NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Informal

Raisa mendongak. Ia melihat kemarahan yang tertahan di mata Arash, namun ia juga melihat ego yang luar biasa besar. Rasa kesal karena diperlakukan seperti barang milik pribadi di depan Vino akhirnya memicu keberaniannya. Ia teringat bagaimana Arash memaksanya mengambil kembali bekal tadi pagi. Ia ingin membalas.

"Pak Arash," suara Raisa terdengar lebih stabil dari yang ia bayangkan. "Tadi di ruang rapat, Anda sendiri yang mengatakan bahwa keberhasilan laporan ini sangat penting bagi stabilitas perusahaan. Pak Vino mengajak saya sebagai perwakilan dari tim marketing yang akan menggunakan data tersebut. Saya pikir, mendiskusikan implementasi data sambil makan siang adalah langkah yang efisien. Bukankah Anda menyukai efisiensi?"

Vino menaikkan alisnya, sedikit terkejut namun terkesan dengan keberanian Raisa. "Benar, Pak. Kami akan membahas rencana kampanye berdasarkan data yang Raisa olah semalam. Jadi, ini bisa dibilang ... rapat informal."

Arash menyipitkan mata. Ia merasa seperti sedang diskakmat oleh logikanya sendiri yang digunakan oleh Raisa untuk melawannya. Ia menatap Raisa dengan pandangan yang seolah berkata, 'Kau akan membayar ini nanti malam.'

"Rapat informal, ya?" Arash mendengus, sebuah suara yang sarat akan sarkasme. Ia menoleh pada Vino dengan tatapan yang sangat tajam. "Pastikan rapat informalmu itu tidak melampaui waktu enam puluh menit, Vino. Jika dia terlambat kembali ke mejanya, aku akan menganggapnya sebagai mangkir dari tugas, dan aku tidak akan segan-segan memberikan surat peringatan pertama padanya. Tanpa pengecualian."

"Tentu, Pak Arash. Kami akan segera kembali," jawab Vino sembari membungkuk sedikit.

Raisa merasa jantungnya mencelos, namun rasa kesal akibat diperlakukan seperti anak kecil di depan orang lain membuatnya memberontak. Ia mendongak, menantang mata Arash.

"Tadi Pak Vino bilang ini adalah perayaan atas hasil kerja keras saya di bawah bimbingan Anda, Pak Arash. Jadi, saya menganggap ini sebagai bagian dari apresiasi profesional," ujar Raisa dengan suara yang tenang namun tegas.

Arash terpaku. Ia tidak menyangka Raisa akan menggunakan logikanya sendiri untuk melawannya di depan umum. Ada kilatan amarah sekaligus kekaguman yang aneh di matanya. Ia ingin menyeret Raisa sekarang juga, menciumnya kembali—kali ini dengan cara yang benar—untuk mengingatkan siapa yang memegang kendali. Namun, ia ingat mereka berada di lobi, di bawah pengawasan puluhan pasang mata staf dan kamera CCTV.

"Silakan," desis Arash akhirnya, suaranya terdengar seperti ancaman yang ditunda. "Tapi pastikan kau tidak terlambat kembali ke mejamu satu detik pun, Raisa. Aku punya banyak pekerjaan untukmu sore nanti."

Arash kembali menatap Raisa, kali ini lebih lama. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap sudut bibir Raisa yang tadi sempat menyentuhnya. "Ah kau, Raisa ... nikmati makan siang 'resmi' mu. Jangan sampai kau tersedak karena terlalu banyak bicara."

Arash berbalik dan berjalan pergi dengan langkah lebar yang angkuh, meninggalkan aroma ketegangan yang masih tertinggal di udara.

Raisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Bahunya yang tegang akhirnya sedikit rileks.

Vino mengembuskan napas panjang yang tertahan. "Wah, Pak Arash benar-benar sedang dalam mood yang buruk hari ini. Kamu tidak apa-apa, Raisa? Dia kelihatan seperti ingin memakanku hidup-hidup tadi. Aku tahu dia keras, tapi barusan itu ... dia terlihat sangat posesif terhadap laporannya. Atau mungkin terhadap karyawannya?"

Raisa mencoba tersenyum, meski tangannya masih sedikit gemetar. "Dia memang seperti itu, Pak Vino. Sangat kaku pada aturan."

