NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

CAPTER 7

TIDAK BISA TIDUR

Setibanya di rumah Hasan terus dicerca pertanyaan oleh Andik, Ilyas dan Ilham. Dia bingung harus memulainya dari mana untuk menjelaskan ke mereka bertiga. Dengan tampang lesu dia merebahkan tubuhnya diatas kursi di ruang tengah. Tangannya meraih remot tv dan menyalakannya meski tidak benar-benar menonton.

Tiga kunyuk mengikutinya, mereka juga duduk di kursi yang sama dengan Hasan. Tak tahan lagi dibuntuti dan diintimidasi dengan pertanyaan – pertanyaan, Hasan mulai membuka suara.

“Tadi itu calon istrinya mas.” Dengan suara pelan.

“Aihhh...beneran Mas?!.” Ilham terkaget.

“Iya....” Masih dengan suara yang sama.

“Kenal dari mana Mas?.” Andik ikut bertanya.

“Seleranya Mas bener-bener beda...aku pikir calonnya itu kayak neng Salma!.” Ungkap Ilham.

Hasan yang mendengar perkataan Ilham langsung protes, hatinya tidak terima dengan pendapat sepihak dan terburu-buru hanya karena sebuah penampilan luar saja padahal mereka belum mengenalnya dengan benar.

“Jangan berstatmen...kalian kan belum kenal dia." Membela Naura.

“Ciehh...nggak terima padahal aku bilangnya cuma berbeda.” Ilham menggoda.

“Tapi nada suaranya itu kunyuk...nggak suka aku dengarnya!."

“Terus nikahnya kapan Mas?." Andik tiba-tiba mengajukan pertanyan.

Hasan terdiam mendengar pertanyaan pamungkas dari Andik, dia ragu untuk menjawab.Tangannya memijat-mijat pelipis matanya dan juga menghela nafas panjang. Tiga kunyuk yang sudah tidak sabar menunggu Hasan bersuara, mengguncang lengan Hasan.

“Mas!.” Ilyas berucap sambil mengguncang lengan Hasan.

“Nikahnya besok pagi....” suara Hasan nyaris tidak terdengar.

“Be-besok Mas!." Mereka kompak membuka mulut selebar-lebarnya dan bola matanya melotot seolah akan keluar dari tempatnya.

“Hmmm....” Sambil menganggukkan kepala.

“Mantap Jiwa!.” Seru Ilham.

“Mas...gimana sama persiapan tempurnya?! ” tanya Andik si Tukang Pijat.

“Persiapan tempur...Maksudmu?!." Sentak Hasan.

“Yahh..kan harus ada persiapan Mas...apa mau aku buatin jamu?!.” Tawarnya.

“Nggak usah!.”

“Tapi Mas...meski nggak punya pengalaman harus tetap sangar, entar malah monoton!.”

Ucap Ilyas sambil tertawa.

Seketika Hasan menendang kaki Ilyas dan segera bangkit dari duduknya.

“Sesekali Mas nonton film dewasa biar bisa ngimbangi!." Ujar Ilham menambah ramai

suasana.

Hasan kehilangan muka mendengar usulan Ilham, wajahnya merah padam karena menahan rasa malu. Alih – alih menutupi rasa malunya dia berucap,

“Ngapain nonton kan tinggal buka kitab FATHUL IZAR."

Mendengar nama kitab itu disebutkan, tawa tiga kunyuk langsung meledak. Tak pelak tawa mereka semakin membuat Hasan malu, merasa mendapatkan pukulan telak.

“Kalian kosong nggak besok?.” mengalihkan tema pembicaraan.

“ Aku kosong Mas.” Ilyas mengacungkan diri

“Aku juga Mas.” Sahut Andik.

“Cuma aku yang nggak kosong, emangnya kenapa Mas?.” tanya Ilham.

“Aku berencana ngajak kalian ke acara akad nikahnya aku besok.” Hasan menjelaskan.

“Beneran Mas?!.” Ilyas memastikan.

“Iya... ” Jawab Hasan sambil berjalan menuju kamar.

“Aku bisa Mas...aku juga kosong!.” Ilham langsung berubah

“Katanya tadi kosong?!." ucap Hasan sambil tertawa kecil.

“Anggap aja kosong....” Seru Ilham.

Begitu masuk kamar Hasan langsung menutup pintu rapat-rapat. Dia teringat Naura hari ini dengan pakaian yang dianggap terlalu seksi. Tangannya langsung meraih telepon genggam di dalam tas kecil yang dibawanya tadi. Lalu mengirim chat ke Naura.

“Maaf Mba tadi itu saya kurang suka sama pakaiannya.” Chat dikirim dan langsung dibaca oleh Naura.

“Emang ada yang salah sama dressku?." balas Naura.

