Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Kecil di Balik Kaca
Matahari belum sepenuhnya muncul ketika Raka terbangun, atau lebih tepatnya, menyerah untuk mencoba tidur kembali. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 05.15. Raka menatap langit-langit kamarnya yang putih polos, merasakan denyut halus di pelipisnya—tanda kurang tidur yang sudah akrab baginya.
Pembatas buku dari tiket bioskop itu masih tergeletak di atas meja nakas, tepat di samping buku tebal yang semalam ia baca. Raka tidak memasukkannya kembali ke dalam laci, tapi juga tidak membuangnya. Benda itu hanya ada di sana, sebuah artefak kecil dari masa lalu yang berhasil mengacaukan ritme istirahatnya sepanjang malam.
Ia bangkit, kakinya menyentuh lantai keramik yang dingin. Rutinitas harus tetap berjalan. Raka percaya pada satu hal: jika ia berhenti bergerak, pikirannya akan menyusulnya. Dan pagi ini, ia berlari lebih cepat dari biasanya.
Mandi air dingin tidak banyak membantu menghilangkan rasa berat di kelopak matanya. Saat mengenakan kemeja biru muda andalannya, Raka menyadari satu kancing di bagian pergelangan tangan sedikit longgar. Biasanya, ia akan segera mengambil kotak jahit kecil dan memperbaikinya—perfeksionisme adalah nama tengahnya. Namun hari ini, ia hanya menatap benang yang menjuntai itu selama lima detik, menghela napas panjang, lalu membiarkannya. Ia tidak punya energi untuk menjadi sempurna pagi ini.
Perjalanan menuju kantor terasa lebih bising dari biasanya. Di dalam gerbong kereta, bahu Raka beradu dengan seorang pria paruh baya yang sibuk membaca koran yang dilipat kecil. Aroma parfum murah bercampur bau keringat pagi memenuhi udara yang dipompa oleh pendingin ruangan yang kurang bertenaga. Raka memasang *earphone*, tapi tidak memutar lagu. Ia hanya butuh penyumbat telinga untuk meredam dunia luar, sebuah taktik isolasi yang belakangan ini semakin sering ia gunakan.
Sesampainya di kantor, Raka langsung tenggelam di balik monitor ganda di mejanya. Ia membuka *spreadsheet* anggaran kuartal ketiga, berharap deretan angka dan rumus Excel bisa menjadi tembok pelindung yang kokoh. Angka itu logis. Angka itu pasti. Angka tidak pernah meninggalkanmu tiba-tiba di hari Minggu sore yang hujan.
"Pagi, Ka. Tumben udah *login* jam segini," suara Bayu terdengar dari arah kubikel sebelah.
Raka tidak menoleh, jarinya tetap menari di atas *keyboard*. "Banyak revisi dari Pak Hendra."
"Oh," sahut Bayu, suara kursi rodanya berdecit saat ia duduk. Ada jeda sejenak sebelum Bayu menambahkan, "Mata lo merah banget, Ka. Begadang? Atau abis nangis nonton drakor?"
Candaan itu standar, khas Bayu yang mencoba mencairkan suasana. Biasanya Raka akan membalas dengan senyum tipis atau gumaman sopan. Tapi pagi ini, lelucon itu terasa seperti amplas kasar di kulitnya yang sensitif.
"Kurang tidur biasa, Bay. Nggak usah dibahas," jawab Raka, nadanya lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Hening. Bunyi ketikan di ruangan itu seolah berhenti sejenak. Raka bisa merasakan tatapan bingung Bayu di punggungnya, tapi ia memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada sel B14 di layarnya. Rasa bersalah menyelip pelan di dadanya, namun rasa lelah menekan rasa bersalah itu hingga gepeng.
Pukul sepuluh pagi, konsentrasi Raka mulai goyah. Ia sedang menyusun laporan presentasi untuk rapat siang nanti ketika notifikasi email masuk di sudut kanan bawah layarnya. Itu email dari HRD, pengumuman tentang *gathering* tahunan kantor bulan depan.
Judul emailnya: *Family Gathering: Bawa Orang Terkasihmu!*
Raka menatap kursor tetikusnya yang berkedip-kedip. *Orang terkasih.* Frasa itu sederhana, umum, dan digunakan di ribuan perusahaan, tapi bagi Raka, itu adalah pemicu. Ingatannya melompat mundur ke tiga tahun lalu. Bukan *gathering* kantor, melainkan undangan pernikahan sepupunya.
*"Aku nggak punya baju yang warnanya senada sama kamu, Ka,"* suara itu bergema di kepalanya, jernih seolah pemilik suara itu berdiri di samping kubikelnya. Raka ingat bagaimana ia dulu bersikeras membelikan gaun baru agar mereka terlihat serasi, sementara wanita itu hanya tertawa dan berkata bahwa ketidakserasian adalah seni.
Raka menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Ia kembali fokus ke layar, menyalin data dari tabel pivot.
Namun, jari-jarinya berkhianat.
