Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Pertemuan.
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir.
Bus tua yang sejak kemarin menggeram lelah perlahan melambat, rodanya berderit saat berhenti di tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Pintu bus terbuka dengan suara desis panjang, seolah ikut menghembuskan napas lega.
Satu per satu mahasiswa turun.
Udara menyambut mereka lebih dulu—dingin, bersih, dan segar. Tidak ada bau asap kendaraan. Tidak ada debu jalanan kota. Hanya aroma tanah basah, dedaunan, dan angin yang mengalir pelan.
Di hadapan mereka terbentang desa terpencil itu.
Cantik.
Tenang.
Seperti lukisan hidup.
Rumah-rumah kayu berdiri berjajar rapi, atapnya sederhana. Anak-anak desa mengintip dari kejauhan dengan mata penasaran. Sawah membentang hijau, dan bukit-bukit mengelilingi desa seperti pelukan alam.
Beberapa mahasiswa berdecak kagum.
“Indah banget…”
“Gila, ini kayak dunia lain.”
Namun Lian tidak ikut bersuara.
Ia turun terakhir.
Saat kakinya menginjak tanah desa itu, ada perasaan aneh menyusup—seolah dadanya mengencang tanpa sebab. Tangannya yang memegang tas ransel tiba-tiba melemas.
Dan—
bruk.
Tas itu terjatuh ke tanah.
Lian terdiam.
Bukan karena beratnya tas,
melainkan karena apa yang matanya tangkap tepat di depan pintu masuk desa.
Di sana—
berdiri seorang pria.
Seragam loreng rapi membalut tubuhnya. Rompi taktis, senjata tergantung di dada, sepatu militer tertanam kuat di tanah. Wajahnya lebih tirus dari yang Lian ingat. Rahangnya lebih tegas. Tubuhnya terlihat lebih kurus, namun tetap kokoh—kekar dengan cara yang keras dan dingin.
Matanya.
Mata itu—
kosong.
Tanpa emosi. Tanpa kehangatan. Seperti baja yang sudah lama lupa rasanya berkarat.
Haikal.
Dunia Lian seolah berhenti.
Suara mahasiswa lain menghilang. Angin terasa jauh. Desa yang indah itu mendadak kabur.
Yang ada hanya pria itu.
Suaminya.
Yang hilang selama dua tahun enam bulan.
Yang ditunggu tanpa kabar.
Yang namanya setiap malam ia sebut dalam diam.
Lian melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia berdiri tepat di hadapan Haikal.
Jarak mereka tidak sampai satu meter.
Cukup dekat untuk melihat garis lelah di wajahnya. Cukup dekat untuk memastikan ini bukan mimpi.
Namun Haikal—
tidak bergerak.
Tidak terkejut.
Tidak berkedip.
Tidak memanggil namanya.
Ia berdiri bak patung penjaga gerbang.
Tatapan lurus ke depan. Bahu tegap. Rahang mengeras.
Seolah Lian hanyalah udara yang lewat.
Lian membuka mulut.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Dadanya sesak. Tenggorokannya terkunci.
Di saat itulah seseorang dari belakang menghampirinya.
“Lian?” suara teman satu jurusannya terdengar bingung. “Kamu kenapa?”
Tangan itu menyentuh pergelangan tangan Lian.
Dan menariknya menjauh.
“Eh—ayo, nanti barang-barang kita ditata dulu,” kata temannya tanpa menyadari apa yang baru saja terjadi.
Lian terseret satu langkah.
Ia menoleh sekali lagi.
Haikal masih di sana.
Diam.
Tegak.
Dingin.
Tidak menoleh padanya.
Tidak menghentikannya.
Tidak mengejarnya.
Lian tidak sempat berkata apa-apa.
Tidak memanggil.
Tidak bertanya.
Tidak menangis.
Ia hanya berjalan.
Langkah demi langkah menjauh dari pintu masuk desa itu.
Menjauh dari pria yang telah ia tunggu setengah hidupnya.
Namun di dadanya—di balik rasa nyeri yang menekan—ada satu hal kecil yang akhirnya runtuh… dan sekaligus tegak berdiri.
Setidaknya.
Setidaknya dia tahu.
Haikal tidak mati.
Haikal masih hidup.
Dan meski ia berdiri dingin seperti orang asing,
kehadirannya hari itu—
di desa tanpa sinyal ini—
adalah bukti bahwa penantian Lian tidak sepenuhnya sia-sia.
Di balik punggungnya, Haikal tetap berdiri tak bergeming.
Namun untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—
napasnya terasa berat.
Baik. Ini BAB 16 (lanjutan) — POV Haikal, ditulis panjang, detail, penuh pengendalian diri, fokus pada perintah, larangan, dan konflik batin seorang prajurit yang dipaksa berdiri tegak di depan istrinya sendiri.
Haikal sudah berdiri di sana sejak tiga puluh menit lalu.
Di pintu masuk desa, di titik paling terbuka, tempat setiap orang yang datang pasti melewati pandangannya. Itu bukan kebetulan. Itu perintah.
