Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tanda Tanya Di Balik Pilar
Selasa pagi di Gedung Akuntansi selalu punya aromanya sendiri: campuran parfum bayi, wangi bedak tabur, dan perdebatan sengit soal selisih angka di neraca saldo. Kelas X Akuntansi 1 adalah lautan siswi. Dari tiga puluh enam siswa, hanya ada tiga laki-laki, termasuk Sarendra dan Bagas yang duduk di pojok belakang, seolah tenggelam di antara kerumunan siswi.
"Ren, fokus dong! Itu kolom kreditnya masih kurang nol satu," tegur sebuah suara melengking di sebelah Rendra.
Rendra tersentak, pulpennya hampir terlepas. Di sampingnya berdiri Netta, bendahara kelas yang super teliti. Netta punya gaya rambut dikuncir kuda yang selalu rapi dan pembawaan yang sangat enerjik. Sebagai salah satu dari sedikit cowok di kelas, Rendra sering jadi sasaran "perawatan" Netta, mulai dari dirapikan bajunya sampai dikoreksi tugasnya.
"Eh, iya Net. Maaf, agak kurang konsen," jawab Rendra sambil memperbaiki angka di bukunya.
Posturnya yang bungkuk membuatnya terlihat semakin kecil di bawah tatapan intimidasi Netta yang sedang berkacak pinggang.
"Kurang konsen atau lagi liatin ke jendela?" Netta menyipitkan mata, mengikuti arah pandang Rendra yang sedari tadi melirik ke arah lapangan luas yang memisahkan gedung mereka dengan Gedung TKJ di ujung sana. "Oalah... nyariin cewek TKJ yang rambut pendek itu ya? Si Vema?"
Bagas yang duduk di belakang mereka langsung ikut nimbrung dengan semangat. "Nah, bener kan! Net, kasih tahu nih temen kita. Masa dari pagi jurnal umum dikacangin gara-gara mikirin anak teknik."
"
Ih, Rendra! Selera kamu berani ya," goda Netta sambil tertawa kecil. "Gedung TKJ itu kan isinya cowok-cowok semua, Ren. Isinya kalau nggak kabel ya obeng. Si Vema itu satu-satunya 'pemandangan indah' di sana. Kamu kalau mau ke sana harus siap mental, sainganmu anak-anak TKJ yang badannya bongsor semua."
Rendra hanya bisa tersenyum kaku, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia kembali merapikan rambut belah tengahnya. "Cuma teman, Net. Benaran."
Tiba-tiba, Bu Ratna, guru Akuntansi mereka, menepuk meja. "Ayo, anak-anak! Diam semua. Hari ini mesin fotokopi di tata usaha gedung depan rusak. Satu perwakilan kelompok harus pergi ke Gedung TKJ untuk memfotokopi format tabel di sana. Mereka punya mesin sendiri di lab."
Mata Rendra langsung berbinar. Ini dia alasannya.
"Bu! Saya saja yang ke sana!" seru Rendra cepat, bahkan sebelum Bu Ratna selesai bicara. Seisi kelas yang mayoritas cewek itu langsung bersorak "Cieee!" secara serempak.
Netta menyenggol lengan Rendra sambil berbisik, "Hati-hati, jangan sampai kena 'smash' anak TKJ ya!"
Rendra segera keluar dari kelas dengan langkah lebar. Ia meninggalkan atmosfer Gedung Akuntansi yang wangi dan penuh tawa, mulai melintasi lapangan menuju wilayah "asing". Begitu memasuki area Gedung TKJ, suasananya berubah total.
Koridornya dipenuhi cowok-cowok yang sedang duduk lesehan sambil membongkar CPU atau menggulung kabel LAN.
Rendra merasa sangat mencolok dengan penampilannya yang terlalu rapi dan postur bungkuknya. Saat sampai di depan Lab TKJ, ia melihat Vema.
Namun, pemandangan itu membuat jantung Rendra berdetak kencang. Vema sedang berdiri di pojok lorong, dikelilingi oleh tiga orang siswa TKJ yang bertampang garang. Vema tampak memegang tas selempang hitam—tas yang tadi malam dia jahit—dengan tangan gemetar. Salah satu siswa itu tampak sedang membisikkan sesuatu yang membuat wajah Vema semakin pucat.
Vema tidak berdaya, sifat people pleaser-nya membuatnya hanya bisa menunduk saat tasnya ditarik paksa oleh salah satu dari mereka.
Rendra berhenti di balik pilar. Di sana hanya ada dia, cowok Akuntansi yang biasa-biasa saja, berhadapan dengan penguasa Gedung TKJ. Namun, melihat Vema yang ketakutan, rasa penasaran Rendra kini berubah menjadi sesuatu yang lebih mendesak.
Rendra mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Ia merapatkan tubuhnya ke pilar beton yang terasa dingin. Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar suara tawa tertahan dari ketiga siswa TKJ tersebut. Salah satu dari mereka, yang paling tinggi dengan lengan dipenuhi bekas luka gores—mungkin karena sering terkena pinggiran casing CPU—sedang menimbang-nimbang tas hitam milik Vema.
"Jadi ini pesanan Ibuku? Kok lama banget sih, Vem?" tanya siswa itu. Namanya Riko, salah satu pentolan kelas XII TKJ yang disegani karena keahliannya di bidang jaringan, sekaligus karena temperamennya yang keras.
