Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10
-Rumah sakit Delfi,
-23.34
-Ruangan tidak di ketahui
Udara di ruang bawah tanah itu menggigit.
Uap dingin naik dari lantai logam yang lembap, bergulung pelan di antara meja bedah yang penuh bercak merah. Lampu gantung berayun sedikit, berdecit pelan, memantulkan cahaya putih kebiruan di helm pelindung yang dikenakan Pharma.
Tangannya stabil, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang memotong tubuh orang.
Jarum panjang di genggamannya berkilat saat ia memutar pisau, matanya memantulkan refleksi biru dari lampu di atas meja.
“Masih bergerak, ya…”
suara Pharma terdengar datar, tapi di ujungnya ada nada sinis yang samar.
“Refleks saraf, atau... kau masih mencoba bertahan?”
Pasien di meja itu mengerang pelan, tubuhnya gemetar. Tapi tali baja di pergelangan dan pergelangan kaki membuat setiap gerakan cuma jadi bunyi clingg lemah.
Pharma mencondongkan tubuhnya sedikit, helmnya menyentuh cahaya lampu dan ekspresi di baliknya? Dingin. Kosong.
Layar di sampingnya menyala. Sinyal biru muncul ikon DJD bergetar di pojok kanan.
Tarn muncul di layar, suaranya berat dan teredam statis.
“Kau terlalu lambat, Pharma.”
“Aku tidak bisa mengirimkan material kalau kualitasnya busuk,” jawab Pharma datar, tanpa menoleh. “Mereka ingin organ lengkap, kan? Bukan bubur.”
Tarn diam sebentar, lalu tertawa pelan suara seperti baja beradu.
“Asal kau tahu tempatmu. Ingat... satu sinyal saja ke permukaan, dan”
Pharma menyela dengan lirih:
“Seluruh rumah sakit ini jadi abu. Aku tahu. Aku yang jadi saksi penanaman bomnya, remember?”
Hening sebentar. Hanya bunyi beep... beep... dari monitor jantung pasien yang melemah perlahan.
Pharma melepaskan sarung tangannya, lalu menatap tubuh di meja dengan ekspresi jenuh, seperti seniman yang muak dengan kanvasnya sendiri.
“Kau tahu, Tarn… mereka panggil tempat ini ‘Delphi’ karena katanya simbol penyembuhan.”
“Ironis, bukan?”
Ia tersenyum tipis.
“Yang datang ke sini… tak pernah benar-benar sembuh.”
Lampu berkedip pelan. Dan untuk sesaat, di ujung ruangan, bayangan seseorang lewat di balik kaca pengamat. Tapi Pharma tak menoleh seolah sudah tahu siapa yang mengawasi dari kegelapan.
***
Sore itu matahari tenggelam perlahan, nyisain warna jingga yang tumpah di laut. Angin laut ngebelai rambut putih Lyra, lembut banget sampai dia hampir ketiduran berdiri di dek kapal. Paul sibuk ngeributin tiket, sementara Ratchet sibuk ngeluh soal harga es krim di pelabuhan yang katanya “nggak masuk akal bahkan buat manusia waras.”
Lyra cuma duduk di kursi kayu, hoodie-nya kebesaran, mata udah setengah merem.
> “Ly, jangan tidur dulu” kata Paul.
“Cuma lima menit…” gumam Lyra pelan.
“Lyra, jangan”
“Ngantuk banget, Paul…”
Dan... poof.
Lima menit berubah jadi setengah jam. Kapalnya udah berangkat.
Ratchet sama Paul udah naik kapal tujuan pulau utama tapi Lyra?
Lyra kebangun pas kapal udah mulai sandar. Dia ngucek mata, bingung.
> “Eh… kok banyak tulisan asing…?”
Dia ngeliat papan pelabuhan:
“Selamat datang di Kota Virex.”
yang bahkan nggak ada di brosur pariwisata mana pun.
Pemandangannya beda banget: gedung tinggi, lampu-lampu nyala lebih cepat dari langit gelap, dan di udara ada aroma minyak mesin campur asap rokok.
