NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Memohon Pertolongan

...SELAMAT MEMBACA!...

Pikiran Dara terus kacau hingga sekarang. Suaminya itu masih belum menghubungi sampai saat ini. Gadis tersebut menata barang di rak supermarket, dengan tatapan kosongnya. Temannya juga beberapa kali sudah menegur Dara, tetapi ia mengulanginya lagi.

Sungguh, bekerja dengan kondisi seperti ini, membuat Dara selalu melakukan kesalahan.

Pendingin ruangan bahkan tidak berhasil membuat pikirannya sejuk. Dara menghela napas panjang, kemudian berdiri dan beranjak dari sana. "Setengah jam lagi," gumam Dara. Menunggu jam pulang, terasa begitu panjang baginya.

Dara hampir tidak pernah lagi mendapatkan lembur, juga tak ada lagi orang yang berbuat seenaknya padanya. Namun, Amora masih sering mengganggunya perkara asmara.

Seperti pada saat ini, Amora menghampiri Dara di gudang, yang tengah mendata barang di sana. "Lo tadi gak dianterin Dino, ya?" celetuknya.

"Iya," jawab Dara.

Amora tersenyum miring. Ia bersandar di sebuah rak sambil melipat kedua tangan di depan dada. Mendengar Dara tidak diantar suaminya, membuat perasaan puas Amora menggebu-gebu. "Gue tahu Dino. Dia itu gampang banget bosen," ucap Amora. "Apalagi cewek kayak lo gini. Bosenin, gak ada gairah."

Mendengar hal itu, Dara menghentikan aktivitasnya. "Nggak apa-apa kalau Dino bosen sama aku," kata Dara, kemudian beralih menatap Amora dengan maniknya. "Tapi, buktinya? Sekarang Dino masih sama aku."

"Masih belum. Nanti pasti," seloroh Amora. Tidak akan ada habisnya bila dengan Amora, ia harus puas dengan miliknya.

"Nggak semua tebakan bisa jadi kenyataan, Kak," balas Dara. Lalu, gadis itu menghembuskan napas panjang karena pekerjaan sudah selesai. "Kalau gitu, aku pulang duluan."

Dara melenggang pergi dari tempat itu, membuat Amora menggerutu. "Cewek gak tahu diri. Tunggu aja, gue pasti buktiin kalau Dino akan ninggalin dia."

"Apa juga, sih, yang dibanggain dari cewek kayak dia," seloroh Amora.

Amora selalu ingin menang, tidak peduli harus berjuang bagaimana pun. Ia tak akan kembali lemah seperti dahulu kala, gadis itu bertekad akan menjadi pemenang. Semangatnya untuk merusak rumah tangga Dino dan Dara, menjadi menggebu-gebu.

Gumpalan awan mengapung di langit sana. Burung-burung berterbangan hendak pulang. Semilir udara menerpa perasaan rindu yang tak kunjung berakhir. Dara menjadi tidak bersemangat untuk beraktivitas. Gadis itu hanya duduk di teras, meluruskan kakinya sambil menatap jauh ke depan dengan kosong. "Hampa banget," gumam Dara.

Tidak jauh dari sana, seorang lelaki terlihat berjalan ke arahnya. Dara pikir itu Dino hingga membuatnya berdiri dari duduknya. Rambut lelaki tersebut terbang diterpa angin yang lalu.

Tidak seperti yang Dara inginkan. Semakin lelaki itu mendekat, wajahnya jadi terlihat lebih jelas. Ternyata, bukan Dino, melainkan Tino.

Tino berlari kecil menghampiri sang kakak sambil mengangkat kantung plastik. "Nih!" ucap Tino, menyodorkan bingkisan itu, ketika sampai di hadapan Dara. "Cimol, kesukaan lo."

Cimol kesukaan Dara, ia tidak bisa menolak makanan kenyal itu. Meski terkadang menyebalkan, adiknya juga selalu berhasil membuatnya tersenyum. Tino menepuk pundak Dara, sambil menganggukkan kepala. "Gue tahu, lo pasti lagi galau. Makanya, gue beliin lo cimol karena lagi baik hati," seloroh Tino.

Dara tersenyum tipis. Tidak ada yang lebih mengertinya selain Tino. "Yuk!" ajak Tino, kemudian menarik pergelangan tangan Dara, membawa gadis itu memasuki rumah.

.....

Energinya hampir terkuras habis karena aktivitasnya semalam. Lelaki itu segera membersihkan diri setelah membuka mata, dia bahkan telah melupakan segalanya.

Senja hari ini terlihat begitu indah, Dino menyaksikan langit cerah itu melalui jendela di kamar. Tubuhnya menjadi sedikit lebih segar karena ia baru menginjakkan kaki di rumah tadi pagi. Tiba-tiba kedua manik Dino membulat, jantungnya mendadak berdebar. "Gue lupa gak ngabarin Dara!" pekiknya, kemudian segera mencari ponselnya.

Dino bergerak cepat mencari benda pipih itu. Namun, di nakas, bahkan kasur tidak terlihat ponselnya. "Celana!" Dino segera menghampiri celana yang tergeletak di atas sofa.

Dino merogoh saku celananya itu. Dia menemukan jam tangan, juga sebuah ponsel di sana. Dino mematung sejenak menatapi jam tersebut. Dino mendudukkan tubuhnya di sofa dan segera menghubungi istrinya itu.

