NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:193
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: INFILTRASI MUSTAHIL

#

Tiga hari setelah kematian Hendrawan, Arjuna berdiri di depan cermin kamar hotel murah yang mereka sewa. Menatap wajahnya sendiri yang penuh lebam yang belum hilang, mata yang merah karena kurang tidur, dan ekspresi yang... yang kosong.

Dia gak ngerasa apa apa lagi. Sejak ayahnya mati, sejak dia lihat napas terakhir orang yang paling dia sayangi, ada sesuatu di dalam dirinya yang mati juga. Sesuatu yang dulunya bikin dia merasa hidup.

"Arjuna," suara Sari dari belakang. Lembut. Hati-hati. Seperti bicara sama orang yang bisa pecah kapan aja. "Kau harus makan sesuatu. Kau belum makan sejak kemarin."

"Gak lapar," jawab Arjuna datar.

"Tapi tubuhmu butuh..."

"Aku bilang gak lapar," ulangnya. Lebih keras kali ini. Lalu dia sadar dia ngomong kasar ke Sari, orang yang gak salah apa apa. "Maaf. Aku... aku gak bermaksud..."

"Gak apa apa," Sari jalan ke dia, peluk dari belakang. Kepalanya di punggung Arjuna. "Aku ngerti. Aku juga... aku juga merasa kosong. Merasa kayak ada lubang besar di dada yang gak akan pernah penuh lagi."

Mereka berdiri kayak gitu beberapa menit. Gak ada yang bicara. Cuma pelukan yang ngasih kenyamanan kecil di tengah badai yang masih belum berakhir.

Karena Adrian memang udah ditangkap. Memang udah di penjara. Tapi...

"Dia kabur," kata Pixel tiba-tiba dari pintu. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar pegang ponsel. "Adrian kabur dari penjara."

Hening.

Lalu Arjuna berbalik cepat. "Apa?"

"Baru aja dapat berita," Pixel masuk, tunjukkin layar ponselnya. Di sana ada artikel berita dengan judul besar: "ADRIAN MAHENDRA KABUR DARI PENJARA DALAM TRANSFER KE PENGADILAN"

"Bagaimana dia bisa kabur?" tanya Sari. "Dia dijaga ketat! Polisi bilang gak mungkin dia bisa..."

"Polisi dibayar," jawab Ratna yang masuk setelah Pixel. Wajahnya keras. "Atau diancam. Atau keduanya. Adrian masih punya koneksi. Masih punya uang tersembunyi. Dan dia gunakan semua itu untuk kabur."

"Dimana dia sekarang?" tanya Arjuna sambil ambil jaket.

"Gak ada yang tau," jawab Pixel. "Tapi ada intel dari sumber aku yang bilang dia kembali ke markas utamanya. Gedung Axion. Lantai paling bawah yang bahkan polisi gak bisa akses karena security nya terlalu canggih."

"Maka kita infiltrasi," kata Arjuna sambil check pistol yang dia ambil dari tas. "Kita masuk. Kita tangkap dia lagi. Atau kali ini kita bunuh."

"Arjuna itu bunuh diri," Ratna menggeleng. "Gedung Axion adalah benteng. Punya sistem keamanan berlapis. Punya bodyguard bersenjata di setiap lantai. Punya..."

"Punya jalur ventilasi yang Ibu petakan puluhan tahun lalu," potong Arjuna sambil natap Ratna. "Ibu bilang waktu itu, waktu Ibu masih kerja sama Adrian, Ibu sempet bikin peta rahasia gedung itu. Termasuk semua jalur tersembunyinya."

Ratna terdiam. Lalu mengangguk pelan. "Iya. Aku punya peta itu. Tapi itu puluhan tahun lalu. Sistemnya mungkin udah berubah. Jalurnya mungkin udah ditutup."

"Atau mungkin belum," kata Pixel. "Adrian tipe orang yang terlalu percaya diri. Dia mungkin gak pikir ada yang tau jalur itu kecuali Ibu. Dan dia pikir Ibu udah terlalu takut untuk balik ke sana."

"Dia benar," bisik Ratna. "Aku takut. Sangat takut."

"Maka Ibu gak perlu ikut," kata Arjuna. "Cukup kasih kami petanya. Aku dan Pixel yang akan masuk."

"Sendirian? Kalian berdua?" Sari melangkah maju. "Tidak. Aku ikut juga."

"Sari ini terlalu berbahaya..."

"Semuanya udah terlalu berbahaya sejak awal!" potong Sari. "Dan aku udah ikut dari awal. Aku gak akan berhenti sekarang cuma karena kau mau jadi pahlawan sendirian."

