pun sejak semalam.
Bayangan itu terus menghantuinya, tanda lahir di punggung Yura. Warna kekuningan dengan bentuk menyerupai bunga melati.
Hans menutup matanya, menghela napas panjang, lalu membuka kembali laci meja dan mengeluarkan sebuah album lama. Jemarinya bergetar saat membuka halaman yang telah menguning oleh waktu. Sebuah foto bayi perempuan terpampang di sana bayi yang dulu digendong ibunya dengan wajah pucat namun penuh cinta.
Di balik foto itu, tulisan tangan ibunya masih jelas terbaca.
Melati kecil Ibu, Hans mengepalkan tangannya. Adik perempuannya yang hilang. Bayi yang menghilang bertahun-tahun lalu, meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh di keluarga Wijaya.
“Tidak mungkin…” gumamnya lirih. “Atau … jangan-jangan…”
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Akalnya menolak, tetapi nalurinya, naluri yang selama ini selalu ia percayai berteriak semakin keras. Terlalu banyak kebetulan. Terlalu banyak kecocokan.
Hans tahu, jika ia mengatakan kecurigaan ini pada orang tuanya tanpa bukti, hanya akan membuka kembali luka lama yang mungkin tak sanggup mereka tanggung.
“Tes DNA,” ucapnya mantap.
Keputusan itu jatuh begitu saja, tanpa ragu. Hans mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang sangat ia percaya, dokter keluarga Wijaya yang telah lama menangani urusan medis keluarga mereka secara tertutup.
“Saya butuh bantuan,” kata Hans singkat namun tegas saat panggilan tersambung. “Saya ingin melakukan tes DNA. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun.”
Di seberang sana, suara sang dokter terdengar terkejut, namun tetap profesional.
[Dengan siapa, Tuan Hans?]
Hans terdiam sesaat, nama itu terasa berat di lidahnya.
“Dengan seorang wanita,” jawabnya akhirnya. “Namanya Yura.”
[Anda perlu mengirimkan sampel, darah atau rambutnya,]
"Saya akan mengirim itu secepatnya,"
Ia menutup panggilan dan bersandar pada kursinya, menatap langit-langit ruangan dengan sorot mata gelap dan penuh konflik.
Jika firasatnya salah, ia akan menguburnya rapat-rapat dan melupakan semuanya. Tetapi, jika benar, dia akan menghancurkan siapapun yang menyakiti adiknya.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