Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisu kah?
"Dia… dia kenapa?” ujar Bu Santi bingung, suaranya mulai bergetar. “Mau ngomong apa?!” tanyanya lagi, semakin panik. “Jangan bikin aku tambah takut!” bentaknya.
Boris tidak langsung menjawab. Ia hanya terdiam, napasnya masih belum stabil. Pandangannya beralih dari wajah ibunya… lalu perlahan bergeser ke arah Mirea.
"Jika berani bongkar identitasku, aku pukul mulutmu sampai semua gigimu rontok!"
Ancaman itu kembali terngiang jelas di kepala Boris.
Tubuhnya menegang. Wajahnya langsung pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tanpa berpikir panjang, Boris merangkak mendekat dengan tubuh gemetar, lalu berlutut di hadapan Mirea.
“Nona Mirea, aku bersalah!” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku benar-benar bersalah…”
Ia menundukkan kepala dalam-dalam, bahkan sampai menyentuh lantai, seolah takut menatap wajah Mirea sedikit pun. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal.
Tentu saja pemandangan itu tak luput dari perhatian Kael. Kael menoleh, matanya mengamati Boris dengan tatapan datar namun tajam, seolah sedang menilai seekor hewan yang sudah terpojok.
“Nona Mirea,” lanjut Boris dengan suara hampir menangis, “karena nafsu dan khilaf sesaat, aku jadi nggak mikir panjang.”
Ia menelan ludah, suaranya semakin kecil.
“Aku memang bersalah… aku sudah gangguin kamu.”
Kata-katanya keluar terbata-bata, penuh ketakutan. Bukan lagi suara seorang pewaris keluarga elit, melainkan suara seseorang yang benar-benar sadar dirinya sedang berada di ujung hidupnya.
Tentu saja, ketiga kakak Mirea hanya bisa saling menatap dengan wajah bingung. Mereka benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa melihat Boris yang tadi begitu arogan kini berlutut seperti orang kehilangan harga diri.
Noel bahkan sampai terdiam, matanya berpindah-pindah antara Boris dan Mirea, seolah mencoba memahami situasi yang terasa semakin tidak masuk akal.
“Mulai sekarang aku siap nurut sama keluarga Rothwell,” ucap Boris tergesa, masih dalam posisi berlutut. “Apapun yang disuruh keluarga Rothwell, pasti akan aku turuti.”
Ia mengulang-ulang kata itu, suaranya penuh kepanikan. Di sampingnya, Bu Santi ikut berlutut, wajahnya pucat, tangannya gemetar mencengkeram lantai.
“Kalau disuruh bayar pun… aku tambah nolnya satu,” lanjut Boris cepat, hampir seperti orang mengigau. Nada suaranya benar-benar menunjukkan ketakutan yang tak bisa disembunyikan lagi.
Pemandangan itu membuat Rosse membelalakkan mata.
“Kenapa aku ngerasa,” bisiknya pelan ke arah Adela, “yang ditakuti Tuan Boris itu bukan Tuan Kael… tapi malah Mirea?”
Adela melirik sekilas, lalu mendengus kecil.
“Mana mungkin,” jawabnya meremehkan. “Kayaknya perasaanmu aja.”
Namun entah kenapa, tatapan Boris yang terus-terusan menghindari Mirea justru membuat dugaan Rosse terasa semakin masuk akal.
“Aaaa… karena sudah minta maaf, anggap saja masalah ini selesai,” ujar Mirea lembut.
Nada suaranya tenang, hampir terdengar tulus seolah ia benar-benar perempuan baik hati yang memilih memaafkan daripada memperpanjang masalah.
Boris masih bersujud beberapa kali, lalu akhirnya mengangkat kepala dengan wajah lega. Senyum tipis muncul di bibirnya, seperti orang yang baru saja lolos dari hukuman mati.
Aren yang berdiri di samping Mirea menghela napas pelan. Tangannya terangkat, mengusap kepala adiknya dengan gerakan protektif.
“Adik… kamu terlalu baik,” katanya lirih. “Kalau kamu terlalu lembut, nanti di dunia luar bisa dimanfaatkan orang.”
Mirea hanya menunduk, membiarkan kepalanya dielus, tetap mempertahankan ekspresi polos itu.
Namun tepat setelah Aren mengucapkan kalimat itu, Kael menoleh ke arah mereka. Tatapannya tajam, tapi bibirnya justru melengkung membentuk senyum samar.
“Tenang saja,” ujar Kael santai. “Bukankah masih ada aku?”
Kalimat itu terdengar ringan, namun entah kenapa, suasana di sekitar mereka mendadak terasa berbeda.
Senyum Kael terlalu tenang. Nada suaranya terlalu yakin.
Sontak, Mirea terdiam. Tubuhnya membeku sepersekian detik, seolah baru menyadari sesuatu yang tidak ia perhitungkan sebelumnya.
“Kalian!”
Kael tiba-tiba menoleh tajam ke arah Rosse dan Adela. Suaranya tidak keras, tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih mengintimidasi.
“Tadi bukannya kalian yang bilang tunanganku yang menggoda Tuan Boris?” ujar Kael datar, namun setiap katanya terasa menekan.
Rosse dan Adela langsung membeku di tempat. Wajah mereka pucat, tubuh kaku seperti patung. Tatapan Kael terasa seperti beban berat yang menindih bahu mereka, membuat napas keduanya terasa sesak.
Mereka saling melirik sekilas, tapi tak satu pun berani membuka mulut.
Kael menyipitkan mata, melangkah setengah langkah ke depan.
“Kenapa sekarang jadi bisu semua?” nada tinggi.