NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesempatan Besar Yang Menunggu

Surat undangan dari Swiss terasa seperti mimpi yang tidak mungkin jadi kenyataan. Nara memegangnya dengan hati-hati saat duduk bersama tim inti proyek di kantor yayasan.

"Konferensi internasional di Swiss?" ucap Lina dengan mata yang bersinar. "Itu adalah kesempatan yang tidak bisa kita lewatkan, Kak Nara!"

"Kita bisa menunjukkan karya anak-anak Indonesia ke dunia," tambah Reza dengan semangat tinggi. "Ini akan membuka pintu bagi kerja sama dengan negara lain dan memberi anak-anak kita lebih banyak kesempatan."

Dito mengangguk setuju tapi juga menunjukkan kekhawatiran. "Namun kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang. Anak-anak yang akan kita bawa perlu waktu untuk mempersiapkan karya terbaik mereka, dan kita juga harus memastikan keselamatan serta kenyamanan mereka selama perjalanan."

Rendra mengambil surat undangan dan membacanya dengan cermat. "Yayasan akan menanggung semua biaya, tapi kita masih perlu merencanakan detailnya dengan baik. Selain itu, kita harus memilih anak-anak yang paling pantas dan siap menghadapi pengalaman baru yang luar biasa ini."

Setelah diskusi panjang, mereka memutuskan untuk menerima undangan tersebut. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih lima anak terbaik yang akan mewakili Indonesia ke konferensi. Mereka mengadakan seleksi yang adil – setiap anak dari seluruh cabang program bisa mengirimkan portofolio karya mereka dan cerita tentang bagaimana program ini telah mengubah hidup mereka.

Dalam waktu dua minggu, mereka menerima lebih dari 200 pendaftaran dari anak-anak yang berbeda usia dan latar belakang. Proses seleksi tidak mudah – setiap anak punya cerita dan karya yang luar biasa, membuat mereka sulit untuk memilih hanya lima orang saja.

Pada hari pengumuman pemenang, seluruh anak-anak berkumpul di taman kota dengan hati yang penuh harap. Nara berdiri di atas panggung dengan daftar nama di tangannya, merasa sangat terharu melihat wajah-wajah yang penuh harapan itu.

"Saya tahu semua dari kalian layak untuk pergi," ucapnya dengan suara yang jelas. "Tetapi kita hanya bisa membawa lima orang untuk mewakili kita. Namun ingat – setiap karya yang kalian buat sudah menjadi kebanggaan bagi kita semua."

Dia mulai membaca nama-nama pemenang:

- Dani – anak dengan autisme yang berbakat dalam patung tanah liat

- Rara – anak kecil yang memiliki bakat luar biasa dalam melukis

- Zaki – anak tunarungu yang menciptakan buku cerita bergambar yang luar biasa

- Siti – anak dari desa terpencil yang mahir dalam anyaman bambu

- Budi – anak yang dulu sering berkelahi namun menemukan jalan hidupnya melalui seni rupa

Setiap anak yang nama nya disebutkan menangis haru dan berlari ke atas panggung untuk menerima piagam penghargaan. Orang tua dan teman-teman mereka memberikan tepuk tangan yang meriah dan penuh kebanggaan.

Setelah pengumuman selesai, tim mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan ke Swiss. Mereka mengajak anak-anak untuk latihan presentasi, mempersiapkan portofolio karya mereka, dan juga memberikan pelajaran tentang budaya dan bahasa Inggris agar mereka bisa berkomunikasi dengan peserta dari negara lain.

Selama masa persiapan, hubungan antara Nara dengan Dito, Reza, dan Rendra semakin dalam. Setiap orang memberikan kontribusi yang berbeda:

- Reza fokus pada pembimbingan akademik dan teknis bagi anak-anak, mengajari mereka cara menjelaskan karya mereka dengan baik

- Dito menangani bagian administrasi dan logistik perjalanan, memastikan semua dokumen dan persiapan perjalanan berjalan lancar

- Rendra memberikan pelatihan tentang bagaimana berinteraksi di kancah internasional dan memperkenalkan mereka pada berbagai budaya dunia

Salah satu malam sebelum keberangkatan, Nara duduk bersama ketiganya di kedai kopi dekat taman kota. Udara malam yang segar dan lampu-lampu kecil yang terpasang di pohon membuat suasana menjadi hangat dan romantis.

"Kamu pasti akan sukses di sana," ucap Reza dengan tatapan yang penuh cinta. "Aku tahu kamu akan bisa menunjukkan kepada dunia betapa hebatnya anak-anak Indonesia."

