NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lorong antara Dua Dunia

Semuanya mendadak menjadi putih. Tidak ada rasa nyeri di dada, tidak ada bau asap gudang yang terbakar, dan tidak ada beban di pundak. Reza berdiri di sebuah ruangan yang luasnya tanpa batas. Di tengah ruangan itu, hanya ada satu benda: sebuah kursi plastik biru yang retak di bagian sandarannya.

Reza mendekati kursi itu. Di atasnya, masih tergantung sebuah tali jemuran kuning yang melingkar.

"Kamu kembali lagi?" sebuah suara yang sangat akrab terdengar dari arah belakang.

Reza berbalik. Ia melihat dirinya sendiri. Bukan Reza sang CEO Koperasi, bukan pula Reza sang pahlawan kurir. Itu adalah Reza versi tiga tahun lalu—pria dengan mata cekung, wajah kusam, dan aura keputusasaan yang begitu pekat hingga seolah-olah bisa disentuh.

"Aku hanya lewat," jawab Reza tenang.

"Lewat? Kamu sedang sekarat di meja operasi, Za," ujar si Reza Masa Lalu sambil mengusap tali kuning itu. "Lihat apa yang kamu lakukan selama tiga tahun ini. Kamu berlari seperti orang gila, memikul beban ribuan orang, melawan mafia, menantang menteri. Dan untuk apa? Akhirnya kamu kembali ke titik ini. Sendirian. Sakit. Menunggu napas terakhir."

Reza menatap bayangan dirinya itu dengan rasa iba yang mendalam. "Dulu, aku pikir kursi ini adalah akhir. Tapi ternyata, kursi ini hanyalah titik berangkat. Semua kelelahan dan rasa sakit yang aku alami selama tiga tahun ini adalah bukti bahwa aku benar-benar hidup. Orang mati tidak merasa lelah, Za."

"Tapi kamu akan mati sekarang. Gery kalah, tapi dia membawamu bersamanya. Bukankah ini yang kamu inginkan dulu? Mati saat namamu sedang harum?"

Reza tersenyum, sebuah senyum yang tulus. "Dulu aku ingin mati karena aku benci diriku sendiri. Sekarang, jika aku harus pergi, aku akan pergi karena aku mencintai hidup yang sudah kubangun. Tapi aku belum mau pergi. Aku masih punya paket yang harus kuantar."

"Paket apa lagi?"

"Paket masa depan untuk Fajar. Paket hari tua untuk Anya. Dan paket harapan untuk semua orang yang merasa tidak punya pilihan selain kursi ini."

Tiba-tiba, kursi biru itu mulai retak dan hancur menjadi debu. Tali kuning itu terputus dan menguap. Ruangan putih itu mulai bergetar, dan Reza mendengar suara-suara yang memanggil namanya dari kejauhan. Suara isakan Anya, gumaman doa Budi, dan detak jantungnya sendiri yang terdengar lewat monitor medis.

Beep... Beep... Beep...

Mata Reza terbuka perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar

Biasa di dadanya, namun rasa sakit itu terasa sangat manis karena itu berarti ia masih bernapas.

Tiga bulan masa pemulihan adalah waktu terlama bagi Reza untuk tidak menyentuh kemudi motor. Namun, ia patuh. Ia menghabiskan waktunya di teras rumah barunya di Bogor, melihat Fajar yang kini sudah bisa berlari kecil di rumput, dan Anya yang mulai merintis usaha toko bunga organiknya sendiri.

K.KJ kini dijalankan oleh dewan kolektif. Budi menangani operasional, sementara Aris menjadi kepala pengembangan sumber daya manusia mengubah mantan-mantan preman jalanan menjadi kurir-kurir teladan.

"Za, ada tamu," Anya muncul dari dalam rumah.

Reza mengira itu adalah rekan bisnis atau pejabat kementerian. Namun, yang muncul adalah seorang pria muda dengan jaket oranye mencolok. Kurir ayam geprek. Pria yang dulu mengantarkan pesanan terakhir Reza di malam yang menentukan itu.

"Mas Reza... maaf mengganggu," pria itu tampak segan. "Saya dengar Mas sudah sehat. Saya hanya ingin mengembalikan ini."

Pria itu menyerahkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada uang lima ratus ribu rupiah.

"Uang apa ini?" tanya Reza heran.

"Dulu, saat Mas kasih saya tip besar malam itu, saya pakai uangnya untuk daftar kursus mekanik. Sekarang saya sudah punya bengkel kecil sendiri, Mas. Saya tidak lagi cuma antar makanan. Saya ingin mengembalikan modal awal yang Mas berikan, karena tanpa Mas, saya mungkin masih luntang-lantung di jalanan."

Reza tertegun. Ia tidak menyangka bahwa satu tindakan kecil dari keputusasaannya dulu bisa mengubah hidup orang lain. Ia menolak uang itu.

"Simpan uangnya. Pakai untuk membiayai satu orang kurir lain yang mau belajar mekanik di bengkelmu. Anggap itu investasi dari K.KJ," kata Reza sambil menjabat tangan pria itu.

Setelah pria itu pergi, Reza duduk terdiam. Ia menyadari bahwa rantai kebaikan yang ia mulai ternyata jauh lebih besar dari koperasinya.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!