Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad Nikah yang Khidmat
Pelaminan itu terlalu mewah untuk ukuran Nayara. Kain sutra berwarna krem dengan sulaman emas menggantung di sekeliling panggung, bunga mawar putih tersusun rapi di setiap sudut, lampu kristal besar berkilauan di atas kepala. Semua orang bilang ini seperti pernikahan putri raja. Tapi Nayara? Tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya yang tertutupi sarung tangan brukat tipis.
"Nayara, sayang, tenanglah." Ibu Nayara membisikkan kata itu sambil mengelus punggung putrinya pelan. Tapi bagaimana bisa tenang? Jantungnya berdetak seperti genderang perang. Cepat. Kencang. Tidak beraturan.
Gilang Mahesa berdiri di sampingnya. Tinggi, tegap, jas hitam dengan dasi abu-abu yang pas sekali di tubuhnya. Wajahnya, astaga, wajahnya itu selalu membuat Nayara lupa cara bernapas. Rahang tegas, hidung mancung, mata tajam yang kalau menatap bisa bikin lutut lemas. Semua tamu undangan menatap mereka dengan tatapan kagum. Pasangan sempurna, begitu bisik-bisik orang.
"Mulai ya, Pak Gilang?" Ustadz Yusuf, penghulu dengan jenggot putih panjang, tersenyum ramah. Suaranya lembut tapi berwibawa. Di sebelah kiri Nayara, Paman Wilman, wali nikahnya, mengangguk mantap. Ayah Nayara sudah lama meninggal, jadi Paman Wilman yang akan menggantikan posisi itu.
Gilang mengangguk. Tenang. Sempurna. Seperti biasa.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ustadz Yusuf memulai. Seluruh ruangan hening. Ratusan pasang mata menatap ke arah pelaminan. Nayara menunduk, matanya berkaca-kaca. Ya Allah, ini benar-benar terjadi. Dia akan menikah dengan Gilang Mahesa. Lelaki yang sudah ia impikan sejak pertama kali mereka bertemu di acara seminar bisnis setahun lalu.
"Saya terima nikahnya Nayara Salsabila binti Hasan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar sepuluh juta rupiah, dibayar tunai."
Suara Gilang keluar. Mantap. Tidak ada gemetar sedikit pun. Sekali ucap. Sempurna.
Tepuk tangan meledak dari seluruh penjuru ruangan. Takbir berkumandang keras, "Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!" Ibu Nayara langsung menangis, memeluk putrinya erat. "Alhamdulillah, sayang. Alhamdulillah."
Nayara tidak bisa menahan air matanya. Ini air mata bahagia, pikirnya. Pasti. Tapi kenapa dadanya terasa sesak begini? Kenapa tangannya masih gemetar? Kenapa ada bisikan kecil di sudut hatinya yang terus bertanya, "Apa kamu yakin?"
Gilang mengulurkan tangan, membantu Nayara berdiri. Senyumnya sempurna. Seperti iklan pasta gigi di televisi. "Kamu sudah jadi istriku sekarang," bisiknya pelan, hanya untuk Nayara. Nayara tersenyum, meski senyumnya terasa kaku. Berat.
Acara resepsi berlangsung meriah. Tamu berdatangan tanpa henti, bersalaman, memberi selamat, memuji betapa serasi pasangan ini. Nayara tersenyum, tersenyum, dan tersenyum sampai pipinya pegal. Gilang di sampingnya terlihat begitu percaya diri, menjabat tangan rekan bisnisnya, tertawa lepas bersama teman-temannya.
"Gilang memang beruntung dapat istri secantik Nayara," kata salah satu tamu, seorang pengusaha tua dengan perut buncit.
"Justru Nayara yang beruntung," sahut Gilang sambil merangkul bahu Nayara. "Dia dapat suami setampan aku." Semua orang tertawa. Nayara ikut tertawa, meski hatinya bertanya-tanya, apa Gilang serius atau bercanda?
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika acara akhirnya selesai. Nayara kelelahan. Kakinya ngilu karena sepatu hak tinggi yang sudah ia pakai sejak sore. Gilang membantunya masuk ke mobil mewahnya, sebuah sedan hitam mengkilap yang baunya masih baru.
