"Jangan bunuh aku, tidaaaaak."
Crassss.
Kepala jatuh menggelinding dari anak nya ketua kampung yang baru menikah, sejak saat itu setiap malam purnama maka akan selalu ada korban yang jatuh, banyak nya korban dengan bentuk sama membuat wanita sakti bernama Purnama juga di curigai oleh banyak orang.
Benarkah bila Purnama si wanita ular kembali di jalan yang sesat?
Benarkah bila kata orang dia kembali kejalan sesat untuk menyempurnakan ilmu nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Gempar lagi
Kegemparan kembali terjadi di rumah nya juragan kambing ketika pekerja nya menemukan apa yang ada di sana, sepasang anak manusia kembali jadi korban atas perbuatan sadis dari pembunuh yang belum bisa di ketahui identitas nya. bentuk meninggal nya juga sama seperti Sandi dan Doni, banyak yang menduga bahwa mereka sedang berhubungan intim.
Sebab keadaan mereka sedang dalam keadaan terbuka walau tidak semua nya, kepala pun sama sama lepas dari raga. semua nya orang langsung mengatakan bahwa pembunuh nya tetap orang yang sama, karena ciri ciri meninggal nya juga sama persis. polisi kian merasa terdesak oleh ucapan warga, karena korban yang meninggal semakin banyak.
Tiap korban yang meninggal selalu berpasang pasangan, seolah pembunuh tidak suka bila ada yang bahagia dengan pasangan nya. banyak menyimpulkan begitu, namun ada juga yang bilang bahwa pembunuh tidak suka ada yang berbuat kotor di kampung ini. apa lagi keadaan Indah dan Ridho bisa di bilang kotor, pakaian mereka terbuka.
"Sandi dan Rea bukan pasangan kotor, mereka sudah menikah!" Pak Lurah tidak setuju.
"Nah kalau di pikir kesana memang benar itu, mereka kan di bunuh saat malam pertama." timpal Pak Risman.
"Pembunuh pasti tau kita sudah menandai nya yang bergerak di malam purnama, tapi karena takut ketahuan maka nya malam tadi pun dia juga membunuh!" Lubis berkata penuh semangat.
"Inti nya di kampung kita pasti ada pembunuh, ini lah yang di sebit dengan pembunuh berantai." Usman juga ikut membuka suara.
"Bisa jadi salah satu keluarga nya dengar saat kita sedang menggunjing pembunuh, maka nya dia merubah siasat!" Pak Risman kian semangat saja.
"Aku yakin seratus persen bahwa ini memang ulah manusia yang berurusan dengan setan, pasti nya dia mau menuntut ilmu." Pak Lurah berkata tegas.
"Siapa di kampung kita yang selalu punya urusan dengan hal ghaib, bukan kah itu bisa di bilang dukun?" Usman penasaran dengan perbincangan yang kian hot.
Pak Lurah ingat dengan kata kata dukun Marto bahwa ini memang ulah manusia yang punya urusan dengan setan, orang itu adalah Purnama dan juga Arya. apa lagi dia mendengar kabar bahwa dulu nya Purnama pernah mendapat gosip bahwa dia adalah setan yang gentayangan di malam jumat, bahkan yang membunuh Bu Winar Ibu nya Nae adalah Purnama juga.
Kabar itu beredar dari mulut nya Nae langsung, sebab saat itu Nae tidak bisa menerima keberadaan Purnama dan Arya yang lahir sebagai siluman ular. maka nya dia dengan tega bilang pada semua orang, bahwa anak nya bukan manusia baik seperti yang lain.
"Mungkin saja ini di bunuh saat kita sedang membaca tahlil." tebak Usman menerka nerka.
"Bisa jadi, kan kita pakai salon sehingga tidak akan dengar suara teriak." angguk Risman setuju.
"Pembunuh nya ini punya ilmu, walau kita di dekat nya pun kita tidak bisa dengar." kesal Pak Lurah yang sudah merasakan.
"Susah kalau sudah ada urusan sama setan, sebab orang punya ilmu kan bahaya." Lubis menggaruk kepala nya..
"Menurut ku kita harus cari dukun yang bisa melihat, ini lawan nya harus dukun." Usman sangat semangat.