"Jangan panggil aku 'Pak' jika di luar kantor," goda Vino sembari menuntun Raisa menuju pintu keluar. "Ayo, sebelum monster itu berubah pikiran dan mengirim satpam untuk menyeret kita kembali ke kubikel."

Saat mereka melangkah keluar gedung, Raisa menatap langit yang kini terasa sedikit lebih lega, namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia baru saja menyulut api di sarang lebah. Ciuman tadi pagi dan pembangkangannya saat ini adalah kombinasi maut yang pasti akan meledak saat pintu apartemen mewah itu tertutup malam nanti.

"Kita ke restoran Italia di ujung jalan itu saja, ya? Lasagnanya sangat enak, cocok untuk merayakan kemenanganmu," ujar Vino dengan semangat.

"Terserah Anda saja, Pak—maksud saya, Vino," jawab Raisa, mencoba fokus pada jalanan di depannya, meski pikirannya masih tertinggal pada tatapan gelap Arash yang seolah tidak akan pernah membiarkannya pergi.

***

Restoran Italia itu memiliki suasana yang hangat dengan alunan musik jazz instrumental yang lembut, namun bagi Raisa, setiap denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng peringatan. Ia duduk di hadapan Vino, mencoba memotong lasagnanya dengan tangan yang masih sedikit kaku.

Vino menyesap air putihnya, matanya menatap Raisa dengan binar kekaguman yang tidak lagi ia tutupi. "Kamu tahu, Raisa? Keberanianmu menghadapi Pak Arash di lobi tadi benar-benar legendaris. Belum pernah ada staf administrasi yang berani mendebatnya dengan logika sejelas itu."

Raisa hanya tersenyum tipis, hendak membalas pujian itu saat ponselnya yang terletak di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Raisa meraih ponselnya. Begitu layar menyala, jantungnya seolah berhenti berdetak. Sebuah pesan dari nomor yang ia hapal di luar kepala, Arash.

Pesan itu tidak berisi kata-kata. Hanya sebuah foto. Foto yang diambil dari sudut seberang jalan, memperlihatkan Raisa dan Vino yang sedang tertawa kecil saat baru saja duduk di meja restoran ini. Resolusinya sangat tajam, cukup tajam untuk memperlihatkan wajah Raisa yang tampak rileks—sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada Arash.

Satu detik kemudian, pesan teks menyusul:

"Enak makanannya? Jangan lupa, sisa waktumu tinggal 22 menit. Jika terlambat, dokumen di mejamu akan bertambah dua kali lipat setiap sepuluh menitnya. Selamat menikmati 'rapat informal' kalian."

Darah serasa tersedot dari wajah Raisa. Ia menoleh ke arah jendela besar restoran, mencari-cari sosok mata-mata Arash, namun yang ia temukan hanyalah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Arash benar-benar gila. Pria itu menyewa orang untuk mengikutinya atau mungkin salah satu pengawal pribadinya sedang mengintai di suatu tempat.

"Raisa? Kamu pucat sekali. Ada masalah?" Vino mencondongkan tubuh, raut wajahnya berubah cemas.

Raisa segera membalik ponselnya ke atas meja dengan gerakan panik. "T-tidak, tidak apa-apa. Hanya pesan dari ... operator seluler."

Vino menyipitkan mata, tidak percaya begitu saja. Ia memperhatikan gerak-gerik Raisa yang mendadak gelisah. Tatapan Vino kemudian turun ke jemari Raisa yang sedang meremas serbet. Di jari manis tangan kirinya, sebuah cincin platinum bermata berlian kecil berkilauan terkena cahaya lampu restoran. Cincin yang sangat elegan, namun tampak terlalu mahal untuk gaji seorang staf administrasi.

"Boleh aku tanya sesuatu yang agak pribadi?" Vino bertanya dengan suara rendah, mengubah suasana menjadi lebih serius.

Raisa menelan ludah. "Apa itu?"

"Melihat bagaimana Pak Arash bereaksi tadi, dan bagaimana kamu tampak sangat tegang setelah menerima pesan ... apakah ada seseorang yang sedang menunggumu di rumah? Maksudku, apakah kamu sudah punya seseorang yang spesial? Atau mungkin ... tunangan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!