Tanpa sadar, Raka mengetik angka yang salah. Seharusnya 15.000.000, tapi ia mengetik 1.500.000. Nol yang hilang, sebuah kesalahan fatal dalam akuntansi. Ia tidak menyadarinya. Matanya melihat angka itu, tapi otaknya menerjemahkannya sebagai benar. Ia menekan tombol *Save*, lalu *Send*. Laporan itu terkirim ke Pak Hendra.
Lima belas menit kemudian, telepon di mejanya berdering.
"Raka, ke ruangan saya sebentar," suara Pak Hendra terdengar datar namun tegas.
Jantung Raka mencelos. Ia jarang dipanggil ke ruangan bos kecuali untuk pujian atau tugas tambahan. Ia berdiri, merapikan kemejanya—mengabaikan kancing yang longgar tadi—dan berjalan menuju ruangan berkaca di ujung lorong.
Di dalam ruangan, Pak Hendra memutar layar monitornya ke arah Raka. "Kamu lihat total di baris 40 ini?"
Raka menyipitkan mata. Seketika, darahnya terasa surut dari wajah. Selisih angkanya sangat besar. Bagaimana ia bisa melewatkan itu? Ia selalu mengecek dua kali. Selalu.
"Maaf, Pak. Saya... saya salah input," suara Raka terdengar kering.
Pak Hendra menatapnya, melepas kacamata bacanya. "Ini bukan kesalahan yang biasa kamu buat, Raka. Kamu karyawan paling teliti di divisi ini. Ada masalah?"
Pertanyaan itu berbahaya. *Ada masalah?* Raka ingin tertawa getir. Masalahnya adalah ia hidup di dua garis waktu: masa kini di mana ia berdiri di ruangan ber-AC ini, dan masa lalu di mana ia masih terjebak dalam percakapan yang belum selesai.
"Tidak ada, Pak. Hanya kurang fokus karena kurang istirahat semalam," jawab Raka diplomatis. "Saya akan revisi sekarang."
"Oke. Jangan diulangi. Saya butuh revisinya sebelum makan siang."
Raka keluar dari ruangan itu dengan perasaan kacau. Citra dirinya sebagai karyawan sempurna—topeng yang ia pakai untuk menutupi kehancuran di dalamnya—baru saja retak. Dan yang paling menakutkan bagi Raka bukanlah teguran Pak Hendra, melainkan fakta bahwa kendali dirinya mulai melemah. Kenangan-kenangan itu tidak lagi hanya menyerang saat ia sendirian di apartemen; mereka mulai menginvasi wilayah kerjanya, benteng terakhir kewarasannya.
Kembali ke meja, Raka mendapati segelas kopi panas sudah tersedia di samping *keyboard*-nya. Bukan kopi hitam pahit yang biasa ia buat, melainkan kopi susu instan yang baunya manis menyengat. Ada secarik *sticky note* kuning tertempel di sana.
*Tulisan cakar ayam:* "Buat melek. Sorry kalau tadi gue berisik. - Bayu"
Raka menatap gelas karton itu. Uap panas mengepul tipis. Bayu, dengan segala kecerewetannya, memiliki kepekaan yang terkadang membuat Raka merasa telanjang. Raka menoleh ke samping. Bayu sedang sibuk menelepon klien, tertawa renyah sambil memutar-mutar pulpen.
Raka duduk perlahan. Ia tidak suka kopi susu manis. Dulu, mantannya yang suka. Raka selalu mengomel kalau wanita itu minum kopi yang "lebih banyak gulanya daripada kopinya".
*"Hidup udah pait, Ka. Minumannya harus manis dong,"* begitu pembelaannya dulu.
Raka meraih gelas pemberian Bayu. Kehangatan menjalari telapak tangannya yang dingin. Ia menyesapnya sedikit. Terlalu manis. Rasanya artifisial dan lengket di tenggorokan. Tapi anehnya, rasa manis yang berlebihan itu sedikit menenangkan gemuruh di perutnya yang belum diisi sarapan.
Ia memandang kancing kemejanya yang longgar lagi. Benangnya semakin terurai karena gesekan dengan meja.
Hari ini, Raka menyadari bahwa pertahanannya tidak sekuat tembok beton. Pertahanannya hanyalah kaca tipis. Dan penemuan pembatas buku semalam adalah batu pertama yang dilemparkan ke kaca itu. Sekarang, dengan kesalahan di laporan dan kopi manis di lidahnya, retakan itu mulai menjalar.
Ia membuka *file* laporannya kembali. Kali ini, ia mengetik dengan sangat lambat, mengeja setiap angka seolah-olah hidupnya bergantung padanya. Karena dalam benak Raka, mungkin memang begitu. Jika ia kehilangan fokus pada pekerjaannya, apa lagi yang tersisa untuk menopang dirinya agar tetap berdiri tegak?
Di luar jendela gedung lantai 12 itu, langit Jakarta mulai berubah menjadi abu-abu gelap. Awan mendung menggantung rendah, menjanjikan hujan yang akan membasuh debu kota, namun juga menjanjikan kemacetan dan kenangan-kenangan lain yang biasanya datang bersama aroma tanah basah.
Raka menarik napas panjang, menghirup aroma kopi susu dan kertas, lalu kembali bekerja. Ia harus bertahan sampai jam lima sore. Hanya itu targetnya hari ini.