NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Pagi yang tak berperasaan

William hendak menyatukan tubuh mereka, saat memasukan miliknya kedalam milik Jihan, gerakannya terhenti sejenak. Di atas seprai sutra putih itu, melihat noda merah, tanda kesucian yang baru saja ia renggut.

William menyeringai dingin. Sebuah kepuasan gelap muncul dalam benaknya.

Jadi, aku benar-benar yang pertama untuknya, batin William penuh kemenangan. Aku akan menghancurkanya sampai tak bersisa, sekaligus menikmati setiap inci tubuhnya sampai aku benar-benar puas.

Tanpa belas kasihan, William kembali mendorong dirinya lebih dalam?dengan kekuatan yang lebih besar dan liar.

"Ahhgg…ahgg... Ashhh...... hhh.…William mendesah berat tepat di telinga Jihan. Suara desahannya yang serak, dan penuh kenikmatan itu menggema di dalam kamar.

Jihan dibuat merinding dengan suara William yang begitu menikmati setiap detiknya terasa begitu intim sekaligus menjijikkan.

Apa-apaan dia ini? Kenapa... kenapa dia harus mengeluarkan suara seperti itu di telingaku? batin Jihan dengan napas yang terputus-putus.

Dia benar-benar menikmatinya, bukan? Aku ingin mendorongnya... menamparnya…pergi jauh dariku! Tapi aku tidak berani... aku tidak bisa melakukan apa pun selain menahan semua ini.

Setelah Cukup lama, dan klimaks yang terjadi beberapa kali, energi William akhirnya terkuras. Ia ambruk di samping Jihan dengan tubuh yang bersimbah keringat dan napas yang masih tersenggal. Ia berbaring terlentang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang puas.

"Ahhh... hhhh..." William bergumam pada dirinya sendiri, suaranya terdengar sangat rendah. "Luar biasa. Sungguh sangat menggairahkan."

Aku akan mengulangi ini setiap malam. Aku akan memastikan tubuh ini terus memberikan kepuasan yang sama padaku. Dalam hatinya, William membuat sumpah baru.

Di sisi lain, Jihan masih terisak pelan. Hatinya merasa hancur, Ia merasa apa yang dilakukannya William hanay melihat dirinya sebagai objek. Menjadi pemuasnya dan alat melahirkan pewarisnya, bukan manusia. Luka di harga dirinya jauh lebih dalam daripada rasa sakit di tubuhnya.

Tanpa sepatah kata pun pujian atau permintaan maaf, William menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, lalu membalikkan badan, membelakangi Jihan yang masih terbaring polos.

Dengan sisa tenaganya, Jihan perlahan menarik ujung selimut untuk menutupi tubuhnya yang penuh jejak kemerahan. Ia berbalik ke arah berlawanan, membelakangi William. tangannya menutup mulutnya, menangis dalam diam.

Air matanya jatuh dengan deras tanpa suara di atas bantal. Kesucian yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati untuk pria yang ia cintai, kini telah dirampas oleh pria yang memandangnya dengan penuh kebencian.

Pada pagi harinya, Jihan terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat. ia masih berada di bawah selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun, dengan tubuh yang terasa remuk.

Jihan mencoba menggeser tubuhnya sedikit, namun rasa sakit yang tajam dan panas seketika menyerang bagian sensitif bawah tubuhnya.

"Ahh... nggh... sakittt..." Jihan mengerang lirih. Suaranya parau, tenggorokannya terasa kering setelah tangisan semalam.

Di sudut kamar, di depan cermin besar, William berdiri tegak. mengenakan kemeja putih bersih dan sedang mengikat dasinya. Memasang wajah begitu tenang, seolah malam yang baru ia lewati, tidak terjadi apa apa hanya seperti salah satu jadwal rapat yang telah berhasil ia lalui tanpa hambatan.

