NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Amukan sang Vulture

Angin laut di Dermaga 7 berembus kencang, membawa aroma garam yang amis dan karat besi yang menyengat. Di balik tumpukan kontainer raksasa yang tersusun seperti labirin baja, kegelapan malam terasa jauh lebih pekat. Suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga terdengar seperti detak jantung yang memburu.

​Dante Valerius berdiri di tengah dermaga yang terbuka, diterangi oleh lampu sorot tunggal dari atas gudang tua. Ia tampak sangat sendirian di bawah cahaya pucat itu, namun auranya memenuhi seluruh tempat tersebut. Kemeja hitamnya berkibar diterpa angin, menyembunyikan rompi antipeluru dan jahitan di perutnya yang kini mulai merembeskan darah lagi akibat gerakan yang terlalu dipaksakan. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah koper hitam—umpan bagi keserakahan Marco.

​"Aku sudah di sini, Marco! Tunjukkan dirimu!" teriak Dante, suaranya menggema, menantang kesunyian dermaga.

​Dari kegelapan di atas balkon gudang, sebuah tawa kering terdengar. Marco muncul, berdiri di balik pagar besi dengan dua pengawal bersenjata laras panjang di sisi-sisinya. Dan di sana, di samping Marco, Bumi berdiri dengan tangan terikat ke depan. Wajah kecil bocah itu sembab, matanya memerah karena terlalu banyak menangis, namun saat ia melihat sosok Dante di bawah sana, sebuah harapan muncul di wajahnya.

​"Paman Robot!" teriak Bumi, suaranya parau.

​Rahang Dante mengeras. Melihat ketakutan di mata bocah itu membuat darahnya mendidih, lebih panas daripada peluru mana pun yang pernah menembus kulitnya. "Lepaskan dia, Marco. Koper ini milikmu. Surat kepemilikan pelabuhan ada di dalam. Ambil dan biarkan anak itu berjalan ke arahku."

​Marco tersenyum sinis, memperlihatkan deretan giginya yang kuning. "Kau pikir aku sebodoh itu, Dante? Jika aku melepaskan bocah ini sekarang, kau akan meratakan tempat ini dalam hitungan detik. Aku tahu siapa kau. Kau tidak pernah membiarkan musuhmu hidup setelah mereka menyentuh apa yang kau miliki."

​"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, Marco. Jangan membuat ini menjadi lebih sulit," desis Dante, tangannya diam-diam bergerak menuju belakang pinggangnya.

​"Aku ingin lebih dari sekadar pelabuhan, Dante. Aku ingin melihat sang Vulture berlutut," Marco memberi isyarat pada salah satu pengawalnya. Pria itu mengarahkan moncong senjatanya tepat ke pelipis Bumi.

​"Jangan!" Dante berteriak, suaranya pecah oleh kepanikan yang jarang ia rasakan. Untuk pertama kalinya dalam karier mafianya, Dante merasa tidak berdaya. Ia bisa menghadapi seratus pria bersenjata, tapi ia tidak bisa menghadapi satu peluru yang diarahkan pada bocah tak berdosa itu.

​"Berlutut, Dante! Sekarang!" perintah Marco.

​Perlahan, dengan rasa sakit yang luar biasa di perut dan harga dirinya, Dante menekuk lututnya. Ia jatuh berlutut di atas aspal dermaga yang kasar. Di dunianya, ini adalah penghinaan tertinggi. Namun bagi Dante, harga diri tidak ada artinya dibandingkan nyawa anak Aruna.

​Di kejauhan, tersembunyi di balik kontainer nomor 402, Aruna menyaksikan segalanya dengan napas tertahan. Ia telah menyelinap masuk ke dalam mobil Enzo secara diam-diam, menolak untuk tinggal di mansion saat anaknya berada dalam bahaya. Enzo, yang akhirnya menemukan Aruna di dalam bagasi mobilnya, tidak punya pilihan selain membiarkan wanita itu ikut di bawah perlindungan ketat tim sniper-nya.

​"Enzo, lakukan sesuatu... tolong lakukan sesuatu," bisik Aruna melalui intercom kecil yang diberikan Enzo padanya. Air matanya terus mengalir melihat Dante yang begitu perkasa kini harus berlutut demi putranya.

​"Tunggu aba-aba Tuan Dante, Nyonya. Dia punya rencana," balas Enzo dari posisi penembak jitu di atas atap kontainer seberang.

​Dante mendongak, matanya menatap tajam ke arah Marco. "Sudah puas? Sekarang, biarkan bocah itu turun."

​Marco tertawa terbahak-bahak. "Kau memang sudah luluh, Dante. Janda itu benar-benar mengubahmu menjadi lemah. Baiklah, karena aku sedang berbaik hati..." Marco mendorong Bumi menuju tangga besi. "Pergilah, Nak. Lari ke arah pamanmu."

​Bumi berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa, kakinya yang kecil tersandung beberapa kali. Saat Bumi sampai di lantai dermaga dan mulai berlari menuju Dante, Marco memberikan kode rahasia pada pengawalnya di atas.

​"Habisi mereka berdua!" perintah Marco dingin.

​Namun, sebelum pengawal itu sempat menarik pelatuk, suara letusan senapan runduk ( sniper ) membelah malam. Bang! Kepala pengawal di samping Marco meledak seketika. Itu adalah aba-aba dari Enzo.

​"Bumi, tiarap!" teriak Dante.