Zona aman harus terlihat.
Personel harus siaga.
Tidak ada kelengahan.
Ia berdiri tegak, kedua kaki terbuka selebar bahu, senjata terpasang, mata lurus ke depan. Angin pegunungan menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Lingkungan terlalu tenang—dan justru itu yang berbahaya.
Bus tua itu akhirnya muncul dari tikungan jalan tanah.
Haikal sudah bersiap sejak suara mesinnya terdengar dari jauh.
Bus berhenti.
Pintu terbuka.
Satu per satu mahasiswa turun.
Ia memindai wajah mereka secara otomatis.
Bukan manusia yang ia lihat—melainkan potensi ancaman.
Sampai—
langkahnya berhenti di dalam dada.
Itu dia.
Haikal membeku.
Hanya sepersekian detik. Tidak sampai satu detik. Tapi cukup untuk membuat jantungnya menghantam tulang rusuk dengan keras.
Lian.
Istrinya.
Humairah Liandra.
Ia berdiri di sana, turun dari bus dengan ransel di punggungnya. Rambutnya—yang dulu selalu pendek, asal, bahkan sering diikat sembarangan—kini panjang, terikat rapi dan jatuh anggun di punggungnya.
Wajahnya lebih tirus. Lebih dewasa. Lebih… cantik.
Cantik dengan cara yang membuat Haikal ingin menunduk, bukan menatap.
Dadanya menegang.
Ini tidak ada di perhitungan.
Tidak ada dalam laporan.
Tidak ada dalam skenario.
Dua tahun enam bulan.
Dua tahun enam bulan ia mengubur wajah itu di sudut pikirannya paling dalam. Menyimpannya rapat-rapat agar tidak mengganggu fokus. Agar tidak membuat tangannya gemetar saat menarik pelatuk.
Namun kini—
istrinya berdiri nyata di hadapannya.
Untuk sesaat—sangat singkat—Haikal lupa bernapas.
Ia melihat tas Lian jatuh ke tanah.
Mendengar suaranya seperti gema di kepalanya sendiri.
Dan Lian melangkah ke arahnya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Setiap langkahnya terasa seperti tekanan langsung ke dada Haikal.
Ia ingin bergerak.
Ingin memanggil namanya.
Ingin berkata, “Aku di sini.”
Namun tubuhnya tetap diam.
Larangan.
Itu kata pertama yang muncul di kepalanya.
Larangan untuk mendekat.
Larangan untuk menunjukkan emosi.
Larangan untuk mengakui hubungan pribadi di area operasi.
Ia adalah komandan lapangan di titik ini.
Bukan suami.
Bukan pria yang pernah berjanji akan pulang dalam hitungan hari.
Ia berdiri tegak saat Lian tepat di depannya.
Dekat sekali.
Ia bisa melihat bulu mata istrinya bergetar. Bisa melihat napasnya yang tertahan. Bisa merasakan kehadirannya—hangat, hidup, nyata.
Namun Haikal menatap lurus ke depan.
Bukan karena ia tidak peduli.
Justru karena ia terlalu peduli.
Jika ia menoleh—
jika ia berbicara—
jika ia bergerak—
semua pertahanannya akan runtuh.
Dan prajurit yang kehilangan kendali adalah prajurit yang mati.
Tangannya di sisi tubuh mengepal perlahan.
Di balik sarung tangan, jari-jarinya menekan telapak tangan sendiri hingga terasa nyeri. Itu caranya bertahan. Cara mengingatkan diri bahwa ia masih berada di medan tugas.
Ketika seseorang menarik tangan Lian menjauh—
Haikal melihatnya.
Dan ia tidak menghentikannya.
Itu keputusan paling kejam yang pernah ia buat.
Namun itu juga keputusan paling aman.
Ia melihat punggung Lian menjauh. Rambut panjang itu bergoyang pelan mengikuti langkahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—
ada rasa sakit yang tidak bisa ia tembak mati.
Ia tetap berdiri di tempat.
Namun dadanya terasa sesak.
Dia hidup, pikirnya.
Dia baik-baik saja.
Itu seharusnya cukup.
Namun nyatanya—
itu tidak pernah cukup.
Saat desa kembali sunyi, Haikal baru menghembuskan napas pelan.
Sangat pelan.
Ia menutup mata sepersekian detik, lalu membukanya kembali—dingin, kosong, profesional.
Perintah masih berlaku.
Zona masih rawan.
Dan ia masih seorang prajurit.
Namun kini—
di desa tanpa sinyal ini,
istrinya berada dalam radius perlindungannya.
Dan Haikal tahu satu hal pasti:
Ia boleh kehilangan segalanya.
Ia boleh tidak pulang.
Namun Humairah Liandra tidak boleh terluka.
Tidak selama ia masih berdiri.
Pukul delapan malam.
Langit desa gelap sempurna, bertabur bintang yang terlihat jauh lebih jelas dibandingkan kota. Lampu-lampu kecil menyala di sekitar tenda militer, cukup terang untuk menerangi wajah para mahasiswa yang duduk melingkar di dalamnya.
