Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 : Bukan orang penting
“Penjahatnya ketangkep, mas? Siapa …?” dia tidak sabaran ingin mengetahuinya.
"Bukan orang penting. Sepertinya manusia miskin yang sedang kelaparan, jadi nekat masuk hunian kita, niatnya mau mencuri padi di selepan belakang. Kasihan sebenarnya, tapi namanya kejahatan ya tetap harus diadili kan, dek?"
"Mas benar. Sekarang dia dimana? Boleh ndak aku melihatnya?"
“Husst … satu-satunya, dek. Kamu gemesin banget kalau lagi penasaran." Daryo mencubit pelan pipi Ainur.
"Jangan! Mas ndak mau kamu trauma, biar dia jadi urusan suamimu ini saja.” Tanpa aba-aba langsung mengecup bibir kering Ainur.
Hati Ainur meradang, sampai menahan napas demi menetralkan ekspresi jijik. Bila sebelumnya dia merasa didambakan, dicintai secara terang-terangan, kini seperti boneka yang dipermainkan sesuka hati.
“Kenapa malah bengong? Kok ndak membalas? Napas mas bau, ya? Atau mau lebih dari yang ini. Kebetulan kamu sudah bersih, kan?” Tangannya masuk ke dalam baju, meraba perut lalu naik hendak menyentuh pucuk dada kanan.
Hueg!
Hueg!
Ainur membekap mulut. Perutnya bergejolak, wajah memerah. Dia belum pintar mengendalikan diri.
“Sayang ….” Daryo terduduk, turun dari tempat tidur, langsung membopong tubuh ringkih ke kamar mandi.
Sekujur badan Ainur bergetar, reaksi alami kala dia baru saja mendapatkan serangan disaat sudah mengetahui semuanya. Dari yang merasa diratukan, ternyata cuma dimanfaatkan, terlebih sepertinya pria ini memiliki penyakit gangguan mental – bersetubuh juga dengan Kamila. Dan statusnya cuma dijadikan simpanan.
Ainur mencoba muntah, cuma air ludah yang keluar, terasa pahit di lidah.
Daryo memijat tengkuk Ainur. Jari jempolnya sengaja menekan luka bekas sayatan di leher.
Ainur meringis. “Leherku kenapa, mas? Kok sakit?”
Napas pria itu terhenti, ekspresinya berlebihan. “Maaf sayang, mas lupa kalau leher kamu terluka.”
Daryo menarik lengan Ainur, menjepit dagu sang wanita agar sedikit mendongak. Dia tiup-tiup garis sedikit memanjang yang kembali merembes darah akibat ulahnya.
“Sikat gigi dulu sayang, baru itu mas obati lukanya.”
Ainur menurut, tidak mungkin menolak semua, memperlihatkan perubahan drastis.
Kendatipun kakinya masih bergetar, dia berhasil menyikat gigi dan membasuh wajah.
Daryo membopong lagi, lalu mendudukan Ainur di tepi ranjang. Dia sibuk memilihkan pakaian ganti, sampai dalaman pun disiapkan.
Dengan menahan jijik, risih, apalagi dia tahu kalau dirinya cuma dijadikan alat pemuas nafsu serta pencetak anak, Ainur berganti pakaian disaksikan Daryo. Hal biasa dilakukan, tapi sekarang terlihat memuakkan sekaligus mengerikan baginya.
“Mas keluar sebentar nggeh, ambil obat dan teh herbal. Sepertinya kamu masuk angin.” Ia sempatkan mengelus rambut ikal Ainur.
“Cepatlah malam Jumat. Tak peduli bagaimana caranya, apa tetap jadi simpanan, digauli layaknya wanita penghibur, asal aku bisa membalas para manusia menjijikan ini, maka tak terjang semua halangan.” Dia berdiri di depan cermin. Melihat bengkak pada kening, luka di leher.
Ainur berdiri menyamping, menaikan dress longgar yang dikenakan. Punggungnya lebam-lebam dan ada beberapa bagian bengkak. Ketika mendengar suara langkah kaki, cepat-cepat dia turunkan lagi bajunya, lalu duduk di tepi ranjang.
Daryo masuk ke kamar sambil membawa nampan – ada teh masih panas, sepiring kue, dan botol salep untuk luka luar.
“Ayo sarapan, dek. Mas sengaja belum berangkat kerja disaat sudah jam sepuluh. Ndak tega meninggalkan kamu seorang diri meskipun ada ibu dan lainnya.” Kakinya menarik bangku meja rias, mendekatkan ke tepi ranjang, lalu meletakkan barang bawaannya di sana.
