"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Mendapatkan Dukungan
"Liana, apa yang terjadi? Tadi kamu bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan. Memangnya apa yang terjadi padamu?" tanya Dion.
Malam itu Dion datang bersama istrinya, Pamela. Mereka ingin memastikan kalau Liana dan si kembar baik-baik saja.
"Kak Dion, aku berniat mau resign dari pekerjaanku," celetuk Liana dengan menunjukkan wajah sedih.
Dion terperanjat. "Loh! Memangnya ada apa kok tiba-tiba mau resign? Cari pekerjaan itu nggak mudah loh, Na! Aku sudah bujuk teman aku buat menerimamu lewat jalur khusus, kok kamu tiba-tiba mau berhenti? Apa ada masalah di kantor? Atau kamu habis debat sama atasanmu?"
Dion sangat menyayangkan keputusan Liana untuk meninggalkan pekerjaannya. Bahkan Reynan sempat bilang padanya hendak mengangkatnya menjadi asisten pribadi dan membayarnya tiga kali lipat dari gajinya.
"Aku nggak ada masalah sama siapapun," jawab Liana.
"Kalau nggak ada masalah sama siapapun terus kenapa kamu mau resign? Resign juga harus ada alasannya, Na! Tolong jangan tutupi apapun dariku!"
Pamela menepuk pundak Liana. "Na, kamu cerita aja sama kami. Barangkali kami bisa bantu. Bos kamu itu masih sepupuku. Kalau dia buat kamu nggak nyaman, biar aku yang bakal menegurnya."
Liana mengulas senyuman tipis menoleh pada Pamela yang berdiri di sampingnya. "Terimakasih banyak atas bantuannya kak, tapi beneran aku sama dia nggak ada masalah. Aku ingin mundur karena ada masalah lain, anak-anakku hampir diculik pas pulang dari sekolah. Untungnya mereka dibantuin sama orang dan diantar pulang, tapi tetap saja aku khawatir." Liana menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. "Mereka harapanku satu-satunya tetap bertahan di dunia kak, aku nggak punya keluarga. Orang tua kandungku tak menginginkanku, orang tua angkatku juga tak menginginkanku. Aku takut kehilangan anak-anakku, kak!"
Dari situ mereka tahu apa yang dipikirkan oleh Liana. Pilihan yang teramat sulit bagi Liana, tapi mereka akan membantu mencari jalan keluarnya.
"Jadi itu masalahnya? Sekarang begini loh Na, kalau kamu resign, kedepannya kamu mau kerja apa? Anak-anak mulai tumbuh besar, dan tentu kebutuhan mereka akan bertambah banyak. Pikirkan juga masa depan mereka. Jangan mengambil keputusan disaat pikiran lagi kacau. Gini aja deh, biar aku bantu untuk ngomong sama Reynan mengenai hal ini."
Jalan satu-satunya menurut Dion hanya meminta pendapat dari sahabatnya. Ia berharap Reynan masih memiliki pengertian terhadap Liana.
"Aku sudah ngomong sama dia kak, barusan dia telepon," sahut Liana saat Dion merogoh handphone di saku celananya.
"Terus dia bilang apa sama kamu?" tanya Dion dengan menatapnya dalam-dalam.
Liana meneguk ludahnya berat menceritakan ancaman bosnya. "Katanya kalau aku resign, aku harus membayar denda sebesar 40%, aku bingung kak, uang segitu aku dapat dari mana? Sedangkan kerjaku baru seminggu dan belum dapat gaji. Tapi di sisi lain aku juga khawatir dengan keselamatan putraku. Aku harus gimana?"
Pamela ikut sedih mendengarnya. Dulu dia sempat salah paham dan mengira Liana sebagai selingkuhan suaminya, saat ia tahu kebenarannya tumbuhlah rasa iba dan ingin membantunya.
"Liana, jangan menangis. Kita cari solusinya bersama-sama. Aku yakin masih ada jalan buat menyelesaikan permasalahan yang kamu hadapi." Pamela terenyuh, air matanya ikut menetes. "Di sini Kamu nggak sendirian, masih ada kamu yang selalu ada menemanimu."
Tangis Liana pecah, ia memeluk Pamela. "Terimakasih banyak kak Pamela. Kak Pamela baik sekali."
