NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04. Tidak akan menunggu seseorang yang sedang membuat luka lebih dalam

Hening yang tadinya hanya menggantung di antara mereka kini berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. Shaka menatap amplop putih di atas meja itu lama, lalu tanpa satu kata pun, tangannya terulur dan mengambil amplop tersebut. Amara menatapnya tenang, namun dalam dadanya jantung berdetak cepat, antara lega dan takut.

Namun hanya butuh tiga detik bagi semua ketenangan itu hancur. Shaka merobek surat itu tepat di depan matanya. Kertas itu terbelah dua, lalu empat, hingga serpihannya jatuh di lantai seperti salju yang menandakan akhir musim.

“Shaka!” seru Amara, berjalan mendekat lagi ke arah Shaka. Tatapannya tajam, nada suaranya meninggi.

“Kau pikir dengan merobek itu semuanya selesai?!”

Shaka menatapnya tajam. “Aku tidak akan menandatangani perceraian ini.”

Amara mendengus tak percaya. “Apa maksudmu?”

“Selama aku belum mengizinkanmu, selama keinginan keluarga belum terpenuhi, kau tetap istriku, Amara!” Nada Shaka tegas, dalam, dan menusuk.

“Dan kalau aku tidak peduli dengan keluarga itu?” balas Amara cepat.

“Kalau aku memilih diriku sendiri, bukan mereka?!”

Shaka maju satu langkah. “Amara...”

“Jangan panggil namaku seperti itu!” Untuk pertama kalinya, Amara membentaknya.

Suara yang selama ini lembut kini berubah menjadi tajam, memotong udara yang tegang.

“Lima tahun, Shaka! Lima tahun aku menunggu kau mencintaiku. Tapi setiap kali aku berusaha, kau bahkan tak pernah melihat ke arahku!”

Shaka menatapnya, rahangnya mengeras. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku, Amara.”

“Benar! Karena kau tidak pernah membiarkanku tahu!” teriak Amara, matanya mulai berair. “Aku istrimu, tapi aku selalu merasa seperti orang luar di hidupmu!”

Shaka tiba-tiba melangkah cepat, menarik pergelangan tangan Amara hingga tubuh wanita itu terdorong ke dinding.

“Cukup, Amara!”

“Tolong lepaskan aku!” Amara berusaha melepaskan diri, tapi genggamannya terlalu kuat. Suara napas keduanya berbaur, penuh emosi, dan tiba-tiba Shaka menciumnya. Paksaan itu begitu cepat, begitu keras, hingga Amara menahan napas, tubuhnya menegang menahan rasa sakit dan marah yang berbaur jadi satu. Ia mencoba mendorong, tapi Shaka semakin menekan.

“Lepas!” Amara menjerit dan mendorong dadanya sekuat tenaga. Tangannya terangkat tanpa sadar,

Plak!

Tamparan itu keras, bergema di ruangan yang sunyi. Shaka kemudian terdiam, pipi kirinya memerah. Amara menatapnya dengan mata bergetar namun penuh keberanian.

“Jangan pernah lakukan itu lagi.” Suaranya rendah, namun menggigil karena emosi.

“Aku bukan boneka yang bisa kau kendalikan dengan ego dan amarahmu.”

Shaka menatapnya lama, lalu berkata dingin, “Aku tidak akan menceraikanmu, Amara. Bukan sampai keluargamu memberi apa yang mereka janjikan.”

Mata Amara menatapnya tak percaya. “Jadi ini semua tentang kesepakatan? Tentang kekuasaan, bukan perasaan?”

“Jangan naif,” ucap Shaka pelan, tapi suaranya tajam seperti belati. “Kita berdua tahu pernikahan ini bukan soal cinta sejak awal.”

Air mata jatuh dari mata Amara, dia menatap suaminya dengan pandangan yang kali ini benar-benar kosong. Bukan karena lelah, tapi karena tidak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan.

“Kalau begitu,” katanya pelan sambil mengambil tasnya yang tadi terjatuh.

“Anggap saja hari ini aku menepati janjiku yang terakhir.”

Shaka menatapnya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya suara langkah Amara yang menjauh, dan pintu apartemen yang menutup keras menjadi saksi betapa retaknya dua hati yang dulu pernah saling berjanji. Beberapa detik setelah itu, Shaka berdiri diam di ruang tamu, menatap kertas-kertas robek di lantai. Hujan di luar semakin deras, dan di dalam dadanya,

Keesokan paginya.