Lyra berdiri bengong di tengah pelabuhan, tas selempangnya masih nyangkut miring.
> “Paul bakal marah banget kalo tau aku salah kapal lagi…”
Dia jalan pelan, mata muter ke segala arah. Kota ini... jauh lebih sibuk dan misterius. Orang-orang di pinggir jalan pakai jas hitam semua, dan tiap sudut jalan ada mobil mewah berhenti sebentar trus pergi.
Ada aura yang nggak enak.
Tapi Lyra tetep nekat jalan lebih dalam, nyari telepon umum.
Lampu-lampu neonnya mantul di matanya yang ungu pucat.
Dan dari jauh... di atap salah satu gedung, ada seseorang yang lagi ngamatin dia lewat teropong kecil.
> “Target... sudah di area Virex.”
“Perintah selanjutnya?”
“Amankan. Tapi jangan kontak langsung. Kita liat siapa yang bakal jemput dia dulu.”
Langit kota Virex udah berubah jadi warna baja tua. Hujan tipis turun, nyampur sama asap yang naik dari jalanan. Orang-orang teriak, sirine meraung kerusuhan baru aja meledak di tengah distrik pusat.
Lyra yang tadi cuma mau nyari telepon umum, sekarang malah kejebak di tengah kekacauan. Orang berlari ke segala arah, toko-toko ditutup paksa, dan di depan matanya, sekelompok pria bersenjata nyerbu dari gang sempit.
> “Hei, anak itu! Tangkep!”
“Ap-ha?! Aku cuma mau nelpon, sumpah!”
Lyra nyoba mundur, tapi pergelangan tangannya udah ditarik kasar sama salah satu penjahat bersenjata. Napasnya memburu, matanya melebar.
> “Lepasin! Aku ga”
Tapi sebelum kata terakhirnya keluar
DOR!
Peluru melesat dari kejauhan. Kepala si penjahat langsung terhentak, tubuhnya tumbang ke arah Lyra. Gadis itu membeku.
Waktu kayak berhenti sejenak.
Suara tembakan itu jelas banget, bersih, dan tepat sasaran.
Lyra nengadah, dan samar-samar di antara hujan dan gedung tinggi, dia liat siluet seseorang di atap — tinggi, langsing, bersenapan panjang.
Sosok itu nunduk sedikit, dan kaca optik maskernya berkilat merah.
Vos.
Sebelum Lyra sempat kabur, ada tangan lain yang tiba-tiba nyentuh bahunya pelan dari belakang.
> “Jangan takut. Ikut aku,” suara itu datar tapi tenang.
Lyra refleks nengok. Sosok tinggi berjaket kulit hitam, wajahnya setengah tertutup masker logam mata abu-abunya tajam tapi… ada sedikit empati aneh di situ.
Kaon.
Dia narik Lyra ke arah sisi jalan yang sepi, nyeretnya hati-hati tapi mantap, ngelewatin reruntuhan kaca dan mobil yang kebalik.
> “Kamu bukan bagian dari sini. Jangan liat ke belakang.”
“Siapa kamu sebenernya?” tanya Lyra, suaranya gemetar.
“Orang yang baru nyelametin hidup kamu,” jawabnya singkat.
Sementara dari atas gedung, Vos masih ngarahin senjatanya, ngelacak tiap gerakan polisi yang mulai datang.
Hujan makin deres. Lampu-lampu biru dan merah dari sirine mantul di jalan yang becek, dan Kaon nyeret Lyra ke arah gang sempit menuju mobil hitam yang mesinnya udah nyala.
Pintu mobil kebuka otomatis, dan suara berat dari dalam ngomong pelan:
> “Bawa dia. Tuan Tarn ingin bicara.”
Mobil itu meluncur halus di jalan yang basah, suara ban menyayat genangan air kayak bisikan logam di malam hari.
Lyra duduk di kursi belakang, tubuhnya masih gemetar setengah mati, rambut putihnya nempel di pipi karena hujan.
Vos duduk di depan, masih diam, jarinya ringan di atas pelatuk senapan yang rebah di pangkuannya. Kaon di samping Lyra, masih pakai masker separuh wajah, tapi matanya... nempel ke arah luar jendela, ngawasin tiap bayangan yang lewat.