Pamela menepuk punggungnya dan memeluknya cukup erat. Di situ ia berperan sebagai kakak perempuannya. Ia berharap, kelak Liana menemukan jodoh yang tepat, bisa menerima kondisinya maupun anak-anaknya.
"Semua orang pasti menemui masalah, tapi bukan berarti nggak ada jalan keluarnya. Kita ini keluarga, aku selalu bilang, anggap aku sebagai kakakmu. Jangan karena kita nggak ada ikatan keluarga kamu menganggapku sebagai orang asing. Buang jauh-jauh pikiran negatif yang ada dipikiranmu."
Dion menggumam. "Kok sekarang marak terjadi penculikan anak ya? Apa itu musiman?"
Pamela berdecak menyahutnya. "Ck, musiman kok penculikan. Musiman itu panenan yang berlimpah, musim penghujan, musim panas, musim semi atau bahkan musim kawin, bukan malah musim penculikan. Aneh kau itu!"
Liana terkekeh kecil. "Ada-ada saja kakak ini."
"Aku bilang kayak gitu soalnya kemarin Reynan dan asistennya juga nyelamatin bocah kecil yang diculik sewaktu pulang dari sekolah. Dia sampai datang terlambat saat ngajak ketemuan sama aku. Di sini si kembar juga gitu, kemarin di hari yang sama juga hendak diculik. Bukannya itu bisa disebut musim culikan?"
Liana mengerutkan keningnya mendengar penjelasan dari Dion. Kenapa bisa kebetulan sekali si kembar diculik dan diselamatkan oleh orang asing bersamaan dengan bosnya yang menolong anak kecil diculik saat pulang dari sekolah. Atau jangan-jangan ~~
Liana menepis kemungkinan pikirannya yang salah. Tidak mungkin bosnya bertemu dengan si kembar.
"Sekarang mendingan kamu fokus pada pekerjaanmu dulu Na, soal anak-anak biar aku yang akan pikirkan. Kamu jangan buru-buru memutuskan untuk resign Na, biar aku yang akan bicara sama Reynan." Dion memberinya nasehat. "Cari pekerjaan itu tidaklah mudah. Memiliki banyak titel kalau kemampuannya minim juga nggak bakalan diterima dengan baik. Memang benar apa yang Reynan katakan, kalau masa kontrak belum habis terus mau resign tentu diwajibkan buat bayar denda. Kerja dimanapun juga gitu, jadi harus profesional. Kan kamu sudah tanda tangani kontrak tersebut, berarti kamu sudah harus berani mengambil resikonya."
Bukannya menakut-nakuti, tapi Dion memberinya nasehat agar Liana tak salah arah. Sebagai teman ia cukup prihatin dengan kondisinya. Memang Liana memiliki banyak kemampuan, tapi ia tak menjamin pekerjaan bisa didapatkannya dengan mudah.
"Yaudah kak, aku nurut aja." Akhirnya Liana pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa apa yang dikatakan oleh Dion juga tidaklah salah. "Tapi aku berpesan, tolong bantu pantau di kembar, karena hanya mereka harta yang aku miliki," imbuhnya lagi.
"Tentu."
Mereka sama-sama diam duduk di sofa ruang tamu. Si kembar bahkan tak mempedulikan kedatangan Dion. Mereka adik sendiri menonton televisi di dalam kamarnya.
"Di mana anak-anak sekarang? Apa mereka sudah tidur?" tanya Dion.
"Ada di dalam kamarnya, lagi nonton TV," jawab Liana. "Aku buatin minuman dulu ya kak?" Liana beranjak namun dicegah oleh Pamela. "Nggak usah repot-repot Na, udah kamu duduk aja di sini."
Liana kembali duduk di sebelah Pamela. "Oh ya kak Dion, apakah kakak sudah ada kabar mengenai kejadian enam tahun yang lalu. Apakah kakak tahu siapa penghuni kamar 305?"
"Oh... iya, aku juga mau ngomong sama kamu soal itu. Aku dapat kabar dari petugas kebersihan, katanya ada tiga orang wanita berjalan beriringan. Dua wanita merangkul dan memasukkan seorang wanita ke dalam kamar 305, dan aku meyakini itu kamu, tapi sejauh ini aku belum menemukan siapa pria yang ada bersamamu, tapi di hotel yang sama, Reynan bosmu itu juga sedang menginap."