NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Wajah Nayla yang tadinya ceria langsung berubah tegang. Sendoknya terhenti di udara. "Mas... nggak mungkin Rian sesingkat itu kan kirim bunga?" bisiknya cemas.

Hilman langsung berdiri, raut wajahnya kembali tegas seperti saat menghadapi Rian di pesantren tadi. "Biar Mas yang ambil. Kalian tetap di sini," ucapnya pendek.

Arkan ikut berdiri, berjaga-jaga di belakang Hilman. Mereka berdua melangkah ke teras rumah. Di sana, seorang kurir berdiri membawa buket bunga mawar merah yang sangat besar dan sangat mewah, tipe bunga yang hanya ada di toko bunga mahal di kota.

"Buat Mbak Nayla?" tanya kurir itu.

Hilman menerima bunga itu dengan perasaan campur aduk. Ia mencari kartu ucapan yang terselip di antara kelopak bunga. Begitu menemukannya, Hilman membuka amplop kecil berwarna hitam itu.

Matanya menyipit tajam saat membaca tulisan di dalamnya:

"Pernikahan ini nggak akan lama, Nay. Gue tunggu lo di Jakarta kalau lo udah bosen sama hidup kuno lo di sini. - R."

Rahang Hilman mengeras. Tanpa sadar, tangannya meremas kartu itu hingga hancur. Ia tidak membawa bunga itu ke ruang makan, melainkan memberikannya pada Arkan.

"Arkan, buang bunga ini ke tempat sampah di depan. Jangan sampai Nayla lihat," perintah Hilman dengan suara dingin yang membuat Arkan merinding.

"Wah, si Rian beneran ngajak perang," gumam Arkan sambil segera membawa bunga itu menjauh.

Hilman kembali ke ruang makan dengan ekspresi yang berusaha ditenangkan, meski kilat matanya tidak bisa berbohong.

"Mana bunganya, Mas?" tanya Nayla penasaran.

Hilman duduk kembali, lalu mengusap tangan Nayla yang gemetar di atas meja. "Salah alamat, Sayang. Cuma kiriman brosur toko bunga yang dibentuk buket kecil tadi. Sudah dibuang sama Arkan."

Nayla menatap mata Hilman, mencoba mencari kebohongan. "Beneran? Tapi tukang paketnya tadi bilang buat aku."

"Bener, Nay. Cuma orang iseng," tambah Ayah yang sepertinya paham gelagat menantunya. "Sudah, lanjut makannya. Habis ini kalian istirahat total. Bunda sudah siapkan kamar kalian, pakai bantal yang paling empuk biar Nayla nyaman."

Meskipun suasana kembali tenang, Nayla tahu ada sesuatu yang disembunyikan Hilman. Namun, melihat betapa posesifnya Hilman menggenggam tangannya di bawah meja, Nayla merasa jauh lebih aman.

Selesai makan, Hilman membimbing Nayla masuk ke kamar. Begitu pintu tertutup, Hilman langsung mengunci pintu dan berbalik menatap Nayla. Ia memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Nayla.

"Mas... tadi bunga dari Rian ya?" tanya Nayla lirih.

Hilman menghela napas, ia mempererat pelukannya. "Nggak usah dipikirin. Dia cuma lalat yang mencoba mengganggu kebahagiaan kita. Selama Mas masih bernapas, nggak akan ada yang bisa bawa kamu balik ke Jakarta dengan paksa."

Nayla membalikkan badan, menatap wajah suaminya yang sangat dekat. "Mas jangan terlalu emosi ya? Aku takut Mas jadi nggak fokus sama pesantren."

"Mas justru sangat fokus, Nay," bisik Hilman sambil mengecup dahi Nayla. "Fokus menjaga kamu. Sekarang, ayo baring. Mas mau pijetin kaki kamu pakai minyak zaitun, biar sore nanti kamu bisa jalan normal lagi."

Nayla menurut, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kamar masa kecilnya. Hilman mengambil botol minyak zaitun dari tas kecil yang mereka bawa, lalu duduk bersila di ujung ranjang. Dengan sangat lembut, ia mulai mengoleskan minyak itu ke pergelangan kaki Nayla, lalu perlahan naik ke betisnya.

Sentuhan tangan Hilman yang hangat dan penuh perasaan membuat Nayla merasa sangat tenang. Namun, namanya juga Nayla, sifat "jahil" dan tidak bisa diamnya tidak akan hilang hanya karena rasa pegal.

"Mas... pijatannya enak banget. Belajar di mana? Jangan-jangan dulu di pesantren Mas sering pijatin santri ya?" goda Nayla sambil memperhatikan wajah serius Hilman.

Hilman tetap fokus pada pijatannya, jari-jarinya menekan titik-titik saraf dengan pas. "Dulu di pesantren ada pelajaran pengobatan tradisional, termasuk pijat refleksi. Tapi ini pertama kalinya Mas praktikkan ke... orang yang Mas sayang."

Nayla tersenyum lebar, wajahnya memerah. "Oalah, jadi aku kelinci percobaan pertama Gus Hilman? Wah, terhormat banget dong."

Nayla kemudian mulai menggoyang-goyangkan kakinya dengan manja, sesekali sengaja menyentuh tangan Hilman. "Mas, kalau ke atas lagi pijitnya boleh nggak? Paha aku juga pegal banget lho. Kan tadi malam Mas yang paling tahu kenapa paha aku bisa sepegal ini..."

Hilman langsung menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap Nayla dengan tatapan yang sulit diartikan melalui balik kacamatanya. "Nayla, jangan memancing. Mas ini sedang mencoba jadi suami yang baik dan merawat istrinya yang katanya sedang 'lumpuh'."

"Emang kenapa kalau aku pancing? Kan udah sah," balas Nayla sambil mengerlingkan mata, tangannya kini mulai menarik-narik ujung sorban yang masih melingkar di leher Hilman. "Lagian di luar lagi mendung lagi, Mas. Enaknya selimutan berdua, daripada pijit-pijit terus nanti malah Mas yang capek."

Hilman menghela napas panjang, menaruh botol minyak zaitun di meja nakas. Ia merangkak maju di atas ranjang hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Nayla. Aroma minyak zaitun dan parfum maskulin Hilman bercampur menjadi satu.

"Kamu ini benar-benar 'berbahaya', ya," bisik Hilman rendah. "Mas tadi niatnya cuma mau menyembuhkan kakimu, tapi sepertinya kamu malah mau Mas 'menghajar' lagi sampai kamu benar-benar nggak bisa turun dari kasur ini sampai besok pagi?"

Nayla tertawa renyah, ia melingkarkan tangannya di leher Hilman, menarik suaminya itu semakin mendekat. "Coba aja kalau berani, Pak Guru Privat... Istri Mas yang nakal ini siap kok dihukum lagi."

Hilman akhirnya menyerah pada godaan istrinya. Ia melepaskan kacamata dan meletakkannya di samping kasur, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nayla. "Jangan salahkan Mas kalau nanti Bunda nanya lagi kenapa jalanmu makin aneh, ya..."

Suasana kamar yang tenang itu pun kembali menghangat, sementara di luar, suara rintik hujan mulai turun kembali, seolah memberikan izin bagi mereka untuk kembali tenggelam dalam kemesraan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!