“Menurutku itu kependekan...mengundang laki-laki berpikiran kotor.” Balas Hasan.

“Ohhh...berarti kamu tadi punya pikiran kotor ke aku?.” balas Naura.

“Mba-nya aku cuma ngingetin, takut Mba-nya ketemu sama orang nggak bener.” Balas Hasan.

“Kuatir nih ma aku?.” balas Naura dengan menambahi emoji hati.

“Teserah dirimu wes.” Balas Hasan.

“Mba boleh saya punya satu permintaan.” chat Hasan berikutnya

“Apakah itu?.” balas Naura.

“Tapi Mba-nya bersedia kan?!.” balas Hasan.

“Iya...apa gerangan?.” balas Naura.

“Saya mau besok Mba-nya pas akad nikah pakai hijab.” Balasan chat dari Hasan.

“Mmmm...OK hanya pas akad aja ya?.” balas Naura dan membubuhi emoji tangan.

Diluar kamar Andik, Ilyas dan Ilham tengah berdiskusi dengan serius, Ilham mengusulkan untuk memberikan hadiah pernikahan berupa kitab yang tadi disebut oleh Hasan kepada mereka. Usul pun langsung diterima oleh kedua temannya. Dengan mengendarai sepeda motor Hasan, Ilham dan Ilyas langsung keluar untuk membelinya disebuah toko di depan pasar. Toko yang menjual kitab-kitab klasik alias kitab kuning dan kitab yang dilengkapi dengan terjemahan.

Andik yang tidak ikut dengan mereka berniat untuk memijat pergelangan kaki Hasan dengan minyak urut. Dia berjalan kearah pintu kamar Hasan dan mengetuknya.

“Mas...bisa keluar bentar nggak?!.” pintanya.

“Mmmm...” Jawab Hasan dan membuka pintu kamar.

“Mas ayo duduk sini...mau aku urut lagi pakek minyak.” Ujar Andik.

“Nggak perlu wes ini uda agak mendingan.” Hasan menolak

“Masak diacara nikahannya cingkrang...entar dikira KO duluan sebelum tempur.” Ledek Andik.

Dengan kesal Hasan berjalan kearah Andik dan langsung duduk di kursi, diangkatnya

kakinya keatas kursi dan meluruskannya. Andik mulai menuangkan minyak dipergelangan kaki Hasan lalu mengurutnya pelan-pelan dan sesekali menekannya. Hasan yang merasa capek dengan mudahnya terlelap, namun belum lama terlelap dia dibangunkan oleh ocehan Andik.

“Mas...mau sekalian aku urutin bagian persenjataannya?." Sambil menepuk ringan tangan Hasan dan tersenyum padanya.

“Hehhhh...mulutmu!!.” Semprot Hasan.

“Aku kan cuma nawarin bantuan Mas!.” Jawabnya sambil menahan senyum.

“Kenapa nggak sekalian kamu buka praktek?.”

“Bener juga tu Mas.” Tawa Andik meledak.

Hasan kesal dibuatnya apalagi ketika Andik tertawa, serasa diejek olehnya Hasan meminta Andik menghentikan pijatan. Dengan segera dia bangkit dari kusri dan kembali ke kamarnya.

“Mas...gitu aja marah!." Teriak Andik.

“Ngapain aku marah...aku cuma mau istirahat.” Sambil menutup pintu kamar.

Begitu berada di dalam kamar, dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mencoba menutup matanya tapi tidak bisa, terus berguling – guling diatas kasur membuat kepalanya serasa tambah berat.

Diluar terdengar Ilham dan Ilyas membuat kegaduhan, untuk menghentikan mereka Hasan berderham sedikit nyaring. Seketika suasana berubah, tiga kunyuk dengan hati-hati berjalan memasuki kamar mereka. Melanjutkan rencana konyolnya, yaitu memasukkan kitab yang baru dibeli kedalam kotak dan tak lupa membungkusnya

dengan rapi.

“Baru sip ini!.” Seru Ilyas.

“Ada yang kurang.” Tiba-tiba Andik teringat sesuatu.

“Apa?!."

“Ham Ayo ikut aku.” Ajak Andik.

“Kemana?.” tanya Ilham.

“Ke toko jamu!." Sambil tertawa.

Sontak Ilyas dan Ilham ketawa mendengar ide baru dari Andik, tanpa menunggu lama lagi mereka langsung tancap gas. Sementara kedua temannya keluar, Ilyas kembali membongkar hadiah yang sudah terbungkus rapi dengan sangat hati – hati, maklum akal mereka agak melorot jadi beli kertas kadonya cuma selembar.

Setengah jam kemudian mereka kembali, sambil menahan tawa mereka masuk kamar dan melempar jamu yang dibeli kearah Ilyas.

