NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Romansa
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31.Setelah perang.

Medan perang yang tadi bergemuruh kini berubah menjadi lautan sunyi yang berat.

Tidak ada lagi denting pedang.

Tidak ada lagi teriakan.

Yang tersisa hanya suara napas para prajurit yang kelelahan… dan bau darah yang masih kental di udara pagi.

Matahari akhirnya muncul dari balik tebing, sinarnya menyapu tanah yang penuh bekas pertempuran. Tubuh-tubuh tergeletak di mana-mana. Perisai patah. Tombak tertancap di tanah. Jejak sepatu, jejak darah, jejak kematian.

“Bersihkan medan!” perintah Komandan Zhou lantang.

Prajurit Perbatasan Timur langsung bergerak.

Sebagian mengumpulkan senjata.

Sebagian mengangkat tubuh rekan yang gugur.

Sebagian lagi menyeret mayat tentara Nan ke satu sisi untuk dihitung.

Suasana tidak lagi kacau.

Tapi tegang.

Karena semua orang masih memikirkan satu hal yang sama.

Tombak itu.

Dan siapa yang melemparnya.

Di sisi lapangan, Hong Lin berdiri dengan tangan di belakang punggung.

Matanya tidak mengawasi medan.

Matanya hanya mengawasi satu orang.

Yun Lan.

Prajurit itu kini sedang membantu dua rekannya mengangkat tubuh tentara Nan yang besar. Tubuhnya kecil dibandingkan yang ia angkat, tapi gerakannya stabil. Tidak goyah. Tidak terlihat kesulitan.

Ia tidak tampak seperti seseorang yang baru saja melempar tombak sejauh itu.

Ia tampak… biasa.

Terlalu biasa.

“Panglima?” Zhou berdiri di sampingnya.

Hong Lin tidak menoleh.

“Kau lihat sendiri tadi?”

Zhou mengangguk pelan. “Lihat apa?, Panglima.”

“Tombak itu melayang jauh seperti angin, dan mengenai leher Dao. ”Lanjut Hong lin yang terus menatap Yun lan, “menurutmu, apakah itu mungkin?”

Zhou terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Tidak.”

Hong Lin menoleh sedikit. “Jelaskan.”

“Jarak itu… bahkan pemanah terbaik pun sulit memperkirakan sudutnya. Itu bukan lemparan biasa. Itu seperti… seperti—”

Zhou berhenti mencari kata.

“Seperti apa?” tanya Hong Lin pelan.

“Seperti tombak itu tidak punya berat.”

Hong Lin mengangguk pelan.

Karena itulah yang ia lihat.

Bukan kekuatan.

Bukan keberuntungan.

Tapi kontrol.

Sempurna.

Seperti seseorang yang sudah tahu persis ke mana tombak itu akan mendarat bahkan sebelum melemparnya.

“Dan apakah mungkin pria bertubuh ramping itu melakukannya?. ”

“Maksud panglima prajurit Li?. ”

“Hm.”

“Haha.., panglima ini bercanda. Prajurit Li tidak punya bakat spesial seperti itu. ”

Hong li terdiam mengamati Yun lan.

“Kemampuan Li Yun Lan bagaimana di catatanmu?” tanya Hong Lin tiba-tiba.

Zhou menjawab tanpa berpikir. “Di bawah rata-rata, Panglima. Lulus seleksi karena disiplin dan ketekunan. Bukan karena kemampuan tempur.”

Hong Lin tersenyum tipis.

Senyum yang tidak mengandung kehangatan.

“Di bawah rata-rata, hm?”

Zhou ikut menoleh ke arah Yun Lan.

Ia melihat pria itu kini berjongkok, membantu rekannya mengikat kain di tangan yang terluka.

Gerakannya tenang.

Wajahnya biasa.

Sama seperti prajurit lain.

Kalau bukan karena apa yang mereka lihat tadi…

Ia benar-benar terlihat seperti prajurit biasa.

Tapi Hong Lin tidak percaya.

Tidak lagi.

Ia mengingat saat Yun lan menatap nya tadi.

Persis seperti wanita itu.

Tatapan yang hampir sama.

Hampir.

Dan pikiran yang selama ini ia tekan kini mulai merangkak naik perlahan.

“Zhou.”

“Ya, Panglima?”

Hong Lin tidak menjawab.

Tangannya masuk ke balik sabuk pinggang.

Mengambil sesuatu.

Pisau kecil.

Zhou melihatnya dengan bingung. “Panglima?”

Hong Lin menimbang pisau itu di jari.

Tatapannya tidak lepas dari Yun Lan.

“Lihat baik-baik.”

Dan tanpa aba-aba—

Pisau itu melesat.

Cepat.

Senyap.

Tidak diarahkan ke tubuh.

Tapi tepat ke arah kepala Yun Lan.