Lama sekali, panggilannya tak kunjung diterima gadis itu. Dino berdecak kesal. "Sialnya gue lupa kalau gue udah nikah," gerutunya.

Dino beralih menatap jam tangan itu. Pemberian dari orang yang menjadi lawannya semalam. Ambo ternyata menantang Dino seperti itu, hanya karena dendamnya kepada salah satu anggota Ultimate Phoenix, atas kejadian di masa lalu.

"Gue udah ngerencanain ini sejak gue masih jadi tahanan." Mendengar ucapan Ambo membuat Dino terdiam. Pasalnya, UP dan WB berurusan baru satu bulan ini. "Andai, cowok sok pahlawan itu gak dateng nolongin si Agun. Gue gak akan masuk penjara," ungkap Ambo.

"Maksud lo? Dendam lo bukan karena kasus Bama yang hajar Yiro?" tanya Dino.

"Soal itu, gue tahu Yiro yang salah."

"Angga sama Vano yang waktu itu nolongin Agun. Kalau mereka gak dateng, gue udah berhasil ngehabisin cowok itu di tempat," kata Ambo. "Dan gara-gara gue ditahan, cewek yang gue cintai jadi benci sama gue."

Dino mengerutkan kening mendengar hal itu, terdengar seperti omong kosong belaka. Namun, wajah melas Ambo terlihat meyakinkan Dino, bahwa pria itu bersungguh-sungguh.

"Gue mau minta sesuatu sama lo," ucap Ambo. "Gue mau ketemu sama istri lo, adiknya Agun."

Mengingat hal itu, kepala Dino jadi sangat berat. Dia memijat pelipisnya, sambil memandang jam tangan pemberian Ambo itu.

"Ini jam tangan Agun, pemberian pacarnya. Gue gak terima dia mutusin gue, karena itu gue benci banget sama Agun. Gue ambil jam ini dan buat cerita kalau Agun buang ini, biar ceweknya marah."

"Karena cewek itu pulang sendiri waktu berantem sama Agun, dia kecelakaan dan kritis. Tapi, waktu dia sadar, pacarnya udah mati."

Dering ponsel membuat Dino tersadar akan lamunannya. Ternyata panggilan itu dari istrinya, dengan cepat Dino mengangkatnya.

"Kenapa, No?"

"Kamu baik-baik aja, kan?"

"No, kamu nggak apa-apa, kan?"

"Kamu udah selesain ini kan, No?"

"Kamu selamat kan, No?"

"Nono, kenapa nggak ngabarin?"

"Ayo ngomong, No!"

Sudut bibir Dino tertarik mendengar suara ocehan dari seseorang yang sangat dirindukannya. "Gue kangen lo, Ra," ujar Dino.

"KALAU KANGEN JEMPUT AKU! BUKAN MALAH NGILANG GINI!" bentak Dara di sebrang sana. Gadis itu hampir menangis ketika mendapati mised call dari Dino, yang baru ditemukannya. Bahkan, saat ini Dara sudah sesenggukan.

"Gue punya cerita seru, Ra. Besok pagi gue ke sana, jemput istri tersayang."

"Kenapa besok? Kenapa gak sekarang?"

"Malem ini gue ada sesuatu yang harus dilakuin, Ra. Sekalian selesai."

Keterlaluan. Rindu ini semakin berat. Wajah Dara memerah mendapat bualan manis lelaki itu. Sungguh, ia ingin terbang untuk sampai ke tempat di mana suaminya berada.

Dara menutup panggilan itu, kemudian senyum yang samar terbit di wajah cantiknya. "Aku juga kangen, No," katanya.

Udara sejuk yang mendominasi malam ini, menerpa rambut Dara yang digerai. Gadis itu pergi ke pasar malam bersama sang bunda dan adiknya. Sebenarnya, Dara tidak ingin pergi karena malas, tetapi Bila memaksanya dan memohon mengunjungi pasar itu.

Dara dan Bila tengah menunggu Tino yang sedang pergi ke toilet. Dara mengedarkan pandangannya, menjelajahi tempat dengan cahaya kelap-kelip itu. "Lama banget adik kamu itu," gerutu Bila.

"Kita susul aja, Bun?" Bila mengangguk. Lalu, dua perempuan itu berjalan berdampingan.

Seseorang menabrak pundak Dara, membuat gadis itu memekik pelan. "Maaf," ujarnya. Lalu, ia mengangkat kepala membuat Dara membulatkan mata. Gadis tersebut celingukan.

Wanita itu terlihat ketakutan, ia seperti waspada terhadap sesuatu.

"JANGAN TINGGALIN GUE! GUE PERLU NGOMONG SESUATU!" Teriakan dari arah belakang sana sontak membuat Dara dan Bila berbalik bersamaan. Lalu, gadis itu bersembunyi di belakang Dara.

"NASYA!" teriak pria itu. 

Bagaikan badai yang menghampiri. Sosok pria itu berlari mendekat. Bila mencengkram tangan sang putri melihat pria tersebut.

"Ambo?" gumam Dara.

Seseorang yang bernama Nasya tersebut berlari meninggalkan orang-orang itu, membuat Dara mengerutkan kening.

Ambo yang tadinya mengejar Nasya, ia berhenti di hadapan Dara dan Bila yang tengah mematung menatapnya. "Dara, lo harus bantuin gue!" seru Ambo.

Dara bingung. Apa maksud pria di depannya itu? Sungguh, dunia begitu sempit hingga mempertemukan mereka di tempat yang tak terduga.

〜🦋〜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!