"Capek?" tanya Gilang sambil menyalakan mesin.
"Iya, lumayan," jawab Nayara pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.
Gilang tidak menjawab. Matanya fokus ke jalan. Musik jazz pelan mengalun dari speaker mobil. Nayara memandang jendela, melihat lampu kota yang berkelap-kelip. Besok, hidupnya akan berubah total. Dia bukan lagi Nayara Salsabila yang tinggal sendiri di apartemen kecil. Dia adalah Nayara Mahesa. Istri Gilang Mahesa.
Mereka tiba di apartemen Gilang. Penthouse mewah di lantai paling atas gedung pencakar langit. Begitu pintu lift terbuka, Nayara terpana. Ruang tamu seluas lapangan futsal, jendela kaca dari lantai sampai langit-langit, pemandangan kota yang bersinar seperti permadani cahaya.
"Suka?" tanya Gilang sambil melepas jasnya, melemparnya sembarangan ke sofa.
"Ini... cantik sekali," gumam Nayara, matanya menyapu sekeliling. Terlalu cantik. Terlalu sempurna. Seperti mimpi.
Gilang berjalan mendekat. Tangannya meraih pinggang Nayara, menariknya masuk ke dalam pelukan. Nayara bisa mencium aroma parfum mahal yang selalu Gilang pakai. Wangi kayu cendana bercampur sedikit aroma mint.
"Kamu tahu, Nayara," bisik Gilang, bibirnya hampir menyentuh telinga Nayara. "Aku sudah menunggu malam ini sejak lama."
Jantung Nayara berdegup kencang. Wajahnya memanas. Ini malam pertama mereka. Malam yang sudah ia bayangkan berkali-kali, tapi sekarang ketika benar-benar terjadi, ia merasa gugup setengah mati.
Gilang mengangkat dagu Nayara, memaksanya menatap mata Gilang. "Jangan takut. Aku akan lembut." Suaranya seperti madu. Manis. Meleleh. Bikin kepala Nayara pusing.
Mereka masuk ke kamar tidur utama. Tempat tidur besar dengan sprei sutra putih, bantal bertumpuk rapi, lampu temaram di sudut ruangan. Gilang menutup pintu dengan kaki, tangannya sibuk membuka kancing kemeja putihnya satu per satu. Nayara berdiri canggung di tengah ruangan, tangannya meremas-remas ujung gaun pengantinnya.
"Nayara." Gilang memanggil. Nayara mendongak. "Kemarilah."
Nayara melangkah pelan. Kaki terasa berat seperti ditimpa batu. Gilang tersenyum, tangannya meraih tangan Nayara, menariknya duduk di tepi ranjang. "Santai saja. Kamu istriku sekarang. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Tapi Nayara tetap takut. Takut salah. Takut mengecewakan. Takut Gilang tidak menyukainya nanti.
Gilang mulai membuka hijab Nayara perlahan. Jari-jarinya terampil melepas setiap peniti, membuka setiap lipatan kain. Rambut panjang Nayara jatuh terurai, hitam legam mengkilap terkena cahaya lampu. "Cantik," gumam Gilang, hampir seperti berbisik pada diri sendiri.
Nayara memejamkan mata ketika Gilang mulai mencium lehernya. Lembut. Hangat. Tapi kenapa dadanya terasa sesak? Kenapa tangannya gemetar? Ini seharusnya momen indah, momen yang ia tunggu, tapi kenapa rasanya seperti ada yang salah?
"Gilang, aku..." Nayara mencoba bicara, tapi Gilang membekap bibirnya dengan jari.
"Ssshhh. Jangan bicara dulu."
Gilang mendorong Nayara perlahan hingga berbaring di ranjang. Tubuhnya menindih Nayara, berat tapi tidak menyakitkan. Tangan Gilang bergerak cekatan membuka resleting gaun pengantin Nayara. Satu tarikan. Kain mewah itu melorot, menampakkan kulit putih Nayara yang mulus.
