NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI PERSAHABATAN YANG RAHASIA

Hari berikutnya aku tidak pergi ke taman seperti biasa. Aku duduk di depan rumah dengan menggendong boneka Kiki, mata terus melihat ke arah rumah Rafi yang jauh di sana.

Mama sudah memperingatkan aku tidak boleh bermain dengannya lagi, tapi hatiku sangat ingin bertemu teman baikku.

“Aku hanya mau bilang saja kalau aku tidak bisa main lagi,” bisikku pelan sambil mengoceh pada bonekaku.

Tiba-tiba aku melihat sosok kecil yang berlari cepat dari arah rumah Rafi ke arahku. Rafi datang dengan napas terengah-engah, rambutnya sedikit berantakan dan tangannya memegang sesuatu yang kecil.

“Caca! Kamu kenapa tidak datang kemarin sore? Aku sudah menunggumu terus!” ujarnya dengan suara khawatir.

Aku menahan air mata yang ingin keluar. “Mama bilang aku tidak boleh main denganmu lagi. Dia bilang kamu berbahaya.”

Rafi melihatku dengan mata yang penuh kesedihan. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya—sebuah gelang karet berwarna biru dengan bentuk bintang kecil yang mengkilap.

“Ini untukmu,” katanya sambil memberikan gelang itu padaku. “Aku buat sendiri dengan bantuan Mama. Aku tahu kamu suka bintang karena kamu selalu bilang ingin melihat langit berbintang di malam hari.”

Aku menerima gelang dengan hati-hati dan memakainya di tangan kiri ku. Bentuk bintangnya kecil tapi cantik. “Terima kasih, Rafi. Aku suka sekali.”

“Kita tidak boleh bermain di rumah atau taman lagi ya,” ujar Rafi dengan suara pelan. “Tapi aku punya tempat rahasia! Kita bisa bermain di sana tanpa orang lain tahu.”

Tanpa menunggu jawabanku, dia menarik tanganku dan membawa aku berlari ke arah belakang kampung.

Kita melewati jalan tanah yang penuh dengan rerumputan tinggi, sampai akhirnya sampai di sebuah tempat yang sangat indah—ada pohon besar dengan akar yang membentuk tempat duduk alami, dan di sekitarnya tumbuh banyak bunga liar berwarna-warni.

“Ini tempat favoritku sejak aku pertama kali datang ke sini,” katanya dengan senyum. “Hanya aku yang tahu tempat ini. Sekarang jadi tempat rahasia kita ya.”

Aku melihat sekeliling dengan mata penuh kagum. Udara di sana sangat segar dan ada suara burung yang berkicau manis. “Tempat ini sangat cantik, Rafi!”

“Kita bisa bertemu di sini setiap hari setelah sekolah,” ujarnya dengan senyum. “Kita akan membuat janji rahasia—kita akan selalu menjadi teman, tidak peduli apa yang orang lain katakan. Dan kita akan selalu melindungi satu sama lain.”

Aku mengangguk dengan cepat dan menjabat jempol dengannya. “Aku janji! Kita akan selalu menjadi teman terbaik, Rafi!”

Dari hari itu, kita selalu bertemu di tempat rahasia itu. Kadang kita membawa buku cerita untuk dibaca bersama, kadang kita membuat kerajinan tangan dari daun dan bunga, atau hanya duduk di bawah pohon besar sambil bercerita tentang segala hal.

Rafi mulai bercerita lebih banyak tentang dirinya—dia bilang dia tidak suka dengan dunia ayahnya yang selalu penuh dengan orang-orang serius dan bahaya.

Dia hanya ingin hidup seperti anak-anak biasa yang bisa bermain bebas dan punya banyak teman.

“Semuanya selalu mengikuti aku kemana-mana,” ujarnya dengan ekspresi wajah yang sedih. “Mereka bilang itu untuk keamananku, tapi aku merasa seperti burung yang terkurung dalam sangkar.”

“Aku mengerti rasanya,” jawabku sambil memegang tangannya. “Kamu bisa merasa bebas di sini kan? Di tempat ini hanya ada kita berdua.”

Suatu sore, saat kita sedang membuat mahkota dari bunga liar, aku melihat beberapa orang berjubah hitam sedang mencari-cari sesuatu di kejauhan. Mereka tampak sangat serius dan terus melihat ke sekeliling.

“Rafi, ada orang sana!” bisikku dengan suara khawatir.

Rafi segera menarik aku ke balik pohon besar dan menutupi mulutku dengan tangannya dengan lembut. “Jangan berbicara ya, Caca. Itu adalah orang-orang yang dikirim Ayah untuk mengawasiku.”

Kita berdiri diam di balik pohon sampai mereka pergi. Setelah itu Rafi menghela napas lega dan melihatku dengan wajah yang sedih.

“Aku benci hidup seperti ini,” ujarnya pelan. “Aku hanya ingin bisa bermain denganmu tanpa harus takut diketahui orang lain.”

“Aku punya ide!” kataku dengan cepat. “Kita bisa membuat kode rahasia! Kalau kamu mau bertemu, kamu bisa meletakkan batu kecil berwarna merah di bawah pohon cemara di depan rumahmu. Kalau aku tidak bisa datang, aku akan meletakkan batu biru di sana.”

Rafi tersenyum dan mengangguk. “Itu ide yang bagus, Caca. Dengan begitu kita tidak perlu khawatir ketahuan.”

Kita pun membuat aturan main rahasia bersama: tidak boleh memberi tahu siapapun tentang tempat kita, harus selalu menjaga kode rahasia, dan jika salah satu dari kita sedang dalam kesusahan, yang lain harus datang membantu tanpa ragu.

“Sampai kapan kita akan berteman seperti ini?” tanyaku dengan mata penuh harapan.

“Selamanya!” jawab Rafi dengan tegas. “Bahkan kalau kita sudah besar nanti, kita akan tetap berteman. Dan aku akan selalu melindungimu, Caca. Janji!”

“Aku juga akan selalu melindungimu, Rafi!” ujarku dengan senyum lebar.

Kita berpelukan erat di bawah pohon besar itu, dengan hati yang penuh janji untuk selalu menjadi teman satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!