"Maaf, Ko. Kemarin... kemarin bahannya baru ada," jawab Vema dengan suara yang nyaris hilang ditelan kebisingan suara kipas angin besar dari dalam lab.
Rendra memperhatikan dari jauh. Ia merasa ada yang aneh. Kenapa urusan pesanan tas harus dilakukan di pojok lorong yang sepi seperti ini? Dan kenapa wajah Vema terlihat seperti orang yang sedang membawa beban berat, bukan sekadar seorang penjual yang sedang mengantar pesanan?
"Ya sudah. Bilang ke Ibumu, nanti malam 'barang' yang di dalam sini bakal langsung dipakai. Jangan sampai telat lagi," ucap Riko sambil menepuk-nepuk tas itu dengan kasar ke pundak Vema.
Vema hanya mengangguk kecil. Saat ketiga cowok itu mulai berjalan menjauh sambil tertawa-tawa, Vema menyandarkan punggungnya ke dinding lab. Ia memejamkan mata erat-arat, tangannya masih gemetar.
Rendra merasa inilah saatnya. Ia membetulkan kerah seragamnya yang sedikit miring dan mencoba berdiri setegak mungkin, meski posturnya yang agak bungkuk tetap tidak bisa disembunyikan. Ia melangkah keluar dari balik pilar.
"Vema?" panggil Rendra lembut.
Vema tersentak hebat. Ia membuka matanya dan menatap Rendra dengan ekspresi yang sangat terkejut, sekaligus takut. "S-sarendra? Kamu ngapain di sini? Ini gedung TKJ, Dra. Kamu salah jalan?"
"Aku diminta Bu Ratna fotokopi tabel di lab sini," jawab Rendra sambil menunjukkan lembaran kertas di tangannya. Ia berjalan mendekat, mencoba mengabaikan tatapan mata beberapa siswa TKJ lain yang mulai memperhatikan kehadirannya—seorang anak Akuntansi yang terlihat 'tersesat'. "Kamu nggak apa-apa? Tadi mereka... mereka nggak kasar sama kamu kan?"
Vema dengan cepat merapikan rambut pendeknya, mencoba menutupi kegelisahannya. "Enggak kok. Itu cuma... pelanggan Ibu. Biasa, mereka tanya soal pesanan."
"Tapi muka kamu pucat banget, Vem. Lebih pucat dari kemarin," ucap Rendra jujur. Ia menatap mata Vema, mencari jawaban di sana.
Vema memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap kejujuran di mata Rendra. Baginya, kehadiran Rendra di tempat ini seperti lilin kecil yang dipaksa menyala di tengah badai. Terlalu terang, dan ia takut lilin itu akan ikut padam jika terkena kegelapan dunianya.
"Dra, mending kamu segera fotokopi terus balik ke gedung depan ya," bisik Vema serius. "Di sini... suasananya lagi nggak enak. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara aku."
"Gara-gara kamu? Maksudnya?" Rendra semakin bingung.
Sebelum Vema sempat menjawab, seorang siswa TKJ lain berteriak dari dalam lab. "Vem! Dicariin Pak Bambang! Katanya switch di rak tiga mati lagi!"
"Iya, segera!" sahut Vema. Ia kembali menatap Rendra sejenak. "Dra, tolong. Anggap aja kamu nggak lihat apa-apa tadi. Oke? Aku duluan."
Vema berlari kecil masuk ke dalam lab yang dipenuhi kabel-kabel yang menjuntai seperti akar pohon tua. Rendra berdiri mematung di selasar yang panas itu. Ia merasakan aroma sabun bayi yang biasanya menenangkan dari Vema kini bercampur dengan bau gosong dari peralatan elektronik—dan sesuatu yang lebih tajam, seperti bau dupa yang pernah ia cium samar-samar.
Rendra akhirnya melangkah menuju ruang fotokopi di ujung koridor dengan pikiran yang semakin kacau. Di sana, ia bertemu dengan beberapa siswa TKJ yang sedang merokok diam-diam di balik mesin besar.
"Wih, anak Akuntansi nyasar nih. Mau daftar jadi bagian keuangan kita ya, Mas?" goda salah satu dari mereka, membuat Rendra hanya bisa menunduk dan mempercepat urusannya.
Sepanjang perjalanan kembali ke Gedung Akuntansi, Rendra tidak bisa berhenti memikirkan tas hitam itu. Ia teringat kata-kata Netta tadi pagi: "Sainganmu anak-anak TKJ yang badannya bongsor semua." Tapi bagi Rendra, masalahnya bukan soal saingan. Masalahnya adalah Vema seolah sedang tenggelam, dan gadis itu justru melarang Rendra untuk menolongnya.
Sesampainya di kelas, Bagas langsung menyambutnya. "Lama banget, Ren! Fotokopi atau PDKT di sana?"
Rendra hanya memberikan kertas-kertas itu tanpa kata. Ia duduk di kursinya, mengabaikan godaan Bagas. Ia mengambil buku catatannya, bukan untuk mencatat jurnal, melainkan untuk menuliskan sesuatu di pojok kertas:
Riko. Tas hitam. Sebelum matahari terbenam.
Tiga kata itu menjadi teka-teki baru di kepala Rendra. Ia menyadari satu hal, dunia sekolah Pamasta bukan hanya terbagi oleh dua gedung, tapi oleh sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Vema—dan mungkin, sekarang ia mulai terseret ke dalamnya.
ada apa dgn vema
lanjuuut...