NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Spektrum dan Bayangan

Satu minggu sebelum Festival Olahraga dimulai, atmosfer di SMA UA berubah total. Jika sebelumnya mereka fokus pada bertahan hidup setelah insiden USJ, kini setiap murid Kelas 1-A dipenuhi oleh api kompetisi. Festival Olahraga bukan sekadar acara sekolah; itu adalah panggung nasional di mana para agensi pahlawan mencari bakat baru.

Di koridor, kerumunan murid dari kelas lain mulai berkumpul di depan pintu Kelas 1-A, mencoba mengintip "anak-anak yang selamat dari penjahat" tersebut.

"Mereka mencari informasi tentang kita," ucap Mitsuki pelan saat ia berjalan keluar kelas bersama Izuku. "Dalam perang, informasi adalah komoditas pertama yang dicuri. Mereka sedang memetakan kekuatan kita."

Izuku mengangguk, terlihat sedikit gugup dengan perhatian massal tersebut. "Kau benar, Mitsuki-kun. Tapi di sini, mereka menyebutnya 'membangun rivalitas'."

Tiba-tiba, seorang murid berambut ungu berantakan dengan lingkaran hitam di bawah matanya Hitoshi Shinso dari Kelas Umum menghalangi jalan mereka.

"Jadi ini kelas pahlawan yang sombong itu?" tanya Shinso dengan nada datar. "Banyak orang di kelas umum dan departemen lain yang punya potensi, tapi tidak masuk karena ujian praktis yang hanya mementingkan kekuatan fisik. Kami di sini untuk menjatuhkan kalian dari singgasana."

Bakugo sudah siap meledak, namun Mitsuki melangkah maju. Ia menatap Shinso dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang membedah isi kepala pemuda itu.

"Tatapan yang bagus," ucap Mitsuki tenang. "Kau memiliki aroma orang yang sering terabaikan. Tapi berhati-hatilah, kebencian adalah pedang tanpa pegangan. Jika kau tidak hati-hati, kau akan melukai tanganmu sendiri sebelum sempat menebas lawan."

Shinso tertegun. Ia mengharapkan makian atau kesombongan, bukan nasihat dingin yang filosofis. Sebelum ia bisa membalas, Mitsuki sudah berjalan melewatinya, diikuti oleh Izuku yang membungkuk sopan secara refleks.

Sore harinya, Kelas 1-A mendapatkan pengarahan dari Mt. Lady dan Midnight tentang cara berhadapan dengan media dan penonton.

"Kalian harus punya Gimmick!" seru Mt. Lady dengan gaya centilnya. "Kalian harus terlihat menarik di depan kamera! Penampilan adalah segalanya bagi seorang Hero!"

Mitsuki mengangkat tangannya dengan wajah polos. "Sensei, jika saya menggunakan warna-warna terang untuk menarik perhatian penonton, bukankah itu mempermudah penjahat untuk menembak saya dari jarak satu kilometer? Apakah kematian saya akan dianggap sebagai hiburan yang bagus?"

Seluruh kelas mendadak hening. Mt. Lady terdiam, mulutnya sedikit terbuka.

"E-eh... tentu saja tidak! Tapi ini kan festival!" jawab Mt. Lady gagap.

"Aku mengerti," Mitsuki mengangguk pelan. "Jadi ini adalah ritual pamer kekuatan untuk menakuti musuh sebelum pertempuran benar-benar terjadi. Seperti tarian perang. Baiklah, aku akan mencoba sedikit lebih... mencolok."

Di malam hari, Mitsuki membawa Izuku ke hutan di belakang asrama. Ia ingin memberikan satu pelajaran terakhir sebelum hari besar itu tiba.

"Izuku, selama ini kau hanya fokus pada bagaimana mengeluarkan kekuatanmu," ucap Mitsuki. Ia mengeluarkan dua buah bel kecil dari sakunya. "Sekarang, aku ingin kau belajar cara 'melihat' tanpa mata."

Mitsuki mengikatkan bel itu di pergelangan tangannya. "Tutup matamu. Gunakan One For All dalam jumlah yang sangat kecil, sekitar 2 atau 3 persen, tapi alirkan ke telingamu dan permukaan kulitmu. Rasakan getaran udara saat aku bergerak."

"Tapi Mitsuki-kun, aku belum bisa mengontrol alirannya dengan stabil!" protes Izuku.

"Bisa," tegas Mitsuki. "Kau hanya perlu berhenti menganggap kekuatan itu sebagai ledakan. Anggap itu sebagai air dalam pipa. Jangan buka kerannya sepenuhnya, biarkan dia merembes keluar."

Selama berjam-jam, Izuku mencoba merasakan pergerakan Mitsuki. Awalnya ia gagal total, namun berkat instruksi Mitsuki yang fokus pada titik-titik saraf, Izuku mulai merasakan sesuatu. Ia mulai bisa "melihat" bayangan pergerakan Mitsuki melalui perubahan tekanan udara.

"Itu disebut Sensory Perception," bisik Mitsuki. "Jika kau bisa menguasai ini, kau tidak perlu lagi takut pada kecepatan lawan. Kau akan tahu ke mana mereka bergerak bahkan sebelum mereka melangkah."

Izuku terengah-engah, namun matanya bersinar. "Ini... ini berbeda dari apa pun yang diajarkan All Might. Terima kasih, Mitsuki-kun."

"Jangan berterima kasih padaku," Mitsuki menatap bulan yang bersinar terang di atas mereka. "Di festival nanti, aku tidak akan menahan diri. Aku ingin kau menunjukkan padaku bahwa Matahari bisa membakar bayangan."

Hari Festival Olahraga

Stadion UA penuh sesak. Sorakan puluhan ribu penonton mengguncang tanah. Media dari seluruh penjuru Jepang menyiarkan acara ini secara langsung.

Di ruang tunggu Kelas 1-A, ketegangan memuncak. Todoroki berjalan mendekati Izuku.

"Midoriya," ucap Todoroki dingin. "Secara objektif, aku lebih kuat darimu. Tapi All Might memperhatikanku... dan aku akan mengalahkanmu untuk menunjukkan padanya kekuatanku sendiri."

Lalu, Todoroki melirik Mitsuki. "Dan kau... aku tidak tahu apa tujuanmu di sini. Tapi jangan coba-coba menghalangi jalanku dengan kata-kata filosofismu lagi."

Mitsuki hanya tersenyum tipis sambil menyesuaikan pelindung tangannya. "Aku tidak akan menghalangimu, Todoroki-kun. Aku hanya akan menjadi cermin. Kau akan melihat sendiri siapa dirimu saat esmu mulai mencair."

"SILAKAN MASUK, KELAS 1-A!" Suara Present Mic menggelegar melalui pengeras suara.

Saat mereka melangkah keluar dari terowongan gelap menuju lapangan yang terang benderang, Mitsuki merasakan ribuan pasang mata menatapnya. Ia melihat kamera helikopter yang terbang di atas.

Di suatu tempat yang jauh, di sebuah laboratorium bawah tanah yang gelap, seorang pria dengan kulit pucat dan mata ular yang identik dengan Mitsuki sedang menonton layar monitor dengan senyum kepuasan.

"Mari kita lihat, Mitsuki," bisik suara itu di dalam kegelapan. "Tunjukkan pada dunia ini, apa artinya menjadi puncak dari evolusi."

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!