Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.
Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.
Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
“Tapi, Ma! Bagaimana dengan Papa?” pertanyaan Erick membuat Mirna dan Wulan terdiam, mereka memasang wajah serius.
“Nanti, Mama pikirkan. Sekarang yang penting kalian siap-siap dulu, untuk piting baju pengantin kalian!”
“Baiklah, Tante!” jawab Wulan, dengan semangat.
Begitu juga Erick, ia tidak pernah menyangka kalau saat ini akan punya istri dua. Wanita yang satu bisa ia manipulasi dan yang satu lagi bisa dijadikan pelampiasan baik dari segi napsu dan juga emosi.
Pria itu tersenyum puas, untuk dirinya sendiri, ia benar-benar merasa di atas angin, karena mendapatkan segalanya lebih dari yang ia harapkan.
Sedangkan Wulan begitu semangat dengan pernikahannya, selain itu ia juga senang karena akan segera diakui menjadi istri CEO dari perusahaan terkenal di kota.
Shafira menyiapkan makanan di atas meja makan dengan hati yang hancur. Ia tidak bisa membayangkan rasanya jika benar nanti Erick menikah lagi. Wanita itu hampir tidak percaya, harus menerima kenyataan jika suaminya, mengucapkan janji sakral itu kepada wanita lain dan bukan dirinya.
Semua makanan yang sudah selesai dihidangkan, disantap dengan lahap oleh Mirna, Wulan dan Erick, setelah dipersilakan oleh Shafira. Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaan wanita itu dan mengabaikannya. Bahkan, mereka tidak mengajaknya ikut serta makan bersama.
Shafira memilih untuk menenangkan diri di dapur dan kembali menangis di sana. Namun, suaranya ditahan karena ia tidak ingin orang-orang jahat itu mendengar tangisannya. Apabila mereka tahu betapa hancur perasaannya, mereka akan puas dengan perbuatan jahat itu padanya.
Begitu sibuknya menangis, sampai-sampai Shafira tidak tahu kalau ketiga orang itu sudah pergi. Erick dan Wulan pergi untuk mencoba pakaian pengantin serta, meninjau persiapan pesta. Sementara Mirna pulang ke rumah untuk merayu suaminya.
Wanita itu kesal, karena suaminya sangat tidak setuju dengan perbuatannya, yang sudah menyakiti Shafira. Namun, ia juga tidak berdaya karena undangan sudah disebar hingga mau tidak mau pesta pernikahan harus dilaksanakan juga.
********
Sepekan setelah kejadian itu, Shafira lebih banyak diam, ia berubah menjadi pemurung. Namun, tidak ada orang yang memperhatikannya. Ia memilih tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya demi dirinya sendiri agar tidak terlalu dalam terluka.
Namun, rasa sakit tidak bisa di hindari saat mengetahui kalau pesta pernikahan suaminya benar-benar sempurna. Pesta mewah di gelar sesuai rencana, pengantin pun bagaikan sepasang ratu dan raja. Tidak ada orang yang tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya bahwa, Erick sudah menikah sebelumnya dengan Shafira.
Sebagai istri pertama yang tidak diakui oleh suaminya, Shafira memilih diam di rumah mengobati luka batinnya. Ia tidak menyangka jika keinginan ibunya untuk membahagiakan dirinya, justru berakhir dengan pernikahan yang penuh bara api di dalamnya.
Malam harinya, setelah pesta selesai, Wulan dan Erick tidak pulang karena mereka akan menghabiskan malam itu di hotel. Tentu saja hati Shafira semakin hancur karenanya. Ia bisa membayangkan apa yang dilakukan dua insan itu di sana.
Mereka bertemu lagi setelah keesokan harinya. Namun, saat pulang, ternyata Erick tidak sendiri. Selain Wulan dan Mirna, ada juga seorang perempuan paruh baya lainnya yang ikut serta bersama mereka. Ia adalah, saudara Mirna yang ingin melihat rumah Erick – keponakannya.
“Wah, ini rumah kalian, bagus sekali!” kata perempuan itu, mereka masuk setelah Shafira membukakan pintunya.
Mereka memperkenalkan Shafira sebagai pembantu Erick dan secara tidak langsung, mengabarkan jika Wulan lah nyonya di rumah itu.
Perempuan yang menjadi tamu, adalah salah satu saudara Mirna, yang tinggal di luar negeri dan jarang sekali berada di Indonesia. Ia tentu sadar kalau orang seperti Erick pasti memiliki segalanya. Bahkan, seorang pembantu pun sangat cantik wajahnya.
Mereka kini duduk secara berhadap-hadapan di ruang tamu. Mirna duduk dengan saudaranya secara berdampingan. sementara Erick duduk berdampingan pula dengan Wulan--istri keduanya.