"Kamu sempurna," bisik Gilang lagi, matanya menyapu tubuh Nayara dengan tatapan yang membuat Nayara ingin menghilang. Ini terlalu intens. Terlalu cepat.
Tapi Nayara tidak protes. Dia membiarkan Gilang melakukan apa yang dia mau. Karena ini tugasnya sekarang, kan? Sebagai istri. Melayani suami. Membuat suami bahagia.
Gilang tidak terburu-buru. Tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh Nayara, bibirnya mengecup setiap jengkal kulit yang tersingkap. "Aku sudah membayangkan ini berkali-kali," gumamnya di sela-sela kecupan. "Dan kenyataannya jauh lebih baik dari bayangan."
Nayara hanya bisa memejamkan mata. Merasakan setiap sentuhan, setiap hembusan napas Gilang di kulitnya. Ketika Gilang akhirnya menyatu dengannya, Nayara meringis menahan sakit. Ini pertama kalinya. Tubuhnya kaku, tidak siap.
"Santai, sayang. Santai," bisik Gilang, tangannya mengelus rambut Nayara. "Sebentar lagi tidak sakit lagi."
Tapi tetap sakit. Sakit sekali. Nayara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan rintihan yang hampir keluar. Air mata menetes di sudut matanya, tapi dia tidak mau Gilang tahu. Dia tidak mau Gilang kecewa.
Gerakan Gilang makin cepat, makin dalam. Napasnya memburu, tubuhnya bergetar. Nayara hanya bisa pasrah, membiarkan Gilang mengambil apa yang dia inginkan. Dan ketika Gilang akhirnya runtuh di atas tubuhnya dengan erangan panjang, Nayara merasa lega sekaligus hampa.
Gilang berguling ke samping, napasnya masih terengah-engah. Tangannya meraih Nayara, menariknya masuk ke dalam pelukan. "Kamu luar biasa," bisiknya sambil mengecup puncak kepala Nayara.
Nayara tidak menjawab. Tubuhnya masih terasa sakit, ada rasa tidak nyaman di antara pahanya. Tapi dia diam saja, bersandar di dada Gilang yang naik turun mengikuti irama napasnya.
"Nayara," panggil Gilang pelan.
"Ya?"
Gilang mengangkat wajah Nayara, menatap matanya dalam-dalam. Senyumnya lembut, tulus, seperti orang yang benar-benar jatuh cinta. "Aku akan membahagiakan kamu selamanya. Kamu takdirku. Hidupku hanya untukmu. Mati tanpamu, aku tidak akan pernah bisa. Aku akan selalu mencintaimu, walau sampai rambutmu memutih, sampai kita sama-sama tua dan tidak bisa jalan lagi. Sampai akhir hayat memisahkan kita. Aku janji."
Kata-kata itu begitu indah. Begitu sempurna. Seperti dialog di film romantis yang sering Nayara tonton. Hati Nayara menghangat, dadanya sesak karena terlalu bahagia. Ini yang dia mau. Ini yang dia impikan.
"Aku juga mencintaimu, Gilang," bisik Nayara, suaranya bergetar. "Lebih dari apapun di dunia ini."
Gilang tersenyum, lalu mencium bibir Nayara lembut. "Tidurlah. Kamu pasti lelah."
Nayara mengangguk. Matanya perlahan terpejam, tubuhnya rileks dalam pelukan Gilang yang hangat. Terakhir yang ia rasakan adalah kecupan Gilang di dahinya, lembut seperti sayap kupu-kupu.
Dan Nayara tertidur dengan senyum tipis di bibir. Senyum penuh harapan. Senyum yang percaya bahwa hidupnya akan bahagia selamanya bersama Gilang Mahesa.
Tapi kalau saja Nayara tahu.
Kalau saja dia bisa melihat masa depan.
Dia tidak akan pernah tersenyum malam itu.
Karena janji manis Gilang, seindah apapun kedengarannya, hanyalah rayuan kosong seorang buaya darat yang pandai bermain kata. Manis di ucapkan, tapi pahit sekali di kenyataan.
Dan Nayara, si bodoh yang polos itu, sudah terlanjur percaya.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