Saat itu Yun Lan sedang membantu mengangkat mayat besar bersama dua rekannya.

Tidak ada yang melihat pisau itu.

Tidak ada yang siap.

Kecuali Yun Lan.

Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat mengejar.

Tangannya terangkat.

Dua jarinya menjepit sesuatu di udara.

Gerakan refleks.

Murni.

Sempurna.

Pisau itu berhenti di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Benar-benar berhenti.

Tidak menyentuh kulit.

Tidak melukai.

Dan matanya—

Langsung menatap ke arah datangnya.

Tajam.

Dingin.

Insting murni pemburu yang tertangkap basah.

Tatapan itu bertemu langsung dengan Hong Lin.

Untuk sepersekian detik.

Hanya sepersekian detik.

Dan di detik itu, Hong Lin melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Itu bukan tatapan prajurit.

Itu bukan tatapan manusia biasa.

Itu tatapan seseorang yang terbiasa menghadapi ancaman mematikan… dan tidak pernah takut.

Lalu—

Secepat kilat—

Ekspresi itu hilang.

Yun Lan mengerang kecil.

“Akh!”

Pisau itu jatuh dari jarinya.

Ia memegang tangannya.

Darah kecil mulai keluar dari ujung jari.

Rekan-rekannya langsung panik.

“Yun Lan!”

“Kau kena?!”

“Cepat, kain! Ikat!”

Yun Lan meringis, pura-pura kesakitan.

Wajahnya berubah pucat.

Napasnya sedikit kacau.

Sempurna.

Terlalu sempurna.

Zhou menatap pemandangan itu dengan bingung.

“Dia… tertusuk?”

Hong Lin tidak menjawab.

Matanya menyipit.

Ia melihat semuanya.

Gerakan pertama itu.

Refleks itu.

Tangkapannya.

Dan tatapan tadi.

Tidak mungkin ia salah lihat.

“Panglima, mungkin hanya kebetulan—”

“Tidak,” potong Hong Lin pelan.

Suaranya rendah.

Tapi mengandung kepastian.

“Itu bukan kebetulan.”

Di kejauhan, Yun Lan masih duduk dikelilingi rekan-rekannya yang sibuk mengikat jarinya.

Ia menunduk.

Berpura-pura tidak melihat ke arah Hong Lin lagi.

Tapi di dalam dirinya…

Jantungnya berdetak sangat keras.

Terlalu keras.

Ia tahu.

Ia tahu betul.

Hong Lin melihatnya.

Melihat semuanya.

Dan itu berbahaya.

Sangat berbahaya.

Karena selama ini ia berhasil.

Berhasil menyembunyikan dirinya.

Berhasil hidup sebagai prajurit biasa.

Berhasil membuat semua orang percaya bahwa ia lemah.

Tapi hari ini…

Dua kali.

Dua kali ia gagal menahan diri.

Pertama saat bertarung.

Kedua saat pisau itu datang.

Ia menarik napas pelan.

Berusaha kembali menjadi Yun Lan yang biasa.

Yang lemah.

Yang lambat.

Yang tidak mencolok.

Tapi dari kejauhan, Hong Lin masih menatapnya.

Dan tatapan itu membuat punggungnya terasa dingin.

Bukan karena takut.

Tapi karena ia tahu—

Rahasia yang ia jaga begitu lama…

Mulai retak.

Sore itu, udara di Perbatasan Timur terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena bau darah yang masih tersisa.

Bukan karena kelelahan setelah perang.

Tapi karena satu hal yang tidak terlihat…

Tatapan Hong Lin.

Sejak pagi, perintah latihan tidak dihentikan.

Justru diperketat.

Seluruh pasukan dikumpulkan di lapangan tanah keras yang belum sepenuhnya bersih dari bekas pertempuran.

“Latihan formasi ulang!” suara Komandan Zhou menggema.

Beberapa prajurit saling pandang.

Baru saja bertempur setengah hari.

Tubuh masih sakit.

Tapi tidak ada yang berani protes.

Karena Hong Lin berdiri di depan mereka.

Mengawasi.

Dengan mata yang terlalu tajam.

Dan mata itu… hampir tidak pernah lepas dari Yun Lan.

“Formasi tombak, maju!”

Prajurit bergerak.

Yun Lan ikut dalam barisan.

Wajahnya kembali datar.

Kembali biasa.

Seolah kejadian pagi tadi tidak pernah terjadi.

“Li Yun Lan, maju ke depan!”

Perintah itu datang tiba-tiba.

Beberapa prajurit menoleh.

Yun Lan berhenti sepersekian detik.

Lalu maju.

Hong Lin berjalan mendekat.

Sangat dekat.

Tatapannya turun naik mengamati tubuh ramping itu.

“Angkat tombak.”

Yun Lan melakukannya.