Sementara Shafira kembali ke dapur setelah diminta membuatkan minuman untuk tamunya. Di dapur, Mirani berbisik agar Shafira tidak memanggilnya Mama, tapi ia harus dipanggil nyonya, di depan saudaranya itu.
“Wah, Erick! Kamu pandai memilih pembantu, cantik sekali dia?” kata wanita itu, dengan gaya yang elegan dan penuh senyum licik di wajahnya.
“Ah! Tante ini bisa saja! Bagiku, Wulan wanita paling cantik di dunia!” sahut Erick sambil melirik Shafira, yang sedang menyediakan teh manis, di atas meja untuk semua orang yang duduk di ruang tamu rumahnya.
“Hati-hati kamu Wulan, salah-salah nanti Erick bisa tergoda!” kata perempuan itu lagi.
“Tenang saja, Tante jangan khawatir ... Erick pasti setia padaku, dia tidak akan mudah tergoda wanita lain, aku akan menjadi wanita satu-satunya dalam hidupnya,” kata Wulan penuh percaya diri.
Sementara Shafira tersenyum miris. Kalau memang Erick tidak mudah tergoda wanita lain, lalu apa yang pria itu lakukan pada dirinya? Bukankah Erick juga menggauli dan bercumbu dengannya? Pada kenyataannya sekarang Wulan bukanlah wanita satu-satunya.
Prang!
Tiba-tiba gelas yang sedang dipegang oleh Shafira, terlepas lalu jatuh dan pecah. Sebelumnya, ia akan meletakkannya di atas meja, tapi airnya tertumpah mengenai saudara mertuanya. Ia sangat terkejut karena tangannya tersenggol oleh Wulan dengan sengaja.
“Kamu ini gak bisa kerja, ya?” bentak perempuan itu sambil berdiri mengibaskan tangannya pada pakaian yang basah. Pahanya terasa panas karena teh yang tertumpah.
“Maaf! Saya—“
Plak!
Ucapan Shafira terhenti karena tamparan dari Mirna, Ibu mertuanya itu melotot menunjukkan kemarahan padanya. Namun, bukan hanya dia saja yang marah Erick juga.
Plak!
Sekali lagi Shafira ditampar oleh suaminya dan mengenai pipi yang lain. Air mata Shafira tiba-tiba meleleh tanpa bisa dicegah, kedua pipinya merah dan bengkak, padahal bukan kesalahannya, tapi ia harus menanggung akibatnya.
“Kamu bikin malu saja kalau kerja itu yang bener dong!” kata Mirna.
“Sudah, Ma, Tante, sabar ... kasihan pembantu ini kalau terus dimarahi ditampar lagi!” kata Wulan memelas pada dua wanita paruh baya di depannya.
“Erick, sepertinya kamu harus mencari pembantu lain! Dan, lihat istrimu baik sekali, meminta maaf untuk orang yang sudah jelas-jelas salah!” kata saudara Mirna sambil mengelap bajunya dengan tisu.
Saat itu Wulan tersenyum licik, ia melirik Shafira yang menangis dan terlihat mengenaskan. Dalam hatinya puas karena sudah berhasil membuat saingan cintanya tak berdaya, dan menerima kesalahannya begitu saja.
“Sekarang, minta maaf padanya cepat!” kata Erick sambil memukul bahu Shafira hingga wanita itu tersungkur ke lantai, membuatnya seolah-olah tampak seperti bersujud.
Shafira menatap lantai yang ada di bawahnya, ia melihat tetesan air matanya sendiri di sana. Tangannya terkepal menahan geram, tapi ia tidak bisa apa-apa. Kalau ia mencoba melawan, maka sikap mereka pasti akan lebih tercela.
“Maafkan saya, Tan—eh, Nyonya! Saya tidak sengaja, maaf, sekali lagi maaf!” katanya dengan suara gemetar.
Di saat yang sama, tanpa diketahui oleh siapa pun, kaki Wulan sengaja menginjak tangan Shafira. Secara kebetulan jari-jari tangannya dekat dengan Wulan yang memakai sepatu hak tinggi di kakinya. Tubuh Shafira nyaris seperti bersujud pada mereka.
Seketika Shafira menahan rasa sakit di tangannya sekuat tenaga. Jika ia berteriak, maka justru ia sendiri yang akan disalahkan. Walaupun persendian di jari-jari tangannya terasa patah, tapi gadis itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Sudah, sudah, kamu tidak perlu minta maaf! Wulan sudah memintakan maaf untukmu, kamu yang harus berterima kasih pada nyonya rumah ini, tahu?” kata perempuan itu lagi.
“Iya, maaf banget ya, Mbakyu, pembantu Erick ini memang perlu diajar lagi!” kata Mirna sambil melirik sinis pada Shafira menantunya sendiri.
“Oh ya Tante, apa baju tante yang mahal itu tidak masalah? Apa perlu pembantuku ini menggantinya?”
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
syabas kak thor