NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Kebencian Bertambah

Kia bangun dengan dada sesak.

Bukan karena mimpi buruk—melainkan karena kenyataan yang kini menempel di kepalanya seperti bayangan yang tak mau pergi.

Ayah Tara.

Ayahnya.

Satu sosok, dua kehidupan.

Satu darah, dua dunia.

Kia duduk di tepi ranjang, menatap dinding kamarnya yang penuh poster lama. Semua terasa asing. Bahkan kamar ini, rumah ini, hidup ini—terasa seperti versi murahan dari kehidupan yang seharusnya ia miliki.

Ibunya sudah berangkat kerja. Rumah sunyi, terlalu sunyi untuk pikiran yang sedang berisik.

Kia meraih ponsel. Tidak ada pesan baru dari Daffa. Entah kenapa, kali ini ia lega. Ia belum siap menjelaskan apa pun. Belum siap mengucapkan kata saudara dengan lidahnya sendiri.

Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, menatap pantulan wajahnya di cermin.

Ada mata yang mirip dengan Tara.

Ia membencinya.

Ia membenci kenyataan itu.

Hari pertama kembali ke sekolah setelah diskors terasa seperti berjalan ke ruang sidang. Tatapan-tatapan mengarah padanya—ada yang penasaran, ada yang sinis, ada pula yang pura-pura tak peduli.

Kia berjalan cepat menuju kelas.

Tara sudah duduk di bangkunya.

Rambutnya terikat rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Lingkar hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan. Ia terlihat lelah.

Dan entah kenapa, itu membuat dada Kia panas.

Dia masih punya ayah buat dipeluk, batin Kia pahit.

Dia masih punya rumah besar, keluarga lengkap, hidup yang diakui.

Kia duduk tanpa menoleh sedikit pun ke arah Tara.

Namun, ia bisa merasakan keberadaan Tara seperti duri di kulitnya.

Pelajaran berlangsung seperti biasa, tapi Kia tidak benar-benar mendengar apa pun. Kata-kata guru hanya menjadi dengung samar di telinganya.

Ia justru sibuk memperhatikan gerak-gerik Tara.

Cara Tara menunduk saat mencatat.

Cara ia menghela napas pelan.

Cara ia sesekali melirik ke arah jendela, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Dulu, Kia akan menganggapnya sok. Drama. Cari perhatian.

Sekarang?

Sekarang Kia tahu.

Dan pengetahuan itu tidak membuatnya lebih lembut.

Justru sebaliknya.

Istirahat pertama, Kia keluar kelas lebih dulu. Ia tidak ingin satu ruangan lebih lama dengan Tara.

Tapi langkahnya terhenti di koridor.

Ayah Tara berdiri di sana.

Rangga Pratama.

Pria itu mengenakan kemeja kerja rapi. Posturnya tegap, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan rahasia sebesar itu.

Kia membeku.

Jantungnya berdentum keras.

Pria itu menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.

Wajah Rangga berubah. Sangat cepat, tapi cukup jelas bagi Kia untuk melihatnya.

Takut.

Bukan terkejut.

Takut.

“Kia,” sapa Rangga pelan. Suaranya bergetar tipis.

Kia tidak menjawab.

Tangannya mengepal.

“Ayah Tara mau jemput berkas,” lanjutnya, seolah percakapan ini biasa saja. “Kamu… sudah baikan dengan Tara?”

Kata ayah itu terasa seperti pisau.

Kia tertawa kecil. Tajam. Tidak ada humor di sana.

“Baikan?” ulangnya. “Kenapa harus baikan?”

Rangga tampak gelisah. Matanya melirik sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar.

“Kalian sekelas. Lebih baik kalau rukun.”

“Rukun itu gampang kalau dari awal adil,” jawab Kia datar.

Rangga menelan ludah. “Kia—”

“Kamu tahu,” potong Kia. Suaranya rendah, bergetar menahan emosi. “Yang paling menyakitkan itu bukan fakta kalau kamu ayahku.”

Rangga terdiam.

“Tapi fakta kalau kamu memilih dia,” lanjut Kia. “Setiap hari. Selama ini.”

Wajah Rangga memucat.

“Kia, dengar—”

“Kamu jemput Tara?” tanya Kia tiba-tiba.

Rangga mengangguk pelan.

Kia tersenyum miring. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.

“Tentu saja,” katanya. “Kamu selalu jemput dia.”

Kia berbalik dan pergi sebelum emosinya benar-benar meledak.

Ia tidak mau terlihat lemah.

Tidak di depan pria yang memilih hidup tanpa dirinya.