‘Bagaimana caranya aku menghindari teh itu?’ ia mencari cara agar terhindar dari minuman beracun.
Ainur mengangguk, pertama dia mengambil kue getuk lindri, berbahan dasar singkong.
"Mas, bisa minta tolong olesi salepnya sekarang? Nyeri banget punggungku,” pintanya memelas.
“Nggeh sayang.” Daryo naik ke atas tilam, duduk di belakang Ainur. Meminta si wanita untuk berdiri sebentar agar dress nya bisa diangkat.
Pyarr!
“Akhh … panas!” Ainur berjingkrak-jingkrak pelan, paha dan lutut betulan panas tersiram air teh yang masih beruap. Tadi, dengan sengaja bawah kursi ada palangnya disungkit menggunakan jempol kaki agar terbalik.
“Gob ….” hampir saja umpatan itu sempurna, dia langsung mengerem dan memperbaiki ekspresi.
Aryo turun dari ranjang, berjongkok menunjukkan perhatian. Dres Ainur dinaikan, dan kulit memerah akibat tumpahan teh ditiup-tiup.
“Maaf nggeh, mas. Aku ndak sengaja, tadi ….” Ainur menangis bersuara, berpura-pura tidak bisa melanjutkan kata.
Daryo berdiri, memeluk lembut wanita yang terisak-isak. Dibalik bahu Ainur, dia tengah berusaha mengontrol emosi.
“Nggak apa-apa, sayang. Mas yang salah. Harusnya menjauhkan kursi tadi. Mas ambilkan lagi ya sarapannya.” Ia melerai pelukan mereka, membingkai wajah yang cekung pipinya terlihat. “Mas sayang sama kamu, tidak mungkin tega memarahi. Dirimu lebih berarti daripada piring dan minuman terjatuh tadi.”
‘Jelas aku berarti, paling tidak sampai para bayiku berhasil dilahirkan. Bedebah memang kamu Daryo!’
“Mas, minta tolong mba Neng saja yang membereskan. Kamu pasti sibuk mau ngurusin kebun sama sawah. Aku ndak apa-apa. Sungguh,” ekspresinya meyakinkan, membalas tatapan dengan sama lembutnya, bahkan menambahkan dengan kecupan singkat pada rahang ditumbuhi bulu-bulu halus belum dicukur.
Daryo langsung setuju, suasana hatinya sedang tidak baik. Nyaris kedoknya terbongkar. Citranya sebagai suami lembut, memuja sang istri, sangat mencintai, hampir luntur dikarenakan kecerobohan Ainur.
Ketika Daryo sudah keluar dari kamar – Ainur tersenyum culas, mengesampingkan rasa sakit. Dia melangkah hati-hati menghindari memijak pecahan piring dan gelas kaca.
Ainur membuka laci meja rias paling bawah, mengambil sesuatu, lalu kembali duduk di tepi kasur sisi lain yang tidak basah. Benda tadi disembunyikan dibawah selimut.
Ketukan pintu disahuti olehnya. “Masuk saja, mba!”
Mba Neng masuk, membawa nampan berisi sama. Kudapan, secangkir teh. Kain lap tersampir pada pundak, untuk membersihkan pecahan kaca yang berserak. Di dalam kamar sang majikan, ada sapu ijuk berikut serokannya.
Nampan diletakkan pada meja rias. Dia menulis sesuatu. ‘Mau makan atau minum teh hangatnya dulu, nyonya?’
“Nanti dulu, mbak. Tolong obati lukaku sebentar,” pinta Ainur lirih.
Mba Neng mengangguk, menurunkan kain lap, dia membungkuk mengambil botol salep di lantai. Setelahnya melangkah ringan.
"Tolong salepnya dioles ke paha dan lutut dulu, mbak.” Ainur memajukan sedikit kaki kirinya. Masih tertekuk.
Pelayan bisu itu berjongkok terus bersimpuh, membuka tutup botol, dan mulai mengolesi krim berwarna putih ke paha, lanjut betis.
Ainur melirik tajam, tangannya meraba bawah selimut, mengambil benda yang tadi dia sembunyikan.
Sialnya gerakannya terbaca – tali gorden yang akan dijadikan senjata menjerat leher mba Neng terlempar jauh, ditepis wanita itu.
Ainur menendang bahu mba Neng, tapi wanita berekspresi datar tetap bergeming, menatap santai sang nyonya.
Ainur tidak kehilangan akal, dia ambil benda satunya lagi, lalu berdiri. “Siapa kamu sebenarnya? Katakan! Kalau tidak ingin gunting ini menusuk tepat di jantungku! Bila aku mati, ketiga putraku juga bakalan menyusul ke alam baka. Mengakulah!”
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??