> “...Kalian siapa sebenernya?” suara Lyra lirih, nyaris tenggelam di suara mesin.
“Yang nyelamatin kamu dari peluru nyasar,” jawab Kaon datar tanpa nengok.
“Nyelamatin atau nyulik, nih?”
“Tergantung siapa yang nanya.”
Vos ngelirik dari kaca depan, bahunya naik turun dikit kayak nahan tawa kering.
Mobil berhenti di depan gedung tua di tengah distrik industri. Logo di atas pintunya udah pudar, cuma sisa tulisan “NeuroTech Systems” kayak bekas perusahaan penelitian yang udah lama ditinggalin. Tapi di dalamnya… cahaya redup dari lampu biru neon masih nyala, suara alat medis samar-samar kedengeran dari bawah.
Kaon buka pintu, ngasih isyarat ke Lyra.
> “Masuk.”
“Kalian… kerja di sini?”
“Kamu bakal liat sendiri.”
Lorongnya panjang, dingin, dan semua dindingnya dari kaca buram. Dari balik kaca itu, Lyra ngeliat siluet manusia yang diselimuti kabel dan tabung cairan kayak eksperimen medis hidup. Napasnya tercekat.
Sampai akhirnya mereka berhenti di depan ruangan besar dengan pintu besi berat. Vos ngetik sesuatu di panel digital, pintunya kebuka perlahan.
Dan di tengah ruangan, duduk di kursi tinggi di bawah cahaya lampu tunggal, ada seseorang dengan jas hitam rapi, wajahnya ketutupan topeng logam elegan berwarna abu-abu perak, dengan dua garis merah menyala dari mata.
Suaranya berat, tapi lembut dan mengendalikan.
> “Akhirnya. Gadis dengan rambut putih dari keluarga Raven.”
Lyra ngebeku.
> “...Kamu siapa?”
Pria itu berdiri pelan, langkahnya tenang tapi berwibawa.
> “Aku… hanya seseorang yang tahu betapa berharganya darah keluarga kamu.”
Dia nunduk dikit, menatap tajam.
“Kita belum saling kenal, tapi aku udah lama memperhatikanmu… Lyra Raven.”
Tarn.
Tarn ngelangkah pelan ke arah Lyra, suaranya terdengar kayak logam yang diseret halus di lantai marmer.
> “Kami cuma mau tahu… kondisi terbaru rumah sakit delfi. Dokter Pharma, Ratchet, dan yang lain—semua punya peran penting dalam sistem yang jauh lebih besar dari yang kamu pikirkan.”
Lyra ngerasa dingin di ujung jari. Ruangan itu terlalu steril. Terlalu rapi. Terlalu… salah.
> “Aku nggak ngerti apa yang kalian omongin,” ucapnya pelan, tapi sorot matanya mulai tegang.
Tarn miringin kepala dikit. “Sayang sekali kalau keturunan Raven ikut-ikutan pura-pura.”
Vos dan Kaon berdiri di belakangnya, kayak bayangan. Tapi di detik itu juga Lyra sadar.
Lantai ini punya jalur kabel yang mengarah ke alat di dinding. Dan alat itu… kelihatannya pemindai retina.
Dia berbalik kayak reflek. Tangannya dorong panel kaca, pecah.
Alarm nyala.
> “Tangkap dia!” suara Tarn tenang tapi mematikan.
Lyra lari pakai heels kecil, tapi refleksnya cepat banget. Napasnya ngos-ngosan, rambut putihnya berantakan kena percikan kaca. Dia loncat turun lewat tangga darurat yang setengah roboh.
Di belakangnya, Vos ngangkat senapan, Kaon ngejar lewat atap, dan sirine nyaring menggema di lorong bawah tanah.
Hujan turun pas dia keluar gedung malam masih pekat. Lampu kota jauh-jauh aja, cuma sisa lampu jalan berkedip yang nerangin genangan air.
Tiba-tiba suara mesin berat nyala di belakangnya.