Di kelas, Tara merasakan sesuatu berubah.

Bukan suasana.

Bukan sikap guru.

Tapi Kia.

Kia yang biasanya terang-terangan sinis kini justru terlalu tenang. Terlalu dingin. Seperti menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kesal.

Dan itu membuat Tara gelisah.

“Kia,” panggil Tara saat jam pelajaran kosong.

Kia tidak menoleh.

“Kia,” ulang Tara, kali ini lebih tegas.

Kia akhirnya menoleh, matanya tajam. “Apa?”

Tara terdiam sesaat. “Kenapa kamu… makin benci aku?”

Pertanyaan itu terdengar bodoh, bahkan bagi Tara sendiri. Tapi ia perlu tahu.

Kia tertawa pendek. “Kamu baru sadar?”

“Ini beda,” jawab Tara. “Dulu kamu marah. Sekarang kamu… kayak mau menghancurkan aku.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Kia menatap Tara lama. Sangat lama.

Kalau saja Tara tahu.

Kalau saja Tara tahu apa yang ia ambil tanpa sadar.

“Kamu nggak pernah kekurangan apa pun, kan?” tanya Kia pelan.

Tara mengernyit. “Maksud kamu?”

“Papa kamu selalu ada,” lanjut Kia. “Datang ke acara sekolah. Jemput kamu. Bela kamu.”

Tara terdiam. Ada nada getir di suaranya saat menjawab, “Papa juga nggak sesempurna itu.”

Kia tersenyum dingin. “Tapi dia tetap milik kamu.”

“Itu nggak adil,” protes Tara.

“Oh, kamu mau bicara soal adil?” suara Kia naik. Matanya berkilat. “Kamu hidup dengan semua yang seharusnya bisa aku punya.”

Tara berdiri. “Kamu ngomong apa sih? Kamu iri sama hidup aku?”

“Iya,” jawab Kia tanpa ragu. “Aku iri sama ayah kamu.”

Kata-kata itu menghantam Tara lebih keras dari tamparan.

“Papa aku nggak ada hubungannya sama kamu!” bentak Tara.

Kia ikut berdiri. Jarak mereka tinggal beberapa langkah.

“Oh, justru itu masalahnya,” balas Kia.

Bel istirahat berbunyi, memecah ketegangan sebelum berubah jadi ledakan.

Siswa-siswa mulai masuk, suara riuh memenuhi kelas.

Tara mundur selangkah. Dadanya naik turun.

Kia duduk kembali, wajahnya tanpa ekspresi.

Namun di dalam dadanya, kebencian itu tumbuh—bukan lagi seperti api kecil, melainkan bara yang siap membakar segalanya.

Sore hari, Kia pulang lebih lambat. Ia berjalan kaki, memutar arah, melewati rumah besar itu lagi.

Rumah yang sama.

Gerbang tinggi. Taman rapi. Mobil mahal terparkir di halaman.

Ia berhenti.

Lampu teras menyala.

Dan di balik jendela, Kia melihatnya.

Rangga sedang duduk di ruang keluarga. Tara di sebelahnya. Mereka tertawa kecil. Sesuatu yang sederhana—mungkin hanya obrolan ringan, mungkin hanya lelah yang dibagi bersama.

Tapi bagi Kia, itu adalah segalanya yang tidak pernah ia dapatkan.

Air mata menggenang di matanya.

Bukan karena sedih semata.

Karena marah.

Karena merasa dirampas.

“Harusnya itu aku,” bisiknya.

Ia membenci Tara saat itu.

Bukan karena Tara jahat.

Bukan karena Tara sengaja.

Tapi karena Tara hidup di tempat yang seharusnya menjadi miliknya juga.

Dan kebencian itu, sayangnya, terasa lebih mudah daripada menerima kenyataan bahwa ayahnya tidak pernah memilihnya.

Di kamar Tara malam itu, pertanyaan-pertanyaan tidak mau diam.

Kenapa Kia bicara soal ayahnya?

Kenapa Papa selalu berubah saat nama Kia disebut?

Kenapa ia merasa… seperti ada sesuatu yang disembunyikan darinya?

Tara menatap pintu kamar ayahnya yang tertutup.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya:

Siapa sebenarnya Kia buat Papa?

Dan jawaban itu—entah apa pun bentuknya—akan segera keluar dari bayang-bayang.

Karena kebencian sudah terlanjur tumbuh.

Dan rahasia tidak pernah bisa bertahan lama di antara dua anak yang terhubung oleh darah yang sama.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!