"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erlangga Mulai Beraksi
Hearing Aid sangat penting untuk Dira, karena jika tanpa itu. Maka Dira akan kesulitan berkomunikasi. Dan untuk mendapatkannya Dira bukan beli online yang harganya murah. Tapi dia pesan lewat Dokternya, dan harganya sekitar 20 juta.
Sekarang alat itu masuk semak-semak karena perbuatan wanita sakit mental yang tiba-tiba menyerangnya.
Beruntung Hearing Aid berwarna tosca itu nyangkut di ranting semak. Setelah memastikan alat penting miliknya aman tidak rusak atau lecet. Dira memasangnya kembali di telinganya.
Lalu...
Dira melangkah dengan mantap, dan menatap datar wajah Mirna.
PLAK
Tamparan keras itu mendarat epik di pipi Mirna yang terpoles dempul tebal hingga memerah.
"Datang ke rumah orang dengan niat buruk, di mana etikamu? Apalagi tujuanmu hanya ingin memfitnahku. Aku sarankan, hentikan sekarang juga pikiran kotormu terhadapku." Ucap Dira.
"Beraninya kamu menampar pipiku, kamu tidak tahu siapa aku ini?" Ucap Mirna menunjukkan arogansi munafiknya.
"Aku tidak peduli siapa kamu, bagiku orang tidak punya etika hanyalah SAMPAH! Kamu salah sudah membuat aku marah." Ucap Dira.
Sapu lidi yang tadi terlempar, perlahan Dira pungut kembali dan dengan gerakan tak terduga Dira pukulkan ke tubuh kurus Mirna.
"Husshhh... pergi sana, dan jangan pernah injakkan kaki di rumahku. Bahkan sejengkal pun dari pagar, tanah ini aku haramkan untukmu."
Wajah Mirna berubah menjadi merah kuning hijau karena ucapan Dira. Perawat bertubuh kering kerempeng itu lari tunggang langgang bahkan sampai hampir tersungkur karena tersandung batu.
"Hahaha... Kocak... Lawak banget dia. Gak kenal langsung main labrak, lagian siapa juga yang mau merebut calon suaminya." Gumam Dira dengan rasa yang entah.
Rumit...
Sementara itu, karena berlari terlalu kencang membuat perut Mirna kram. Dia terduduk di teras rumah, sambil berteriak memanggil semua orang.
"Budhe Ningsih..."
"Pakdhe Karsa..."
"Mas Angga... Tolong aku... Sakit... Ahh..."
Tak lama kemudian, Mirna menangis meraung bagaikan anak kecil yang kalah bermain petak umpet tapi tidak terima saat disuruh jaga.
"Astaga... Mirna kamu kenapa Nak?" Bu Ningsih panik bukan kepalang saat melihat keponakan tersayangnya terluka. Jempol kaki berdarah dan pipinya... Lebam sedikit membiru dengan ujung bibir pecah dan mengeluarkan darah. Karena memang Dira menamparkan keras, meskipun sebenarnya Dira belum mengeluarkan semua tenaganya untuk membungkam Mirna.
"Mas Angga... Kamu harus membelaku."
Angga bingung dengan tingkah Mirna, bukannya menjelaskan kenapa dirinya terluka. Tapi justru bertingkah dengan manja, seolah ingin menegaskan pada Dira. Jika Angga adalah hak miliknya, padahal Dira sedang duduk selonjoran di belakang rumah menghadap sawah.
Selain manipulatif, Mirna juga skizofrenia. Yang suka sekali menghalu dengan apa pun yang sedang diinginkannya.
"Lihatlah ini Perempuan Cacat, Mas Angga hanya milik Mirna seorang. Kamu tidak mungkin bisa merebutnya dariku." Ucap Mirna dalam hati seolah Dira ada di hadapannya.
Angga menggendong Mirna masuk rumah, kemudian mendudukkan di sofa tengah. Sementara Bu Ningsih dan Juragan Karsa menunggu Mirna menceritakan apa yang terjadi sampai dia terluka.
"Katakan, siapa yang telah melukaimu?" Tanya Bu Ningsih tidak sabar.
Mirna adalah amanat dari adiknya, di mana Ayah Mirna adalah adik kandung Bu Ningsih yang telah meninggal karena kecelakaan kerja. Dan amanat terakhirnya meminta Bu Ningsih merawat dan menjaga Mirna. Dan amanat itu dimanfaatkan Mirna untuk meminta Erlangga menjadi suaminya.
