Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Pengin Nimang Cucu
Setelah hari kedua menikah, Kenzie kembali disibukkan dengan aktivitas pekerjaannya. Seperti biasa ia akan bangun sebelum subuh dan kali ini menyeduh teh sambil memanasi ayam bakar yang ia beli tadi malam.
"Kira-kira anak itu sudah bangun apa belum ya?" gumam Kenzie.
Beberapa detik kemudian Kenzie langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ngapain juga peduli sama anak itu!"
Hari ini Kenzie tidak membawa bekal karena masih malas untuk memasak, sarapannya pun hanya sisa yang ia panasi, untuk makan siangnya ia akan beli di kantin.
Operasional pabrik mulai pukul 07.30 WIB. Kenzie keluar dari kontrakannya jam 06.15 WIB agar tidak terjebak macet karena jam yang sama dengan anak-anak sekolah.
Sementara itu, Kenzo baru membuka mata dan melihat jam pukul 07.45 WIB. Hari ini ia dan Zaky sudah memiliki janji untuk membahas tentang kesepakatan mereka.
"Ngantuk banget lagi!" gumam Kenzo masih menguap.
Kenzo menghentikan langkahnya ketika hendak ke kamar mandi, ia menoleh ke kamar satunya dan langsung membuka pintu tersebut setelah mengikuti kata hati.
"Bisa-bisanya gue nggak bisa tidur malah kepikiran cewek tengil ini! padahal sudah video call sama Gita," gumam Kenzo heran dengan dirinya sendiri.
Lagi-lagi Kenzo berhenti saat teringat sesuatu.
"Kalau nanti papa benar-benar ke sini, pasti sekalian mau memastikan keadaan kita, berarti si tengil harus ada di sini!" gumamnya langsung berpikir macam-macam.
Kenzo menunda pemikirannya itu karena belum mencuci muka.
Setelah selesai mencuci muka, Kenzo langsung menyeduh kopi, tidak lupa rokok dan roti sebagai temannya sebelum beraktivitas, sekaligus menenangkan pikirannya terlebih dahulu agar mendapatkan solusi.
Di belakang memang ia gunakan untuk bersantai. Meskipun kecil, cukup untuk dirinya sendiri sebagai tempat dalam mencari ketenangan.
Sebagai anak tunggal, Kenzo memang sudah mendapatkan suntikan dana untuk memulai bisnisnya. Namun, jika Kenzo tidak mampu mengelola, sudah pasti usaha tersebut tidak akan berjalan.
Kenzo membuktikan pada orang-orang yang meragukannya bahwa ia tidak pernah salah dalam mengelola dana dari orangtuanya.
Saat sudah siap berangkat bekerja, tiba-tiba ponselnya berdering dan Kenzo langsung menjawabnya.
"Iya Pa," jawab Kenzo.
Kenzo mendengarkan dengan baik saat Zaky berbicara karena mereka sedang membahas tentang ambisi Kenzo.
"Dia kerja, nggak papa nanti 'kan pulangnya juga sore. Dia pulang, aku sudah di rumah." jelas Kenzo.
"Hmmm, iya, Kenzie Pa, sama aja."
Kenzo menutup telepon dari Zaky dan langsung menghubungi seseorang untuk lebih cepat. Ia tidak bisa menghubungi Kenzie karena sedang jam bekerja.
"Iya buruan ya, Mbak! pokoknya keperluan pribadi yang paling utama! nggak usah lengkap banget, tapi, semua yang paling penting." ujar Kenzo.
Kenzo mendengar seseorang di sana sedang menjelaskan.
"Ya, Mbak. Saya minta tolong ini penting banget,"
Zaky sedang dalam perjalanan untuk menjemput Kenzo bersama dengan Mia. Meskipun diperkirakan masih cukup lama, Kenzo tetap tidak bisa tenang. Kenzo sudah menghubungi seseorang yang bekerja di rukonya untuk mencarikan keperluan Kenzie.
"Berarti meja rias juga harus dipindah ke kamar gue dong?" gumam Kenzo.
Kenzo langsung bergegas memindahkan meja tersebut, sementara lemari cukup miliknya saja karena masih banyak ruang kosong.
Tiga puluh menit kemudian, barang-barang yang ia pesan pun datang. Kenzo langsung menerima dan mempersilahkan wanita itu pergi karena tidak ingin orang lain masuk ke dalam rumahnya.
"Untung aja toko-tokonya nggak jauh-jauh, Mas." ujar wanita itu sembari menyerahkan pesanan bosnya.
"Terima kasih ya, Mbak." ucap Kenzo.
Kenzo langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dan membongkar isi di atas ranjang. Ia terbelalak melihat berbagai macam jenis dan bingung bagaimana menyusunnya.
"Baju harian, baju jalan, baju tidur, underwear, dih pake ada baju dinas malam juga!" gumam Kenzo merinding ketika menyentuhnya.