"Dukun yang mantap cuma Mbah Marto, apa sebaik nya kita datangi saja?" tawar Pak Lurah pada warga nya.
"Aku sih setuju saja, mari kita kesana." angguk Risman.
Maka mereka pun segera pergi kerumah nya Mbah Marto ketika siap acara mengubur jenazah nya Indah dan Ridho, Pak Lurah sudah yakin bahwa pelaku nya adalah Purnama atau adik nya. sebab mereka memang orang yang paling pantas untuk di curigai.
Selama ini Purnama dan Arya banyak menolong orang yang punya urusan dengan hal ghaib, tidak mustahil bahwa mereka juga bisa menyakiti orang, manusia tidak ada yang tahu jalan pikirkan nya. jangan kan manusia, langit pun bisa berubah bila sudah waktu nya tiba, begitu jug dengan Purnama serta Arya.
"Mereka bukan orang biasa, aku pasti tidak akan mampu menghadapi nya." jelas Mbah Marto ketika mereka semua datang.
"Aku hanya ingin sampean memastikan, apa benar itu ulah Purnama." tegas Pak Lurah.
"Bila itu memang dia, kalian mau apa?" Mbah Marto menatap Pak Lurah.
Terdiam seribu bahasa karena mereka juga tidak tau tindakan selanjut nya bila ini memang ulah Purnama, tidak akan mampu orang orang sini bertindak. mau di usir juga mereka tidak punya bukti nyata, tidak akan bisa langsung bertindak begitu.
"Bila itu dia, maka aku akan mencari dukun kuat agar bisa mengalahkan Purnama." tekad Pak Lurah yang menggebu.
"Mau kemana kalian cari dukun kuat, yang ada nanti malah tertipu karena dukun bukan hal yang mudah untuk di cari." Mbah Marto menatap Pak Lurah dalam.
"Lalu kami harus bagai mana, Mbah? kan tidak mungkin bila kami diam saja saat pembunuh ada di desa ini." Risman membuka suara.
"Pak Risman benar, Mbah! yang ada nanti warga desa akan habis di bantai bila dia di biarkan." Usman juga setuju.
Mbah Marto memejam kan mata nya dan mulut komat kamit membaca mantra nya, dia ingin melihat dari air yang ada dalam baskom besar di hadapan nya ini. yang lain diam saja menunggu apa yang akan di lakukan oleh sang dukun, berharap dia bisa melihat siapa pembunuh nya.
"Semoga saja bisa di lihat, bila memang dia pelaku nya maka aku akan keliling desa lain untuk mencari dukun." tekad Pak Lurah.
"Tapi dia menolong orang dari desa mana mana, Pak." sela Usman.
"Itu paling cuma untuk pencitraan saja, apa lagi suami nya yang sok suci." Pak Risman memang seakan sangat benci.
Duaaaar.
Saat mereka sedang bercakap cakap menjelakan Purnama, mendadak saja air dalam baksom itu meledak hingga membuat dukun Marto terpental kebelakang dengan suara teriakan yang sangat keras sekali, mata nya terasa sangat sakit.
"Aaaaggkkhh!"
"Tolongin dia, Man!" pekik Pak Lurah panik melihat dukun nya.
"Astaga, kok sampai berdarah mata nya!" kaget Usman.
"Mata ku sakit sekali, ambil kan aku air dati gentong itu!" pinta Mbah Marto.
Lubis cepat mengambil satu gayung dan Mbah Marto cepat mengambil untuk cuci muka, dia megap megap menahan rasa sakit pada kedua mata nya. kepala juga berdenyut kencang seakan di tusuk benda tajam, sesakit ini balasan dari mahluk itu.
"Aku tidak bisa melihat wajah nya, dia memakai jubah hitam." Mbah Marto terengah engah.
"Purnama suka pakaian hitam!" seru Risman.
Pak Lurah tidak bisa juga percaya begitu saja karena masalah baju yang di pakai, lagi pula kata Mbah Marto wajah nya belum bisa di lihat jelas.
Othor hari ini gak bisa up banyak, ada keperluan dulu di dunia nyata.
atau jangan² ini ulahnya pak lurah lagi
dan yg pasti,slah 1 d antara mreka adlh plakunya...