"Kita akan menangani semua hal di sini selama kamu pergi," tambah Dito dengan senyum yang hangat. "Jangan khawatir tentang apa-apa – kita akan memastikan program tetap berjalan dengan baik."

Rendra menyentuh tangan Nara dengan lembut. "Jika kamu membutuhkan sesuatu saja selama di sana, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku akan selalu ada untukmu dan anak-anak."

Nara merasa sangat bersyukur memiliki tiga orang luar biasa ini dalam hidupnya. Namun dia juga merasa sedikit bingung – hatinya merasa tertarik pada ketiganya dengan cara yang berbeda, dan dia belum siap untuk membuat keputusan tentang hubungan mana yang akan dia pilih.

Hari keberangkatan tiba dengan cepat. Seluruh masyarakat berkumpul di bandara untuk mengantar mereka pergi. Anak-anak mengenakan baju seragam dengan logo program yang terpampang jelas di dada, membawa tas yang penuh dengan karya mereka dan barang bawaan.

Bu Lina dan Bapak Safitri datang untuk mengantar Nara dengan hati yang penuh harap dan sedikit sedih. "Kamu sudah menjadi orang yang membuat kita sangat bangga," ucap Bu Lina dengan air mata yang menetes. "Jangan lupa untuk selalu merawat dirimu ya, Nak."

Bapak Safitri mengambil tangan putrinya dan memegangnya erat. "Aku tahu kamu akan melakukan yang terbaik. Jadikan negara kita bangga dengan apa yang kamu lakukan."

Setelah melalui proses check-in dan pemeriksaan keamanan, mereka akhirnya masuk ke dalam pesawat. Nara duduk di sebelah jendela dengan Rara yang sedang sangat bersemangat melihat ke luar dari jendela pesawat.

"Kakak Nara, apakah di Swiss ada banyak taman seperti kita?" tanya Rara dengan rasa penasaran yang besar.

"Pastinya ada, sayang," jawab Nara dengan senyum. "Dan kamu akan bisa bertemu dengan anak-anak dari berbagai negara yang juga suka dengan seni seperti kamu."

Saat pesawat mulai lepas landas, Nara melihat ke bawah dan melihat kota kelahirannya yang semakin kecil. Dia merenungkan semua perjalanan yang telah dia lalui – dari gadis muda yang harus pergi dari rumah untuk mencari kerja, hingga wanita yang sekarang akan membawa nama Indonesia ke kancah internasional.

Namun di tengah rasa bahagia dan bangga itu, dia juga merasa sedikit khawatir. Dia tahu bahwa konferensi tidak hanya akan menjadi ajang untuk menunjukkan karya anak-anak, tapi juga akan menjadi ajang persaingan dengan program pendidikan dari negara lain yang lebih maju.

Selain itu, dia menerima pesan misterius dari nomor yang tidak dikenali sebelum keberangkatan:

"Jangan berpikir bahwa kamu akan mudah meraih kesuksesan di sana. Ada orang yang tidak senang dengan perkembanganmu dan akan melakukan apa saja untuk membuatmu gagal. Hati-hati dengan setiap orang yang kamu temui di sana."

Setelah perjalanan selama lebih dari 12 jam, mereka akhirnya tiba di Zurich, Swiss. Bandara yang modern dan bersih membuat anak-anak merasa kagum dan sedikit takut. Seorang wanita dengan jas hitam datang menyambut mereka dengan senyum ramah – dia adalah perwakilan dari organisasi penyelenggara konferensi.

"Selamat datang di Swiss, tim Indonesia," ucapnya dengan bahasa Inggris yang lancar. "Saya adalah Sarah Muller, koordinator konferensi. Kami telah menyiapkan akomodasi terbaik untuk kalian."

Namun saat mereka sedang berjalan ke arah keluar bandara, Nara melihat seseorang yang berdiri di kejauhan – seorang pria dengan wajah yang dia kenal sangat baik. Itu adalah mantan rekan kerjanya dari Jakarta yang dulu pernah mencoba menggagalkan proyeknya dan menghilang setelah itu.

Pria itu memberikan senyum sinis dan kemudian menghilang ke dalam kerumunan orang. Nara merasa dada nya menjadi sesak – apa yang dia lakukan di sini? Dan apakah dia adalah orang yang mengirim pesan ancaman padanya sebelum keberangkatan?

Selain itu, di balik pria itu, dia melihat seorang wanita dengan wajah yang sangat mirip dengan Pak Bambang – mungkin adik atau anak perempuannya yang dia tidak pernah kenal sebelumnya.

Siapa orang-orang ini? Dan apa yang mereka inginkan dari saya dan anak-anak?

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!