Aleesa Addhitama (20) dan Yansen Geremy (20) tahu bahwa rasa yang mereka miliki itu salah. Kebersamaan mereka sedari kecil membuat Aleesa dan juga Yansen merasa nyaman dan enggan untuk dipisahkan. Walaupun mereka tahu ada dinding yang menjulang memisahkan mereka berdua, yakni sebuah keyakinan.
"Satu kapal dua nahkoda, penumpangnya akan dibawa ke mana?" Begitulah kata sang ayah. Kalimat yang sederhana, tapi menyiratkan arti yang berbeda.
Akankah mereka berjuang untuk mendapatkan restu? Ataukah ada restu lain yang akan mereka dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Tiba (Swiss)
Yansen terus menghubungi Aleesa, tapi nomor Aleesa terus saja di luar jangkauan.
"Kamu di mana, Sa?" Yansen sudah dua kali ke rumah Aleesa. Namun, Aleesa belum pulang juga.
"Jangan buat aku khawatir, Sa."
.
Menjelang Maghrib Aleesa bersama kedua orang tuanya baru pulang ke rumah. Mereka menyiapkan semuanya di rumah Rindra. Radit dan Echa sengaja membelikan semua serba baru untuk putri mereka. Pulang ke rumah pun mereka hanya membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Kemudian, berangkat menuju Bandara.
Aleesa melihat ponselnya tergeletak begitu saja. Dia langsung memasukannya ke dalam tas kecil yang akan dia bawa. Tanpa dia cek ponselnya hidup atau mati.
Jam tujuh malam mobil Rindra dan Nesha sudah tiba di rumah Radit. Radit tidak mengatakan apapun kepada para pekerja di rumahnya. Dia hanya mengatakan bahwa dua minggu ke depan dia, Echa dan juga Aleesa akan pergi. Hanya itu yang Radit katakan.
"Siap?" Mereka bertiga pun mengangguk.
Rindra, Nesha, Radit, Echa dan juga Aleesa sudah menuju Bandara. Tangan Aleesa terus menggandeng tangan ayahnya. Baginya, cinta pertamanya adalah sang ayah. Pria yang selalu menjaganya dan melindunginya. Jangan ditanya bagaimana kasih sayangnya. Tak bisa dibalas oleh apapun.
Sudah dua belas jam pesawat mengudara. Aleesa terus merangkul lengan sang ayah. Dia merasakan kenyamanan tak terkira berada bersama sang ayah. Sedangkan, Radit terus menggenggam tangan Echa dengan begitu erat. Ini kali pertama mereka ke luar negeri hanya bertiga.
Sebenarnya Radit tahu Yansen terus mendatangi rumahnya. Maka dari itu, dia memilih mengajak Aleesa membeli semua yang baru. Juga mempersiapkan semuanya di rumah sang kakak. Sebagai seorang ayah, pasti dia merasa sakit ketika anaknya dipaksa mundur dengan perkataan yang sangat tidak sopan. Dia sendiri saja mencoba untuk menahan perkataan yang harusnya dia lontarkan kepada Yansen.
Di tempat lain, seseorang yang baru tiba di Swiss delapan jam lalu langsung terjaga dan harus bersiap untuk menjalankan tugas. Memakai pakaian dinas yang harus selalu dia kenakan ketika bekerja. Dia keluar rumah sudah dijemput mobil hitam mengkilap. Hanya anggukan yang menjadi sapaan darinya.
.
Radit beserta keluarga juga Rindra beserta sang istri sudah tiba di Bandara Zurich. Aleesa merasakan udara uang cukup berbeda di sini. Dia masih merangkul lengan sang ayah. Ternyata mereka sudah dijemput dan dibawa ke sebuah rumah sederhana yang begitu asri. Aleesa melengkungkan senyuman yang begitu lebar. Beban yang dia pikul sedikit demi sedikit menghilang.
Ketika Aleesa masuk ke dalam rumah pun hatinya merasa tenang dan nyaman. Wajahnya nampak berubah.
"Kamu suka?" tanya Rindra ke arah sang keponakan.
"Suka banget Uncle Papih," jawabnya. Dia pun memeluk tubuh Rindra dengan begitu erat.
Rindra membawa Aleesa menuju kamarnya dan tak hentinya dia melengkungkan senyum. Begitu nyaman kamar itu. Walaupun tak seluas kamar yang ada di rumahnya.
"Kamu istirahat, ya." Aleesa pun mengangguk.
Namun, Aleesa malah membuka jendela dan menghirup udara di sana. Begitu nyaman dan juga begitu segar. Pikirannya seolah tenang dan dia melupakan sesuatu bahwa di negara tempat dia dilahirkan ada seseorang yang cemas akan dirinya.
.
Sudah dua hari ini Aleesa sama sekali tidak memberikan kabar kepada Yansen. Ponselnya pun mati. Menghubungi kedua orang tua Aleesa pun tidak bisa.