Beberapa tentara berdiri di sisi tenda, berjaga tanpa ikut campur.
Diskusi berlangsung serius.
Setiap jurusan mendapat bagian tugas masing-masing—kedokteran membahas layanan kesehatan desa, teknik sipil soal perbaikan jalan kecil dan saluran air, pertanian mengenai pengolahan lahan.
Saat giliran teknik mesin, Lian ikut angkat suara.
Nada bicaranya tenang. Fokus. Jauh dari kesan barbar yang sering dilekatkan orang padanya.
Tak satu pun dari mereka tahu—gadis yang berbicara soal mesin dan sistem itu adalah istri dari salah satu tentara yang berjaga di luar.
Setelah semua dibahas, satu per satu mahasiswa mulai keluar dari tenda.
Tawa kecil terdengar. Beberapa saling bercanda, mengusir lelah perjalanan panjang.
Lian keluar paling terakhir.
Saat ia melangkah menjauh dari tenda, matanya menangkap sosok seorang kakek tua yang berjalan tertatih sambil membawa kotak perkakas besi. Kotak itu terlihat berat untuk tubuh setua itu.
Langkah kakek itu pelan. Tangannya gemetar sedikit saat menggenggam gagang kotak.
Lian berhenti.
Ia berbalik dan mendekat.
“Pak,” panggilnya pelan.
Kakek itu menoleh, tampak terkejut.
“I-iya, Nak?” suaranya serak, napasnya terdengar berat.
“Itu… kotak perkakas dari tenda, ya?” tanya Lian lembut, bukan menuduh.
Wajah kakek itu langsung berubah cemas. Ia menunduk sedikit, tubuhnya ikut membungkuk lebih dalam.
“Ampun, Nak… saya minta maaf,” katanya cepat. “Saya bukan mau mencuri. Di desa ini nggak ada alat-alat begitu. Saya lihat tadi kotaknya di meja… saya cuma pinjam sebentar.”
Tangannya menggenggam kotak itu lebih erat, seolah takut direbut.
“Bus yang bawa kalian tadi mati di depan desa,” lanjutnya. “Saya cuma mau bantu sebisanya. Tapi tenaga saya sudah nggak seberapa.”
Lian menatap wajah tua itu.
Keriput di sekitar matanya. Tangan yang kasar. Nafas yang tersengal.
Ia menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa, Pak,” katanya. “Saya ngerti.”
Kakek itu mengangkat kepala, matanya tampak lega tapi masih ragu.
“Benarkah, Nak?”
“Iya,” jawab Lian singkat. “Kalau bus itu nggak bisa jalan, kita semua juga repot.”
Tanpa banyak bicara, Lian meraih kotak perkakas itu.
“Biar saya bantu bawain,” ucapnya.
“Eh—Nak, jangan,” kakek itu refleks menahan. “Berat.”
Lian tersenyum kecil. Senyum yang jarang ia pakai.
“Tenang, Pak. Saya anak teknik mesin.”
Kakek itu terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar.
“MasyaAllah… pantesan.”
Mereka berjalan bersama menuju pintu masuk desa.
Dan benar saja—
bus tua itu masih terparkir di sana.
Kap mesinnya terbuka. Sopir bus tampak kebingungan, sesekali menggaruk kepala, sesekali menatap mesin dengan wajah putus asa.
Beberapa tentara berjaga di sekitar, termasuk—
Haikal.
Ia berdiri tidak jauh dari bus.
Posisi tubuhnya santai namun waspada. Tatapannya tertuju ke arah mesin, lalu—tanpa bisa dicegah—bergeser ke arah Lian yang mendekat.
Haikal melihatnya melepas jaket.
Melihatnya menggulung lengan baju tanpa ragu.
Dan saat Lian berlutut di dekat mesin, Haikal merasakan sesuatu yang aneh mengalir di dadanya.
Lian membuka kotak perkakas itu.
Ia mengambil kardus dari dalam, membentangkannya di tanah, lalu berbaring setengah badan agar punggungnya tidak langsung menyentuh tanah.
“Pak,” kata Lian pada kakek itu, “bus ini mati mendadak atau sudah lama bermasalah?”
“Dari jalan tanah tadi mesinnya sudah sering batuk-batuk, Nak,” jawab sang kakek.
Lian mengangguk.
Ia meraba beberapa bagian mesin, telinganya mendekat, matanya fokus.
Sopir bus mendekat ragu-ragu.
“Mbak… ngerti mesin?” tanyanya.
“Iya" jawab Lian singkat. “Tapi saya coba dulu.
Haikal memperhatikan semuanya dari tempatnya berdiri.
Cara Lian bekerja.
Cara ia fokus.
Cara ia lupa bahwa dirinya sedang diawasi.
Untuk pertama kalinya malam itu—
Haikal melihat sisi Lian yang tidak rapuh,
tidak menunggu,
tidak diam.
Dan ia sadar—
selama dua tahun enam bulan itu,
istrinya tidak hanya menunggu.
Ia bertahan.