Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Mulai Terlalu Sering Disebut
Nara, ia selalu percaya satu hal bahwa
kalau sebuah nama mulai terlalu sering disebut, itu pertanda hidupmu sebentar lagi bakal ribet.
Dan sayangnya, nama itu sekarang adalah Arga.
Nara bangun di pagi hari itu dengan perasaan aneh. Bukan mimpi buruk bukan firasat buruk juga. Lebih ke perasaan kayak habis nonton trailer film yang jelas-jelas bukan genre favorit Nara, tapi ia tahu tiketnya sudah dibeli.
Nara mengucek mata, menatap langit-langit kamar kos yang catnya mulai mengelupas.
“Tenang, Nar,” gumam Nara ke diri sendiri. “Kemarin kan cuma obrolan, belum tentu serius, ibu Ratna cuma terlalu kangen aja.”
Lima menit kemudian, ponsel Nara bergetar. Lagi-lagi nama sang ibu, Nara langsung duduk perasaannya udah tidak enak.
“Oke,” Nara menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan lewat mulut secara perlahan.
“Kalau ini prank, prank keluarga terlalu niat.”
Nara mengangkat telepon.
“Assalamualaikum,” sapaku hati-hati.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu. Suaranya cerah selalu di awali dengan kecerahan yang sangat.
Dan Nara langsung tahu bahwa hidupnya baik-baik saja sampai sepuluh detik lalu.
“Nara sudah bangun?”
“Sudah, Bu.”
“Bagus, sarapan jangan lupa ya nak!"
“Siap Bu Ratna... Dengan menu khas anak kos, nasi dan penyesalan.”
Ibu terkekeh kecil.
Itu bunyi yang biasanya muncul sebelum kalimat berat.
“Nara,” katanya kemudian,
“kita perlu bicara serius.”
Resmi sudah, Nara sudah menebak akan ada adu kata kembali.
Nara memejamkan mata.
“Bu,” kata Nara cepat,
“kalau ini soal nikah—”
“Nama calonmu Arga.”
Nara terdiam, bukan karena terkejut.
Lebih karena Ibunya terlalu cepat lompat ke intinya.
“Bu,” kata Nara pelan,
“Adalah Bu basa basi sedikit baru nyebut nama orang, aku bahkan belum bilang iya buat topiknya... Nggak asik bener dah Bu Ratna ini."
“Nara,” suara Ibu melembut, tapi justru itu yang bikin Nara waspada,
“kamu harus dengar dulu.”
Nara bangkit dari kasur, berjalan mondar-mandir di kamar sempitnya.
“Baik ndoro,” kata Nara dengan gaya khasnya.
“Aku dengar, tapi aku nggak janji nggak nyela.”
“Sudah kebiasaan,” jawab Ibu.
Nara hampir tersenyum, hampir.
"itu ibu tahu, jadi jangan ngambek lagi kayak kemaren yaaaa..."
“Arga itu anak baik,” lanjut Ibu.
“Semua orang bilang gitu sebelum konflik dimulai,” sahutku.
“Kerjanya mapan.”
“Bu, sekarang aku lebih butuh kerjaan mapan daripada suami mapan.”
“Usianya matang.”
“Bu, rasanya manis nggak?? Takutnya kalo kematengan malah jadi busuk nggak enak.”
Ibu mendesah.
“Nara.”
“Iya, Bu?”
“Kamu tidak bisa terus menghindar.”
Nara berhenti berjalan.
“Kamu tahu kondisi keluarga kita sekarang,” lanjut Ibu.
“Dan kamu juga tahu janji lama yang sudah dibuat.”
Janji lama, kata itu muncul lagi.
Seperti iklan pop-up yang nggak bisa ditutup.
“Bu,” Nara mencoba tetap santai, meski dadanya mulai terasa sesak,
“janji itu dibuat waktu aku masih pakai kaus SD. Aku bahkan belum tahu bedanya cinta sama cokelat.”
“Itu janji antar keluarga.”
“Kenapa yang bayar aku?”
Ibu terdiam beberapa detik.
“Nara,” katanya kemudian, lebih pelan,
“Ibu tidak memaksamu tanpa alasan.”
Aku menelan ludah.
“Arga itu putra sahabat lama Ayahmu.”
“Yang mana?”
“Yang dulu sering datang ke rumah.”
Aku mengernyit.
“Bu, Ayah dulu sering banget bawa teman. Aku inget semua itu cuma karena mereka suka minta teh dan lagi itu sudah lama banget bu.”
