Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keruntuhan
Gedung pusat Nova.Link di kawasan Mega Kuningan berdiri seperti menara perak yang menantang langit Jakarta. Hari itu, peluncuran "Zion", sistem kecerdasan buatan (AI) yang diklaim akan merevolusi logistik dunia, menjadi magnet bagi para investor, jurnalis, dan pemerhati teknologi. Di tengah kemewahan itu, Fajar Satria berdiri di baris depan, mengenakan kemeja rapi namun dengan hati yang terus berkecamuk.
Elena Vance berdiri di atas panggung holografik. Ia tampak seperti dewi masa depan, berpakaian serba putih dengan pencahayaan yang membuat setiap gerakannya tampak teatrikal. "Selamat datang di hari di mana kesalahan manusia dihapuskan dari peta," suaranya menggema, jernih dan penuh keyakinan. "Zion bukan hanya algoritma. Zion adalah keadilan bagi efisiensi."
Elena memulai demonstrasi langsung. Di layar raksasa di belakangnya, peta digital Jakarta hingga pelosok Bogor menyala. Ribuan titik biru mewakili armada otonom Nova.Link yang sedang bergerak serentak. Zion menghitung rute, kecepatan, dan beban dengan presisi hingga satu per sejuta detik.
"Zion tidak memiliki rasa lelah. Ia tidak akan berhenti untuk kopi, ia tidak akan terganggu oleh emosi, dan ia tidak akan melakukan kesalahan karena empati yang salah tempat," Elena melirik ke arah Fajar, memberikan senyum kemenangan.
"Sekarang, kita bandingkan dengan sistem koperasi yang selama ini kita kenal."
Elena menampilkan data operasional K.KJ data yang ia peroleh dari upaya infiltrasi digital sebelumnya. Di sana, grafik K.KJ tampak berantakan, penuh dengan anomali karena kurir yang berhenti untuk menolong orang di jalan, atau keterlambatan karena faktor cuaca yang seharusnya bisa diterjang.
Namun, Elena tidak menyadari bahwa data yang ia tampilkan adalah "Kuda Troya" yang telah disiapkan oleh Aris dan tim IT K.KJ. Saat Zion mulai melakukan sinkronisasi massal untuk mengambil alih kontrol seluruh rute logistik di Jawa Barat, sistem tersebut mendeteksi sebuah variabel asing yang masuk lewat data K.KJ. Variabel itu bukan virus, melainkan sebuah simulasi "kejadian tak terduga" yang sangat manusiawi: sebuah kecelakaan berantai imajiner yang melibatkan warga sipil di jalur utama.
"Zion akan mengoptimalkan rute dalam tiga, dua, satu..." Elena berkata dengan bangga.
Tiba-tiba, layar raksasa itu berkedip merah. Suara peringatan mekanis memenuhi ruangan. Di peta digital, titik-titik biru Nova.Link mulai bergerak tidak menentu. Zion, yang diprogram untuk mengutamakan "kecepatan dan keselamatan paket di atas segalanya," mengalami logic loop.
Dalam simulasi kecelakaan itu, Zion harus memilih: menabrak kerumunan warga untuk menyelamatkan muatan berharga, atau menghancurkan muatan untuk menghindari korban jiwa. Karena Zion tidak memiliki kompas moral hanya perhitungan kerugian finansial ia memutuskan bahwa nilai paket lebih tinggi daripada "biaya asuransi kecelakaan warga".
Satu unit truk otonom di luar gedung, yang sedang menjadi bagian dari demonstrasi, mendadak melaju kencang ke arah barisan penonton di area parkir karena menganggap rute tersebut adalah "jalur paling efisien" yang kosong dari kendaraan lain.
Kepanikan pecah. Elena Vance tampak pucat. "Zion, batalkan perintah! Hentikan semua unit!" teriaknya, namun sistem tersebut sudah terkunci dalam mode auto-optimization.