Mereka bertatapan. Arjuna mau argue tapi dia lihat mata Sari. Mata yang sama kerasnya dengan matanya sendiri. Mata yang bilang dia gak akan mundur apapun yang terjadi.

"Oke," katanya akhirnya. "Tapi kau ikuti semua instruksiku. Gak ada improvisasi. Gak ada heroik. Mengerti?"

"Mengerti," jawab Sari.

Ratna buka laptop tua yang dia bawa. Buka file tersembunyi yang udah lama gak dibuka. File dengan password yang panjang dan rumit.

"Ini," katanya sambil tunjukkin layar. Di sana ada blueprint gedung Axion. Tapi bukan blueprint yang biasa. Ini versi yang ada marking merah di beberapa tempat. "Marking merah ini adalah jalur ventilasi rahasia. Jalur yang Adrian pakai dulu untuk keluar masuk gedung tanpa ketahuan kamera."

"Dimana entrance nya?" tanya Pixel.

"Di belakang gedung. Di tempat pembuangan sampah," jawab Ratna. "Ada manhole di sana yang turun ke sistem ventilasi bawah tanah. Dari sana kalian bisa naik ke lantai manapun lewat shaft."

"Dan security?" tanya Arjuna.

"Di dalam ventilasi gak ada kamera. Adrian gak pasang karena dia pikir gak ada yang tau jalur itu. Tapi begitu kalian keluar di lantai tertentu, kalian akan kena kamera. Jadi kalian harus..."

"Harus punya cara untuk blind kamera," sambung Pixel. "Dan kebetulan aku punya."

Dia keluarin device kecil dari tasnya. Bentuknya kayak USB tapi ada antena kecil di ujungnya.

"Ini pemancar sinyal yang bisa ganggu frekuensi kamera CCTV dalam radius dua puluh meter," jelasnya. "Begitu aku aktifkan, semua kamera di sekitar kita akan freeze atau static. Kita punya sekitar lima menit sebelum security sadar ada yang salah dan datang check."

"Lima menit," ulang Arjuna. "Cukup gak untuk sampe ke lantai bawah?"

"Kalau kita cepat dan gak ada gangguan, cukup," jawab Pixel. "Tapi kalau ada bodyguard yang patroli di waktu yang salah..."

"Maka kita improvisasi," kata Sari.

Mereka bersiap. Pakai baju hitam semua. Earpiece untuk komunikasi. Device dari Pixel. Pistol dengan peredam. Dan satu hal lagi yang Ratna kasih.

"Ini," katanya sambil serahkan jam tangan tua ke Arjuna. "Jam tangan ayahmu. Hendrawan mau aku kasih ini ke kau kalau dia... kalau dia gak selamat."

Arjuna terima jam itu dengan tangan gemetar. Jam tua yang udah rusak, jarum jamnya gak jalan lagi, tapi tetep dia pakai di pergelangan tangan.

"Terima kasih," bisiknya.

Malam itu, jam sebelas, mereka tiba di belakang gedung Axion. Gedung pencakar langit yang sekarang gelap, cuma beberapa lantai yang masih ada lampu nyala.

"Security paling longgar antara jam sebelas sampai jam dua pagi," bisik Pixel. "Pergantian shift. Waktu paling tepat untuk masuk."

Mereka cari manhole yang Ratna bilang. Temuin di pojok tempat pembuangan sampah yang bau busuk.

Arjuna buka manhole itu. Di bawah ada tangga besi yang turun ke kegelapan total.

"Aku duluan," katanya sambil nyalain senter kecil. "Pixel di tengah. Sari paling belakang."

Mereka turun satu per satu. Tangga besi yang licin dan berkarat. Turun turun turun sampai kaki nyentuh lantai beton basah.

Di bawah adalah terowongan. Terowongan ventilasi yang sempit dan rendah. Mereka harus jalan membungkuk, kadang merangkak.

Bau di sana menyesakkan. Campuran antara lumut, air got, dan sesuatu yang busuk.

"Berapa jauh lagi?" tanya Sari sambil batuk batuk.

"Seratus meter lagi ada shaft yang naik ke gedung," jawab Pixel sambil check GPS di ponselnya. "Shaft itu akan bawa kita ke basement. Dari sana kita naik ke lantai paling bawah dimana Adrian kemungkinan besar ada."

Mereka terus jalan. Sepuluh menit yang terasa kayak jam. Akhirnya sampe di shaft. Lubang vertikal dengan tangga besi di dindingnya.

"Aku naik duluan," kata Arjuna lagi. "Kalau aman, aku akan kasih sinyal."

Dia mulai naik. Satu anak tangga demi satu. Pelan. Hati-hati. Tangga ini lebih tua dari yang di manhole tadi, beberapa anak tangga copot, dia harus loncat.

