Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Gerombolan Zombie
**
"Ah, aku lupa tentang orang-orang yang mengikuti kita terakhir kali, masih mengikuti kita?" Tanya Elle pada Luca.
Luca menggeleng, "tidak, sejak kita keluar dari basement." Balas Luca.
"Mungkin mereka melihat banyak zombie yang mengejar kita, jadi mengurungkan niatnya untuk mengikuti. Baguslah." Ucap Paman Jergh menimpali.
"Memang seperti itu. Lagipula--"
"Ada seseorang didepan." Ucap Luca memotong ucapan dengan raut serius. Membuat semuanya menjadi lebih serius dan waspada.
"Hati-hati Sam." Ucap Elle, sebetulnya dengan hummer yang dipakai, jelas sekali akan menarik perhatian banyak orang. Mata orang-orang akan selalu menempel karena iri ketika melihatnya. Tapi, selain hummer ini, tidak ada lagi mobil yang potensial di basement sana.
"Tidak, tidak! Cepat mundurkan mobil! Dia dikejar gerombolan zombie!" Ucap Luca dengan nada terlampau serius, membuat Elle menoleh sebelum akhirnya menjadi sedikit gugup.
"Sam!" Pekik Elle, membuat Sam memundurkan hummer dengan cepat. Tapi karena ada beberapa zombie yang mengikuti dari belakang, kecepatan hummer sedikit terhambat. Zombie dibelakang tertabrak, membuat hummer berguncang.
"Oh, sial!" Gumam Sam mengumpat.
"Tidak, tidak, dengan kecepatan ini, kita akan terjebak ditengah." Ucap Darrion gugup.
"Sam, putar balik mobil, masukkan saja ke semak-semak dipinggir. Setidaknya tidak akan terlalu banyak zombie yang akan kita hadapi nanti." Ucap Luca.
Tapi Elle melotot, "tidak! Tidak boleh! Jika begitu, maka zombie-zombie yang lebih pintar yang akan datang pada kita. Kalian tahu apa artinya kan?!" Tanya Elle serius.
"Zombienya akan lebih kuat daripada zombie lain?" Gumam Luca, dengan dahi mengerut ia merasa tidak ada jalan keluar bagi mereka.
"Terus saja mundur, putar balik dan belok ke arah kiri di persimpangan sebelumnya." Ucap Elle.
"Tapi--"
"Tidak apa-apa, lebih baik memutar lebih jauh daripada terjebak. Lagipula pinggiran kota itu terdapat lebih sedikit penduduk. Zombie yang ada tidak akan terlalu banyak." Jelas Elle.
"Kau yakin? Disana ada banyak hewan kan?" Ucap Luca bertanya.
"Hewan mutan lebih mudah dihadapi daripada zombie. Selain itu, meski terluka oleh hewan mutan, kita tidak akan berubah menjadi zombie." Ucap Elle, meski keduanya sama-sama merepotkan, tapi setidaknya inilah keuntungannya.
"Baiklah, sudah diputuskan!" Ucap Sam, yang masih memundurkan hummer. Tapi sesaat kemudian ia memutar balik hummernya, kembali ke jalan simpang yang sebelumnya dilewati.
Akhirnya, hummer tidak lagi berguncang. Perjalanan menjadi lebih lancar, meski sesekali tetap menabrak dua tiga zombie yang menghalangi jalan. Barulah ketika persimpangan terlihat, dan hummer berbelok, semua orang menghela nafas lega.
"Oh sial! Mereka mengikuti kita!" Luca mengumpat, membuat semua orang terkejut, ia kehilangan kesabaran, apa artinya ini?
"Aduh! Bagaimana ini?"
"Kenapa mereka begitu penuh kebencian?"
"Mereka malah membawa masalah untuk orang lain!"
"Oh benar-benar menyebalkan!"
Gerutuan kesal keluar dari mulut semua orang. Membuat Elle semakin tenang, berpikir akan solusi agar semua orang bisa aman dan selamat. Beberapa saat, pikirannya terbuka. Ia masih punya air pohon itu.
"Berhenti Sam, keluar untuk bertarung." Ucap Elle tegas. Kedua matanya menajam, jelas ia juga merasa orang dibelakang sengaja mencari masalah dengan mereka.
"Kakak!" "Tidak, kak!" "Tapi, nona?!"
Seruan tiga orang serentak membuat Elle menggeleng. Keputusannya tidak bisa diganggu. Jika terus maju mereka akan terjebak ditengah. Diantara zombie dan para hewan mutan. Yang akan lebih merepotkan daripada sebelumnya.
"Cepat, Sam!" Perintah Elle, membuat Sam mengangguk dengan cemas, kemudian memarkir hummer dipinggir jalan.
Dengan jantung yang berdegup kencang, semua orang akhirnya turun dari hummer. Elle lantas memberikan belati baru pada 4 orang yang sebelumnya menghabisi 30 zombie, dan memberikan masing-masing orang satu botol kecil air pohon, mengambilnya dari tas sebagai kamuflase ruang.
"Bersiap!" Desis Elle seakan menggema ditelinga setiap orang. Bahkan Luca yang berdiri disampingnya, menatapnya sejenak sebelum beralih fokus pada zombie yang akan datang.
Vrrrrmmmmm!
Tapi yang datang lebih dulu adalah sebuah van. Berhenti tepat disamping hummer milik tim Elle. Membuat semua orang menatap tajam pada seseorang yang ada dibaliknya.