Melalui pantulan cermin, William menangkap sosok Jihan yang baru terbangun. Ia melihat wanita itu meringis kesakitan dan lemah di atas ranjang.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia tidak bertanya apakah Jihan baik-baik saja, tidak menawarkan bantuan, bahkan tidak memberinya tatapan simpati.

Bagi William, Jihan saat ini hanyalah hiasan dalam rutinitas paginya. Setelah selesai dengan penampilannya, ia berjalan menuju pintu tanpa menoleh sedikit pun.

Klik.

Pintu tertutup dengan suara yang sangat pelan, Jihan menarik selimut lebih tinggi, mencoba menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang meski rasa nyeri terus berdenyut.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun air mata kembali keluar. Sikap dingin William sangat menyakitkan.

“Aku menyerahkan segalanya. Tubuhku, martabatku... untuk apa?“ gumam Jihan perih. “Untuk seorang pria yang bahkan tidak menganggapku manusia.”

Ia merasa sangat terhina. Diperlakukan seperti barang sekali pakai yang hanya dibutuhkan saat malam hari.

“Sialan kau, William! Bajingan dingin tak berperasaan!” Jihan memaki dengan suara rendah yang bergetar. “Kau kejam, egois! Kau memperlakukanku seolah aku hanyalah objek mati... dan kau menikmatinya! Dasar brengsek, aku membencimu!” Jihan menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar.

Ia masih tidak rela, telah menyerahkan harta paling berharganya kepada pria sedingin es itu. Seharusnya, ia berikan pada pria yang ia cintai.

“Zeiran... maafkan aku. Aku mengkhianatimu, aku tidak tidak bermaksud ” lirih Jihan.

Jihan menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia merasa tidak perlu turun untuk sarapan pagi yang begitu formal.

Jihan menurunkan kakinya perlahan kelantai , tubuhnya membungkuk memungut gaun tidur sutranya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya sekadar untuk menutupi tubuh.

Saat mencoba berdiri, rasa nyeri yang tajam menusuk bagian bawah tubuhnya, membuatnya kembali terduduk di tepi ranjang.

" aku tidak menyangka akan sesakit ini," rintih Jihan parau. "Dia benar-benar tidak punya hati. Dia memperlakukanku seolah tubuhku terbuat dari baja."

Jihan memaksakan diri melangkah. Langkahnya kaku, sedikit menyeret dan melebar langkah khas seseorang yang baru saja kehilangan kesuciannya dengan cara yang kasar.

Sampai di kamar mandi, ia segera menuju wastafel dan membasuh mukanya dengan air dingin, mencoba mengusir bayangan William dari benaknya.

Saat mendongak menatap cermin, Jihan tersentak . Di leher, bahu, hingga dadanya, bertebaran bercak merah keunguan.

Jihan menyentuh tanda itu dengan ujung jari yang dingin. "Menjijikan..." desisnya dengan air mata yang kembali menggenang. "Ini bukan tanda cinta. Dia benar-benar memperlakukanku seperti hewan."

Dengan sisa tenaga, ia melangkah menuju bathtub, berharap air hangat bisa melarutkan rasa hina yang melekat pada kulitnya.

—-

Di Dalam Mobil Marculles

Sementara itu, suasana di dalam mobil William hanya ada hawa dingin bisnis dan kekuasaan. William duduk dengan tegak, menatap tablet di tangannya.

"Tuan, mengenai fluktuasi pasar global di Singapura, tim kita sudah melakukan intervensi sesuai instruksi Anda semalam. Kita berhasil menstabilkan harga sebelum bursa dibuka," lapor Rafael dengan nada profesional.

William hanya mengangguk singkat. "Bagus. Bagaimana jadwal hari ini?"

"Jam 10:00 ada pertemuan dengan direksi Marculles Group terkait ekspansi ke Eropa Timur. Jam 13:00 makan siang dengan Dewan Komisaris Pelabuhan

untuk memastikan jalur distribusi kita tetap aman dari pusat. Dan..." Rafael menjeda sejenak, "Pukul 19:00, jadwal makan malam formal di kediaman Alvarezh."

