Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Baru saja suasana haru itu mereda, terdengar suara raungan sirine polisi dan decitan ban mobil di depan rumah. Cahaya lampu rotator merah biru masuk menembus celah gorden.
"Itu mereka," bisik Amara ketakutan. Ia refleks memegang lengan baju Hannan.
Hannan memegang tangan Amara—kali ini dengan sentuhan yang halal dan menguatkan. "Jangan takut. Kamu istriku sekarang."
Hannan membuka pintu depan dengan tenang. Di sana, Ryan berdiri bersama dua orang petugas kepolisian Amerika dan papa tirinya, Bastian, yang tampak sangat sombong.
"Itu dia petugas! Pria itu yang membawa lari anak tiri saya dan menyembunyikannya di sini!" teriak Bastian sambil menunjuk Hannan.
Seorang petugas polisi maju. "Sir, kami mendapat laporan adanya dugaan penculikan terhadap seorang wanita bernama Amara. Kami harus membawanya."
Hannan tetap tenang, ia merangkul bahu Amara yang berdiri di sampingnya. "Maaf, petugas. Tapi laporan itu salah besar. Tidak ada penculikan di sini."
"Jangan bohong kamu!" Ryan berteriak. "Amara, ayo ikut aku!"
Hannan mengeluarkan sebuah dokumen surat keterangan pernikahan sementara yang baru saja ditandatangani oleh saksi dan pengurus masjid (Islamic Center setempat).
"Amara adalah istri sah saya secara agama, dan kami sedang memproses pendaftaran resmi ke konsulat," ucap Hannan dalam bahasa Inggris yang sangat tenang dan tegas. "Dia berada di sini atas kemauannya sendiri, dan sebagai suaminya, saya memiliki hak penuh untuk melindunginya dari orang-orang yang selama ini mencoba menyakitinya."
Polisi itu memeriksa dokumen tersebut dan menatap Amara. "Miss Amara, apakah benar Anda di sini tanpa paksaan dan apakah pria ini benar suami Anda?"
Amara menarik napas dalam, ia menatap Ryan dan Bastian dengan tatapan berani yang belum pernah ia miliki sebelumnya. "Benar, Officer. Pria ini adalah suami saya. Dan pria yang di sana itu," Amara menunjuk Bastian, "adalah pria yang mencoba menjual saya. Saya punya bukti rekaman ancamannya di ponsel saya."
Wajah Bastian dan Ryan seketika pucat pasi.
Petugas polisi itu menoleh ke arah Bastian dan Ryan dengan tatapan menyelidik. "Bukti rekaman?" petugas itu mengulang, lalu memberi isyarat kepada rekannya untuk mendekati Bastian.
Amara dengan tangan gemetar namun mantap, menyerahkan ponselnya. Ia memutar sebuah rekaman suara di mana Bastian berteriak mengancam akan menyiksa Amara jika tidak mau mengikuti perintahnya untuk menemui "pembeli" di Las Vegas.
Mendengar bukti tersebut, wajah petugas polisi itu mengeras. "Mr. Bastian, Anda memiliki banyak hal yang harus dijelaskan di kantor polisi terkait dugaan perdagangan manusia (human trafficking)."
"Ini fitnah! Itu hanya gertakan orang tua!" terlak Bastian mencoba membela diri, namun petugas polisi sudah terlebih dahulu memborgol tangannya.
Ryan, yang melihat situasi tidak menguntungkan, perlahan mencoba mundur menuju mobilnya. Namun, Gus Malik yang sejak tadi berjaga di dekat pagar langsung menghalangi jalannya.
"Mau ke mana, Ryan? Urusan kita belum selesai," ujar Gus Malik dingin. Polisi satunya segera mengamankan Ryan untuk dimintai keterangan sebagai saksi sekaligus terduga kaki tangan.
Setelah mobil polisi itu pergi membawa Bastian dan Ryan, suasana malam yang mencekam itu perlahan kembali tenang. Amara lemas, ia hampir terjatuh jika Hannan tidak sigap menopang pundaknya.
"Semuanya sudah berakhir, Amara. Mereka tidak akan bisa mengganggumu lagi," bisik Hannan lembut.
Amara menangis sesenggukan di dada suaminya, melepaskan segala beban yang selama ini menghimpit jiwanya. "Terima kasih, Hannan... Terima kasih sudah menyelamatkanku, bukan cuma dari mereka, tapi dari hidupku yang gelap."