"Pas ngampus terakhir sih gua liat Aleesa buru-buru gitu pas pulang," ujar Kemala.
"Dia juga kayaknya gak dijemput," tambah Raina.
"Ada apa dengan Aleesa?"
Yansen hanya mengangguk. Dari dua teman Aleesa dia hanya mendapatkan satu clue kecil. Yansen mencoba menghubungi Aleena. Namun, sambungan teleponnya pun tak dijawab. Sama halnya ketika menghubungi Aleesa.
"Ada apa ini?" Yansen mulai menerka-nerka. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah Aleesa malam nanti.
Dia keluar dari dalam kamar dengan pakaian rapi. Namun, langkahnya dihadang oleh Grace.
"Mau ke mana?"
"Ke rumah Sasa." Semenjak kejadian itu, Yansen seperti menjaga jarak dengan kakaknya.
"Mau apa lagi sih, Sen?" sergah sang kakak. "Jelas-jelas kamu itu udah gak direstui sama kelurganya. Kenapa masih batu?"
"Cukup, Kak!" Yansen berkata dengan nada sedikit meninggi. "Jangan pernah bicara perihal restu untuk sekarang ini. Ijinkan aku untuk menyayangi Aleesa, Kak." Mata Yansen sudah berkaca-kaca. Air matanya sudah menganak.
"Tanpa Kakak bilang pun aku dan Sasa tahu jikalau kami tidak akan pernah bisa bersatu. Kami tahu ada benteng yang menghalangi kami. Ijinkan aku menjaga dia untuk sebentar saja. Hingga pada waktunya, aku pun akan pergi dari kehidupannya."
Hati Yansen sudah tak tahan, setiap hari merasa ditekan oleh keadaan. Jika, dia boleh memilih lebih baik dia tidak dipertemukan dengan Aleesa dari pada berujung seperti ini.
"Sen," panggil Grace. Dia memeluk tubuh adiknya dengan begitu erat. Tubuh Yansen bergetar menandakan dia benar-benar bersedih.
Yansen pun mengendurkan pelukannya. Dia menatap sang kakak sepintas dan pergi menuju tempat yang hendak dia kunjungi.
Lagi dan lagi Aleesa dan kedua orang tuanya tak ada di rumah. Dia merasa ada yang janggal terlebih rumah Radit dijaga banyak orang dengan berseragam hitam. Dia bertanya kepada pihak keamanan. Namun, jawaban yang sama yang mereka berikan. Jalan satu-satunya mendatangi rumah Iyan.
Kedatangan Yansen membuat para sahabat tak kasat mata Iyan menghindar. Yansen mengerutkan dahinya. Namun, dia tak menghiraukan. Dia ingin bertemu dengan Iyan dan menanyakan perihal Aleesa.
Beeya lah yang membuka pintu. Tante dari Aleesa itu menyambutnya dengan senyum.
"Tante, Om Iyan ada?" Yansen langsung ke inti. Beeya menyuruh Yansen untuk menunggu di dalam, tapi dia memilih untuk menunggu di teras. Duduk di undakan anak tangga teras rumah Iyan yang sama seperti rumah Echa.
Tak lama berselang, Iyan pun keluar. Deheman Iyan membuat Yansen menoleh dan mencium tangan Iyan dengan sopan.
"Mau apa?" Iyan bukanlah orang yang penuh basa-basi.
"Aleesa." Yansen sudah menatap Iyan dengan penuh harap. Dia yakin, Iyan tahu soal Aleesa.
"Dia pergi bersama kedua orang tuanya." Jawaban yang menimbulkan pertanyaan baru untuk Yansen.
"Ke mana?"
"Gak tahu," sahut Iyan. "Perginya mereka kemungkinan cukup lama." Yansen membeku mendengar perkataan Iyan.
"Kalau kamu mau mencoba mencintai perempuan lain, ini kesempatan bagi kamu."
Deg.
Jantung Iyan berhenti berdetak seketika. Iyan seakan tahu rencana perjodohannya. Namun, sesaat kemudian Yansen tersenyum. Dia meraih tangan Iyan dan menyuruhnya untuk menggenggam tangannya. Kali ini Iyan yang mematung. Mulutnya kelu, dan tubuhnya membeku.
"Aku akan berada di samping Aleesa sampai aku dipeluk kembali oleh Tuhan."
.
Seseorang tengah tersenyum disela tugasnya. Dia baru saja membaca pesan yang dikirimkan oleh orang yang dia sayang.
"Dia sangat menyukai kamar hasil design kamu. I'm waiting you my first son."
...**To Be Continue***...
Komen dong ....
itu maka ny abang Dengan gak suka sama syafa. dia biang masalah dari dua saudara yg harmamonis
di mana abang Dengan lg sakit, di situ pula si Mami mau lahiran
brandalan lo lawan.
senggol.. bacok lah 😃😃😃