NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Udara malam yang lembap menusuk pori-pori kulit saat Ifa membuka pintu pagar. Di sana, bersandar pada motor besar hitamnya, Nicholas berdiri dengan gaya yang selalu sama—angkuh namun entah kenapa terlihat kesepian. Ia masih mengenakan jaket kulit yang aromanya sudah sangat lekat di ingatan Ifa.

Ifa tidak langsung menanyakan soal memori dua tahun lalu. Meskipun jantungnya berdebar kencang karena rahasia yang baru saja dibocorkan oleh Bang Ryan, harga dirinya lebih tinggi. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Nick dengan wajah ditekuk sedalam mungkin.

"Ngapain sih Kakak ke sini?" tanya Ifa ketus, suaranya memecah keheningan malam. "Seharusnya jam segini mahasiswa itu sibuk sama urusan tugas, laporan praktikum, atau apalah itu. Bukannya malah nongkrong di depan rumah orang."

Nick tidak langsung menjawab. Ia justru menegakkan tubuhnya, melangkah pelan mendekati gerbang hingga jarak mereka hanya terhalang jeruji besi. Ia menatap Ifa dengan intens, seolah sedang memastikan bahwa gadis di depannya ini tidak menangis setelah kejadian di parkiran tadi.

"Tugas gue udah selesai. Dan urusan gue sekarang adalah mastiin lo nggak lagi merencanakan cara buat kabur bareng cowok itu besok pagi," jawab Nick enteng, namun ada nada serius di baliknya.

Ifa mendengus keras, matanya memutar malas. "Kakak tuh bener-bener ya! Punya penyakit trust issue atau gimana sih? Daffa itu sahabat aku, Kak. Dia nggak bakal bawa aku kabur ke kutub utara!"

"Gue nggak peduli dia siapa, Ifa. Gue cuma nggak suka cara dia megang bahu lo tadi," desis Nick. Tangannya memegang jeruji gerbang, buku-buku jarinya memutih. "Lo itu terlalu gampang percaya sama orang."

"Aku gampang percaya sama orang?" Ifa tertawa hambar. "Justru karena aku pemilih, aku temenan sama Daffa. Dia baik, sopan, dan nggak pernah maksa-maksa aku kayak yang Kakak lakuin!"

Nick terdiam. Kata-kata Ifa seolah menamparnya telak. Selama ini ia memang menggunakan kekuatan dan intimidasi sebagai tameng. Ia tidak tahu cara menjadi "cowok baik" seperti yang Amara inginkan.

"Oh, jadi lo lebih suka yang 'sopan'?" Nick mendekatkan wajahnya ke gerbang. "Yang cuma bisa senyum-senyum nggak jelas tapi nggak bisa jagain lo pas dunia lagi nggak baik-baik aja?"

"Maksud Kakak apa sih?!" Ifa mulai emosi. "Dunia nggak baik-baik aja itu maksudnya apa? Selama ini hidup aku tenang-tenang aja sebelum Kakak dateng dan ngaku-ngaku aku ini 'milik' Kakak!"

Nick memejamkan mata sejenak, mencoba meredam amarah yang mulai naik ke kepalanya. Ia ingin sekali berteriak, 'Gue yang jagain lo pas lo dipalak di gang tahun lalu! Gue yang pastiin motor ojol lo nggak ugal-ugalan setiap pagi!' Tapi lidahnya kelu. Ia tidak mau Ifa merasa berutang budi. Ia ingin Ifa ada di sampingnya karena keinginan gadis itu sendiri, bukan karena sejarah.

"Terserah lo mau anggap gue apa, Fa," ucap Nick akhirnya, suaranya melemah sedikit. "Gue ke sini cuma mau nganterin ini."

Nick merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah gantungan kunci berbentuk kucing kecil yang lucu dengan peluit kecil di bawahnya.

"Apa ini?" tanya Ifa ragu.

"Peluit darurat. Kalau lo dalam bahaya, atau kalau ada cowok yang macem-macem sama lo, tiup itu. Gue atau Ryan bakal langsung denger kalau kita lagi di sekitar lo," Nick menyodorkannya lewat celah gerbang.

Ifa menatap gantungan kunci itu, lalu menatap Nick. Ada sisi lain dari pria ini yang mulai terlihat. Di balik semua topeng "red flag" dan sikap kasarnya, Nick ternyata sangat memperhatikan detail-detail kecil tentang keselamatannya.

Saat Ifa hendak mengambil gantungan itu, ujung jarinya bersentuhan dengan kulit tangan Nick yang kasar dan hangat. Sentakan listrik aneh kembali menjalar di tubuh Ifa. Ia segera menarik tangannya, membuat gantungan kunci itu hampir jatuh jika Nick tidak sigap menangkapnya kembali.

"Kak..." suara Ifa melunak tanpa ia sadari. "Kenapa Kakak sebegitunya sama aku?"

Nick menatap mata Ifa dalam-dalam. "Gue udah bilang, gue nggak suka barang gue disentuh orang lain."

"Tapi aku bukan barang!"

"Emang bukan," Nick menyeringai tipis, seringai yang kali ini tidak terlihat mengejek, melainkan lebih ke arah pahit. "Tapi buat gue, lo itu... satu-satunya hal yang bener di hidup gue yang berantakan ini."

Ifa terpaku. Kalimat itu terdengar sangat tulus hingga membuatnya kehilangan kata-kata. Memori dua tahun lalu yang diceritakan Bang Ryan mendadak terputar kembali di kepalanya. Ia ingin bertanya, 'Kakak cowok di halte itu, kan?' tapi lidahnya terasa kaku.

"Udah malem. Masuk sana," perintah Nick, kembali ke mode diktatornya. "Dan jangan coba-coba hapus nomor gue lagi. Kalau gue telepon, angkat. Paham?"

Ifa mendengus, mencoba menutupi rasa baper yang mulai menyelinap. "Dih, maksa! Tergantung mood aku ya!"

Nick hanya terkekeh, lalu ia kembali menaiki motornya. Sebelum memakai helm, ia melirik Ifa sekali lagi. "Gantungan itu dipasang di tas sekolah lo. Jangan cuma ditaruh di laci."

Tanpa menunggu jawaban Ifa, Nick menyalakan mesin motornya yang menderu keras, lalu melesat menghilang di kegelapan malam.

Ifa berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama, menggenggam erat gantungan kunci kucing itu. Ia menatap ke arah jalanan kosong, hatinya dipenuhi peperangan antara logika yang menyuruhnya menjauh dari Nicholas, dan perasaan aneh yang mulai tumbuh setiap kali pria itu menunjukkan sisi rapuhnya.

"Nicholas... kamu bener-bener bikin aku pusing," gumam Ifa pelan sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!