"Si tetangga baru yang sok itu telah menamparku." Ucap Mirna.
"APA? Kurang ajar, beraninya dia!" Ucap Bu Ningsih menggebu-gebu.
"Tidak ada asap kalau tidak ada api, pasti kamu yang sudah memancing emosinya." Ucap Erlangga.
"Kamu mengenalnya? Kamu membela dia? Pantas saja mata kamu jelalatan tadi malam." Tuduh Mirna emosi.
"Tidak perlu menuduhku macam-macam, logikanya kamu terluka saat mendatanginya. Bukan dia yang tiba-tiba datang menamparmu, Mirna jangan bersandiwara." Ucap Erlangga dengan tatapan datar.
"Benar kamu mendatangi rumah Dia? Sudah aku bilang, lakukan apa pun tapi jangan mempermalukan reputasiku. Harusnya sebagai seorang yang berpendidikan, kamu tahu tentang batasan itu."
Suara rendah Juragan Karsa membuat Mirna dan Bu Ningsih bungkam. Karena yang warga Desa tahu, sebagai seorang keluarga terpandang pantang bagi Juragan Karsa mencari masalah. Kecuali jika ketenangan telah terusik. Dan memang selama ini, tidak ada celah bagi Juragan Karsa. Kecuali kesombongan atas semua hartanya. Yang lainnya tidak menjadi masalah.
Juragan Karsa membayar buruh petik teh dengan harga yang wajar. Ada lembur dan uang makan. Tidak pernah mengakali wong cilik. Tapi bukan berarti Juragan Karsa orang baik, karena pada kenyataannya. Juragan Karsa sering mencuri timbangan. Dengan kata lain baik di depan tapi busuk di belakang. Itulah sifat asli Juragan Karsa.
"Aku memang mendatanginya, karena semalam dia mencuri perhatian Mas Angga. Aku hanya ingin memberi peringatan bahwa Mas Angga CALON SUAMIKU. Dan supaya mata Mas Angga tidak jelalatan menatap perempuan lain. Lagian dia hanya perempuan cacat, dia menamparku setelah aku membuang alat bantu dengar murahannya itu. Padahal harganya hanya sepuluh ribu. Tapi marahnya kayak aku membuang barang berharganya." Ucap Mirna mengejek.
"Jadi tetangga baru kita, TULI?" Ucap Bu Ningsih menekan kata tuli sambil melirik wajah Erlangga.
"Iya Budhe, dia perempuan cacat. Yang sama sekali tidak selevel dibandingkan denganku yang sempurna ini. Mata Mas Angga siwer kalau sampai melirik dia." Ucap Mirna.
"Sekarang kamu obati sendiri pipi dan kakimu itu, dan Angga ikut Ayah." Ucap Juragan Karsa.
Erlangga lagi-lagi hanya menurut, karena untuk saat ini dia belum punya power untuk melawan. Apalagi sekarang Dira sudah dikaitkan, Erlangga tidak ingin nasib Dira yang menginginkan ketenangan hidup di Desa justru malah mendapatkan kesialan.
Seminggu sudah Dira tinggal di Desa Jatimulyo dengan penuh kedamaian. Sudah tidak ada lagi gangguan, bahkan Mirna seolah menjaga jarak. Hari ini, Dira akan kembali ke Kantor Desa untuk mengambil KTP dan KK yang tertahan. Karena akta cerainya sudah Dira terima kemarin lewat pengiriman POS.
"Akhirnya status baruku sudah jelas."
Dira juga mendapat informasi tentang kehidupan para mantan di Jakarta. Agung dan Dara divonis satu tahun penjara untuk kasus perselingkuhannya. Tapi untuk Agung, hukumannya ditambah tiga tahun karena kasus korupsi.
Di saat Dira keluar kantor pelayanan, tangan Erlangga menariknya cepat. Membawa Dira ke belakang Gedung, lalu memberikan secarik kertas lusuh.
"Ada nomer ponselku di sana. Tolong hubungi aku." Ucap Erlangga.
Dira menatap Erlangga masih dengan tatapan rumit yang sulit dijabarkan. Hanya satu baris kalimat permohonan, tapi mampu memporak porandakan hati Dira yang sudah tertata rapi.
Dira tahu, jika dia menghubungi Erlangga maka detik itu juga hidupnya tidak akan tenang lagi.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