Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
GASP.
Seluruh aula gempar. Para tetua saling berpandangan dengan tatapan tak percaya. Lin Hong bahkan tertawa terbahak-bahak.
"Tiga besar?! Kau gila! Otakmu pasti rusak karena pukulan Wang Lei!" seru Lin Hong. "Kau tidak punya kultivasi! Bahkan untuk mengalahkan pelayan pun kau tidak mampu. Bagaimana kau mau melawan para genius kota?"
"Apakah kalian berani bertaruh atau tidak?" tantang Lin Xiao, mengabaikan ejekan itu. "Jika aku gagal, kalian mendapatkan apa yang kalian mau tanpa perlawanan ayahku. Tapi..."
Suara Lin Xiao merendah, dingin menusuk tulang.
"Jika aku berhasil masuk tiga besar... Tetua Agung, kau harus berlutut dan meminta maaf kepada ayahku di depan seluruh klan karena telah tidak hormat padanya hari ini. Dan kau harus memberikan Rumput Roh Api yang kau simpan di gudang perbendaharaan tetua."
Mata Lin Zhen menyipit. Rumput Roh Api adalah harta berharga tingkat rendah, sangat berguna untuk kultivasi. Namun, dibandingkan dengan posisi Pewaris Muda, itu harga yang murah. Terlebih lagi, dia yakin 1000% Lin Xiao tidak mungkin menang. Sampah tetaplah sampah. Meridian yang rusak tidak bisa disembuhkan dalam satu bulan.
"Baik! Aku terima tantanganmu, Bocah Sombong!" seru Lin Zhen. "Semua orang di sini menjadi saksi! Satu bulan lagi. Jika kau gagal, enyahlah dari Kota Batu Hijau!"
"Sepakat," jawab Lin Xiao singkat.
Tubuhnya sudah mencapai batasnya. Pandangannya mulai kabur. Dia menoleh pada ayahnya. "Ayah, ayo kembali. Aku lelah."
Lin Hai, yang masih terpaku karena keberanian putranya, segera tersadar. Dia tidak tahu dari mana putranya mendapatkan kepercayaan diri itu, tapi sorot mata Lin Xiao memberinya harapan. Dia memapah putranya keluar dari aula, meninggalkan para tetua yang tersenyum licik, yakin bahwa kemenangan sudah di tangan mereka.
Sesampainya kembali di kamar, Lin Xiao langsung ambruk ke tempat tidur. Darah segar kembali keluar dari mulutnya.
"Tuan Muda! Apa yang Anda lakukan?! Tiga besar? Itu mustahil!" Xiao Yun menangis histeris sambil membersihkan darah di wajah tuannya.
Lin Xiao berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang kusam. Rasa sakit fisik semakin menjadi-jadi, tapi senyum di bibirnya semakin lebar.
"Tidak ada yang mustahil di bawah langit ini, Xiao Yun," bisiknya lemah.
Dia memejamkan mata, kembali masuk ke dalam alam pikirannya, menuju ke "Kitab Keabadian".
Tantangan sudah dilemparkan. Waktu hanya satu bulan.
Tubuh ini memiliki Meridian yang tersumbat lumpur kotoran. Bagi tabib biasa di dunia fana ini, itu penyakit terminal. Tapi bagi Lin Xiao, Sang Kaisar Alkemis?
"Lumpur hitam ini..." batin Lin Xiao sambil memeriksa meridiannya dengan indra batin. "...sebenarnya adalah racun dingin yang menumpuk sejak lahir. Ini bukan sekadar penyumbatan, ini adalah Tubuh Yin Ekstrem yang gagal terbentuk."
Jika dibiarkan, racun ini membunuh. Tapi jika dia bisa meramu "Cairan Penempa Tulang Naga", dia bisa membakar racun itu dan mengubahnya menjadi energi murni.
Masalahnya satu: Dia butuh bahan-bahan herbal. Dan dia tidak punya uang.