Dengan keadaan terpaksa dan merinding, Kenzo menyusun barang-barang tersebut ke dalam lemari dan meja rias sesuai dengan jenisnya. Untuk menyusun keperluan Kenzie itu, Kenzo harus menonton tutorial di YouTube agar tidak terlalu berantakan.
Kenzo tidak habis pikir kenapa asistennya itu membelikan baju dinas malam juga sehingga membuat pikirannya sedikit kacau.
"Gue pesen barang yang paling penting, kenapa mbak Retno beli ini juga?" gumam Kenzo saat memegang satu set baju dinas itu.
"Otak m3sum!" umpat Kenzo pada dirinya sendiri
Kenzo langsung memukul kepalanya sendiri karena dengan spontan membayangkan baju itu dipakai oleh Kenzie dan sedang menggodanya saat tengah bekerja.
"Gue harus kabarin si tengil, nanti sore harus pulang ke sini!" gumam Kenzo.
Zaky dan Mia sedang dalam perjalanan yang sudah hampir sampai. Mereka sengaja mengabari perjalanan hari ini secara mendadak, karena akhir pekan ini ada acara lain.
"Kira-kira kelabakan nggak tuh mereka," ujar Mia.
Zaky tertawa mendengarnya.
"Kalau mereka berbohong ya pasti kelabakan, kalau nggak ya pasti santai," jawab Zaky.
Zaky dan Mia merupakan orangtua yang tidak bisa ditebak, Kenzo sampai geregetan sendiri menghadapi mereka. Awalnya akan menjemput Kenzo di bengkel, tetapi Zaky menghubungi putranya dan ingin berkunjung ke rumah.
"Masuk dulu Pa, Ma," titah Kenzo.
"Kita belum masak, bangun kesiangan, jadi beli di luar," ujar Kenzo berbohong.
"Berangkat jam berapa istrimu?" tanya Mia.
Kenzo sangat merutuki dirinya karena harus berpikir keras.
"Emm, jam berapa ya tadi, sekitar jam setengah 7 kayaknya." jawab Kenzo asal.
Mia menatap putranya dengan kecurigaan.
"Mama boleh lihat kamar?" tanya Mia.
Kenzo langsung mengangguk, "Boleh, boleh dong." jawab Kenzo mengizinkan.
Apa yang diperkirakan dan dikhawatirkan Kenzo benar-benar terjadi. Beruntung ia langsung gerak cepat untuk mempersiapkan semua ini.
Mia mengitari pandangannya di kamar Kenzo, ia langsung fokus pada meja rias dan perlengkapan yang terlihat masih baru semua.
"Aku mau ke depan, ngobrol sama papa dulu," ujar Kenzo.
Mia mengangguk.
"Huuuuhh! semoga percaya-percaya aja deh biar cepat cair!" bathin Kenzo.
Kenzo dan Zaky sedang membahas tentang kesepakatan mereka. Zaky juga bukan tipe orangtua yang gemar ingkar janji. Ia menjelaskan dengan rinci pada putranya.
Sementara itu, Mia benar-benar penasaran dengan situasi anak dan menantunya itu setelah resmi menikah dua hari yang lalu.
"Coba lihat lemarinya, ada baju-bajunya Kenzie apa nggak," gumam Mia dengan jiwa penasaran.
Mia menoleh ke pintu terlebih dahulu, setelah tidak terlihat oleh mata, ia pun menggeser pintu lemari untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.
"Wow wow wow!"
Mia cukup tercengang melihat 3 stel pakaian dinas berwarna hitam, maroon, dan broken white. Namun, ia cukup senang karena ada upaya dan harapan bagi Kenzo dan Kenzie untuk menumbuhkan rasa diantara mereka.
"Hmm, semoga mereka bisa cepat-cepat saling menerima dan saling mencintai," gumam Mia sambil menutup lemari.
"Nggak sabar pengin cepat-cepat nimang cucu, hihi."
Bukan hanya kamar, Mia juga menyidak area dapur dan belakang. Di wastafel terdapat gelas kotor bekas Kenzo tadi pagi.
"Ayo Ma, kita jalan sekarang." ajak Zaky.
"Iya Pa," jawab Mia sedikit berteriak.
Setelah selesai mengobrol dengan Zaky, Kenzo langsung bergegas ke kamar saat melihat Mia sudah keluar dari kamarnya.
"Ngapain aja nih emak gue?" bathin Kenzo.
Kenzo langsung memutar bola matanya, tidak ada posisi yang berubah, tetapi ia melihat pintu lemari yang tidak rapat.
"Kepekaan dan kesigapan gue nggak bisa diragukan lagi, cocok dapat piala Oscar, haha!"
"Kenzo, ayo!" seru Mia.
"Iya, bentar, Ma." jawab Kenzo.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