​Dante melompat dari posisi berlututnya dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi orang yang sedang terluka. Ia menerjang Bumi, mendekap bocah itu ke dalam pelukannya, dan berguling di balik sebuah peti kayu besar tepat saat rentetan peluru menghujani tempat mereka berdiri tadi.

​"Dante! Kau bajingan!" teriak Marco yang segera berlindung masuk ke dalam gudang.

​Pertempuran pecah. Anak buah Dante yang selama ini bersembunyi di dalam kegelapan mulai bermunculan. Suara tembakan menyahut dari segala penjuru. Dermaga 7 berubah menjadi neraka api dan timah panas.

​Di balik peti kayu, Dante mendekap Bumi erat-erat. Ia bisa merasakan jantung bocah itu berdegup kencang seperti kepakan sayap burung yang terjebak. "Jangan takut, Bumi. Paman ada di sini. Kau aman."

​"Paman... perut Paman berdarah lagi," isyak Bumi, melihat noda merah yang semakin melebar di kemeja Dante.

​Dante mengabaikan rasa sakitnya. Ia mencium puncak kepala Bumi—sebuah gerakan yang tidak pernah ia duga akan ia lakukan. "Ini hanya cat merah, Jagoan. Paman Robot tidak bisa mati, ingat?"

​Dante mengeluarkan pistolnya, menembak dua orang anak buah Marco yang mencoba mendekati posisi mereka. Setiap tembakannya akurat, mematikan, dan tanpa ampun. Ia mulai bergerak, menyeret Bumi bersamanya, mencari jalan menuju area belakang di mana Aruna dan Enzo berada.

​Namun, Marco tidak membiarkan mereka pergi dengan mudah. Sebuah ledakan granat meletus di dekat mereka, membuat Dante terlempar dan telinganya berdenging. Ia terpisah beberapa meter dari Bumi.

​"Bumi!" teriak Aruna yang tiba-tiba muncul dari balik perlindungannya karena panik.

​"Aruna, kembali!" teriak Enzo, namun terlambat.

​Aruna berlari menuju Bumi, ia mendekap putranya di tengah desing peluru. Marco, yang melihat celah itu dari jendela gudang, mengarahkan senjatanya pada Aruna. "Jika aku tidak bisa mendapatkan pelabuhan, maka tidak ada yang boleh mendapatkan kebahagiaan!"

​Dante melihat moncong senjata Marco yang mengarah pada Aruna. Dunia seolah bergerak dalam gerak lambat. Dante tidak berpikir dua kali. Ia tidak peduli pada luka operasinya yang baru saja robek total. Ia tidak peduli pada pasukan Marco yang masih menembakinya.

​Dante berlari, melompat ke depan Aruna dan Bumi tepat saat Marco menarik pelatuk.

​Deg! Deg!

​Dua peluru menghantam punggung Dante. Tubuhnya tersentak hebat, namun ia tetap berdiri tegak seperti perisai manusia di depan Aruna dan Bumi. Ia mengeluarkan satu tembakan terakhir dari pistolnya, mengenai bahu Marco dan membuatnya jatuh dari jendela gudang ke tumpukan limbah di bawahnya.

​Dante jatuh berlutut, lalu tersungkur tepat di depan kaki Aruna.

​"Dante!" Aruna menjerit. Ia segera memutar tubuh Dante. Darah mengalir deras dari punggung dan perut pria itu. Wajah Dante kini putih seputih kertas, napasnya terdengar seperti embusan angin yang sekarat.

​Enzo dan pasukannya segera menyerbu gudang, membereskan sisa-sisa anak buah Marco yang sudah kehilangan pemimpinnya. Enzo berlari menuju mereka, segera memanggil tim medis melalui radio.

​"Aruna..." suara Dante sangat tipis, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan dermaga.

​Aruna memangku kepala Dante, air matanya jatuh membasahi wajah pria itu. "Jangan bicara, Dante. Tolong, jangan pergi. Bumi... Bumi sudah selamat. Kau menyelamatkannya."

​Dante tersenyum, sebuah senyuman yang penuh kedamaian. Ia mengambil tangan Aruna dan meletakkannya di pipinya yang kasar. "Hutangku... sudah lunas, bukan?"

​"Tidak, kau tidak punya hutang apa pun! Justru kami yang berhutang padamu!" tangis Aruna.

​Bumi mendekat, ia menempelkan tangannya yang kecil di kening Dante. "Paman... jangan tidur. Bumi masih punya plester banyak di rumah."

​Dante memejamkan matanya sejenak, menikmati sentuhan tangan Aruna dan Bumi untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan mulai menariknya. "Jaga... jaga mereka, Enzo..." bisiknya sebelum akhirnya tangannya terkulai lemas di atas aspal dermaga yang dingin.

​"Dante! Dante, bangun!" Aruna mengguncang tubuh pria itu, namun tak ada jawaban.

​Sirine ambulan mulai terdengar di kejauhan, lampu merah dan birunya memantul di permukaan air laut yang gelap. Di tengah kekacauan itu, Aruna mendekap Dante erat-erat, tidak peduli bahwa pakaiannya kini basah oleh darah sang mafia. Di Dermaga 7 malam itu, seorang monster telah memberikan segalanya untuk sebuah cahaya kecil, dan sang janda menyadari bahwa ia telah kehilangan separuh dari jiwanya pada pria yang ia temukan bersimbah darah di depan pintunya beberapa hari yang lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!