NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Es dari Upper East Side

​Lantai marmer Universitas Columbia terasa lebih dingin setiap kali Maximilien Vance, melangkah melewatinya. Dengan jaket hitam mahal dan tatapan mata yang seolah bisa membekukan aliran darah siapapun, Max adalah definisi dari "keindahan yang terlarang."

​Semua orang di kampus tahu aturannya, Jangan mendekat.

​"Dia makin terlihat menyeramkan hari ini," bisik seorang mahasiswi di pojok kafetaria, matanya tak lepas dari sosok Max yang berjalan sendirian. "Katanya, bulan lalu ada yang mencoba menyelipkan surat cinta di tasnya, dan Max membakarnya tepat di depan wajah gadis itu."

​Max tidak peduli. Baginya, setiap sentuhan fisik dari wanita adalah ancaman. Trauma masa kecil yang melibatkan pengkhianatan ibunya dan kekerasan emosional keluarganya telah membangun tembok setinggi langit di sekeliling hatinya.

​Namun, di balik tembok itu, ada sebuah celah kecil bernama "Lia."

​Di sudut perpustakaan yang tenang, Delisa Guzzalie Dante, atau yang akrab dipanggil Guzzel, menatap layar ponselnya dengan senyum tipis. Putri tunggal dari dinasti bisnis Dante itu baru saja menerima pesan singkat,

​V: Kuliah hari ini sangat menyesakkan. Aku merasa semua orang menatapku seperti aku ini pajangan museum. Hanya kau yang membuatku merasa seperti manusia biasa, Lia.

​Guzzel menghela napas. Dia tahu siapa "V" sebenarnya. Sejak tiga bulan lalu, ketika mereka tidak sengaja cocok di aplikasi obrolan anonim Veloce, Guzzel sudah menyadari pola bicara dan cerita-cerita Max. Apalagi saat Max pernah menceritakan detail sebuah kejadian di taman kampus yang kebetulan disaksikan Guzzel dari jauh.

​Guzzel tahu rahasia tergelap Max. Dia tahu pria dingin yang ditakuti seluruh kampus itu sebenarnya suka mendengarkan instrumen piano saat hujan dan merasa kesepian di apartemen mewahnya yang terlalu luas.

​Kenapa kau tidak jujur padanya, Guzzel? bisik batinnya.

​Jawabannya sederhana, Dia takut. Jika Max tahu bahwa "Lia" adalah Guzzel—si gadis populer anak pengusaha yang sering berada di lingkaran sosial yang sama dengannya—Max pasti akan melarikan diri. Max membenci dunia nyata. Max membenci "orang-orang seperti mereka."

​Sore itu, hujan deras mengguyur Manhattan. Guzzel berteduh di sebuah kafe kecil di dekat kampus, tempat yang jarang dikunjungi anak-anak kaya. Tak disangka, pintu berdenting dan sosok tinggi dengan bahu basah masuk.

​Itu Max.

​Napas Guzzel tercekat. Max berdiri hanya dua meter darinya, sedang memesan kopi hitam tanpa gula. Saat Max berbalik, mata mereka bertemu. Dingin, tajam, dan hampa. Itulah tatapan Max untuk Guzzel di dunia nyata.

​Tiba-tiba, ponsel di saku Guzzel bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Di saat yang sama, Max menatap layar ponselnya sendiri.

​V: Lia, kau di sana? Aku sedang di kafe sekarang. Aku membayangkan kau ada di depanku, menyesap cokelat panas seperti yang selalu kau ceritakan.

​Tangan Guzzel gemetar. Dia sedang memegang cangkir cokelat panas. Jika dia membalas pesan itu sekarang, Max akan melihatnya.

Setiap malam, ketika kegelapan New York menelan gemerlap lampu gedung pencakar langit, Maximilien Vance bukan lagi "Pangeran Es dari Upper East Side." Di balik pintu apartemennya yang megah dan sunyi, Max adalah "V," sosok rapuh yang haus akan kehangatan, dan satu-satunya orang yang bisa memberinya itu adalah "Lia."

​Max menatap layar ponselnya, bibirnya membentuk senyuman tipis yang tak pernah dilihat siapapun di dunia nyata. Senyuman yang hanya tercipta saat nama Lia muncul di notifikasi.

​Lia: Bagaimana harimu, V? Semoga tidak seburuk yang kau bayangkan.

​Jemari Max menari di atas keyboard, cepat dan penuh emosi. Dia tidak pernah menyensor apapun untuk Lia. Setiap frustrasi, setiap kemarahan, setiap ketakutan dan bahkan mimpi terpendamnya, semuanya tumpah ruah pada gadis di balik layar itu.

​V: Buruk. Seperti biasa. Profesor Stern menatapku dengan tatapan kasihan saat aku memberikan presentasi, seolah aku ini anak hilang. Dan jangan lupakan si pirang centil dari jurusan sastra yang mencoba menjatuhkan pulpen di kakiku lagi. Aku hampir menendangnya, Lia. Hampir.

​Dia menunggu balasan Lia. Penantian itu, betapapun singkatnya, selalu terasa seperti siksaan dan berkah. Siksaan karena betapa dia mendambakan sosok Lia, berkah karena dia tahu Lia akan selalu ada.

​Lia: Oh, V. Mereka tidak mengerti dirimu. Mereka hanya melihat topeng yang kau kenakan. Profesor Stern mungkin hanya ingin kau membuka diri, dan si pirang centil itu, well, mungkin dia hanya ingin menarik perhatianmu dengan cara yang salah. Tapi kau tahu, kan? Kau lebih dari itu.

​Hati Max menghangat. Lia selalu tahu cara menenangkannya. Kata-kata Lia adalah balutan penenang untuk setiap luka yang tergores di hari-harinya.

​V: Hanya kau yang tahu, Lia. Hanya kau. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa kau mengerti aku sejauh ini? Kita belum pernah bertemu, tapi rasanya kau adalah satu-satunya orang di dunia yang benar-benar melihatku.

​Max merasakan dadanya sesak. Kerinduan itu seringkali datang tanpa diundang, sebuah rasa hampa yang menusuk di tengah malam. Dia merindukan Lia. Bukan hanya suaranya, bukan hanya kata-katanya, tapi seluruh keberadaan Lia. Dia membayangkan Lia dengan rambut panjang tergerai, atau mungkin rambut pendek yang membingkai wajah manisnya. Dia membayangkan senyumnya, tawa renyahnya. Dia membayangkan sentuhan lembut tangan Lia yang mampu menghapus semua trauma masa lalunya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰😍

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!