"Tuan-tuan, maaf, aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti kalian. Aku benar-benar tidak bermaksud buruk dengan membawa gerombolan zombie yang mengejarku pada kalian." Jelas seorang perempuan dengan nada bersalah, ia berbicara seraya keluar dari mobil.
"Siapa yang ada didalam?!" Tanya Elle dingin, mengabaikan penjelasannya.
"I-itu anak-anakku. Aku benar-benar tidak sengaja, jangan sakiti anakku, aku mohon!" Ucapnya menjadi panik, dan mendadak gelagapan.
"Urus nanti, posisi! Siap bertarung!" Pekik Elle kembali menggemakan suaranya. Akhirnya, 6 orang berjejer. Elle dan Luca ditengah, sisa dua orang masing-masing berdiri disisi kiri dan kanan Elle. Paman Jergh bersama Darrion dan Sam bersama Avin. "Perhatikan keselamatan, jangan lengah! Maju!" Pekiknya lagi kemudian berlari dengan pedang ditangan.
SRET! CRASH!
Dua kepala zombie berhasil dipenggal. Kemudian beralih pada zombie disisinya, dan tusuk! Elle menusuk kepalanya dengan cepat beralih ke zombie lain setelah zombie tersebut jatuh.
Mengikuti teladan Elle, yang lain akhirnya maju, satu persatu menggunakan belati menjatuhkan zombie. Meski butuh beberapa tusukan lebih banyak, mereka tetap menjatuhkan zombie dengan cepat.
Wanita yang ada dibelakang yang sebelumnya panik dan gugup, kini menatap keenamnya dengan takjub. Jadi, ia juga tidak tinggal diam. Dengan tangan kosong, ia maju. Posisi lebih jauh dari keenamnya, dan SWOOSH!
Api menyapu zombie disisi lain. Membuat enam lainnya melirik. Terutama Darrion, yang merasa takjub, mengabaikan zombie yang datang padanya. Sehingga Elle maju dan menebas zombie tersebut dengan kejam.
"Fokus!" Teriak Elle menggertakkan giginya marah. Sesaat menatap tajam adiknya yang selalu saja ceroboh. Sebelum akhirnya kembali pada tempatnya. Kembali untuk menghabisi zombie-zombie.
Pertarungan terus berlanjut. Kali ini, dengan lebih dari 200 zombie. Dengan 7 orang bersama-sama melawan, Elle tidak takut lagi untuk benar-benar menghabisi semuanya. Setidaknya bukan hanya dua orang saja yang bergerak, kali ini semua orang bergerak yang lebih efisien.
"Jika kalian merasa tangan kalian kebas, gunakan kemampuan supernatural kalian! Ini waktu yang tepat untuk berlatih!" Ucap Elle yang terengah, mundur beberapa langkah dengan pedang sebagai tumpuan berdiri. "Minum air sebelum mengeluarkan kekuatan supernatural!" Lanjutnya.
"Mengerti!" Jawab semuanya serempak. Dengan cepat mundur dari medan pertarungan, meminum air dengan cepat, perasaan segar langsung terasa, membuat tubuh setiap orang menjadi lebih energik.
Setelahnya, tanpa memikirkan efek ajaib yang dirasakan oleh air tersebut, semua orang langsung bersiap mengeluarkan kemampuan. Terutama Paman Jergh, langsung berubah menjadi lebih kekar seperti tokoh kartun dengan badan besar.
Paman Jergh maju, kemudian dengan tangan kosong ia melompat, dan langsung menghantam zombie dengan tangannya. Menghancurkan kepala zombie dalam sekali pukulan, membuatnya takjub akan kekuatannya sendiri.
"Wow! Itu bagus, tapi menjijikkan paman!" Ucap Darrion memasang wajah jijik, tapi tak menghentikannya mengeluarkan angin. Meski belum benar-benar hebat menguasai angin, tapi ia sudah lebih baik dalam pengendaliannya. Setidaknya, ia bisa membuat belatinya terbang dan menusuk kepala zombie, menjatuhkannya dalam 2 kali tusukan.
"Haha, tuan muda hati-hati terciprat otak-otak menjijikkan itu!" Ucap Sam sedikit berteriak, sama halnya dengan Darrion, ia juga tetap bergerak, dengan cepat masih menggunakan belati. Hanya saja, dengan kemampuan percepatannya, kecepatannya membunuh zombie lebih hanya butuh beberapa detik saja.
Disisi lain, Avin langsung menghilang, berjalan maju mendekati zombie dan membunuhnya dalam jarak dekat. Sedangkan Luca, tangannya kebas dan beristirahat sejenak. Setelah meminum air sesuai perintah Elle, Luca menggunakan kemampuan psikisnya untuk dengan cepat menghancurkan kepala zombie. Membunuhnya dari dalam.
"Ew! Jangan menghancurkan kepala zombie didekatku!" Ucap Elle dengan jijik. Sedari awal, ia tidak berhenti membunuh sama seperti yang lain. Kekuatannya masih ada, dan ia masih menggunakan pedangnya untuk membunuh zombie, setiap kali 3 zombie sekaligus. Sedangkan sulur miliknya, ia gunakan ketika ada satu dua zombie yang lolos dari pedangnya. Barulah ia bergerak untuk menahan dan membunuh sekaligus.
Wanita dengan dua anak disamping, lagi-lagi terkesima. Takjub dengan kerjasama dan kekuatan tempur tim Elle yang bukannya menurun malah terlihat semakin kuat.
**