Naura memilih menikah muda, tetapi pernikahannya tidak bertahan lebih dari 2 tahun, ketika suaminya mengalami koma dirumah sakit, keluarga suaminya memaksa Naura untuk menanda tangani surat perceraian mereka. Setelah bercerai Naura baru mengetahui jika di sedang hamil.
Bagaimana Naura membesarkan anaknya?
Apakah mantan suaminya akan mencari anak dan istrinya?
Atau Naura akan menerima pria baru dalam hidupnya dan menjadikan pria itu papa baru dari anaknya!
Mari baca cerita ku ya teman-teman.
Terima Kasih
🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lie_lili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Bagaimana Rasanya Punya Papa?
Hari ini Evano sangat bersemangat karena dia akan bersekolah, Naura juga sangat bersemangat untuk mengantarkannya.
"Cucu nenek sudah rapi!" Ucap mama Ayu.
"Jangan nakal ya kalau disekolah, dengar kata guru dan belajar!" Ucap sang nenek kepada cucu kesayangannya ini.
"Baik nek!" Ucap Evano dengan riangnya.
"Siap sayang!" Tanya Naura pada anaknya.
"Siap ma"
"Ma, aku pergi dulu ya ngantar Evano dan langsung nunggu saja"
"Iya!" Ucap mama Ayu.
Naura pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya disekolah Evano pun berlari menuju wali kelasnya ketika melihat ibu gurunya melintas.
"Mama pulang saja ya, Evano berani kog!" Seru Evano.
"Benarkah?" Tanya Naura menyakin Evano.
"Benar ma! Ada bu guru!" Menatap ibu gurunya dengan kagum, karena ibu gurunya tersenyum cantik.
"Baik lah!"
"Bu, saya titip Evano ya" ucap Naura.
"Baik bu" jawab bu Kartika wali kelas Evano.
Naura pun pergi meninggalkan Evano disekolah nya, dia pun coba berkeliling mencari lari dimana ada lowongan kerja.
Melihat sebuah kantor kecil, didepannya bertuliskan menerima lowongan kerja, smk/sederajat.
"Coba agh, untung bawa lagi ini surat lamaran" batin Naura.
"Permisi pak, apakah lowongannya masih ada?" Tanya Naura kepada pak satpam yang sedang berjaga.
"Ada, jika anda berkenan silakan tinggalkan surat lamarannya" ucap satpam itu.
Dengan cepat Naura mengeluarkan surat lamarannya dari jok motornya.
"Ini pak, terima kasih" ucap Naura dengan sopannya.
"Sama-sama" jawab pak satpam itu.
"Semoga yang kali ini aku bisa diterima" batin Naura yang sangat berharap dapat diterima kerja.
Tidak terasa waktu pulang sekolah Evano telah tiba, dengan cepat Naura melajukan motornya menuju tempat dimana Evano bersekolah.
"Sayaaannng" panggil Naura pada Evano yang berlari dengan cepatnya menubruk badan mamanya.
"Untung tepat waktu" batin Naura.
"Mama" panggil Evano riang.
Evano melihat kearah beberapa temannya dijemput oleh mama dan papanya, membuat dia terdiam sesaat.
Tetapi dia langsung naik keatas motor mamanya, disepanjang jalan pulang Evano hanya diam, biasanya dia akan bercerita atau berceloteh hal-hal lain, apalagi yang terbaru baginya.
Sesampainya dirumah, Naura sudah melihat perubahan sikap Evano.
"Dek, Evano kenapa?" Tanya mama Ayu yang melihat Evano lurus saja, tidak seceria biasa atau memanggil neneknya.
"Enggak tau ma, tadi baik-baik saja waktu aku jemput?" Terang Naura.
Evano melakukan aktivitasnya seperti biasa, habis pulang dia akan mandi dan tidur siang, bermain sendiri dengan mainan dia yang seadanya.
Ketika malam tiba, Naura masih melihat sikap murung dari Evano.
Mama Ayu juga melihat sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dihati Evano.
"Kamu cari tau anakmu kenapa, kamu ibunya harus lebih peka terhadap perasaan anak mu!" Perintah mama Ayu.
"Iya ma, ini aku mau tanyakan"
"Sudah sana!" Usir mama Ayu.
Tok! Tok! Tok!
Naura mengetuk kamar Evano.
"Nak, mama masuk ya!"
Naura melihat Evano sedang menggambar, dia mamanya, neneknya, kemudian.
"Ini siapa?" Tanya Naura binggung dengan gambar seorang laki-laki tetapi diatas kepalanya ada lingkaran putih.