Mobil hitam tanpa plat nomor ngejar, lampunya nyala tajam.
Lyra ngerasa detak jantungnya udah kayak mau pecah. Dia lari sekuat tenaga, ngelewatin jalan sempit, loncat ngelewatin pagar besi, tapi mobil itu masih ngikutin, roda ban nyipratin air kayak marah.
> “Aduh, sial ini serius banget.”
Mobil makin deket, dan di detik terakhir, Lyra ngelihat truk kontainer yang lagi lewat lambat di jalan utama.
Dia ambil napas panjang, terus lompat.
Tangannya berhasil nyangkut di pinggiran belakang truk. Bajunya robek, tapi dia berhasil naik, nempel di sisi kontainer sambil ngos-ngosan. Mobil hitam itu berhenti di kejauhan, cuma lampunya yang masih nyorot-nyorot nyari arah.
Truk itu terus jalan, ngebawanya keluar dari distrik industri, menuju kota tua—tempat lampu jalan redup dan gedung-gedung tua berdiri kayak hantu masa lalu.
***
Truk itu berhenti di pinggir jalan bebatuan tua. Tulisan di papan besinya udah luntur, cuma masih bisa kebaca samar:
LAVENDER — District 09.
Lyra turun pelan, sepatu haknya nyentuh genangan air. Hujan masih turun, tipis tapi dinginnya sampai ke tulang. Jalanan kota tua itu sunyi cuma suara musik jazz samar dari arah bar di ujung gang.
Dia ngerapatin mantel putihnya, terus jalan pelan.
Bar itu tua tapi masih hidup. Lampu ungu lembut di jendela, aroma alkohol campur kopi gosong, dan denting piano di pojok ruangan.
Bartender cuma ngelirik sekali mungkin ngira dia turis nyasar.
Lyra duduk di meja pojok, numpuk tangan di atas meja. Tangannya masih gemetaran. “Santai... ini cuma kota kecil,” bisiknya ke diri sendiri.
Beberapa menit berlalu. Musik berhenti.
Dia bangkit, jalan ke toilet buat nyuci muka, biar sadar lagi.
Lampu di toilet redup banget, cerminnya pecah di ujung, dan udara dingin banget kayak kulkas. Dia basuh wajahnya, napasnya berat matanya ketemu pantulan diri sendiri di cermin yang retak.
> “Kamu beneran nyasar, ya, Dokter Raven?”
Suara itu muncul pelan dari belakang.
Pelan. Tapi bikin jantungnya langsung berhenti sepersekian detik.
Dia noleh dan di situ, berdiri seseorang berseragam gelap, rambutnya agak panjang di belakang, poni menutup satu mata, dengan senyum kecil yang nggak pernah kelihatan hangat.
Kaon Neykara.
Tatapan mata kanan Kaon kayak pisau, tapi mata kirinya tertutup lensa logam bulat, berkedip pelan.
> “Kamu bikin DJD repot banget malam ini, Lyra.”
“Kalian ikutin aku terus dari tadi?”
“Bukan ngikutin. Cuma... memastikan kamu nggak bikin kesalahan yang sama kayak Pharma.”
Dia maju satu langkah. Lyra mundur satu langkah.
Tangannya nyari sesuatu di dalam tas scanner darurat atau apalah yang bisa jadi senjata, tapi Kaon lebih cepat. Dia udah deket banget.
> “Aku janji, ini nggak akan lama,” bisiknya, suaranya datar tapi menusuk.
“Maaf, tapi aku nggak bisa ikut janji orang yang pakai senyum palsu.”
Lyra hampir berhasil buka pintu, tapi pergelangan tangannya ditahan. Cengkeramannya dingin banget—kayak tangan yang nggak punya nadi.
Seketika—lampu bar padam. Dari luar, kedengeran suara langkah cepat dan... bunyi keras seperti sesuatu dijatuhkan.
Semua lampu di bar itu tiba-tiba padam.
Gelap.
Yang kedengeran cuma suara hujan di luar dan napas Lyra yang mulai berat.