Bandara pagi itu dipenuhi hiruk pikuk khas hari kerja. Suara roda koper beradu dengan lantai marmer, seruan petugas check-in, dan deru mesin jet yang bergemuruh di kejauhan.

Namun di antara semua kesibukan itu, ada dua orang yang berjalan di lorong yang sama dengan jarak seperti dua benua. Kapten Shaka Wirantara melangkah gagah dengan seragam lengkapnya.

Di belakangnya, Amara, sebagai pramugari yang selalu tampak profesional, berjalan dengan wajah datar, tak sedikit pun menoleh. Keduanya tampak seperti rekan kerja biasa di mata orang, bukan suami istri yang semalam hampir saling menghancurkan.

Beberapa pramugari berbisik pelan, kagum pada sosok Shaka yang dikenal tegas dan disiplin. Tak ada yang tahu bahwa di balik tatapan dingin pria itu, ada badai yang belum selesai.

“Amara,” suara berat itu memecah hening ketika mereka sudah berada di ruang briefing. Shaka menghampirinya, namun Amara tak bergeming. Dia sibuk menelaah rute penerbangan di tangannya.

“Kita perlu bicara,” kata Shaka pelan, mencoba menahan nada emosinya.

“Di sini tempat kerja, Kapten,” balas Amara tanpa menatap, suaranya tenang namun tajam.

“Kalau urusan pribadi, simpan sampai setelah jam terbang.”

Shaka mendesah frustrasi. “Kau tahu aku tidak mau semua ini berakhir begitu saja.” Amara akhirnya menatapnya, matanya dingin.

“Lucu, kau baru peduli setelah aku ingin pergi?”

Sebelum Shaka sempat menjawab, suara langkah cepat terdengar dari arah pintu.

“Mas Shaka!”

Shaka menoleh spontan, Karina datang dengan seragam baru berwarna biru muda pramugari pelatihan baru di bawah naungan keluarga Wirantara. Rambutnya dikuncir rapi, namun senyum manisnya terlalu berani untuk ukuran tempat kerja.

“Oh, Kapten, aku tadi disuruh Divisi HR datang ke sini langsung,” ujarnya ceria sambil mendekat.

“Katanya aku akan di bawah pengawasan tim penerbangan Kapten Shaka sendiri. Wah, senang banget akhirnya bisa kerja bareng!”

Nada manjanya membuat beberapa rekan lain saling pandang. Amara menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi getir yang hampir pecah. Shaka mengerjap, tampak tak nyaman.

“Karina, ini ruang briefing, bukan tempat untuk...”

“Tapi aku cuma ingin menyapa,” sela Karina lembut, lalu menepuk lengan Shaka ringan. “Sudah lama banget, kan, kita nggak bicara banyak?”

Tatapan Amara seketika naik, dingin, tajam, dan menahan amarah. Ia menutup map rute penerbangan dengan bunyi yang keras, lalu berdiri.

“Permisi,” katanya datar. “Aku ada yang harus disiapkan.”

Shaka menatap punggung Amara yang menjauh tanpa kata. Ia tahu Amara marah, tapi tak tahu harus memulai dari mana. Dan Karina, yang kini berdiri di depannya dengan senyum manis itu, tampak puas melihat pemandangan barusan.

Beberapa jam kemudian, pesawat mengudara. Shaka sekali lagi melirik ke arah Amara yang berdiri di antara para penumpang .

Shaka ingin berbicara, tapi setiap kali melihat profil wajah Amara yang tenang namun dingin, lidahnya kelu. Ia tahu ia sudah melukai perempuan itu terlalu dalam.

Dan dari kursi belakang, Karina sesekali mengirim pesan lewat intercom internal, berpura-pura ingin menanyakan instruksi penerbangan, tapi nada suaranya terlalu manja untuk sebuah urusan kerja.

Amara sudah cukup lama menunggu cinta Shaka tumbuh. Namun kini, setiap kali melihat Karina di dekatnya, Amara hanya tahu satu hal, ia sudah tak ingin menunggu lagi.

Malamnya, di ruang pilot lounge yang sepi, Shaka kembali mencari Amara. Namun kali ini, wanita itu hanya menatapnya datar sebelum beranjak pergi tanpa sepatah kata pun. Langkah Amara tegas, seperti seseorang yang sudah menyiapkan jalan keluar dari sebuah penjara bernama pernikahan. Dan untuk pertama kalinya, Shaka benar-benar takut, bukan karena kehilangan karier, tapi karena menyadari bahwa mungkin, Amara sedang benar-benar berlatih untuk pergi tanpa menoleh lagi.

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!