Lima menit kemudian dia sampe di atas. Ada pintu besi kecil. Dia dorong pelan.

Pintu terbuka ke ruangan gelap. Ruangan basement yang penuh kardus dan barang barang tua.

Gak ada orang.

Aman.

Dia kasih sinyal ke bawah. Pixel dan Sari mulai naik.

Tapi pas Sari hampir sampe atas, salah satu anak tangga yang dia injak copot. Kakinya tergelincir. Dia jatuh.

"SARI!" Arjuna langsung loncat, tangkep tangannya sebelum dia jatuh jauh. Tapi beratnya bikin dia juga hampir jatuh.

Pixel dari bawah naik cepat, bantu tahan Sari.

Mereka berhasil tarik Sari ke atas. Gadis itu terbaring di lantai basement, napas tersengal, wajah pucat.

"Aku... aku hampir..." bisiknya.

"Tapi kau gak jatuh," kata Arjuna sambil peluk dia erat. "Kau aman. Kita semua aman."

"Untuk sekarang," tambah Pixel sambil lihat sekelilingnya waspada. "Ayo kita gerak sebelum ada yang dengar keributan tadi."

Mereka keluar dari basement lewat tangga darurat. Naik perlahan ke lantai paling bawah. Lantai yang bahkan gak ada di blueprint resmi gedung. Lantai rahasia yang cuma Adrian dan orang kepercayaannya yang tau.

Di pintu lantai itu ada scanner retina. Security canggih yang cuma bisa dibuka oleh orang tertentu.

"Gimana kita lewat ini?" tanya Sari.

Pixel keluarin device lain. "Dengan ini."

Dia colok device itu ke panel scanner. Jarinya menari di layar kecil device. Code running cepat.

Tiga puluh detik kemudian, pintu berbunyi beep. Lampu scanner berubah hijau. Pintu terbuka.

"Terlalu mudah," gumam Arjuna curiga.

"Atau dia mau kita masuk," tambah Pixel.

Mereka masuk. Lewat pintu itu ke koridor panjang dengan dinding kaca. Di belakang kaca ada ruangan ruangan. Dan di salah satu ruangan...

Di salah satu ruangan ada Hendrawan.

Arjuna berhenti. Jantungnya berhenti.

Ayahnya. Ayahnya ada di sana. Terikat di kursi. Masih hidup. Masih bernapas.

"Tidak mungkin," bisik Arjuna. "Dia mati. Aku lihat dia mati. Aku..."

"Itu hologram," kata Pixel sambil zoom kamera di ponselnya ke ruangan itu. "Proyeksi 3D. Bukan beneran."

Tapi di ruangan sebelahnya, ada yang beneran.

Sari.

Sari lain.

Sari yang terikat di kursi yang sama. Dengan mata tertutup. Tubuh lemas.

"Apa..." Sari yang di samping Arjuna menatap dirinya sendiri di ruangan itu. "Itu aku? Tapi aku di sini. Aku..."

"Kembaran," kata suara dari speaker yang tiba tiba nyala. Suara Adrian. "Atau lebih tepatnya, clone. Aku bikin dia dari DNA mu yang aku ambil waktu kau masih bayi. Bikin dia tumbuh di lab. Latih dia jadi... jadi versi yang lebih baik darimu."

Lampu koridor nyala terang tiba tiba. Menyakitkan mata yang udah terbiasa dengan gelap.

Dan di ujung koridor, Adrian berdiri. Pistol di tangan. Senyum di wajahnya.

"Selamat datang," katanya. "Aku udah nungguin kalian."

Arjuna angkat pistolnya. "Ini berakhir sekarang."

"Oh iya?" Adrian ketawa. "Kau yakin? Karena aku punya tiga puluh bodyguard yang sekarang lagi mengepung koridor ini. Kau punya apa? Pistol dengan delapan peluru?"

"Aku punya sesuatu yang kau gak punya," jawab Arjuna. "Aku punya alasan untuk hidup. Untuk bertahan. Sementara kau... kau cuma punya kebencian."

"Kebencian cukup kuat untuk bertahan," kata Adrian. "Lebih kuat dari cinta. Lebih kuat dari apapun."

Dia angkat tangannya. Kasih sinyal.

Dari pintu pintu di kanan kiri koridor, bodyguard keluar. Banyak. Sangat banyak. Semua dengan senjata teracung.

Arjuna, Pixel, dan Sari berdiri dengan punggung saling berhadapan. Dikelilingi musuh.

Tidak ada jalan keluar.

Ini jebakan.

Dan mereka jatuh tepat ke dalamnya.

Adrian tersenyum lebih lebar. "Sekarang," katanya. "Sekarang permainan yang sebenarnya dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!