Cahaya terakhir cuma datang dari kilatan petir yang masuk lewat jendela pecah di ujung lorong. Sekilas aja—cukup buat Lyra ngeliat bayangan Kaon masih di situ. Deket banget.
> “Apa yang kamu mau?” suara Lyra pecah, tapi tetap nekan rasa paniknya.
Kaon gak langsung jawab. Dia malah ngangkat tangannya pelan, nyentuh pipi Lyra dengan ujung jarinya. Dingin—dingin kayak logam.
> “Kau... dokter yang punya tangan halus, ya? Sayang kalau nanti hilang.”
Lyra nyoba mundur, tapi tubuhnya kaku. Nggak bisa gerak.
Kakinya gak nurut. Kayak ada sesuatu di udara yang bikin ototnya nge-freeze.
> “Apa yang kamu lakuin ke aku?”
“Sedikit stimulasi saraf... jangan panik. Aku cuma pengen kamu dengerin dulu.”
Suara Kaon tenang banget. Terlalu tenang buat situasi kayak gini.
Dia jongkok dikit, sampai wajahnya sejajar sama Lyra yang bersandar di dinding. Jarak mereka? Mungkin cuma satu napas.
> “Pharma lagi main bahaya,” katanya datar, matanya ngelirik ke bawah seolah mikir sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Dan kamu, Lyra Raven... kamu kebetulan ada di titik yang bisa ngebalikin keadaan atau ngancurin semuanya.”
Lyra cuma bisa ngeliatin dia. Degup jantungnya makin keras, tapi tubuhnya tetep nggak bisa gerak.
> “Kenapa aku?”
“Karena kamu dokter muda yang masih percaya semua orang bisa diselamatkan.” Kaon senyum tipis, tapi bukan senyum manusia normal. Itu senyum orang yang udah sering ngeliat dunia hancur dari dekat.
“Dan sayangnya, di dunia kami orang kayak kamu adalah senjata paling berbahaya.”
Dia berdiri, nunduk dikit, dan bisik pelan banget di telinga Lyra:
> “Kau akan ngerti... nanti. Kalau semuanya udah mulai meledak.”
***
Tubuh Lyra masih kepegang kuat di dinding. Dingin. Napasnya berat.
Kaon masih di depan, wajahnya separuh tertutup bayangan lampu yang kedip-kedip dari atap bar.
Dan tiba-tiba
> Cekrek cekrek.
Suara kecil di ujung lorong.
Lyra refleks noleh.
Tikus, cuma tikus kecil yang lari nabrak kaleng. Tapi itu cukup buat Kaon nengok setengah detik.
Insting dokter Lyra kalah sama insting manusia normal:
Dia liat potongan kayu di lantai, entah dari mana asalnya.
Tangannya langsung nyambar.
> “Maaf...” dia bisik kecil, lebih ke dirinya sendiri.
Lalu BRAK!
Kayu itu mendarat keras di sisi kepala Kaon—
dan pas Kaon nunduk spontan, lutut Lyra naik cepat ke arah yang... yah, strategis.
> “ARGH!”
Kaon jatuh setengah tersungkur, suara logam di ikat pinggangnya mental ke lantai.
Lyra mundur, panik, tapi gak berhenti liatin Kaon yang meringkuk di lantai, tangannya nutup wajah, nafasnya megap-megap.
Darah—tipis, tapi nyata—ngalir di pelipisnya.
Dan itu yang bikin Lyra ke-freeze.
Tangannya gemetar, kayunya jatuh, dan matanya melebar.
> “Aku... aku gak bermaksud...”
Dia nyari handle pintu. Nggak bisa. Terkunci dari dalam.
Kaon yang meringkuk di lantai masih ngeluarin suara berat, antara kesakitan dan tawa aneh yang pelan-pelan muncul dari tenggorokannya.
> “Kau pikir bisa kabur begitu saja?” suaranya parau, serak. Tapi bukan marah. Lebih ke amused seolah kesakitan itu malah lucu buatnya.
Lyra makin panik.
Dia nyari-nyari cara lain, jendela, ventilasi, apa aja. Tapi ruangan itu cuma satu pintu, satu kaca kecil tinggi, dan bayangan Kaon yang pelan-pelan mulai bangkit.
