Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-3
Di lantai bawah, Gery dan Bimo masih tertahan di area bar. Gery, yang biasanya tidak bisa diam, kini mulai terlihat gelisah. Ia terus memutar-mutar ponsel di tangannya.
"Bim, seriusan deh. Tadi si Kalandra jalannya udah kayak zombi kekurangan oksigen. Lo nggak ngerasa aneh apa?" tanya Gery sambil menatap lift yang tak kunjung turun.
Bimo menyesap kopinya dengan tenang, meski matanya tajam memperhatikan sekitar. "Gue juga ngerasa gitu Ger. Tapi lo tau kan Kalandra? Kalau kita paksa ikut tadi, yang ada kita kena semprot muka dinginnya itu. Dia kan paling nggak suka kelihatan lemah di depan orang."
"Ya…tapi kan kita bukan orang, kita ini sahabatnya dari zaman masih ingusan!" Gery menggebrak meja pelan. "Sialan, perasaan gue nggak enak banget. Pak Danu tadi juga mukanya mencurigakan banget pas Kalandra pergi. Kayak abis menang lotre."
Bimo terdiam sejenak. "Lo bener. Coba lo telepon lagi."
Gery langsung menempelkan ponsel ke telinga. "Nggak diangkat, Bim. Mati malah kayaknya. Wah, beneran nggak beres nih. Apa kita samperin aja ke atas? Kamar 1001 kan?"
"Sabar, Ger. Kalau kita keatas terus langsung dobrak dan ternyata dia cuma tidur, bisa habis kita dikuliti sama dia pas bangun," ujar Bimo, meski ia sendiri mulai berdiri. "Ayo, kita ke arah lift. Kalau dalam sepuluh menit dia nggak kasih kabar, kita minta akses ke manajer hotel. Gue kenal kok orangnya."
"Nah, gitu dong! Gercep!" seru Gery.
Sementara itu, di dalam kamar yang luas namun terasa mencekam, Elisa gemetar hebat. Ia terhimpit di antara dinding dingin dan tubuh Kalandra yang terasa seperti api.
"Kak... tolong, lepasin saya. Saya cuma kurir makanan," isak Elisa. Air matanya sudah membasahi pipi, menghapus debu jalanan yang menempel di wajahnya.
Kalandra tidak menjawab dengan kata-kata yang jelas. Pikirannya sudah tertutup kabut. Obat yang diberikan Pak Danu bukanlah obat biasa, itu adalah jenis stimulan kuat yang menghancurkan logika. Di mata Kalandra, sosok di depannya bukanlah orang asing, melainkan satu-satunya penyejuk bagi rasa sakit yang menyiksa tubuhnya.
"Sssshhh... diem," gumam Kalandra serak. Suaranya terdengar berat dan dalam. "Lo... lo harum. Kenapa lo harum banget?"
"Kak, sadar Kak! Saya mohon..." Elisa mencoba mendorong dada bidang Kalandra, namun tangannya yang mungil tak berarti apa-apa.
"Gue udah nggak kuat..." Kalandra mengerang pelan, kepalanya terkulai di ceruk leher Elisa. "Sakit banget... tolong bantu gue..."
"Saya panggilkan dokter ya? Saya cari bantuan!" Elisa mencoba mencari celah untuk lari.
Namun, gerakan Elisa justru membuat Kalandra semakin kehilangan kendali. Ia mencengkeram kedua tangan Elisa dan menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan. Kekuatannya luar biasa.
"Jangan pergi," bisik Kalandra. Tatapannya yang biasanya dingin dan tajam, kini terlihat sayu dan penuh damba yang berbahaya. "Jangan tinggalin gue sendirian di sini..."
"Kak, jangan begini... tolong lepaskan saya, saya punya adik... saya harus pulang," Elisa memohon dengan sisa tenaganya. Bayangan Aris yang sedang menunggunya di rumah membuat hatinya perih. Ia sudah berjanji pada mendiang ibu ayahnya untuk menjaga diri baik-baik.
Kalandra tidak lagi mendengar. Ia membungkam bibir Elisa dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Elisa memberontak, mencoba menggigit bibir pria itu, namun Kalandra justru semakin mempererat dekapannya.
Malam itu, di kamar yang seharusnya menjadi tempat istirahat mewah, Elisa justru mengalami neraka paling nyata dalam hidupnya. Tangisannya tertelan oleh dinginnya AC ruangan, dan perlawanannya perlahan padam seiring dengan rasa sakit dan kehancuran yang merenggut segalanya.
^^^^
Gery dan Bimo akhirnya sampai di depan kamar. Mereka berdiri ragu di depan pintu kayu jati yang kokoh itu.
"Di ketuk dulu nggak nih?" tanya Gery ragu.