Ibu menghela napas lagi.
“Kamu akan bertemu dengannya akhir pekan ini.”
Nara seakan berhenti bernapas.
“…Apa?"
“Hanya bertemu,” kata Ibu cepat.
“Ngobrol. Kenal lebih dekat.”
“Bu,” kata Nara lirih,
“aku ini punya prinsip.”
“Ibu tahu.”
“Aku anti nikah.”
“Ibu juga tahu.”
"Dan prinsip itu bukan pajangan.”
“Tapi hidup juga bukan soal prinsip saja, Nara.” Bu Ratna mencoba untuk terus membuat Nara mau menerima perjodohannya.
"Tapi kamu juga perlu pendamping di hidup kamu Nar, ibu mau kamu ada yang menjaga jadi hati ibu bisa tenang."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang mau Nara akui.
Nara duduk di tepi kasur.
“Bu,” Nara berkata pelan,
“aku belum siap.”
“Kamu tidak akan pernah merasa siap,” jawab Ibu.
“Sampai kamu terpaksa.”
Nara tertawa kecil, kering.
“Motivasi keluarga kita unik ya.”
Ibu tidak tertawa.
“Nara, Ibu mohon.”
Dan di situlah masalahnya, kalau sudah pakai kata mohon, Nara akan selalu kalah dan mengikuti semua yang ibu nya mau.
Siang harinya, Nara makan bersama Tante Rina di rumah keluarga.
Nara merasa telah melakukan kesalahan dengan mengikuti keinginan ibunya, Tante Rina sudah tersenyum lebar.
“Jadi kamu Nara,” katanya.
“Iya, Tante.”
“Cantik ya, pantes.”
Nara tersenyum kaku.
Kalau pujian muncul sebelum pembahasan nikah, itu biasanya hanya pembuka.
“Kamu tahu Arga, kan?”
“Belum,” jawab Nara jujur.
“Tapi namanya sudah kayak ringtone mulai pagi ini.”
Tante Rina tertawa.
“Anaknya pendiam, tapi tanggung jawab.”
“Oh.”
“Kerja keras.”
“Oke.”
“Nggak banyak gaya.”
“Wah, itu minus buat aku.”
Tante Rina mengerjap.
“Lho?”
“Aku terbiasa sama orang yang banyak gaya. Biar hidup rame Tan, kalo nggak banyak gaya kan kaku ntar malah dikira patung tante.”
Ibu melirikku tajam.
“Nara,” bisiknya.
“Apa ibu?”
“Kamu itu sedang dinilai.”
“kan emang bener Bu,” Nara menoleh ke Tante Rina.
“Maaf, Tante. Ini versi sopan saya tolong dimaklumi saya manusia chaos.”
Tante Rina tertawa lebih keras.
“Lucu juga anak ini,” katanya.
“Arga cocok.”
Nara hampir tersedak minum.
“Cocok apanya ya tante?”
“Iya...Arga itu terlalu rapi. Kamu bisa bikin hidupnya berwarna dan Tante seneng akan ada banyak tawa.”
“Bu,” aku menoleh ke Ibu,
“aku ini bukan stabilo pelangi.”
Ibu menutup wajahnya sebentar.
“Nara, kamu belum pernah bertemu Arga.”
“Itu justru poinku mumpung belum ketemu bu.”
Dan Nara terjebak dengan obrolan ibu-ibu yang tetap ingin menjodohkan anaknya.
Malamnya, Nara berada sendirian di kamar kosnya.
Nama Arga kembali muncul di kepalanya.
Nara membuka ponsel, iseng mengetik namanya di mesin pencari.
Dan tentu saja,
profil LinkedIn.
Arga Wiratama
Posisi: Manajer Proyek
Foto: rapi, kemeja, senyum tipis.
Nara mendengus.
“Fix, ini mah nggak bisa diajak bercanda orangnya.” Nara bergumam.
“Tipe orang yang bangun jam lima pagi tanpa dendam ke dunia.”
Nara menutup ponsel.
"Aku anti nikah bukan karena benci cinta.
Aku hanya tidak percaya pernikahan sebagai solusi semua masalah."
Tapi sekarang, satu nama asing perlahan menggeser hidup Nara.
Nara merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit.
“Tenang, Nara pikirkan cara buat si yang bernama Arga ini juga nggak mau dijodohin,” bisiknya.
“Ini baru bab dua.”
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya…
Nara merasa bab berikutnya tidak akan mudah.