“Telur ayamnya mana?.” tanya Ilyas.

“Mau dikasih telur juga, kalau pecah gimana?.” Ilham bertanya.

“Iya juga sihh.” Guman Ilyas.

“Woy gini aja kita tulisin dikertas MAAF MAS TELURNYA BELI SENDIRI YA.“ Andik mengusulkan idenya.

Semua tertawa dengan tambahan ide konyol itu, Andik bahkan segera mengambil kertas dan menulisnnya. Lalu menyerahkan kertas itu pada Ilyas. Semua sudah lengkap dan mereka memasukkan bersama dengan kitab yang tadi dan membungkusnya kembali.

“Hadiah sudah siap.” Seru Ilyas dengan girangnya.

------

Kediaman pak Malik

Naura berjalan menuruni tangga dan melangkahkan kakinya menuju sang ayah yang tengah duduk santai diruang tengah. Terlihat ayahnya sedang bicara dengan seseorang ditelepon, dia tidak berani menganggunya. Dia lebih memilih duduk disamping dengan pelan-pelan.

Mendapakatiputrinya tiba-tiba menghampirinya dan duduk dengan manis, pak Malik mengakhiri panggilan telefonnya. Meminta anaknya untuk pindah dan duduk disampingnya.

“Ada apa Sayang?." tanya pak Malik lembut.

“Pa ada sesuatu yang pengen Nana omongin sama Papa.”

“Soal apa Sayang?.”

“Pa Nana pengennya besok pakek hijab pas akad nikahnya.” Suaranya terdengar manja.

“Nana yakin?.” pak Malik memastikan.

“Ya yakinlah Pa.” Naura memeluk ayahnya.

Hati sang ayah dilanda kebahagian yang tak bisa diungkapkan mendengar perkataan putrinya. Baginya mungkin ini adalah awal baru untuk sang putri, apapun alasannya dan meski hanya pada saat acara akad nikah tapi dia yakin suatu hari nanti dia akan melihat putri cantiknya mengenakan hijab. Dan beliau siap menunggu hari itu tiba.

“Ok papa akan minta David ngurusin semuanya.” Jawab pak Malik sambil mencium kening putrinya.

Naura pamit untuk kembali kekamarnya, ketika hendak menaiki tangga dia dipanggil bik Siti. Dia memberi aba-aba pada Naura untuk menghampirinya. Naura yang penasaran ada apa gerangan bik Siti memanggil langsung mendatanginya.

“Ada apa Bik?.” tanya Naura begitu berada didepan bik Siti.

“Non bibik buatin Non jamu tadi sore...sini Non ikut bibik.” Terang bik Siti

Naura tak mampu berkata-kata, wajahnya memerah dan pupil matanya membesar ketika mendengar ucapan bik Siti. Naura terdiam dan patuh tak kala bik Siti menuntun tangannya dan membawanya masuk ke dapur. Lalu begitu memasuki dapur bik Siti melepaskan tangan Naura untuk menuangkan jamu di gelas. Senyumnya mengembang ketika menyerahkan segelas jamu itu pada Naura. Tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, Naura mengikuti instruksi bik Siti tanpa protes sama sekali begitu bik Siti memintanya meminum jamu itu.

“Rasanya nggak terlalu pahit Non...bibik udah nambahin gula jawa.” Papar bik Siti.

Dengan sekali tegukan Naura meminumnya.

“Bibik akan menyimpannya dikulkas Non.” tambahnya lagi.

Naura tersipu malu mendengar ucapan bik Siti, lalu pamit untuk kembali kekamarnya. Begitu tiba di kamar kesadaran Naura kembali, dia sangat kesal mendapati dirinya yang bertindak patuh.

“Sial jampi-jampi apa yang dibaca bik Siti biar aku jadi penurut.” Cacinya dihati.

Ditempat lain, aktivitas masih seperti biasa berkumpul diteras dan bermain karambol sambil asyik ngobrol ngalur ngidul. Tapi lain halnya dengan Hasan dia mondar mandir mengitari rumah. Bahkan malam semakin larut, tiga kunyuk juga sudah kembali ke sarangnya. Suasana ramai seketika berubah menjadi sunyi. Dia kembali melangkah keluar dari kamar, berjalan ke teras dan duduk termenung, berharap rasa kantuk akan menghampirinya. Tapi semakin ditunggu justru semakin menjauh pergi. Dia kembali masuk kedalam rumah dan menuju kamar untuk mengambil buku, mungkin dengan membaca dia akan tertidur. Lagi – lagi upayanya gagal, rasa kantuk seolah sedang marah padanya. Kesal tidak bisa memejamkan mata, Hasan mematikan semua lampu rumah yang masih menyala. Dalam kegelapan dan keheningan dia duduk termenung mengharapkan rasa kantuk datang.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!