"Ya ketuk lah, masa lo mau nari jaipong di sini," balas Bimo ketus, meski wajahnya juga tegang.
Tok! Tok! Tok!
"Lan! Kalandra! Lo di dalem kan? Bukain woi, ini gue Gery sama Bimo!" teriak Gery.
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
Gery mencoba menempelkan telinganya ke pintu. "Bim, kok sepi banget ya? Apa dia pingsan?"
"Mungkin dia tidur karena efek obatnya," tebak Bimo.
"Atau jangan-jangan... ada cewek di dalem?" Gery menyeringai tipis, mencoba mencairkan suasana meski hatinya tetap cemas. "Lo tau kan, Pak Danu tadi kayaknya emang niat nyajiin sesuatu buat dia."
Bimo menggeleng. "Kalandra itu anti-perempuan, Ger. Lo tau sendiri gimana dia kalau dideketin cewek-cewek sosialita. Dia lebih milih baca laporan keuangan daripada liat paha mulus."
"Ya itu kan kalau dia sadar! Kalau dia lagi mabuk mah beda cerita. Hormon nggak bisa bohong, Bim," sahut Gery. Ia mencoba menekan gagang pintu, tapi tentu saja terkunci. "Sial, terkunci. Gimana nih? Apa kita panggil pihak hotel saja?"
Bimo diam sejenak, menimbang-nimbang. "Jangan dulu. Kalau kabar Kalandra Mahendra kenapa-napa di hotel terus tersebar, saham perusahaan bisa goyang besok pagi. Kita tunggu di lounge lantai ini aja. Kita kasih dia waktu sampai subuh. Kalau besok pagi dia nggak keluar, baru kita bertindak."
Gery menghela napas panjang. "Duh, bener-bener ya tuh anak. Bikin jantungan aja. Ya udah deh, ayo ke lounge. Tapi gue laper, Bim. Tadi pesenan sushi buat dia kayaknya belum sempet dia makan juga."
"Lo itu ya, temen lagi susah malah mikir perut," sindir Bimo.
"Laper itu manusiawi, Bim! Daripada gue mati kelaparan sambil nungguin dia, kan nggak lucu judul beritanya: Salah satu sahabat Konglomerat Tewas Kelaparan di Depan Pintu Kamar Sahabatnya."
Keduanya pun melangkah menjauh, tanpa menyadari bahwa tepat di balik pintu itu, seorang gadis sedang meringkuk di lantai, memeluk lututnya dengan tubuh yang gemetar dan baju yang koyak.
Elisa menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan gemerlap lampu kota. Air matanya sudah kering. Yang tersisa hanyalah rasa hampa dan ketakutan yang luar biasa. Ia menoleh ke arah tempat tidur, melihat pria yang masih terlelap itu dengan rasa benci sekaligus trauma yang mendalam.
“Ibu... Ayah... maafin Elisa,” batinnya pilu.
_________
Sementara itu di lounge, Gery duduk di sofa empuk sambil selonjoran kaki. "Bim, lo ngerasa nggak sih, hidup si Kalandra itu sebenernya kasihan?"
Bimo yang sedang mengecek email di ponselnya menoleh sedikit. "Kasihan gimana? Dia kan punya segalanya."
"Ya emang punya segalanya, tapi dia kayak nggak punya hidup. Hari-hari isinya cuma kerja, rapat, olahraga, tidur. Gitu terus. Gue aja yang liat bosen," ujar Gery sambil melempar kacang ke mulutnya. "Makanya gue sama lo harus tetep di samping dia. Kalau nggak ada kita yang gila, dia bakal jadi batu beneran."
Bimo tersenyum tipis. "Satu hal yang bener dari ucapan lo hari ini. Dia emang butuh orang yang nggak takut sama dia."
"He-eh. Tapi beneran deh, kalau sampe besok dia bangun terus ternyata ada cewek di kamarnya, gue bakal jadi orang pertama yang ngetawain dia tujuh hari tujuh malam!" Gery tertawa geli membayangkannya.
"Lo jangan keterlaluan. Kita nggak tau apa yang direncanain Pak Danu. Kalau itu jebakan yang merugikan Kalandra, kita harus tutup rapat-rapat," peringat Bimo dengan nada serius.
"Iya, iya, Bapak Direktur yang Terhormat. Gue tau prosedur. Gue cuma mau liat sisi manusiawi si Kalandra aja sekali-kali."
Malam semakin larut. Di bawah langit Jakarta yang sama, dua nasib yang berbeda telah menyatu dalam sebuah kesalahan fatal yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Elisa yang malang, dan Kalandra yang terperangkap dalam kelicikan dunia bisnis.
____________
Selamat membaca
Janga lupa like, comment, vote dan Ratenya ya🙏🏻🙌🏾