Setelah gagal berjodoh dengan Ustaz Ilham, tanpa sengaja Zahra bertemu dengan pria yang bernama Rendra. Dia menolong Rendra saat dikejar seseorang, bahkan memberi tumpangan pada Rendra yang mengaku tak mempunyai tempat tinggal.
Rendra yang melihat ketulusan hati Zahra, merasa jatuh cinta. Meski dia selalu merasa kotor dan hina saat berada di dekat Zahra yang merupakan putri pertama pemilik dari pondok pesantren Al-Jannah. Karena sebenarnya Rendra adalah seorang mafia.
Apakah Zahra akan ikut terseret masuk ke dalam dunia Rendra yang gelap, atau justru Zahra lah penerang kehidupan Rendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Zahra semakin tidak mengerti. Sekaya apa Rendra sebenarnya? Ternyata beberapa minggu ini dia hanya berpura-pura miskin. Rumahnya seperti istana dan hidupnya sudah seperti raja.
"Hmm, maaf, kalau boleh saya tahu, Rendra itu sebenarnya siapa? Apa dia benar-benar orang baik?" tanya Zahra lagi. Sudah kesekiam kalinya dia bertanya perihal siapa Rendra sebenarnya.
Kedua pembantu itu hanya tersenyum. "Kalau soal kebaikan Tuan Rendra tidak perlu diragukan lagi. Kami permisi dulu. Nanti kami antar makanan ke kamar Non Zahra."
"Tidak perlu, biar saya ambil sendiri." kata Zahra.
"Baik Nona." setelah kedua pembantu keluar dari kamar yang ditempati Zahra dan menutup pintunya, Zahra membuka kembali lemari yang besar itu dan mencari pakaian yang cocok untuknya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Melihat kamar mandinya saja, Zahra sampai terkagum. Ada sebuah bathub dan shower yang berhiaskan warna emas. Dan juga sebuah washtafel yang lengkap dengan cerminnya. "Sekaya apa kamu sebenarnya?" gumam Zahra lalu dia melepas pakaiannya dan mengguyur tubuhnya yang terasa penat dengan air hangat dari shower.
Dia mengingat kembali serentetan peristiwa yang baru saja terjadi. Dia masih tidak percaya sekarang berada di rumah Rendra. Sosok lelaki misterius dengan segala rahasianya.
Setelah selesai membasuh diri, Zahra segera mengeringkan tubuhnya dan juga rambutnya lalu memakai pakaiannya. Dia keluar dari kamar mandi dan menyisir rambut basahnya di depan cermin.
Setelah itu dia berjalan menuju jendela yang lebar. Dia menatap pemandangan yang sangat indah dari dataran tinggi. Gemerlap lampu yang terhampar seperti kerlip bintang di langit. Dia tahu, dia sekarang sedang berada di kawasan perbukitan dengan hawa yang sejuk dan menenangkan jiwa.
Pandangan matanya kini melihat ke bawah. Ada Rendra yang sedang duduk di taman sambil menatap layar laptopnya. "Ck, rumah majikan katanya?"
Zahra segera memakai hijabnya lalu keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Dia mencari pintu yang menuju ke taman samping. Untunglah pintu besar yang terbuat dari kaca itu berada di dekat tangga. Dia keluar dan menghampiri Rendra.
Seketika Rendra menutup layar laptopnya saat Zahra berdiri di dekatnya. Dia kini mendongak dan menatap Zahra. "Kamu makan dulu. Terus istirahat." suruh Rendra.
Zahra tak menjawabnya, dia kini duduk di kursi satunya. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Zahra lagi dengan pertanyaan yang sama. Siapa Rendra?
Rendra tersenyum miring. "Kamu selalu saja bertanya identitas aku yang sebenarnya. Apakah sebuah identitas itu sangat penting buat kamu? Atau mungkin kamu menilai kebaikan seseorang itu dari identitasnya?"
"Iya, karena darimana kehidupan seseorang itu berasal sangat mencerminkan baik dan buruk hidup seseorang itu." kata Zahra menarik kesimpulannya sendiri.
Rendra semakin tertawa mendengar kesimpulan Zahra. "Kamu salah. Baik dan jahatnya seseorang dinilai dari sifat, karakteristik dan hati. Kamu tidak bisa melabeli orang itu baik hanya karena dia seorang ustaz, atau melabeli orang itu jahat hanya karena dia seorang mafia."
"Seorang Ustaz sudah pasti baik, kalau seorang mafia sudah pasti dia jahat, kejam, dan pasti sering menyiksa orang." kata Zahra. Meskipun dia juga belum paham tentang kehidupan seorang mafia yang sebenarnya. Tapi dari beberapa buku yang pernah dia baca dan film yang pernah dia lihat, begitulah penggambaran sang mafia itu.