> “Aku cuma mau nolong pasien...” suara Lyra lirih, lebih kayak doa daripada pembelaan.
“Aku gak mau ini.”
Kaon ngelap darah di pipinya, lalu liat tangan Lyra yang gemetar.
> “Lucu,” katanya datar, “kau nyerang, tapi masih takut nyakitin.”
Dia jalan pelan ke arah Lyra, langkahnya berat tapi pasti.
Lyra mundur, sampai punggungnya nabrak wastafel.
Udara di ruang itu dingin banget, tapi keringat Lyra malah netes deras.
> “Lepasin aku...”
“Kau bahkan gak yakin ingin kabur atau nolong aku. Aneh ya, manusia selalu bingung di tengah dua hal yang mereka anggap benar.”
Kaon masih meringkuk di lantai, napasnya berat, satu tangannya menahan bagian bawah tubuhnya sambil mengumpat pelan, “Agh sialan... kecil-kecil tapi brutal juga kau, hm?”
Suara geram itu pecah di antara dengung lampu kamar mandi yang bergetar.
Lyra berdiri kaku di pojok, wajahnya pucat tapi mata besarnya penuh panik. Ia pegang kayu itu erat-erat, ujungnya gemetaran. “K-kau yang duluan mau nyulik aku!” katanya cepat, tapi suaranya bergetar.
Kaon tertawa pelan, serak. “Nyulik, iya... tapi kau malah nyerang duluan. Aku sampai mikir, jangan-jangan kau juga dari DJD versi... manusia kecil?”
Ia nyeringai, meski wajahnya masih menahan sakit.
Lyra bergeser sedikit, tapi nggak berani ninggalin. Pintu masih terkunci, dan kunci ada di saku Kaon yang masih terguling di lantai.
“Aku... aku cuma mau pulang,” katanya lirih. “Aku bahkan nggak tahu ini kota apa.”
Kaon ngangkat kepalanya pelan, rambutnya berantakan. “Lavender,” katanya pendek. “Dan, oh... kau nyasar jauh sekali, gadis baik.”
Nada suaranya seperti menggoda, tapi tatapannya kali ini sedikit lebih kalem, entah karena lelah atau karena ia sadar Lyra bukan ancaman.
Lyra masih bingung mau ngapain. Setiap kali ia mau ambil langkah, matanya selalu nyangkut ke Kaon yang meringis sambil sesekali ngeluarin desahan tertahan.
Ia gigit bibir, lalu akhirnya jongkok sedikit, dengan ekspresi nyesel. “Sakit banget, ya...?” tanyanya pelan.
Kaon ngakak setengah batuk. “Pertanyaan itu... retoris banget, sayang.”
Lyra makin panik. “Aku minta maaf!”
“Jangan minta maaf, lain kali sikat aja sekalian kepalaku, biar tuntas,” gumam Kaon, lalu bersandar ke dinding.
Lyra pelan-pelan deketin, ngerasa bersalah. “Aku cuma... refleks.”
“Refleks yang bisa ngebunuh kebanggaan pria,” sahut Kaon dengan nada setengah geli setengah menderita.
Hening sebentar.
Suara tikus tadi masih sesekali kedengaran di balik dinding, bikin suasana makin absurd.
“...Kau beneran nyulik aku, kan?” tanya Lyra lagi, suaranya kecil.
Kaon nyengir, meski jelas belum pulih. “Rencananya begitu.”
“Masih mau?”
“Setelah ini?” Ia mendesah panjang, lalu menatapnya dari bawah, “...nggak tahu. Kau terlalu... unpredictable buat diseret tanpa helm baja.”
Lyra melipat tangannya, wajahnya canggung antara takut dan bingung. “Aku bisa bantu ambilin air kalau mau,” katanya akhirnya, suaranya pelan tapi tulus.
Kaon menatapnya lama, lalu senyumnya muncul, samar tapi nyata. “Kau aneh.”
“Orang-orang sering bilang gitu,” jawab Lyra, pelan.
Kamar mandi itu jadi senyap..tapi