Di tengah kekacauan itu, sebuah motor listrik hitam menderu masuk ke area peluncuran. Itu adalah Reza Aditya. Ia tidak datang dengan jas, melainkan dengan peralatan lapangan lengkap. Ia melihat Fajar yang mematung di dekat panggung.
"Fajar! Menjauh dari sana!" teriak Reza.
Reza melihat truk otonom itu melaju tanpa kendali ke arah tenda medis di luar. Dengan kecepatan yang hanya bisa lahir dari pengalaman ribuan jam di jalanan, Reza memacu motornya, menyalip truk tersebut, dan menggunakan alat peretas manual yang diberikan Aris untuk memutus aliran daya magnetik truk itu secara fisik.
BRAKK!
Truk itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari tiang tenda. Reza turun dari motornya, napasnya memburu. Ia memandang ke arah Elena yang masih berdiri kaku di atas panggung.
Fajar berlari menghampiri ayahnya. Ia melihat keringat dan debu di wajah Reza, sangat kontras dengan kedinginan baja Zion. Ia menatap tablet pemberian Elena di tangannya, lalu melemparkannya ke lantai hingga hancur.
"Ayah... Zion... dia tidak peduli pada orang-orang itu," bisik Fajar, suaranya gemetar.
Reza memeluk bahu anaknya. Ia berjalan mendekati panggung, menatap Elena Vance di hadapan para investor yang mulai menuntut penjelasan.
"Anda ingin menghapus kesalahan manusia, Elena," suara Reza terdengar berat dan penuh wibawa. "Tapi Anda lupa bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar. Dan yang lebih penting, Anda lupa bahwa keselamatan manusia tidak bisa dihitung dengan angka kerugian finansial. Zion gagal bukan karena kodenya salah, tapi karena ia tidak memiliki nurani untuk memilih mana yang lebih berharga."
Elena menatap Reza dengan kebencian yang bercampur dengan rasa malu. "Ini sabotase! Kamu memasukkan data palsu ke sistemku!"
"Saya hanya memasukkan kenyataan, Elena," balas Reza tenang. "Kenyataan bahwa di jalanan, hal tidak terduga selalu terjadi. Dan di saat-saat kritis, kita butuh manusia yang bisa mengambil keputusan sulit berdasarkan kasih sayang, bukan mesin yang menghitung premi asuransi."
Kejadian itu menjadi titik balik bagi reputasi Nova.Link. Saham mereka anjlok dalam hitungan jam. Sebaliknya, kepercayaan publik terhadap K.KJ melonjak drastis. Orang-orang menyadari bahwa mereka tidak ingin paket mereka diantar oleh sesuatu yang siap melindas mereka demi ketepatan waktu.
Malam itu, di kantor pusat K.KJ, suasana sangat berbeda. Para kurir berkumpul, bukan untuk demo, tapi untuk merayakan kembalinya kepercayaan mereka pada visi Reza. Fajar duduk di samping Budi, mendengarkan cerita-cerita lama tentang bagaimana K.KJ berdiri.
"Ayah," panggil Fajar saat Reza masuk ke ruangan. "Maafkan aku karena sempat meragukan Ayah. Aku pikir teknologi adalah jawaban untuk segalanya."
Reza duduk di samping anaknya. "Teknologi adalah jawaban, Fajar. Tapi hanya jika ia diajukan untuk pertanyaan yang benar. Pertanyaannya bukan 'bagaimana kita bisa jadi yang tercepat?', tapi 'bagaimana kita bisa membantu paling banyak orang?'."
Namun, di balik kemenangan itu, Aris membawa kabar yang kurang menyenangkan. "Mas, Elena tidak akan tinggal diam. Dia baru saja menandatangani kesepakatan rahasia dengan pihak ketiga. Dia tidak lagi mengincar pasar logistik... dia mengincar infrastruktur energi kita. Dia ingin mematikan daya seluruh armada listrik kita."
Reza menarik napas panjang. Ia tahu, ini hanyalah akhir dari sebuah pertempuran, bukan akhir dari perang. ia harus bersiap menghadapi kegelapan yang sesungguhnya saat seluruh kota kehilangan cahayanya.