“Peganganmu salah.”

Padahal tidak.

“Ulangi.”

Ia ulangi.

“Lambat.”

Ia ulangi lagi.

Semua orang melihat.

Semua orang mulai sadar.

Panglima sedang… menekan Yun Lan.

“Lempar ke sasaran.”

Yun Lan melempar.

Tombaknya mengenai lingkaran luar.

Hasil yang wajar.

Untuk prajurit biasa.

Hong Lin menatap sasaran itu lama.

Lalu berkata pelan, “Kau bisa lebih baik.”

Yun Lan menunduk. “Saya hanya bisa segini, Panglima.”

Tatapan Hong Lin menyipit.

Ia tahu.

Ia tahu persis wanita ini sedang berpura-pura.

Dan itu membuatnya semakin ingin menekan.

“Ulangi. Sepuluh kali.”

Sore itu berubah menjadi siksaan diam-diam.

Setiap gerakan Yun Lan dikoreksi.

Setiap kesalahan kecil dibesar-besarkan.

Setiap latihan dibuat lebih berat.

Keringatnya membasahi pakaian.

Napasnya mulai kasar.

Tapi bukan karena lelah.

Karena kesal.

Yun yang berdiri di barisan belakang memperhatikan dengan dahi berkerut.

Ini tidak normal.

Panglima tidak pernah memperlakukan satu prajurit seperti ini.

Hingga matahari hampir tenggelam, latihan baru dihentikan.

Prajurit bubar dengan tubuh remuk.

Yun Lan berjalan kembali ke barak dengan rahang mengeras.

Ia tidak bodoh.

Ia tahu ini bukan latihan.

Ini interogasi tanpa kata.

Malam turun pelan di Perbatasan Timur.

Angin dingin menyusup di antara barak kayu.

Sebagian besar prajurit sudah tertidur kelelahan.

Tapi Yun Lan tidak.

Ia duduk lama di tepi ranjang.

Menatap lantai.

Lalu berdiri.

Tanpa suara.

Keluar dari barak.

Langkahnya ringan di tanah keras.

Arah tujuannya jelas.

Tenda komando Hong Lin.

1
Nurhasanah
ko sekarang up mya dikit thor biasanya 2 bab tiap hari skarang cuma 1 bab 😁😁😁 ... tambah lagi dong thor bab tiap hari masih kurang 😄😄😄
Pa Muhsid
tong lama teuing tor honglin gak tau yunlan cewek
nanti bisa berubah tor dari geregetan jadi bosen
Nurhasanah
ko blum update thor .. di tunggu loh
Pa Muhsid
semoga honglin datang dan melihat langsung bahwa li cewek tulen 😁😁😁😁
Nurhasanah
semoga segera ketahuan 😁😁😁
Nurhasanah
jujur thor kelamaan jdi mulai agak bosen... nunggu honglin tau klu yun lan cwek tapi ceritanya masih muter2 di sini ajj nggak ada peningkatan
Nurhasanah
tuh kan cemburu 🤣🤣🤣 ... siap2 ajj makin gencar haosen mendekat makin kebakaran dah si honglin 😁😁😁
Nurhasanah
siap2 perang dingin antara honglin sama haosen 😁😁
Nurhasanah
🤣🤣🤣 bahaya honglin ketemu hao sen .. di pastikan honglin akan terbakar cemburu nanti 😁😁😁😁
Nurhasanah
honglin siap2 berebut yun lan sama hao sen 🤣🤣🤣 makin seru nanti 😁😁😁
Pa Muhsid
keluarkan kekuatan dewamu Yun! tapi yun kan dewa kadaluwarsa 🤔🤔🤔😱
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
semoga ceritanya nggak muter2 ya thor .. 😁😁😁😁
Pa Muhsid
jangan tunggu lama lama nanti di rubah otor kata teh cici juga
Pa Muhsid
haduhh kelok 9 honglin tau 😌😌😌
Yunita Widiastuti
hadewwww💪💪💪💪
Nurhasanah
thor jangan lama2 lah ... nunggu bangett ini ..hong lin tau klu yun lan itu cwek dan jodohnya dri kecil 😁😁😁 pasti lebih seru 👍👍👍
Pa Muhsid
tuh kan belum apa apa dah basah aja dia apalagi kalo dah tau, cowok aja basah💦 palagi dah jadi cewek Auto banjir honglin
Nurhasanah
kasihan honglin jdi ngerasa jdi belok 🤣🤣🤣 ... padahal yun lan emang cwek 😁 semoga ajj honglin segera tau klu yun lan itu beda jenis sama dia biar nggak dilema truss 😄😄
Nurhasanah
honglin kecewa karena blom tau yun lan cwek 😁😁😁 ... segerakan thor biar hong lin tau klu yun lan tuh cwek 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!