Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 Walking Dead
Liora Elowyn adalah sebuah keajaiban yang menyedihkan. Hanya seminggu setelah prosedur operasi yang hampir merenggut nyawanya, ia memaksa dirinya untuk bangun. Meski tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum dan perutnya dibalut perban tebal yang menyembunyikan luka jahitan besar, ia menolak untuk tetap di rumah sakit. Ia takut jika ia tinggal lebih lama, Leo akan menemukannya dalam keadaan rapuh.
Dengan langkah yang diseret dan wajah sepucat salju, Liora kembali ke toko buku. Ia bekerja seperti biasa, meskipun setiap kali ia mengangkat satu buku, keringat dingin membanjiri keningnya. Ia harus terlihat hidup, meski organ di dalam tubuhnya sedang berjuang keras untuk tidak berhenti berfungsi.
Sore itu, lonceng toko buku berdentang nyaring. Leo Alexander Caelum melangkah masuk dengan aura kemarahan yang meluap-luap. Ia baru saja kembali dari rumah sakit setelah melihat ibunya kembali menangis tanpa alasan.
Begitu melihat Liora sedang berdiri di balik rak, kebencian Leo meledak. Ia berjalan cepat dan menyambar bahu Liora, memutar tubuh gadis itu dengan kasar.
"Oh, lihat siapa yang sedang bermain drama 'gadis pekerja keras' lagi!" bentak Leo. Suaranya menggelegar di antara rak-rak buku yang sunyi.
Liora memejamkan mata sesaat, menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya akibat sentuhan kasar Leo yang mengguncang jahitan operasinya. Ia tidak membalas. Ia hanya diam, memegang pinggiran rak agar tidak jatuh tersungkur.
"Kau benar-benar wanita iblis, Liora!" teriak Leo tepat di wajahnya. "Ibu sekarat! Dia menjalani transplantasi hati yang mempertaruhkan nyawanya! Dia memanggil namamu berkali-kali dalam tidurnya, dan di mana kau?! Kau malah di sini, menata buku-buku busuk ini seolah tidak terjadi apa-apa!"
Liora tetap membisu. Bibirnya yang kering rapat terkunci.
"Kenapa kau diam saja?! Apa kau begitu senang melihat Ibuku menderita hingga kau bahkan tidak sudi menjenguknya?" Leo tertawa pahit, tawanya penuh dengan racun. "Aku mengutuk hari di mana aku membawamu ke mansion. Kau tidak punya hati. Kau membiarkan wanita yang sangat mencintaimu berjuang sendirian melawan maut hanya karena egomu yang terluka!"
Leo tidak menyadari bahwa tepat di hadapannya, Liora sedang berjuang untuk tetap bernapas. Darah mulai merembes sedikit demi sedikit di balik pakaian kerja Liora yang longgar, membasahi perban yang menutupi luka donornya.
"Aku sangat membencimu, Liora. Aku mengutukmu!" Leo mencengkeram rahang Liora, memaksanya menatap matanya yang penuh amarah. "Kau tahu? Donor anonim yang menyelamatkan Ibuku jauh lebih mulia daripada kau. Dia memberikan hidupnya, sementara kau? Kau hanyalah sampah yang tidak tahu berterima kasih. Aku harap kau merasakan sakit yang sama dengan apa yang dirasakan Ibuku!"
Liora menatap Leo. Untuk pertama kalinya, ada kilat kesedihan yang begitu dalam di matanya, bukan karena hinaan itu, tapi karena ironi yang sedang terjadi. Pria ini sedang mengutuk orang yang baru saja menyelamatkan nyawa ibunya, pikir Liora dalam hati.
Liora melepaskan tangan Leo dari rahangnya dengan gerakan yang sangat lemah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berbalik dan melanjutkan menata buku, meskipun tangannya gemetar hebat.
"Pergilah, Tuan Leo," bisik Liora akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar. "Jika Anda ingin mengutuk saya, silakan. Saya sudah terbiasa dengan kutukan Anda. Tapi tolong... biarkan saya bekerja."
"Kau benar-benar tidak punya jiwa," desis Leo sebagai kalimat terakhirnya sebelum keluar dari toko dengan membanting pintu.
Liora jatuh terduduk di lantai segera setelah Leo pergi. Ia memegangi perutnya yang berdenyut hebat. Air matanya jatuh, bukan karena caci maki Leo, tapi karena tubuhnya yang semakin melemah. Ia tahu waktunya tidak banyak. Namun, ia merasa tenang. Di dalam tubuh Eleanor, ada bagian dari dirinya yang sedang berdetak, memberikan hidup pada wanita yang ia cintai, meskipun sang putra mahkota Caelum terus mengiriminya doa-doa kematian.
"Leo mengutuk Liora dengan kata-kata, tanpa menyadari bahwa Liora sedang menanggung kutukan fisik demi nyawa ibunya."
"Ironi paling menyakitkan adalah ketika seseorang dicaci karena dianggap tidak peduli, padahal ia telah memberikan segalanya hingga tak tersisa."
"Liora tetap diam bukan karena ia kalah, tapi karena ia tahu kebenaran akan menjadi belati yang paling tajam bagi Leo suatu saat nanti."
"Setiap napas Eleanor yang baru adalah detik-detik kematian yang semakin dekat bagi Liora; sebuah pengabdian yang tidak butuh penonton."