William mendesis rendah. "Kediaman Alvarezh..."

Lalu menyeringai sinis, tatapannya kosong namun mematikan. "Pria itu…pernah merebut Anna dariku. Sekarang, aku akan mendatangi rumah keluarganya sebagai pemenang.” dengan suara rendah yang sarat akan dendam terpendam. “Nama besar Alvarezh tidak ada artinya dihadapan ku, Lihatlah betapa rendahnya mereka.”

"Tentu saja, Tuan. Mereka sudah kehilangan taringnya sejak Anda mengambil alih aset utama mereka," sahut Rafael patuh.

William kembali menoleh pada Rafael. "Laporan tinjauan klausul pembatalan aliansi dan perlindungan aset yang aku minta semalam. Pastikan sudah ada di mejaku siang ini. Aku ingin memastikan secara hukum, jika suatu saat Rahez melanggar aliansi dalam kemitraan ini dan Jihan gagal memenuhi kewajibannya dalam kontrakterutama jika ia gagal memberikan pewaris, aliansi ini akan gagal dan hancur ditangan ku."

"Semua sudah sesuai rencana, Tuan. Tim hukum sedang menyelesaikannya," jawab Rafael.

William menghela napas panjang, bersandar pada jok kulit mobil. "Dan aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk memiliki pewaris. Akhirnya... aku berhasil menanamkan benih itu semalam. Aku telah menundukkannya sepenuhnya."

Rafael menelan ludah, sesaat merasa ngeri namun tetap harus menjaga formalitas. "Selamat atas malam pertama Anda, Tuan. Semoga tujuan Anda segera tercapai."

Dahi William seketika mengerut tajam. Ia menoleh dengan tatapan yang seolah ingin membunuh Rafael. "Apa maksudmu dengan ucapan selamat?" desisnya dingin. "Jangan kau pikir apa yang terjadi, itu melibatkan perasaan. Itu hanya pekerjaan. kewajiban untuk memastikan kelangsungan Marculles. Pekerjaan utama sekarang sudah menanti."

"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud lancang," ucap Rafael.

"Dan Rafael…kau sudah memerintahkan may untuk memberikan daftar aturan Marculles yang tidak penting itu, bukan?" tanya William tiba-tiba. "Aku ingin aturan-aturan itu menjadi beban. Biarkan dia menggunakan otaknya untuk menghafal hal-hal konyol itu."

"Sudah, Tuan," jawab Rafael sigap. "Hari ini Nyonya Jihan akan disibukkan dengan pembelajaran aturan Marculles dan adaptasi lingkungan. Saya sudah memastikan jadwalnya padat hingga sore hari."

William menyeringai tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Bagus. Aku tidak mau dia hidup tenang. Dia harus tahu bahwa setiap napas yang ia hirup di kediaman Marculles memiliki harga yang harus dibayar."

"Semua sudah diatur sesuai keinginan Anda, Tuan," lapor Rafael patuh.

William kembali menatap ke luar jendela. "Lalu, bagaimana dengan tikus-tikus yang mencoba menyabotase pengiriman ilegal kita di pelabuhan utara?"

"Sudah dibereskan, Tuan," jawab Rafael dengan suara rendah yang kejam. "The Blackshade, gengster profesional di bawah pimpinan Tuan Kenzo, telah bergerak dini hari tadi. Sebagai kelompok eksekutor kelas dunia di bawah naungan Anda, Tuan kenzo memastikan musuh Anda sudah lenyap dan tidak akan pernah ditemukan lagi. Pelabuhan sekarang bersih".

William menyeringai dingin, sebuah ekspresi kemenangan yang gelap terpancar di wajahnya. "Bagus. Memang begitulah seharusnya sampah diperlakukan".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!