"Ini papa yang ada disurga" terang Evano, rasanya Naura ingin langsung menangis mendengar perkataan anaknya.
"Ma, bagaimana sih rasanya punya papa!" Tanya Evano lirih.
Naura menatap dalam mata Evano, mencari tau Evano merasakan apa tentang pertanyaannya.
"Mengapa kamu bertanya begini nak?" Tanya Naura pura-pura tidak mengerti.
"Tadi pulang sekolah Evano lihat teman Evano, dia jemput oleh mama dan papanya, sepertinya dia bahagia banget, ketika dia berlari, mama dan papanya menyambut dengan senyum bahagianya!"
"Oh, karena itu" batin Naura.
"Lho, kamu kan ada mama sambut, mama sambut dengan bahagia!"
"Mama sambutnya sendiri, teman Evano sama mama papanya!" Ucap Evano pelan karena takut mamanya akan marah kepadanya.
"Sudahlah sayang, lupakan hal itu ya!"
"Kamu tidur ya, sudah malam besok sekolah lagi, kamu mau kan jadi anak pintar!"
"Iya ma!" Karena tidak mau membuat mamanya marah, Evano memilih untuk segera tidur.
Dia pun memiringkan badannya memeluk guling dan memejamkan matanya. Entah apakah Evano benar-benar langsung tertidur, atau masih membayangkan bagaimana mempunyai papa.
"Ya Tuhan, ini lah selama ini yang aku takutkan" batin Naura lirih.
Naura pun memilih kembali kekamarnya, dia memikirkan apa yang akan terjadi nanti jika Evano bertemu lagi dengan keluarga mantan suaminya. Dia sangat tidak ingin Evano diambil oleh mereka atau malah sebaliknya Evano yang menginginkan mereka, tetapi mereka tidak menginginkan Evano dan mengecap Evano anak dari laki-laki lain.
"Tapi muka Evano sangat mirip sama kamu!" Kesal Naura.
"Aku tidak akan pernah membiarkan keluarga mu, menyentuh Evano tanpa seizin ku!" Batin Naura, dia juga merasa sakit hati itu belum hilang, dia juga mencari cara, jika sampai suatu saat mereka berjumpa apa yang akan dilakukannya agar Evano tidak terusik oleh keluarga yang tidak mempunyai prikemanusiaan itu.
Naura mengingat betul kejadian 5 tahun lalu diruangan rawat inap mantan suaminya, dia diperlakukan sebagaimana rupanya, hingga rasa sakit itu mengikis sedikit rasa cintanya kepada suaminya, padahal saat itu memang mantan suaminya tidak bersalah, bahkan mungkin mantan suaminya tidak tahu apa-apa prihal surat cerai itu. Tetapi saat ini jika Naura mengingatnya dia tidak akan histeris menangis seperti waktu dulu, malah dia semakin memperkuat hatinya tegar melalu hal itu.
Tiba-tiba Naura teringat sesuatu, dia mulai membongkar isi dompetnya, melihat buku tabungannya.
"Sisa segini" melihat isi dompetnya, uang berwarna merah itu terlihat tidak banyak lagi.
Dan buku tabungannya, sangat dia jaga agar tidak terpakai, hanya untuk hal penting.
"Bagaimana kalau dalam 1 minggu ini aku belum menerima panggilan kerja" batin Naura yang merasa takut, karena dia sangat takut keuangannya sudah menipis.
"Aku harus bagaimana!" Naura mengacak-gacak rambut panjangnya.
Dia pun memasukkan kembali dompetnya kedalam tas. Naura sangat berharap dia akan segera mendapat panggilan kerja, karena hanya itu yang bisa membantu keuangan mereka.
Naura saat ini sedang membayangkan betapa sulitnya kehidupan dia, waktu berada di desa, mereka hanya mengandalkan jualan kue dari mamanya, serta beberapa ekor ternak ayam untuk dijual telurnya.
Hingga suatu hari Evano meminta Naura untuk membelikannya es krim saja, Naura tidak berani membelikannya, karena duit yang dia pegang hari itu hanya untuk membeli beras setengah kilo dan dua butir telur saja, untuk makan mereka dalam sehari, besoknya tergantung dengan jualan kue sang mama, apa laris atau pun tidak, biasa juga mereka tidak makan malam dengan nasi, melainkan dengan kue sisa jualan, itulah yang dapat menghabiskan modal jualan mereka.
Jika beberapa ekor ayam mereka bertelur, mereka dapat menjual telur ayam kampung dengan muda, karena disana pengonsumsi telur ayam kampung sangat lah kuat, untuk menjaga imunitas mereka.
🤔🤔
👍❤
sambil marathon