Tunggu dulu, mengapa Rendra tiba-tiba menyebut seorang mafia, jangan-jangan dia...
Rendra kini menatap Zahra, meski Zahra masih saja berkali-kali membuang pandangannya. "Kalau begitu, apakah ciri-ciri itu ada di diri aku?"
Zahra melebarkan matanya. "Jangan bilang kamu seorang..."
"Ssttt, jangan sebut itu jika kamu tidak mau aku siksa." Rendra tertawa kecil lalu dia berdiri sambil membawa laptopnya.
"Tunggu! Aku belum selesai bicara." Zahra berdiri dan menyusul langkah Rendra.
"Zahra, ternyata kamu ya yang sekarang suka bicara dengan aku." Rendra menghentikan langkahnya tiba-tiba dan berbalik badan.
Spontan Zahra menghentikan langkahnya saat dirinya menabrak dada Rendra. Dia memundurkan langkahnya lagi sambil menundukkan pandangannya.
"Ada apa lagi?" tanya Rendra. Jujur saja jantungnya hampir saja lepas saat bertabrakan dengan Zahra.
"Katanya kamu mau tanggung jawab akan mengembalikan kepercayaan abi. Aku mau segera kembali ke rumah." kata Zahra dengan wajahnya yang sendu.
Rendra menatap wajah cantik Zahra tanpa make up itu. Dia sudah memikirkan beberapa cara agar Zahra bisa kembali dengan keluarganya. "Tunggu beberapa hari lagi. Kamu nikmati saja tinggal di sini untuk beberapa waktu dan hidup bagaikan seorang putri raja."
Zahra menggelengkan kepalanya. "Kalau memang benar kamu seorang mafia, apa kekayaan yang kamu punya ini adalah hasil dari uang haram?"
"Astaghfirullah, buruk sekali penilaian kamu padaku." Rendra menghela napas panjang. "Tak apa kamu menganggap aku buruk dan terkutuk sekalipun." Rendra membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kakinya. "Kamu makan dulu, kalau kamu takut makanannya hasil dari uang haram, nanti aku suruh mereka buat melabeli halal dan haram semua aset-aset yang aku punya." Rendra tersenyum kecil dalam hatinya. Dia sangat suka membuat Zahra penasaran dengan hidupnya memang penuh misteri.
Zahra mengikuti langkah Rendra menuju ruang makan karena memang perutnya sudah terasa lapar. Dia kini menatap aneka masakan di atas meja makan yang menggugah selera.
Rendra kini duduk terlebih dahulu, "Silakan duduk, Nona." suruh Rendra.
Zahra memutar bola matanya. "Iya, Tuan."
"No, kamu jangan panggil aku Tuan, sebutan itu khusus untuk anak buah aku. Dan satu lagi aku belum punya nyonya. Mungkin kamu mau mendaftar jadi nyonya?" goda Rendra.
Zahra tak menjawabnya. Dia hanya menautkan alisnya.
"Ah, iya lupa. Aku harus ingat label. Yang dicari Zahra harus berlabel Ustaz."
Zahra menghela napas panjang. Rasanya dia kesal sekali dengan Rendra saat Rendra bicara seenaknya seperti itu.
"Ayo, dimakan." suruh Rendra. Dia juga sudah mengisi piringnya dengan nasi.
Akhirnya Zahra membalik piringnya dan mengambil nasi beserta lauk.
"Makan yang banyak, lihat kan masakannya banyak."
"Aku makan memang cuma segini." kata Zahra. Dia membaca do'a dalam hatinya lalu mulai makan.
"Oiya, aku lupa baca do'a. Astaghfirullah. Tapi aku lupa bacaan do'a sebelum makan bagaimana? Seingat aku terakhir aku berdoa sebelum makan itu waktu SD."
Zahra ingin tertawa tapi dia tahan. Dia hanya tertawa kecil dalam hatinya.
"Lain kali kamu pimpin doa sebelum makan ya, agar aku makan tidak dibantu setan. Biar makanan yang masuk dalam perut aku berlabel halal."
Zahra tak bisa lagi menahan tawanya. Receh sekali bercandanya Rendra. Untunglah makanannya sudah tertelan hingga tidak membuatnya tersedak.
Rendra menatap wajah cantik Zahra saat tersenyum. Ini pertama kalinya Rendra berhasil membuatnya tersenyum.
"Cantik sekali senyumnya..."
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
jgn lama2
critanya bnyk bngt cobaan nya