"Ayah pasti punya simpanan herbal di gudang keluarga utama," gumamnya. "Malam ini... kultivasi dimulai. Aku akan menunjukkan pada mereka apa itu monster yang sebenarnya."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang redup, di sebuah kamar kecil yang tak diperhitungkan siapa pun, aura seorang Dewa mulai bangkit perlahan, siap melahap seluruh ketidakadilan di dunia ini.
Malam semakin larut. Suara jangkrik di luar paviliun terdengar seperti nyanyian kematian yang mengiringi kesunyian Kota Batu Hijau. Di dalam kamar sempit itu, Lin Xiao masih terbaring, mengatur napasnya yang satu demi satu.
Pintu kamar terbuka perlahan. Sosok tinggi besar masuk dengan langkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Itu adalah Lin Hai, sang Patriark. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu kecil berukir naga.
"Xiao'er," panggil Lin Hai pelan. Dia duduk di tepi tempat tidur, menatap putranya dengan tatapan rumit. Ada rasa bangga, tapi lebih banyak rasa bersalah. "Ayah sudah menyiapkan kereta kuda di pintu belakang. Malam ini juga, kau dan Xiao Yun harus pergi."
Lin Xiao membuka matanya, menatap ayahnya heran. "Pergi? Ke mana?"
"Ke mana saja asal bukan di sini," desah Lin Hai. Dia meletakkan kotak itu di pangkuan Lin Xiao. "Di dalam ini ada 500 Koin Emas dan surat rekomendasi untuk temanku di Kota Awan Putih. Kau tidak mungkin memenangkan taruhan itu, Nak. Tetua Agung pasti akan mencelakaimu sebelum turnamen dimulai. Ayah tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Hati Lin Xiao bergetar. Di kehidupan sebelumnya, dia dikhianati oleh orang-orang terdekatnya demi kekuasaan. Namun di sini, pria ini rela melepaskan jabatannya dan mengirim putranya pergi demi keselamatan nyawanya.
"Ayah," Lin Xiao mendorong pelan kotak itu kembali ke tangan Lin Hai. Dia bangun dan duduk bersila, meski tulang rusuknya menjerit kesakitan. "Aku tidak akan lari."
"Tapi Xiao'er! Meridianmu..."
"Bisa disembuhkan," potong Lin Xiao tegas. Tatapannya begitu meyakinkan hingga Lin Hai terdiam. "Ayah, apakah kau percaya padaku?"
Lin Hai menatap mata putranya. Mata itu tidak lagi keruh dan layu. Ada api yang menyala di sana, api keyakinan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Entah mengapa, instingnya sebagai seorang ayah dan petarung mengatakan untuk mempercayai pemuda ini.
"Apa yang kau butuhkan?" tanya Lin Hai akhirnya, menyerah pada kekeras-kepalaan putranya.
"Bahan herbal," jawab Lin Xiao cepat. Dia menyebutkan daftar bahan yang sudah ia susun di kepalanya. "Tiga batang Rumput Darah Merah, satu ons Bubuk Akar Jahe Besi, lima tetes Empedu Ular Tanah, dan... sekantong Jarum Perak."
Kening Lin Hai berkerut. "Itu semua bahan dasar yang bersifat panas dan beracun ringan. Jika dicampur sembarangan, itu bisa membakar lambungmu. Untuk apa?"
"Untuk mandi obat," bohong Lin Xiao. Dia belum bisa menjelaskan tentang teknik alkimia tingkat tinggi kepada ayahnya sekarang. Itu terlalu mengejutkan. "Aku menemukan resep kuno di perpustakaan tua keluarga. Katanya bisa merangsang aliran darah."
Lin Hai tampak ragu, tapi dia mengangguk. "Baiklah. Gudang obat keluarga ada di bawah kendaliku. Aku akan mengambilkannya sekarang. Tunggu di sini."
Setengah jam kemudian, Lin Hai kembali bersama Xiao Yun. Mereka membawa buntalan kain berisi herbal dan sebuah panci tembaga berisi air panas yang mendidih.
"Xiao Yun, jaga pintu. Jangan biarkan siapapun masuk, bahkan lalat sekalipun," perintah Lin Xiao.
Gadis pelayan itu mengangguk patuh dan berdiri di luar pintu dengan wajah tegang.