NovelToon NovelToon
Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.

Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: JALAN MENJAUH DARI KUTUKAN

Tangan dingin wanita itu menyentuh leherku – bukan seperti yang kubayangkan, tidak menyakitkan, malah seperti seseorang yang sedang mencoba menarik perhatianku dengan lembut. Suara Om Sugi yang sudah berubah jadi serak dan mengerikan semakin keras dari atas tangga, campur dengan suara anak kecil yang masih terus menangis. Air kemerahan yang menggenang sudah sampai perutku, dan aku bisa merasakan ada sesuatu yang menyentuh jari-jari kakinya di dalam air – kecil, licin, seperti jari bayi yang sedang mencari sesuatu untuk dipegang.

Aku mencoba menjauh dari wanita itu, tapi kakiku terjepit di antara batu bata yang sudah longgar di dasar tangga. Bau darah dan busuk semakin kuat, membuatku hampir muntah. Cahaya korek api mulai redup karena udara yang lembab, dan bayangan wanita itu tampak semakin jelas – di lehernya ada bekas luka seperti tercekik, dan matanya penuh dengan air mata yang mengalir melewati wajahnya yang penuh luka. Dia mengangguk perlahan ke arah lubang kecil di dinding sebelah kanan, lalu mengangkat satu jari sebagai isyarat agar aku pergi ke sana.

Dengan susah payah, aku melepaskan kakiku dari celah batu bata dan berenang perlahan menuju lubang itu. Airnya sangat dingin dan membuatku menggigil, sementara tangan-tangan kecil itu terus menyentuh bagian bawah tubuhku seolah ingin menarikku ke dasar yang dalam. Saat aku mencapai lubang, aku melihat bahwa lubang itu cukup besar untuk aku lewati, tapi ada pagar besi kecil yang sudah karatan menghalangi jalannya. Aku harus membukanya atau memecahnya jika ingin keluar dari sini.

Saat aku mencoba menggoyangkan pagar besi, sebuah buku catatan dari dalam kotak besi yang kubawa tadi terjatuh ke dalam air. Aku cepat-cepat mengambilnya sebelum basah total, dan membukanya dengan tangan yang gemetar. Di dalamnya ada catatan harian Om Sugi yang ditulis dengan tulisan yang rapi. “Hari ini aku melihatnya lagi – anak perempuan kita yang hilang, Dewi. Dia datang dengan membawa seorang anak kecil yang wajahnya persis seperti aku saat muda. Dia bilang dia ingin aku menerima anak itu sebagai cucuku, tapi aku tidak bisa. Kutahu bahwa jika aku menerima dia, kutukan yang sudah mengancam keluarga kita akan kembali lagi. Aku mencintaimu, Dewi, dan aku mencintai anak kita yang hilang itu. Tapi aku harus melindungi semua orang yang masih hidup.”

Aku merasa dada terasa sesak dan air mata mulai mengalir ke pipiku, bercampur dengan air kemerahan di wajahku. Om Sugi bukanlah orang yang jahat seperti yang kubayangkan – dia hanya mencoba melindungi keluarganya. Saat itu, suara Om Sugi dari atas semakin dekat, dan aku bisa melihat bayangan besarnya yang menginjak tangga ke bawah dengan langkah yang berat. Aku harus cepat membuka pagar besi itu sebelum dia sampai padaku.

Dengan semua kekuatanku, aku menarik pagar besi hingga akhirnya putus dengan suara kresek yang keras. Aku merangkak masuk ke dalam lorong sempit yang gelap, dan segera merasakan udara yang lebih segar di hidungku. Lorong itu membengkok ke kanan, dan aku bisa melihat sedikit cahaya di ujungnya – harapan kecil bahwa aku bisa keluar dari sini.

Tapi saat aku hampir mencapai ujung lorong, aku mendengar suara langkah kaki kecil yang datang dari arah cahaya. Suara itu seperti anak kecil yang sedang berlari, tapi setiap kali dia menginjak, akan terdengar suara klik klak seperti sepatu kayu yang menyentuh lantai. Aku menyalakan korek api lagi, dan melihat sosok anak kecil dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya berdiri tepat di depanku. Dia mengenakan gaun putih yang sudah kotor dan berdarah, dan di tangannya ada sebuah mainan kayu yang bentuknya persis seperti kalung yang aku kenakan.

Anak itu perlahan mengangkat kepalanya, dan wajahnya yang terbuka membuatku terkejut – dia memiliki mata yang sama dengan Om Sugi dan wanita itu di belakangku. Dia tersenyum dengan bibir yang tipis, lalu berkata dengan suara yang seperti bisikan angin: “Kakek bilang kamu akan datang untuk menyelamatkan aku, Bibi. Sekarang kamu harus tinggal bersama aku dan ibu untuk selamanya.”

Di belakangku, suara Om Sugi sudah sangat dekat, dan aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan berbau busuk menyentuh leherku. Aku melihat ke depan ke arah anak kecil, lalu ke belakang ke arah Om Sugi yang sudah berubah jadi makhluk yang tidak dikenal lagi. Aku tidak tahu harus memilih jalan mana – keluar melalui lorong yang ditempati anak kecil itu, atau kembali ke ruangan bawah tanah yang sudah mulai tergenang air penuh dengan misteri.

1
grandi
bau yang gak enak
grandi
cepat
grandi
aku suka tentang sejarah 👍
grandi
hujan 👍
Dewi Kartika
mantap thor
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!